Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kisah Penyesalan Masa Lalu Yang Menusuk

Kisah Penyesalan Masa Lalu Yang Menusuk

Sepuluh tahun pernikahan dengan Pradipa hanya menyisakan luka pedih karena ia masih terobsesi pada cinta pertamanya. Puncaknya, Pradipa tega memaksaku mendonorkan darah demi wanita itu. Di ambang maut, sebuah penglihatan masa lalu mengungkap dosa besarku yang telah menghancurkan Adam, pria tulus yang mencintaiku. Kini aku terbangun dengan kesempatan kedua. Aku bertekad melepaskan Pradipa dan menebus kesalahan demi menemukan kedamaian sejati.
Bab
Bagikan

Bab 1

Selama sepuluh tahun pernikahan, aku menahan siksaan batin karena suamiku, Pradipa, tak pernah bisa melupakan cinta pertamanya, Riana.

Aku mencintainya secara buta, namun yang kudapat hanyalah penghinaan dan pengkhianatan. Puncaknya, saat Riana mencoba bunuh diri, Pradipa dengan kejam memaksaku yang menderita anemia untuk mendonorkan darah demi menyelamatkannya.

Saat itulah hatiku benar-benar mati.

Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Di ambang kematian, aku melihat kehidupan masa laluku yang lain-di mana akulah yang menjadi sosok kejam seperti Pradipa. Aku menyakiti dan menghancurkan pria yang tulus mencintaiku, Adam, hingga ia memilih mengakhiri hidupnya.

Penyesalan yang menusuk jiwa itu membuatku terbangun.

Kini, aku terlahir kembali. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku akan melepaskan Pradipa, membiarkannya mengejar kebahagiaannya sendiri, dan aku akan mencari kedamaian untuk diriku.

Bab 1

Alvina POV:

Jika aku tahu bagaimana ini akan berakhir, aku tidak akan pernah membiarkan Pradipa Prakasa masuk ke dalam hidupku.

"Apa kamu akhirnya akan menyerah?" Suara Pradipa menusuk telingaku, diselimuti nada ejekan yang sudah terlalu akrab. Wajahnya yang tampan terlihat begitu dingin, tanpa sedikit pun emosi.

Aku menatapnya. Dia berdiri di hadapanku seperti pahlawan yang muncul dari komik, seragam militernya yang sempurna membingkai sosok tegapnya. Medali di dadanya berkilauan, seolah mengejek setiap napas yang kuambil. Dia adalah gambaran sempurna seorang pria yang dihormati, seorang penyelamat bagi banyak orang. Namun bagiku, dia adalah algojo.

Dulu, aku akan tersipu melihatnya dalam seragam itu. Kini, setiap benang kainnya terasa seperti belenggu yang mengikatku pada penderitaan. Mataku terasa perih, bukan karena air mata, melainkan karena kesadaran yang pahit. Kenangan pahit muncul, satu per satu, seperti pecahan kaca di hatiku. Aku tahu, kali ini, aku tidak akan membiarkan diriku hancur lagi.

Dia bertanya lagi, "Apakah kamu sudah gila? Atau pura-pura gila?"

Aku hanya tersenyum tipis. Mungkin memang benar. Mungkin aku memang gila. Gila karena pernah mencintainya begitu dalam. Gila karena mengira aku bisa mengubahnya. Tapi kali ini, kegilaanku adalah kunci kebebasanku.

"Aku sudah tidak mencintaimu," kataku, suaraku sendiri terdengar asing di telingaku. Aku tidak tahu dari mana datangnya kekuatan itu, tapi setiap kata yang keluar terasa seperti membebaskan rantai yang mengikatku.

Wajahnya menegang. Keningnya berkerut, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. "Apa maksudmu?"

"Dia, Riana, adalah wanita yang selalu kamu inginkan, kan?" Aku melanjutkan, menatap tepat ke matanya. "Wanita yang selalu kamu kejar, bahkan saat kamu bersamaku."

Mata Pradipa menyipit. Aura permusuhan langsung memancar darinya. "Jangan coba-coba melibatkan Riana dalam masalah ini."

