Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kuhancurkan Harga Dirimu, Galih

Kuhancurkan Harga Dirimu, Galih

Tujuh tahun aku mengabdi pada Galih hingga mengubur karier hukumku demi mimpinya. Namun, ia justru mengabaikanku demi Davina, bahkan lupa bahwa aku alergi seafood saat aku sakit. Muak dengan 52 pembatalan rencana masa depan, aku pergi dan bangkit sebagai pengacara sukses. Saat Galih bersujud memohon di depan kantorku, aku menolaknya mentah-mentah. Kini, giliran aku menghancurkan harga dirinya dan berkuasa penuh atas hidupku sendiri tanpa bayangannya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Demi tunanganku, Galih, aku rela mengorbankan karirku sebagai koki dan menelan ludah saat ia membatalkan rencana restoran kami untuk ke-52 kalinya. Aku menoleransi semua itu, bahkan saat ia lebih mementingkan model "rapuh" bernama Davina.

Namun, saat aku demam tinggi dan sangat membutuhkannya, ia justru mengirimiku sup tom yum udang-makanan favorit Davina.

Dia bahkan tidak ingat aku alergi seafood.

Tujuh tahun pengorbanan terasa sia-sia. Aku membuang kalung pemberiannya, mengundurkan diri dari pekerjaan, dan kembali ke kampung halaman untuk memulai hidup baru sebagai pengacara, identitas asliku yang selama ini kusembunyikan.

Galih yang panik akhirnya menyusulku. Ia bahkan berlutut di depan kantor baruku, melamarku di hadapan semua orang.

Aku menatapnya dingin, lalu dengan suara lantang aku berkata, "Aku tidak akan menikahimu karena kamu membatalkan pernikahan kita 52 kali. Aku tidak akan menikahimu karena kamu melupakan alergi seafood-ku. Dan aku tidak akan menikahimu karena kamu tidak pernah setia."

Aku akan menghancurkan harga dirinya, sama seperti ia menghancurkan hatiku. Mulai sekarang, aku adalah ratu atas takdirku sendiri.

Bab 1

Amira Suwito POV:

Ketika Galih Palgunadi membatalkan rencana pembukaan restoran impian kami untuk yang ke-52 kalinya, aku tahu ada yang tidak beres. Angka lima puluh dua. Itu bukan sekadar angka, itu adalah pengingat betapa seringnya aku menelan ludah dan memaafkan. Setiap kali dia mengatakan 'nanti', hatiku terasa diremas.

Saat itu aku sedang demam tinggi. Tubuhku menggigil hebat, tenggorokanku sakit, dan kepalaku berdenyut-denyut seperti ditusuk jarum. Aku hanya ingin bersandar pada bahu Galih, mencari sedikit kekuatan di tengah kekacauan ini. Restoran yang hampir jadi, impian kami berdua, kini terasa seperti beban yang menghimpitku sendirian.

"Aku butuh kamu, Galih," kataku lirih di telepon, suaraku serak dan parau. "Aku tidak enak badan. Kita bisa menunda ini, kan?" Jeda di ujung sana terasa seperti jurang yang menganga, menelan habis sisa harapanku. "Davina butuh aku, Mir," jawabnya, suaranya terdengar jauh dan terburu-buru. "Dia baru saja pingsan di lokasi syuting. Kamu tahu dia rapuh." Aku merasa seperti tidak pernah ada di daftar prioritasnya.

Aku melihat ke sekeliling, pada dinding-dinding bata ekspos yang baru saja kami pasang dengan susah payah. Aku menatap meja-meja kayu jati yang terukir indah, hasil pilihanku sendiri. Ini adalah tempat kami, atau setidaknya, aku berpikir begitu. Tapi kini, bayangan Davina Arsyad, model pendatang baru yang selalu diklaim 'rapuh' oleh Galih, menguasai ruang ini. Keberadaannya terasa lebih nyata daripada keberadaanku sendiri.

Ayah dan Ibu menelepon, nada suara Ibu dipenuhi kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. "Amira, kamu baik-baik saja, Nak?" Suara Ibu terdengar lembut tapi tegang. "Ayah dengar Galih lagi sibuk sama model itu lagi." Aku hanya bisa mengangguk, padahal mereka tidak bisa melihatku. Air mata mulai menetes, bukan karena sakit fisik yang kurasakan, tapi karena luka yang jauh lebih dalam, mengoyak-ngoyak batinku.

