Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kontrak Ranjang Sang Kapten

Kontrak Ranjang Sang Kapten

Dara, pramugari Skyward Airlines, hancur saat memergoki kekasih pilotnya berkhianat. Untuk membalas dendam, ia nekat menghabiskan malam panas bersama pria asing yang dikira gigolo. Sialnya, pria itu adalah Arjuna, pilot senior sekaligus pewaris tunggal maskapai tempatnya bekerja. Kini Dara terjebak dalam konsekuensi rumit, terikat rahasia dengan pria yang memegang kendali penuh atas karier serta masa depannya di dunia penerbangan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Perjalanan di dalam mobil mewah itu sunyi, mencekam, dan sedikit memabukkan. Dara duduk di samping Arjuna, menatap jalanan Jakarta yang basah oleh hujan sore tadi, yang kini hanya menyisakan kilauan lampu kota. Tapi pandangannya kabur, bukan karena jalanan, tapi karena alkohol yang mulai mendominasi pikiran.

Arjuna tidak berbicara. Dia hanya duduk tegak, membiarkan supirnya mengemudi. Sikapnya yang tenang dan jauh itu justru membuat Dara semakin gelisah. Biasanya, pria yang Dara ajak kencan selalu heboh, mencoba merayunya. Tapi Arjuna? Dia dingin, seolah Dara ini hanyalah barang yang ia terima dari meja bar.

Dara menoleh ke samping. "Kenapa kamu diam saja?" tanyanya, suaranya terdengar lebih berani dari yang ia rasakan.

Arjuna menoleh pelan, pandangan matanya yang tajam itu seperti laser yang menembus Dara. "Aku sedang berpikir," jawabnya singkat.

"Tentang apa? Tentang berapa fee yang harus aku bayar, meskipun kamu bilang tidak dibayar?" Dara mendengus.

"Aku berpikir, kenapa seorang wanita yang jelas-jelas baru saja menangis, datang ke bar dan berusaha mati-matian terlihat desperate?" Arjuna balik bertanya, suaranya tenang tapi menusuk. "Matamu bengkak, Nona. Mascara-mu sedikit luntur. Kamu tidak terlihat seperti wanita yang mencari kesenangan. Kamu terlihat seperti wanita yang mencari hukuman."

Kata-kata itu menghantam Dara tepat di ulu hati. Arjuna ini terlalu jeli. Ia bukan pria murahan. Dia seperti psikiater yang dibungkus jas mahal.

"Aku bilang itu bukan urusanmu," balas Dara, sedikit membentak. Dia menarik napas. "Kamu sudah setuju. Sekarang tutup mulutmu. Kamu tidak perlu jadi penasehat spiritualku. Kamu cuma perlu..." Dara tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia terlalu malu untuk menyebutkan tujuan aslinya.

"Aku cuma perlu apa?" Arjuna mendesak, nadanya datar. "Mengambil 'kesucian' yang kamu agung-agungkan itu, agar mantan kekasihmu tahu bahwa kamu sudah kotor? Begitu?"

Dara terdiam, membeku. Bagaimana bisa pria ini tahu? Apa dia cenayang?

"Jangan berasumsi!" Dara menaikkan volume suaranya. "Aku tidak pernah bilang soal mantan atau kesucian atau apa pun itu! Aku hanya butuh pelarian."

Arjuna tersenyum lagi. Senyum mengejek yang membuat Dara ingin menamparnya.

"Semua orang yang datang ke tempat seperti itu selalu bilang 'pelarian'. Tapi matamu, Nona, matamu bilang 'pembalasan'. Kamu ingin menyakiti orang lain, tapi yang kamu lakukan justru menyakiti dirimu sendiri. Kamu yakin mau melanjutkan ini?"

Konflik batin Dara memuncak. Seluruh tubuhnya berteriak: PULANG! INI SALAH! Tapi ada suara lain, suara Arga yang mengejeknya, yang bilang dia 'tidak selevel', yang bilang dia 'terlalu innocent'. Suara itu lebih keras.

"Aku yakin," kata Dara, suaranya pelan dan tegas. "Jangan banyak tanya. Aku tidak butuh ceramahmu. Aku hanya butuh kamu menutup mata dan melakukan apa yang harus kamu lakukan."