"Melibatkan?" Aku tertawa getir. "Dia selalu ada di antara kita, Pradipa. Bahkan saat kita mengucapkan janji suci."

"Jangan berani-berani melakukan hal kotor apa pun pada Riana," ancamnya, suaranya rendah dan penuh bahaya. "Aku peringatkan kamu."

Aku mengangkat tanganku, menghentikan ucapannya. "Tidak perlu mengancamku. Aku tidak akan melakukan apa pun padanya. Atau padamu." Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan semua keberanian yang tersisa. "Aku menyerah, Pradipa."

Dia menatapku dengan tatapan tajam, seolah mencoba membaca pikiranku. Ada campuran kejutan dan ketidakpercayaan di matanya. "Apa yang ingin kamu lakukan?"

"Aku hanya ingin mengakhiri semua ini," jawabku lembut, tapi dengan tekad baja. "Aku akan pergi. Bebaskan aku, dan kamu bisa bersama Riana, tanpa ada aku di antara kalian."

"Aku tidak punya waktu untuk omong kosongmu," katanya dingin, menolak untuk percaya. "Tandatangani surat-surat ini secepatnya. Jangan buang waktuku." Pradipa melempar setumpuk dokumen ke atas meja di hadapanku, lalu berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Aku hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh, hatiku terasa seperti dicabik-cabik. Dulu, aku akan mengejarnya, memohon padanya untuk tetap tinggal. Tapi tidak lagi. Rasa sakit ini, aku sudah terlalu akrab dengannya. Ini adalah rasa sakit yang sama setiap kali dia memilih Riana, setiap kali dia melupakan janjinya padaku.

Aku ingat bagaimana aku dulu mencintainya. Cinta yang buta, cinta yang bodoh. Aku jatuh padanya seperti kupu-kupu yang tertarik pada api, bahkan setelah dia menyelamatkan hidupku dari sebuah kecelakaan. Aku mengira kebaikan itu adalah cinta, mengira tatapan khawatirnya adalah kepedulian seorang kekasih. Bagaimana aku salah.

Orang tuanya, begitu menyukaiku, telah mencoba menjodohkan kami setelah kejadian itu. Mereka melihat kesetiaan dan ketulusanku, sesuatu yang tidak pernah dilihat Pradipa. Aku setuju, berharap bahwa kedekatan akan menumbuhkan cinta, bahwa aku bisa menjadi wanita yang dia inginkan.

Namun, setelah kami menikah, kenyataan menghantamku dengan keras. Aku hanyalah bayangan, pengganti, pelampiasan. Dia tidak pernah melupakan Riana. Ketika Riana mencoba bunuh diri karena patah hati… Pradipa langsung menghilang dari hidupku, hanya untuk kembali setahun kemudian, lebih dingin dan acuh tak acuh daripada sebelumnya.

Sepuluh tahun. Sepuluh tahun aku hidup dalam bayang-bayang cintanya yang tak pernah kumiliki. Sepuluh tahun aku mencoba mempertahankan pernikahan yang sudah mati. Sepuluh tahun aku menjadi bahan ejekan orang, sementara dia sibuk mengejar hantu masa lalunya.

Aku ingat suatu malam, dia mabuk berat. Aku merawatnya, menyeka keringat di dahinya, berharap dia akan melihatku. Sebaliknya, dia bergumam, "Seharusnya aku tidak pernah menikahimu. Ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku."

Kata-katanya menembus hatiku lebih dalam dari pisau mana pun. Dan kematiannya membuatku benar-benar hancur. Bukan karena aku tidak mencintainya, tapi karena aku menyadari betapa aku telah menyiksa dirinya dengan cintaku. Aku adalah beban, aku adalah kesalahan, aku adalah sumber penderitaannya.

Tapi takdir memberiku kesempatan kedua. Kesempatan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kesempatan untuk tidak membiarkannya mati lagi karenaku. Kali ini, aku akan melepaskannya. Ini adalah caraku membayar nyawanya yang pernah dia selamatkan.

Aku akan membiarkannya pergi, kembali ke kehidupannya. Aku akan membiarkan Riana mendapatkan cintanya. Dan aku, aku akan mencari kedamaianku sendiri. Aku tidak akan pernah mengganggu hidupnya lagi. Ini adalah janjiku.

