
Kuberi Segalanya, Tetapi Dia Berpaling
Bab 2
Raisa menyilangkan tangan di dada, berkata dengan acuh tak acuh, "Mau pergi ya pergi saja. Sekali pergi, aku nggak akan kasih kamu kesempatan lagi."
Aku menarik napas dalam-dalam, "Nggak perlu, Raisa. Sudah delapan tahun, aku lelah. Aku menyerah."
Aku menyerahkan kunci padanya, lalu pergi tanpa menoleh.
Raisa berteriak dari belakang, "Yoga, kalau kamu pergi, jangan menyesal nanti!"
Lucu sekali, aku, Yoga Listono, tidak pernah melakukan hal yang kusesali.
Satu-satunya noda dalam hidupku adalah terjebak dengannya selama delapan tahun. Delapan tahun yang melelahkan.
Sekarang, sudah waktunya aku pergi dengan tenang.
Setelah keluar, aku menginap di sebuah hotel. Saat ada waktu luang, aku memikirkan berbagai hal dan membereskan semua urusan pekerjaanku dan mengajukan pengunduran diri dari perusahaan.
Begitu tahu aku mau mengundurkan diri, manajer SDM terkejut. Dia mengirimiku pesan pribadi: "Kak Yoga, ada apa? Kamu baik-baik saja, 'kan? Kok tiba-tiba mau mengundurkan diri?"
"Apa karena Krisna? Aku kasih tahu ya, pria itu benar-benar keterlaluan! Dengan memanfaatkan kedekatannya dengan Bu Raisa, dia menekan kami seenaknya. Beberapa proyek kami terhambat di tangannya!"
"Kak Yoga, kalau kamu pergi, bagaimana nasib perusahaan ini?"
Lihat saja, bahkan pihak SDM pun bisa melihat bahwa Krisna itu spesial. Namun, meski semua orang di perusahaan mengeluh, apa yang bisa mereka lakukan?
Mereka tetap harus menuruti dia.
Raisa sendiri yang menghancurkan semuanya, dan aku tidak mau karierku ikut hancur.
Aku hanya berkata, "Ini semua pilihan Raisa. Lakukan saja sesuai prosedur dan selesaikan prosesnya."
Begitu mendengar jawabanku, kepala SDM langsung paham bahwa aku ingin benar-benar memutuskan hubungan dengan Raisa.
Dia jadi agak panik.
Di perusahaan ini, jika Raisa adalah bosnya, maka aku adalah penasihat di sisinya. Banyak proyek yang berhasil kuselesaikan berkat strategi yang kususun.
Keahlian dan kepekaanku terhadap pasar jauh lebih unggul dibanding Raisa.
Kami berdua berbagi peran, satu berpura-pura baik, yang satu tegas. Begitulah cara kami mendapatkan banyak proyek.
Sejak lama, Raisa menyebutku sebagai "penasihat pribadinya."
Dengan bantuanku, perusahaan berkembang pesat. Namun, entah sejak kapan, Raisa mulai merasa semua ini adalah hasil usahanya sendiri.
"Aku bisa sampai di posisi ini berkat usahaku sendiri, Yoga. Jangan kira hanya karena kamu di sisiku cukup lama, kamu jadi pahlawan. Tanpa kamu, perusahaan ini tetap bisa jalan!"
Dalam pertengkaran terakhir kami, itulah yang dia katakan.
Aku pun jadi sadar. Kalau aku memang bukan siapa-siapa, lebih baik aku pergi saja dan menyerahkan masa depan perusahaan ini padanya.
Keesokan harinya, aku tetap pergi ke kantor. Kalau mau mengundurkan diri, aku harus menyelesaikan proses serah terima tugas.
Begitu aku sampai, Raisa datang bersama Krisna. Dengan sikap arogan, dia berkata, "Baiklah, kalau prosesnya sudah berjalan, serah terima semua pekerjaanmu!"
Krisna menatapku dengan senyum menyebalkan, "Kak Yoga, meja kerja kamu sekarang jadi mejaku. Tolong bereskan barang-barangmu secepatnya dan segera pindah."
Aku mengangguk, "Oke, aku tahu."
"Tapi pertama-tama, mari kita selesaikan serah terima ini."
Aku mencetak formulir serah terima kerja dalam tiga rangkap, satu untuk perusahaan, satu untuk penerima tugas, dan satu untuk arsip pribadiku.
Saat menyerahkan formulir itu, Krisna melirikku sambil tersenyum sinis, "Oh ya, mana data klienmu?"
"Semuanya ada di komputer, dan daftar klien sudah kuserahkan ke perusahaan sejak awal."
Perkataanku membuat Raisa seketika tertegun. Matanya memancarkan ketidakpercayaan.
"Yoga, kamu benar-benar mau mengundurkan diri? Kamu rela meninggalkan pasar yang kamu bangun selama bertahun-tahun ini!?"
Anda Mungkin Juga Suka