Arjuna tidak menjawab lagi. Dia hanya menatap Dara lama, tatapan yang membuat Dara merasa telanjang tanpa harus melepas pakaiannya. Tatapan itu seolah-olah sedang menghitung harga dari jiwanya.

"Baiklah," kata Arjuna akhirnya, menyandarkan kepalanya ke belakang. "Aku hanya memastikan. Karena setelah ini, tidak ada kata kembali."

Mobil itu berhenti di depan sebuah penthouse mewah yang menjulang tinggi, dengan kaca-kaca gelap yang memancarkan kemegahan yang menakutkan. Ini jelas bukan kamar hotel sewaan yang biasa dipakai gigolo. Ini adalah tempat tinggal pribadi.

Supir membukakan pintu untuk mereka. Dara melangkah keluar. Udara malam yang dingin terasa menusuk kulitnya. Arjuna menyusul, postur tubuhnya yang tinggi membuat Dara merasa kecil.

Mereka naik lift pribadi. Dara mencoba membaca ekspresi Arjuna, tapi pria itu seperti patung. Ekspresinya netral, tidak antusias, tidak pula menyesal.

Saat pintu lift terbuka, Dara disambut pemandangan kota Jakarta yang berkilauan. Apartemen itu sangat luas, didominasi warna monokrom, dan sangat sepi. Tidak ada foto, tidak ada barang pribadi yang mencolok. Tempat ini terlihat seperti showcase majalah, bukan rumah.

Arjuna berjalan lurus ke arah jendela kaca besar, menghadap pemandangan. Dara mengikutinya.

"Minum?" tawar Arjuna, menunjuk ke arah bar mini.

Dara menggeleng. Alkohol di tubuhnya sudah cukup. Dia butuh kesadaran, sekarang. Kesadaran untuk melalui kesalahan ini.

"Aku capek main tebak-tebakan," kata Dara, memberanikan diri. Dia melangkah maju, berdiri di belakang Arjuna. "Kamu bukan gigolo. Kamu jelas orang kaya. Jadi kenapa kamu setuju untuk ikut denganku?"

Arjuna berbalik, menyilangkan tangan di dada. "Aku setuju karena kamu datang dengan api di matamu. Aku tertarik melihat sampai mana kamu bisa membakar diri sendiri."

"Jadi kamu cuma ingin melihat dramaku?" Dara kesal. Ini lebih buruk daripada dibayar. Ini berarti dia adalah tontonan.

"Semua orang punya drama, Nona," Arjuna mengoreksi. "Tapi kamu, kamu membawa dendam. Dan dendam yang tidak pada tempatnya itu, berbahaya."

Dara terdiam. Arjuna bicara seolah dia adalah hakim, bukan partisipan.

"Aku tidak peduli," kata Dara, mendekat. Dia harus melakukan ini, sekarang, sebelum dia berubah pikiran. Dia harus menghancurkan ide Arga tentang dirinya. "Aku mau ini selesai. Malam ini juga. Sekarang."

Dara meraih kerah kemeja Arjuna, menariknya agar wajah mereka berdekatan. Hidung mereka hampir bersentuhan. Bau cologne yang memabukkan itu kini terasa sangat dekat.

"Kalau kamu tidak dibayar, anggap saja aku yang memaksamu," bisik Dara, matanya menantang, penuh air mata yang tertahan. "Anggap saja aku gila. Tapi jangan sentuh aku dengan kelembutan. Aku tidak mau itu. Aku mau ini kotor. Aku mau ini one night stand paling berantakan yang pernah kamu alami."

Dara tahu dia sedang melempar dirinya ke jurang, tapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin terbang.

Arjuna menatapnya lurus. Ada pergolakan di matanya. Sedetik, Dara melihat rasa kasihan. Sedetik kemudian, rasa kasihan itu hilang, digantikan oleh sesuatu yang gelap dan lapar.

Arjuna tidak menjawab dengan kata-kata. Dia membalas tarikan Dara. Tangannya yang besar memegang pinggang Dara, mencengkeramnya sedikit keras. Punggung Dara terbentur dinding kaca yang dingin.

Ciuman itu datang dengan tiba-tiba. Bukan ciuman lembut, tapi ciuman yang mendominasi, menuntut. Semua kesunyian di antara mereka meledak dalam satu detik panas yang tak terhindarkan.

