Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kontrak Ranjang Sang Kapten

Kontrak Ranjang Sang Kapten

Dara, pramugari Skyward Airlines, hancur saat memergoki kekasih pilotnya berkhianat. Untuk membalas dendam, ia nekat menghabiskan malam panas bersama pria asing yang dikira gigolo. Sialnya, pria itu adalah Arjuna, pilot senior sekaligus pewaris tunggal maskapai tempatnya bekerja. Kini Dara terjebak dalam konsekuensi rumit, terikat rahasia dengan pria yang memegang kendali penuh atas karier serta masa depannya di dunia penerbangan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Dara bergerak secepat mungkin, tangannya gemetar hebat saat mencoba memasukkan lengan ke dalam blus seragamnya yang kusut. Paranoia melilitnya, membuatnya merasa seolah suara napasnya saja bisa membangunkan Arjuna.

Di kamarnya yang luas, dengan jendela kaca raksasa yang sudah diterangi cahaya pagi Jakarta, Dara terlihat seperti pencuri yang ketahuan. Pikirannya berputar liar. Bukan cuma sekadar pilot. Bukan cuma Kapten. Tapi Pewaris Skyward Airlines. Pria yang bisa membuat Dara dipecat hanya dengan satu desahan.

Dia harus pergi. Sekarang.

Dara merangkak di lantai, mengumpulkan bra, celana dalam, rok seragam yang terlipat di balik sofa. Rok seragamnya! Astaga, ini adalah seragam kerja. Dia tidak boleh meninggalkan jejak apa pun.

Saat Dara memungut dasi lehernya yang terjatuh di samping tempat tidur, matanya bertemu dengan sosok Arjuna yang masih tidur pulas.

Arjuna berbaring telentang, dadanya yang bidang naik turun teratur. Wajahnya yang tanpa ekspresi semalam, kini terlihat lebih rileks, damai. Justru pemandangan damai itu membuat Dara semakin panik. Pria yang terlihat setenang itu adalah bencana besar baginya.

Dara menyelinap ke kamar mandi. Dia mencuci muka dengan air dingin, memaksa dirinya sadar. Wajahnya di cermin terlihat pucat, matanya merah dan sembap. Dara yang semalam dipenuhi dendam, kini hilang, digantikan oleh Dara si pramugari yang takut kehilangan pekerjaan.

Dia berusaha menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari, mencoba mengikatnya menjadi cepol sederhana. Dia harus terlihat profesional. Setidaknya, terlihat seperti orang waras, meskipun dia baru saja melakukan hal paling gila dalam hidupnya.

Selesai di kamar mandi, Dara kembali ke kamar tidur, mencoba mencari sepatunya. Sepatu hitamnya yang mengilap, simbol profesionalismenya, ada di dekat pintu masuk penthouse.

Dia berjalan pelan, langkahnya sangat hati-hati, seperti menginjak ranjau. Ketika dia melewati tempat tidur, tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menyambar pergelangan tangannya.

"Mau ke mana, Sweetheart?"

Suara Arjuna. Serak, berat, khas orang baru bangun tidur. Namun, intonasinya tidak lagi dingin. Ada nada posesif yang membuat Dara langsung merinding.

Dara tersentak. Dia berbalik cepat, mencoba melepaskan tangannya. "Aku... aku harus pergi! Aku terlambat kerja!"

Arjuna tidak melepaskan. Dia hanya menarik sedikit pergelangan Dara, memaksa Dara untuk mendekat. Dara bisa mencium bau kulit dan cologne mahal yang bercampur.

"Terlambat kerja?" Arjuna tersenyum sinis, tapi matanya masih tertutup. "Setelah apa yang terjadi semalam, kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja dengan alasan terlambat shift?"

"Aku tidak... aku tidak mau apa-apa!" Dara gugup, suaranya tercekat. "Semalam... lupakan saja. Anggap saja itu... kecelakaan. Aku bayar kamu berapapun yang kamu mau. Tambah lagi tiga kali lipat dari yang semalam! Cuma lupakan aku!"

