
Korban Terakhir yang Digambar Ibu adalah Aku
Bab 4
Sebenarnya, aku pernah menanyakan pertanyaan yang sama sekali. Pada saat itu, aku baru masuk SMP kelas 3. Itu adalah tahun belajar yang sangat intens.
Ibu jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan puluhan juta. Demi meringankan bebannya, aku tidak berhenti mengikuti lomba di berbagai kota untuk memenangkan hadiah. Setelah itu, aku juga bolak-balik antara sekolah dan rumah sakit untuk menjaganya. Aku pun menjadi sangat kurus karena kelelahan.
Ibu juga sepertinya terharu dan tersenyum padaku untuk yang pertama kalinya. Saat bertemu dengan tetangga, dia akan memujiku dan mengatakan aku sangat berbakti. Aku yang berdiri di belakangnya menarik lengan bajunya dengan hati-hati sambil tersenyum malu nan bahagia.
Itu adalah pertama kalinya aku merasa aku bisa mendekati Ibu, juga mendapatkan sedikit rasa sayang dan kelembutannya dengan usahaku. Semuanya juga terasa seperti perlahan-lahan berkembang ke arah yang baik.
Sampai sore hari itu, Jessica memeluk celengannya yang terbuka, lalu berjalan ke hadapanku dan berkata sambil menangis, “Kak, aku ngerti kamu perhatian sama Ibu. Aku bahkan bisa memberimu semua uang jajanku. Tapi kenapa setelah mengambil uangku, kamu bohongi Ibu itu uang yang kamu menangkan dari lomba?”
Aku langsung menoleh ke arah Ibu. Sinar matahari yang masuk dari jendela menerangi sepasang mata ibu yang sudah memiliki kerutan halus. Kemudian, aku melihat mata yang awalnya memandangku dengan lembut itu perlahan-lahan berubah menjadi dingin seperti biasa.
“Bukan begitu. Ibu, aku nggak ambil uang Jessica ....” Aku pun spontan panik dan hanya berpikiran untuk menjelaskannya. Namun, sebelum sempat melakukannya ....
“Plak!” Suara tamparan yang nyaring memenuhi seluruh ruangan.
Ibu memandangku dengan penuh kebencian dan berkata, “Kamu memang jahat! Kenapa aku bisa melahirkan anak sepertimu!”
Setelah ibu pergi, aku menatap Jessica dengan berlinang air mata dan bertanya, “Kenapa kamu fitnah aku?”
Setelah memastikan Ibu sudah masuk ke kamar, dia akhirnya menunjukkan sifat aslinya. Dia yang baru genap berumur 10 tahun masih tetap tersenyum. Namun, kata-kata yang diucapkannya sangat menyakitkan.
“Kamu itu cuma anak kasihan yang nggak disayang. Mau nyenangin Ibu? Jangan mimpi! Karena kelahiranmu, Kakak baru mati dan Ayah cerai sama Ibu!” Dia menatapku sambil menggertakkan giginya, “Janice, orang pembawa sial sepertimu nggak seharusnya hidup!”
Malam itu, rasa sakit hati dan kebingungan merajalela dalam hatiku. Aku menggunakan jangka untuk menusuk pergelanganku beberapa kali. Namun, bahkan rasa sakit seperti itu juga tidak mampu menyelamatkanku dari jurang putus asa dan kegelisahan.
Pada akhirnya, aku masuk ke kamar Ibu dan bertanya, “Ibu, kalau kamu nggak sayang sama aku, untuk apa kamu melahirkanku?”
Dia memejamkan matanya tanpa menjawab. Namun, aku tahu dia belum tidur. Saat aku masih hidup, dia tidak sudi memberiku jawabannya. Setelah aku mati, dia tidak dapat mendengar pertanyaanku dan lebih tidak mungkin menjawabnya lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





