
Kontrak Kedua, Istri Bayangan Sang Pewaris
Bab 2
Aurora duduk di tepi tempat tidur mewah itu, kepalanya terasa berdenyut hebat. Suara bisikan yang baru saja didengarnya masih menghantuinya.
Pion di tangan mereka.
Betapa dinginnya kata itu menggigit hatinya. Seolah seluruh hidupnya kini menjadi permainan yang ia tidak pernah minta untuk dimainkan.
Ia menatap langit-langit kamar yang dihiasi lukisan-lukisan klasik, berharap menemukan seberkas kekuatan untuk bangkit. Namun, yang ada hanya perasaan hampa yang tak bisa ia hapuskan begitu saja.
Suara ketukan pelan di pintu memecah keheningan.
"Aurora?" suara itu lembut, tapi tak menghilangkan ketegangan di udara.
Aurora menoleh, menemukan seorang wanita berpenampilan anggun berdiri di ambang pintu. Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna gelap, dengan mata tajam yang seolah menilai setiap gerak-geriknya.
"Ini kamarku?" tanya Aurora, suaranya penuh ragu.
Wanita itu melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.
"Aku Isabelle, asisten pribadi Damian," katanya sambil tersenyum tipis. "Dan juga pengawasmu sekarang."
Aurora menggigit bibirnya. "Jadi, aku dipenjara di sini?"
Isabelle tertawa kecil, tapi tatapannya tetap serius.
"Bukan penjara. Tapi kau memang harus patuh pada aturan. Ini bukan pernikahan biasa, Aurora. Keluarga Aldridge punya cara mereka sendiri menjaga rahasia."
Selama hari-hari berikutnya, Aurora mulai merasakan betapa beratnya hidup barunya. Setiap langkah diawasi, setiap kata diperhatikan. Ia diperintahkan mengikuti aturan ketat yang bahkan belum ia mengerti sepenuhnya.
Damian, suaminya, jarang menunjukkan sisi lembut. Tatapan dingin dan suara tegasnya membuatnya merasa seperti tahanan, bukan istri.
Namun, di balik semua itu, ada kilatan-kilatan kecil yang membuat Aurora penasaran. Sekali waktu, Damian terlihat melunak saat memandangnya, tapi cepat-cepat menutupinya dengan dinding dingin yang selalu ia bangun.
Suatu malam, Aurora duduk di balkon kamar, menatap langit malam yang diterangi bintang-bintang. Hatinya dipenuhi pertanyaan dan kegelisahan.
"Tuhan, mengapa aku harus melalui semua ini?" bisiknya pada udara.
Tiba-tiba, suara langkah kaki menghampirinya. Damian berdiri di belakangnya, diam tanpa berkata apa-apa.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Damian akhirnya membuka suara.
"Aurora," katanya pelan. "Aku tahu ini berat. Tapi kau harus mengerti, ini bukan hanya tentang kita."
Aurora menatapnya, mencoba menembus dinding yang selama ini memisahkan mereka.
"Kau tidak mengerti, Damian. Aku kehilangan hidupku, kebebasanku," jawab Aurora dengan suara bergetar.
Damian menarik napas panjang, kemudian berkata, "Aku juga kehilangan banyak hal. Keluargaku, warisanku, bahkan... orang yang kucintai."
Aurora terkejut mendengar kata-kata itu. "Siapa?"
Damian memalingkan wajah, menyembunyikan kesedihannya.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Tapi aku janji, suatu hari kau akan mengerti."
Hari-hari berlalu dengan ketegangan yang tak kunjung reda. Aurora mulai mengenal lingkungan istana Aldridge yang penuh dengan rahasia dan intrik.
Ia bertemu dengan beberapa anggota keluarga yang tampak ramah, tapi menyimpan ambisi tersembunyi. Ada anak-anak Damian yang memandangnya dengan rasa curiga, ada pula pelayan yang membisikkan cerita-cerita gelap tentang masa lalu keluarga ini.
Semua menambah beban Aurora, tapi juga menyalakan api keberaniannya untuk bertahan.
Suatu malam, saat sedang berjalan di taman luas yang penuh dengan bunga-bunga langka, Aurora bertemu dengan seorang pria muda yang ternyata adalah sepupu Damian, Lucas.
Lucas berbeda dari Damian. Ia ramah, hangat, dan memperlakukan Aurora dengan sopan. Mereka berbicara lama tentang hidup, mimpi, dan beban keluarga Aldridge.
"Aurora, kau harus kuat. Aku tahu Damian bisa terlihat keras, tapi di balik itu, dia adalah pria yang penuh luka," kata Lucas dengan serius.
Aurora merasa sedikit lega mendengar itu. Setidaknya, ia tahu ia tidak sendirian.
Namun kebahagiaan sesaat itu sirna ketika suatu malam ia mendengar percakapan Damian dengan seseorang melalui telepon.
"Aurora mulai menjadi masalah. Dia terlalu banyak bertanya," suara Damian terdengar dingin.
"Tenang, kami akan atasi. Dia hanya pion, seperti yang kau katakan," balas suara di seberang.
Aurora tersentak. Pion? Apakah selama ini ia benar-benar hanya alat?
Di titik itu, Aurora sadar bahwa pernikahan kontrak ini bukan hanya tentang cinta atau keluarga, tapi tentang permainan kekuasaan yang kejam.
Ia bertekad, tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban. Ia harus mencari cara untuk keluar dari labirin ini, atau setidaknya menguasainya.
Ketika Aurora membuka laci meja di kamarnya, ia menemukan sebuah amplop misterius berisi foto-foto lama dan surat yang mengisyaratkan rahasia besar keluarga Aldridge. Di situ tertulis dengan tinta merah:
"Jangan percayai siapa pun. Kebenaran akan membebaskanmu-atau menghancurkanmu."
Anda Mungkin Juga Suka