Arjuna akhirnya membuka matanya. Matanya yang tajam itu menatap Dara, yang kini hanya berdiri kaku di samping tempat tidurnya, dengan seragam kusut dan wajah penuh ketakutan.

"Bayar?" Arjuna tertawa, tawa yang dalam, tapi tidak ada kegembiraan di dalamnya. "Kamu pikir aku butuh uangmu, Nona?"

Dara langsung teringat kartu identitas yang dia lihat. Sial. Dia tidak boleh menunjukkan bahwa dia tahu.

"Aku tidak tahu kamu siapa!" Dara berbohong. "Aku pikir kamu... aku salah orang. Aku minta maaf. Aku hanya... sedang putus asa."

Arjuna bangkit. Gerakannya lambat, tapi setiap gerakan memancarkan otoritas. Dia hanya mengenakan selimut yang melilit pinggangnya, memperlihatkan tubuh atletisnya. Dara buru-buru memalingkan wajah.

"Lihat aku, Dara."

Dara terkejut. "Bagaimana... bagaimana kamu tahu namaku?"

"Aku tahu segalanya," kata Arjuna, nadanya datar. "Kamu pikir aku akan tidur dengan wanita asing yang tiba-tiba datang ke bar dan menawari uang, tanpa tahu dia siapa? Kamu pikir ini film? Aku sudah menyelidiki kamu, bahkan sebelum kamu selesai meminum cocktail pertamamu."

Arjuna berjalan ke sisi lain tempat tidur, mengambil ponselnya. Dia melakukan beberapa sentuhan cepat, lalu melemparkan ponsel itu ke pangkuan Dara.

Dara dengan ragu melihat layar ponsel Arjuna. Di sana, ada profil Dara di sistem kepegawaian Skyward Airlines. Fotonya, nama lengkapnya: Dara Kirana Putri, jabatannya: Flight Attendant Junior, dan yang paling mengerikan, detail kontak dan alamat rumahnya.

Dara membeku. "Kamu... kamu mengancamku?"

"Mengancam?" Arjuna tersenyum kecil. "Aku tidak perlu mengancam, Dara. Aku hanya ingin kamu tahu, kamu tidak bisa lari. Aku tahu kamu pramugari baru, enam bulan, dan mantan kekasihmu adalah Kapten Arga yang baru saja membuangmu demi Sasha si sosialita."

Arjuna tahu semuanya. Semua plot dendamnya, semua rasa sakitnya, semua detail hinaan Arga. Dara merasa semua rahasianya telah dicuri.

"Kamu tahu, tapi kamu tetap setuju?" tanya Dara, suaranya nyaris menangis.

"Tentu saja aku setuju," jawab Arjuna, kini berdiri tegak di depannya. "Malam itu, di matamu, aku melihat diriku beberapa tahun lalu. Bodoh, putus asa, dan ingin menghukum dunia. Kamu ingin menghancurkan 'kesucian' yang kamu anggap kelemahanmu, dan aku..."

Arjuna berhenti sejenak, tatapannya menyelimuti Dara dari kepala hingga kaki.

"...Dan aku memberikannya padamu. Itu adalah transaksi yang adil. Kamu mendapatkan pelepasanmu, dan aku mendapatkan..."

"Mendapatkan apa?" desak Dara.

Arjuna tidak menjawab. Dia berjalan menuju lemari besar, mengambil jubah mandinya. "Aku mendapatkan sebuah misteri yang harus dipecahkan. Sebuah pramugari baru yang berani mempertaruhkan kariernya di meja bar. Itu menarik."

Dara menjatuhkan ponsel Arjuna, berlari menjauh darinya, menuju koper kecilnya di dekat pintu. Dia harus pergi, tidak peduli dia sudah ketahuan atau belum.

Saat dia mencoba menarik pegangan koper, dia teringat: dia meninggalkan dompetnya di dalam tas kecil yang ia bawa semalam, dan tas itu tergeletak di sofa ruang tamu.

Sial.

Dara berbalik. Arjuna kini sudah mengenakan jubah mandi, tampak jauh lebih santai. Dia bersandar di kusen pintu kamar, mengamati Dara dengan tenang.

