
Ku Kira Setia Ternyata Mendua
Bab 2
Didalam hatinya mengejek penampilan Talitha," jadi ini, wanita yang dipilih oleh Dikta untuk menjadi istrinya? padahal sudah aku katakan tunggu satu tahun lagi, masa kontrakku habis pasti aku bersedia menikah dengannya."
Salma meminta Talitha mendekat," Nak, ini Ninda. Dia sahabat baik Dikta, yang selalu ada disampingnya. Hanya saja dua tahun terakhir ia sibuk di London untuk pemotretan. Dia ini model kelas atas."
Talitha mengulurkan tangannya seraya tersenyum. "Talitha, istri Mas Dikta."
"Ninda. "Dengan sangat malas Ninda menerima jabatan tangan dari Talitha.
Terus saja didalam hati Ninda penuh rasa cemburu, iri, dan dengki. "Lihat saja, aku akan menyingkirkan dirimu secepatnya karena Dikta hanya milikku saja. Tidak ada wanita manapun yang boleh memilikinya!" Batinnya terus saja bergumam.
Tak berselang lama, pulanglah Dikta dan Johan secara bersamaan.
"Wah Ninda udah pulang, mana mamah dan papah?" sapa Johan menyalami Ninda.
Ninda dengan antusias menerima jabatan tangan Johan. "Kebetulan papah dan mamah saat ini sedang sibuk om. Mereka sibuk mengurus usahanya di negara Amsterdam bersama dengan Riko."
Ninda beralih menatap kearah Dikta dan ia langsung saja berhambur ke pelukan Dikta sambil berbisik, "Jahat kamu ya, padahal aku sudah bilang padamu supaya menunggu satu tahun lagi. Setelah itu kita akan jujur pada kedua orang tua kita jika selama ini kita berpacaran. Tetapi malah seperti ini, kamu menikah. Apa kamu sudah melupakan semua janjimu padaku, saat kamu merenggut kesucianku malam itu? bahkan kita juga sering melakukannya setelah kejadian malam itu dengan kamu berjanji akan menikahiku."
Dikta membalas bisikan Ninda, "Nanti kita bicarakan di tempat biasa kita bertemu. Aku akan atur waktunya supaya kita bisa bertemu, tolong jangan marah dulu."
"Hey-hey-hey, udah donk kangen-kangen nya. Nanti ada yang cemburu loh." Canda Salma terkekeh seraya melirik kearah Talitha.
Memang didalam hati Talitha juga merasa ada yang janggal dengan persahabatan antara Dikta dan Ninda. Hanya saja ia mencoba untuk tidak berburuk sangka. Ia menepis rasa curiganya tersebut.
"Ya Allah, semoga saja apa yang aku pikirkan tidaklah benar adanya. Semoga ini hanya pikiranku saja. Semoga Ninda itu memang benar hanya sekedar sahabat Mas Dikta saja." Gumam Talitha didalam hatinya.
Selagi dirinya terus saja bengong, Dikta menghampirinya, "Sayang, suami pulang kok malah bengong sih? nggak seperti biasanya disambut dengan senyuman manis."
Sontak saja lamunan Talitha buyar oleh teguran Dikta. "Maafkan aku mas, hehehe.."
Talitha menyambut suaminya dan membawanya melangkah masuk ke arah kamar. Dikta sempat melirik kearah Ninda yang terlihat sangat cemburu melihat kekasihnya dengan wanita lain. Pikirannya kembali terselubung dengan umpatan, tangannya tanpa sadar mengepalkan tinjunya.
"Ninda, kapan giliranmu menikah?" tegur Salma menepuk bahunya hingga membuat dirinya tersentak kaget dibuatnya.
"Aku belum kepikiran untuk menikah, Tante. Karena belum ada seorang lelaki yang sesuai dengan kriteriaku, Tante." Jawab Ninda menutupi rasa kegugupannya.
Salma merasa heran karena gadis secantik Ninda hingga sampai detik ini belum juga menikah.
"Memangnya lelaki seperti apa yang kamu inginkan, Ninda?"
Belum juga pertanyaan Salma di jawab oleh Ninda, datanglah Johan. "Heh Mamah kepo banget sih. Masa iya Ninda cuma diajak ngobrol saja, nggak diajak makan." Candanya terkekeh.
Salma melirik sinis ke arah Johan yang terus bercanda, ia tidak mengatakan apapun lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