Aku membungkuk, mengambil dokumen-dokumen itu. Pena di tanganku terasa dingin. Aku menuliskan nama "Riana"-wanita yang selalu dia cintai-di formulir yang seharusnya kuisi. Sebuah senyuman pahit tersungging di bibirku. Ini adalah keadilan yang kubisa berikan padanya.

Dengan langkah mantap, aku berjalan menuju pintu. Aku tahu, ini adalah awal dari segalanya, atau akhir dari semua yang ada.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO LEBAY
8.3
Richard tewas setelah gagal bersaing memperebutkan Claudia. Di akhirat, ia memprotes ketidakadilan nasibnya hingga Tuhan memberinya kesempatan hidup kedua. Berkat doa tulus seorang gadis, Richard bangkit dengan memori masa lalu yang luar biasa. Kini ia menguasai berbagai bahasa dan seni, serta tahu letak harta karun tersembunyi. Sambil mengejar Claudia dengan kekayaan barunya, Richard mulai ragu apakah obsesinya itu benar atau ada cinta lain yang lebih tulus.
Sampul Novel Chasing Vampire
9.1
Julian Donyoung, vampir berusia dua abad, mengembara demi membalas dendam atas kematian ibunya sejak perang klan tahun 1822. Meski enggan berurusan dengan manusia, ia justru jatuh hati pada Elena Karenina yang ceroboh. Namun, situasi berubah mencekam saat identitas Elena terungkap sebagai keturunan musuh bebuyutannya, klan Oyster. Akankah cinta mereka bertahan, ataukah dendam masa lalu memicu pertumpahan darah baru di antara kedua kekasih ini?
Sampul Novel Destination Reveange
8.3
Jiang Shiqi kembali ke Kekaisaran Ming demi menuntut balas pada keluarga yang pernah mengadopsinya. Di tengah intrik kekuasaan, ia berhadapan dengan Xuan Ming, pangeran paling bengis dan kejam yang tak mengenal rasa bersalah. Meski Xuan Ming mencoba menahannya dengan paksa, Shiqi tetap teguh menolak cinta sang pangeran. Di malam pernikahan yang dingin, Shiqi justru meminta surat cerai dan bersumpah akan menghilang selamanya dari hidup pria jahat tersebut.
Sampul Novel Dokter Ajaib Primadona Desa
9.7
Kehidupan Tirta Hadiraja berubah drastis setelah mengonsumsi seekor ular putih. Masalah impotensi yang dideritanya sirna, digantikan kekuatan luar biasa, mata tembus pandang, dan daya ingat super. Berbekal kemampuan baru ini, Tirta sukses memajukan klinik kesehatannya. Namun, kesuksesan dan kehebatannya justru memicu persaingan sengit di antara para janda, primadona desa, hingga putri keluarga kaya yang kini saling berebut untuk menjadi pendamping hidupnya.
Sampul Novel FENGYING LIE
8.7
Kejadian tak terduga menimpa Fengying saat dirinya tiba-tiba diserang oleh dua pria misterius. Pukulan keras salah satu dari mereka membuatnya jatuh tersungkur hingga pergelangan tangannya terluka. Dengan penuh amarah, Fengying bangkit dan memaki pelaku yang menyerangnya. Namun, lawan justru memberikan ancaman mematikan. Mereka menuntut Fengying untuk segera menyerahkan pedang miliknya, atau nyawanya akan dihabisi di tempat itu juga tanpa ampun.
Sampul Novel King Of King
8.2
Di Negeri Awan, Elisabet yang merupakan selir keempat Kaisar Oro melahirkan putra bernama Starling di bawah naungan bintang raksasa. Namun, hasutan dukun keji membuat Kaisar percaya bahwa bayi itu hasil perselingkuhan Elisabet dengan Jenderal Robert. Demi keselamatan abadi istana, sang Kaisar dituntut untuk menjadikan darah dagingnya sendiri sebagai tumbal persembahan. Akankah ambisi kekuasaan mengalahkan naluri ayah saat nyawa Starling terancam di tangan Oro?