Dara memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam. Dia tidak memikirkan Arjuna. Dia memikirkan Arga. Dia memikirkan rasa sakit yang ingin dia hilangkan. Dia mencium Arjuna, tapi yang dia cium adalah rasa sakitnya sendiri.

Pakaian Dara mulai dilucuti, satu per satu. Seragam pramugari yang ia banggakan tadi siang, kini hanya kain hinaan yang harus ia buang. Ia merasakan sentuhan dingin, dan kemudian sentuhan panas yang membakar.

Di tengah gairah yang mulai membakar penthouse itu, pikiran Dara tiba-tiba kembali jernih. Dia membuka matanya, dan melihat wajah Arjuna yang kini terlihat sangat dekat, penuh fokus.

Dia bukan pria yang melakukan ini setiap hari. Dia bukan gigolo. Dia adalah... seseorang yang terlatih. Terlatih dalam banyak hal.

Dara memejamkan mata lagi, membiarkan dirinya benar-benar hanyut dalam malam yang sudah ia pilih ini. Tidak ada lagi pikiran tentang Arga. Tidak ada lagi dendam. Hanya ada rasa sakit yang kini berubah menjadi pelepasan emosi yang liar.

Malam itu berlangsung panjang. Jendela penthouse itu menjadi saksi bisu dari keputusan nekat seorang pramugari yang patah hati. Dara memeluk Arjuna, tapi yang dia peluk adalah kehancurannya.

Saat akhirnya semua mereda, dan keheningan kembali memenuhi ruangan, Dara merasa tubuhnya kelelahan, tapi jiwanya terasa kosong dan dingin. Ia berbaring di samping Arjuna, yang membiarkan tangannya melingkari Dara dengan posesif.

Dara membalikkan tubuhnya, menatap punggung Arjuna. Punggung itu lebar, kokoh, dan penuh misteri. Siapa pria ini? Dia tidak pernah meminta namanya lagi. Dia hanya memanggilnya 'Arjuna'.

Tiba-tiba, Dara melihat sesuatu yang mengilap di atas meja nakas, tepat di bawah lampu tidur yang meredup.

Itu bukan jam tangan. Itu adalah ponsel Arjuna, dan di samping ponsel itu, ada dompet kulit berwarna hitam. Dan dari dompet itu, ada sedikit bagian yang menyembul keluar.

Kartu Identitas.

Rasa penasaran Dara lebih besar dari rasa malu dan penyesalan yang mulai merayapi hatinya. Pelan-pelan, Dara melepaskan pelukan Arjuna, berhati-hati agar pria itu tidak terbangun. Dia meraih dompet itu.

Tangannya gemetar saat ia menarik keluar kartu identitas tersebut.

Di bawah cahaya remang-remang, Dara melihat fotonya. Wajah yang sama, tatapan yang sama, tapi kini terlihat lebih formal.

Dara membaca namanya. ARJUNA DHARMA KUSUMA.

Lalu, Dara membaca pekerjaannya. CAPTAIN PILOT.

Pilot. Sama seperti Arga.

Lalu, Dara melihat nama maskapainya.

SKYWARD AIRLINES.

Dara tercekat. Nafasnya tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak. Kartu identitas itu terlepas dari tangannya, jatuh di atas karpet tebal tanpa suara.

Pilot. Pilot senior. Kapten di maskapai yang sama dengannya.

Kepalanya berputar. Bukan gigolo. Bukan pria bayaran. Dia adalah salah satu pria paling dihormati di maskapai itu.

Dara teringat desas-desus di kantin kru, gosip para senior, bahwa Kapten Arjuna adalah anak tunggal dari salah satu pendiri Skyward Airlines, dan dia adalah calon pewaris tunggal maskapai tersebut.

Kepala Dara terasa seperti ditusuk-tusuk jarum es. Dia tidak hanya menghabiskan malam dengan seorang Kapten Pilot. Dia menghabiskan malam panasnya dengan bos besarnya.

"Oh, Tuhan," bisik Dara, menutupi mulutnya dengan tangan. Air mata yang seharusnya keluar karena Arga, kini keluar karena ketakutan.

Bukan dendam. Ini bukan pembalasan. Ini bunuh diri karier. Dia baru enam bulan. Dia telah melakukan kesalahan yang tidak termaafkan dengan pewaris maskapai.

