
Ku Kira Setia Ternyata Mendua
Bab 3
Pada saat Salma menghampiri Johan, didalam hati Ninda berkata, "Lelaki yang aku cintai itu seperti Dikta, bahkan Dikta yang selama ini aku cinta, Tante."
Ninda turut serta makan malam di rumah Dikta. Dan pada saat makan malam, salah satu kaki Ninda dengan tidak sopan mengusap-usap kaki Dikta. Sontak saja ada yang berdesir di hati Dikta. Gelora cintanya pada Ninda yang sampai saat ini masih saja ia rasakan. Kehadiran Talitha hanya sebagai pengusir rasa sepi dan hampa saja. Apa lagi ia lelaki normal dimana dirinya sudah sering melakukan hubungan suami istri dengan Ninda. Hingga saat Ninda jauh, ia kerap kali tersiksa pada saat dirinya sedang ingin bercinta.
PYANG!
Dikta tak sengaja menjatuhkan gelas, dan pada saat Talitha iseng jongkok ingin memunguti pecahan gelas tersebut, ia tidak sengaja melihat kaki Ninda sedang mengusap-usap kaki Dikta. Tetapi ia tersentak kaget pada saat jarinya tertusuk pecahan beling," aaahhh.."
Ia pun mengalihkan pandangan ke jarinya sendiri, setelah itu ia penasaran dan beralih pandangnya lagi ke arah kolong meja," astagfirullahaladzim, ternyata aku hanya salah lihat saja. Tapi tadi baju seperti melihat kaki Ninda kok gitu ya? ah mungkin mataku saja yang sedang salah melihat."
Ocehnya didalam hati.
"Sayang, biarkan saja. Aduhhh... kamu terluka kan, ayok aku obati. Lain kali biarkan saja toh ini tugas bibi, tugasmu cuma melayaniku saja."
Dikta menghampiri istrinya dan ia sudah terlebih dulu mengambil kotak berisikan obat-obatan.
Dengan sangat perlahan, Dikta mengobati jari telunjuk Talitha. Talitha terus saja menatap kearah Dikta," sepertinya tidak mungkin jika Mas Dikta ada hati dengan Ninda. Aku yakin sekali, apalagi selama kami menikah, dia sangat perhatian padaku. Jika ia selingkuh dengan Ninda, mana mungkin ia seperti ini romantis di depan Ninda."
Terus saja Talitha bergumam didalam hatinya.
Berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Ninda. Ia sangat marah dan cemburu tetapi ia berusaha menahan rasa tersebut. Hanya saja ia tidak ingin melihat kemesraan Talitha dan Dikta terlalu lama. Ia pun berpamitan pulang," Tante-Om, sepertinya aku harus segera pulang karena kepalaku mendadak rasa pusing. Lain waktu aku pasti akan datang lagi kemari."
Ninda sengaja tidak menyelesaikan makanannya, karena ia sudah tidak berselera gara-gara melihat kemesraan Dikta dan Talitha.
"Loh, kok buru-buru? tapi sebaiknya habiskan dulu makananmu, Ninda," pinta Salma.
Tetapi Ninda menolak dengan senyuman," maaf Tante, perutku sedang tidak bersahabat. Sekali lagi aku minta maaf ya Tante-Om."
"Hem ya sudah, kalau begitu biar Dikta yang mengantarmu pulang. Nanti gampang, Dikta biar pulang kemari dengan taxi on line. Lagi pula sedang hujan kan? atau sebaiknya kamu tidur di sini saja, Ninda?" saran Johan.
Tetapi Ninda tetap tidak bersedia," nggak lah Om, lagi pula hujan kecil kok. Biarkan aku pulang sendiri saja nggak apa-apa."
"Eehhhh jangan Ninda! kamu sedang pusing, nanti kalau terjadi hal buruk padamu, pasti kami yang disalahkan oleh orang tuamu. Biarkan Dikta teng mengantarmu, nggak apa-apa ya Talitha. Toh cuma sebentar saja." Ucap Salma seraya menatap sendu ke arah Talitha.
Sontak saja Talitha tidak bisa menolak keinginan kedua mertuanya, ia pun menganggukkan kepalanya, "Iya mah nggak apa-apa." Jawab Talitha dengan senyum keterpaksaan.
Dalam hati tidak setuju dengan saran ibu mertuanya.
Anda Mungkin Juga Suka