"Mencari ini?" Arjuna mengangkat tas kecil Dara, yang berisi dompet dan kartu identitas Dara.

Dara mengangguk, tanpa kata.

Arjuna berjalan perlahan, melangkah melintasi karpet. Setiap langkahnya terasa seperti derap kaki tentara bagi Dara.

"Aku rasa, kamu tahu siapa aku, Dara," kata Arjuna, kini berdiri tepat di depan Dara, memaksanya mendongak. "Aku lihat kamu melihat dompetku semalam. Kamu sudah tahu namaku, jabatanku, dan mungkin... latar belakang keluargaku."

Dara menelan ludah, air matanya sudah siap tumpah. "Tolong, Kapten," bisik Dara, tanpa sengaja memanggilnya dengan gelar. "Tolong jangan beritahu siapa pun. Aku mohon. Aku janji akan diam. Aku janji kita tidak pernah bertemu."

Arjuna tersenyum dingin. "Tidak pernah bertemu? Itu lucu, Dara. Aku adalah calon pewaris maskapai tempat kamu bekerja. Dan setelah semalam, kamu pikir kita bisa berpura-pura asing?"

Dia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Dara dengan punggung jemarinya. Sentuhan itu lembut, tapi terasa seperti hukuman.

"Aku tidak akan memberitahu siapa pun," kata Arjuna. "Tapi, kamu juga tidak bisa pergi begitu saja, setelah kamu berani menawariku uang. Itu adalah penghinaan, Dara."

"Aku minta maaf! Aku tidak tahu! Aku benar-benar putus asa!" Dara menangis.

"Baiklah," Arjuna menarik tangannya. "Aku akan memaafkan penghinaanmu. Dengan satu syarat."

Dara menatapnya dengan putus asa. "Apa pun. Aku akan melakukan apa pun."

Arjuna melipat tangan di dadanya, tatapannya kini berubah menjadi perhitungan bisnis yang tajam.

"Kita akan berpura-pura bahwa ini tidak pernah terjadi di tempat kerja. Kamu akan bersikap profesional. Tapi, di luar jam kerja... kamu akan menjawab panggilanku."

Dara terkejut. "Maksudmu... kita akan terus..."

"Apa yang kamu pikirkan?" Arjuna memotong dengan nada mengejek. "Kamu pikir aku mau pacaran dengan pramugari baru yang desperate? Tidak, Dara. Aku butuh kamu. Aku butuh informasi dari dalam kru. Dan kamu, yang baru dan tidak punya faksi, adalah pion yang sempurna."

Konflik Dara kini semakin dalam. Dia bukan hanya menghadapi konsekuensi one night stand, tapi juga dijerat dalam intrik perusahaan.

"Aku... aku tidak mengerti," Dara menggeleng.

"Kamu tidak perlu mengerti," Arjuna menyerahkan tas kecil Dara. "Kamu hanya perlu tahu bahwa aku sedang bertarung dengan rivalku di Dewan Direksi-termasuk pamanku-yang berusaha menjatuhkanku agar dia bisa mengambil alih kendali maskapai. Arga, mantanmu, adalah salah satu pilot yang berusaha mereka beli."

Dara teringat perselingkuhan Arga. Jadi itu bukan hanya tentang wanita, tapi tentang kekuasaan?

"Aku butuh mata dan telinga di antara para kru," lanjut Arjuna, matanya menajam. "Kamu akan memberiku laporan informal tentang siapa yang bicara dengan siapa, tentang rencana penerbangan, tentang segala keanehan. Anggap saja ini pekerjaan sampinganmu. Sebagai gantinya, Aku akan menjamin kariermu."

Arjuna berjalan ke arah meja, mengambil kunci mobilnya. "Aku akan mengantar kamu. Kamu punya waktu sampai penerbangan berikutnya untuk memutuskan. Tapi ingat, Dara, kalau kamu bilang tidak, maka aku anggap kamu memilih untuk mengakhiri kontrakmu dengan Skyward Airlines secara permanen."