Dara menoleh ke samping, menatap Arjuna yang tidur pulas, tidak menyadari bahwa identitasnya telah terungkap. Pria yang tadi malam berlagak seperti gigolo, yang mengejek innocence-nya, sekarang adalah pria yang memegang kunci masa depan Dara.

Semua rasa penyesalan, semua rasa malu, dan semua ketakutan kini bercampur jadi satu. Dara harus pergi. Sekarang. Sebelum Arjuna bangun, sebelum dia harus menghadapi kenyataan yang sangat pahit ini.

Dara bangkit dengan gemetar, mengumpulkan sisa-sisa pakaiannya yang berserakan. Dia tahu, mulai hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dan pengkhianatan Arga, kini terasa sangat kecil dibandingkan dengan bencana yang baru saja ia ciptakan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aksara Cinta Antara Harta dan Pilihan
8.2
Amora Carolline terjepit dalam dilema besar antara ambisi karier dan asmara. Kehadiran Arka Christian, pebisnis sukses yang menawarkan kemewahan, membawa Amora ke dunia gemerlap. Namun, muncul Vano Elbar, pria pilihan ibunya yang menawarkan kehangatan serta ketulusan dalam kesederhanaan. Kini, Amora harus menentukan arah hidupnya: mengejar harta bersama Arka yang penuh tekanan, atau memilih cinta tulus Vano meski hidup terbatas. Sebuah pencarian makna cinta sejati.
Sampul Novel Aku Tak Membencimu
8.5
Demi melunasi utang ibunya, Ayyara Faderica terpaksa menikahi CEO Kieran Bimantara. Meski Kieran memperlakukannya bak ratu karena rasa cinta yang lama terpendam, Ayyara justru sulit membuka hati dan diam-diam masih menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya. Walau dikhianati, Kieran tetap gigih berjuang demi mendapatkan cinta sang istri. Akankah Ayyara akhirnya menyadari ketulusan Kieran, ataukah masa lalu akan menghancurkan pernikahan mereka?
Sampul Novel Benih Satu Milyar
8.0
Nara harus menelan pil pahit saat ibu kandungnya menjual kesuciannya di usia delapan belas tahun demi melunasi utang. Niat hati merantau ke kota demi mencari sang ibu yang menghilang sejak ia kecil, Nara justru terjebak dalam nasib kelam. Pertemuan yang ia dambakan malah menghancurkan masa depannya secara total. Kini, tiga tahun telah berlalu sejak kejadian tragis tersebut, dan Nara terpaksa menjalani kehidupan yang tak pernah ia bayangkan sebagai seorang sugar baby.
Sampul Novel CEO Mengejar Cinta Adik Mafia
8.0
Rio terjebak dalam pusaran dendam yang berubah menjadi cinta mendalam sekaligus penyesalan pahit. Meski perasaan di antara keduanya begitu kuat, ia dipaksa mengorbankan egonya demi melindungi keselamatan sang pujaan hati. Kisah ini membuktikan bahwa cinta tak pernah salah memilih sasaran, namun perjuangan untuk bersatu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Rio harus menerima kenyataan bahwa mencintai tidak selalu berarti harus memiliki sosok tersebut.
Sampul Novel Cinta Semalam Dengan Miliarder
9.1
Melinda, gadis desa berusia 21 tahun, terjebak pengkhianatan teman hingga berakhir di pelukan Lukas, CEO ternama. Malam gairah itu membuahkan benih yang mengancam reputasi Lukas. Sang miliarder kini bimbang antara menjaga nama baik atau bertanggung jawab atas bayi tersebut. Di tengah rahasia gelap dan intrik keluarga, mereka harus menghadapi perbedaan status yang tajam. Akankah cinta mengatasi kebencian, ataukah ambisi menghancurkan masa depan yang baru saja dimulai?
Sampul Novel Hanya Istri Kedua
9.3
Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan kebangkrutan, Anyelir terpaksa mengubur mimpinya sedalam mungkin. Ia setuju menjadi istri kedua bagi Serkan Alvaro, seorang pebisnis muda berdarah dingin yang sangat populer. Di balik bantuan finansial yang diberikan, motif Serkan menikahi Anyelir masih menjadi misteri besar. Kini, Anyelir harus menghadapi kerasnya kehidupan rumah tangga yang penuh tanda tanya. Akankah pernikahan ini memberikan kebahagiaan baginya?