Selama tujuh tahun ini, aku telah mengorbankan segalanya untuk Galih. Karier koki yang cemerlang, mimpi-mimpi pribadiku yang begitu berharga, semua kukesampingkan demi mendukungnya. Aku merancang menu restoran kami, membantunya mencari investor, bahkan membersihkan studio fotografinya saat ia lelah dan tak berdaya. Tapi siapa yang melihat itu? Siapa yang menghargai semua itu? Tidak ada.

Puncak kekesalan itu terjadi hari ini. Aku berada di lokasi restoran, mengecek pemasangan lampu gantung terakhir. Tanganku gemetar saat menggenggam getaran ponsel di sakuku. Galih. Dia membatalkan proyek ini lagi. "Davina pingsan, Mir. Aku harus membawanya ke rumah sakit," katanya terburu-buru, tanpa memberiku kesempatan sedikit pun untuk bicara atau membalas.

"Tapi... aku di sini, Galih. Sendirian," suaraku bergetar, hampir tidak terdengar. "Ini hari penting, kita harus memastikan semuanya beres!" Aku mencoba menjelaskan, berharap ia mengerti. "Davina lebih butuh aku," ulangnya, seolah itu adalah mantra ajaib yang bisa membenarkan segalanya. Tidak ada penjelasan lain, tidak ada permintaan maaf tulus. Hanya Davina. Selalu Davina.

"Aku janji, setelah Davina pulih, kita akan menyelesaikan ini. Kita akan menikah, Mir. Aku akan menebus semuanya," katanya, suaranya kini terdengar lebih halus, seperti madu yang terlalu kental dan lengket. Aku mendengarnya, tapi kata-katanya terasa hampa, menguap begitu saja. Pernikahan? Restoran? Hanya janji manis belaka yang tak pernah terwujud.

Sebelum aku bisa membalas, telepon sudah terputus. Sambungan mati. Dia pergi. Meninggalkanku sendirian di antara puing-puing impian kami yang baru saja kubangun dengan kedua tanganku.

Ini bukan pertama kalinya. Ingat angka 52? Itu bukan sekadar kebetulan. Ini adalah pola yang berulang, sebuah siklus penghancuran yang terus terjadi, dan aku, dengan bodohnya, selalu menunggu di ujungnya, berharap kali ini akan berbeda, berharap dia akan berubah.

Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Keringat membanjiri dahiku, bukan hanya karena demam, tapi juga amarah yang kini mulai membakar seluruh relung hatiku. Aku tidak menangis, tidak menjerit. Hanya sebuah dingin yang menusuk, menembus tulang-tulangku. Ini bukan aku. Aku tidak pernah sesabar ini.

Saat Galih kembali ke rumah malam itu, ia terlihat sangat lelah. "Maaf, Mir," katanya sambil membelai rambutku, seolah itu bisa menghapus segalanya. Aku memaksakan senyum tipis. "Tidak apa-apa," jawabku, suaraku datar dan hampa. Aku menatapnya, mencoba mencari tahu, apakah ada sedikit penyesalan di matanya. Aku tidak menemukan apa pun.

Dia terkejut. "Kamu tidak marah?" tanyanya, alisnya terangkat, seolah aku adalah teka-teki yang sulit dipecahkan. Aku hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. Apa gunanya marah? Bukankah itu hanya akan menjadi salahku lagi?

"Aku tahu kamu sakit," katanya sambil menyerahkan sebuah kotak bekal berwarna biru. "Aku bawakan makanan favoritmu. Sup tom yum udang." Aku menatap kotak itu. Aroma pedas dan asam langsung menyeruak, menusuk hidungku. Makanan favoritku?

"Terima kasih," kataku singkat, tidak menatapnya, menghindari tatapannya. Hatiku terasa kosong, hampa tak berujung.

Setelah Galih kembali sibuk dengan ponselnya, seolah aku tidak ada, aku menatap sup di tanganku. Senyum pahit merekah di bibirku. Ini bukan makanan favoritku. Aku alergi seafood. Makanan ini... Makanan ini adalah favorit Davina. Kebohongan kecil yang menyakitkan. Dia bahkan tidak ingat hal sesederhana itu.

Sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk hati. Hadiah Galih saat kami merayakan ulang tahun pertama kami. Dulu, setiap melihatnya, hatiku berdesir, dipenuhi kebahagiaan. Kini, kalung itu terasa seperti rantai yang membelenggu, mencekik leherku. Pengingat akan janji-janji kosong dan pengorbanan yang tak dihargai.