Dara berdiri terpaku, memegang tas kecilnya. Ia datang ke sini untuk membalas dendam pada seorang pilot rendahan, dan berakhir dalam cengkeraman pewaris maskapai yang menjadikannya mata-mata.

Dia tidak punya pilihan. Dia telah terperangkap.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GHA" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GHA
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Cinta Sang Billionaire
7.9
Demi membiayai pengobatan sang adik, Krystal terpaksa meminta bantuan finansial kepada Kaivan Bastian Mahendra. Namun, dukungan dana dari sang miliarder tidaklah cuma-cuma. Krystal harus membayar mahal dengan kesediaannya menjadi istri kedua pria tersebut. Terjebak dalam pernikahan yang rumit dan penuh tekanan, mampukah Krystal bertahan menjalani kehidupan barunya? Sebuah kisah tentang pengorbanan dan cinta yang terbelenggu oleh sebuah syarat berat.
Sampul Novel Cinta Dalam Keheningan
8.8
Aria yang bisu sejak lahir kerap diabaikan hingga takdir membawanya menjadi nyonya di Keluarga Kurnia. Ia tahu suaminya, Ian, tidak mencintainya. Saat Letty, cinta pertama Ian, kembali dari luar negeri dan menjalin hubungan lagi dengan suaminya, Aria sadar pernikahan ini harus berakhir. Demi melindungi rahasia kandungannya, Aria menyembunyikan hasil tes kehamilan dan memutuskan untuk mundur dari kehidupan pria miliarder tersebut.
Sampul Novel CINTA DI BALIK TOPENG
9.5
Seorang pebisnis ternama menyembunyikan identitas aslinya sebagai pemimpin dunia bawah yang ditakuti. Takdir mempertemukannya dengan wanita penuh teka-teki yang juga memendam rahasia kelam. Di tengah kemewahan dan bahaya, benih cinta mulai tumbuh, memaksa mereka menghadapi konflik batin yang hebat. Hubungan ini penuh godaan mematikan saat topeng masing-masing perlahan retak, mengancam keselamatan serta posisi kekuasaan yang selama ini mereka bangun.
Sampul Novel KECELAKAAN SEMPURNA
8.9
Demi biaya pengobatan kanker ibunya, Qarletta Averly yang berusia 21 tahun mencoba peruntungan di Heston Corporation. Ia berharap posisi fotografer di perusahaan raksasa itu menjadi solusi finansialnya. Namun, impian indahnya hancur saat bertemu sang CEO, Carl Heston. Alih-alih karier cemerlang, sebuah kesalahan fatal justru menjerat Arlett dalam skandal besar yang dirancang Carl. Kini, Arlett terjebak dalam situasi rumit dengan pria berkuasa yang mengubah hidupnya.
Sampul Novel Kutandatangani Dosa Mereka
9.0
Demi melindungi Hanaya yang hamil, Ferdi tega membujuk tunangannya, Tiara, untuk mengakui kejahatan yang tidak ia lakukan. Mengingat penderitaan di kehidupan sebelumnya—di mana penolakannya berujung pada penjara dan penyiksaan hingga mandul—Tiara kini memilih menandatangani surat pengakuan tersebut. Hanaya segera memfitnahnya di media atas pencurian rahasia dagang Perusahaan Lukito. Namun, plot berbalik saat Rian Lukito selaku penggugat justru mencabut tuntutan di persidangan dan berlutut untuk melamar Tiara.
Sampul Novel LILYA - Gadis yang Digadaikan Keluarga
8.2
Demi menyelamatkan bisnis keluarga dari kebangkrutan, Lilya terpaksa menggantikan kakaknya, Kenanga, untuk menikahi pria dari keluarga Gunawan yang dirumorkan sebagai pak tua mesum. Namun, saat pernikahan berlangsung, sosok misterius bernama Evan itu ternyata masih muda dan tampan. Evan membantah semua tuduhan buruk yang selama ini Lilya dengar. Akankah Lilya menemukan kebahagiaan bersama Evan, ataukah obsesi Kenanga akan menghancurkan rumah tangga mereka?