Aku mencengkeram kalung itu kuat-kuat. Dingin dan berat di telapak tanganku. Tidak ada lagi kehangatan yang terpancar dari sana. Hanya beban yang teramat sangat.

Aku bangkit, berjalan ke tempat sampah di dapur, dan melemparkan kalung itu ke sana. Suara dentingan logam beradu dengan plastik. Bersamaan dengan suara itu, sesuatu dalam diriku ikut hancur dan mati.

Cukup. Tujuh tahun. Cukup. Semuanya berakhir sekarang.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO lumpuh itu, suamiku
9.5
Rachel Martinique, seorang dokter bedah, terjebak dalam pernikahan paksa sebagai alat penebus hutang keluarganya. Ia harus bersuami dengan seorang CEO lumpuh yang tidak ia kenali sebelumnya. Kehidupan baru ini penuh ketegangan karena sang suami menyimpan kebencian mendalam terhadap dirinya. Tanpa landasan cinta, Rachel harus menghadapi ketidakpastian dalam rumah tangga mereka. Akankah kasih sayang tumbuh seiring waktu, ataukah nasib buruk yang menanti?
Sampul Novel CINTA DI ANTARA TASBIH DAN ROSARIO
8.5
Pertemuan dan perpisahan adalah bagian dari garis takdir yang tak terelakkan. Sepasang kekasih terjebak dalam dilema besar saat cinta tulus mereka terbentur tembok perbedaan yang nyata. Di tengah tangis dan dekapan erat, sang pria berusaha meyakinkan bahwa perasaan mereka tidaklah salah. Namun, perbedaan keyakinan menjadi ujian berat bagi masa depan mereka. Di dunia di mana jodoh dan maut telah tertulis, mampukah mereka bertahan saat takdir seolah memaksa untuk menjauh?
Sampul Novel Disusui Madu
8.7
Wafa terpaksa menumpang di kediaman Cindy atas ajakan Dika, suaminya. Namun, kehidupan Wafa berubah drastis menjadi pelayan di sana. Konflik memuncak saat mertuanya lebih memihak Cindy, ditambah duka mendalam atas kematian putra sulungnya, Delon. Keadaan kian misterius ketika Cindy mendadak hamil sementara ia terus mendominasi rumah tangga Wafa. Di tengah lilitan utang biaya medis dan pengkhianatan, mampukah Wafa bertahan atau memilih pergi demi kedamaiannya?
Sampul Novel Draco&Luna
7.9
Sejak yatim piatu, Luna menderita di bawah asuhan bibinya yang kejam hingga ia dijual ke pasar gelap. Di pelelangan itu, hidupnya berubah saat dibeli oleh Draco Riordan, pria misterius dengan masa lalu kelam. Pertemuan ini menyatukan Luna yang lugu dengan Draco yang penuh dendam dan rahasia besar. Di tengah perbedaan latar belakang yang kontras, akankah kehangatan Luna mampu melunuhkan hati Draco, ataukah takdir justru membuat hubungan mereka mustahil untuk bersatu?
Sampul Novel Gairah Membara: Cinta Tak Pernah Mati
8.4
Kusuma Hadi sempat menghina Dewi Nayaka tanpa menyadari identitas aslinya. Ia bahkan memerintahkan agar Dewi diusir dan dibuang ke laut. Namun, suasana berubah drastis saat sekretarisnya mengungkap bahwa wanita itu adalah istrinya sendiri. Kusuma pun menyesal dan berbalik memanjakan Dewi dengan penuh kasih sayang. Meski hubungan mereka terlihat sangat harmonis, publik dikejutkan oleh kabar perceraian yang tak terduga di antara pasangan tersebut.
Sampul Novel Memikat Hati Pangeran Kelas
9.2
Vindreya Sanjaya, gadis 17 tahun yang ceria namun sedikit urakan, bertekad menaklukkan hati dua pangeran di kelasnya. Ada Kenzo yang dingin dan antisosial, serta Elvano yang populer dan berbakat seni. Perjuangan cintanya penuh aksi kocak hingga momen berbahaya yang mengancam nyawa. Saat takdir mendekatkan mereka, Kenzo dan Elvano justru berbalik mencintai Vindreya. Terjebak dalam cinta segitiga rumit, mereka harus memilih antara pengorbanan atau kebahagiaan sejati.