
Kisah Aku & Dia
Bab 2
“Cabut, cabut!”
“Dasar tolol!” makiku dengan perasaan campur aduk. Cemas sudah pasti, marah dan kesal juga iya pada Damar.
Kami terus berlari di antara gang-gang kecil di tengah pasar, berputar-putar, dan menghadapi caci maki dari pengunjung dan pedagang pasar.
Meski aku lebih sering menyerukan kata maaf, si Damar sialan ini justru terkekeh-kekeh saja, seolah-olah semua hal yang sedang terjadi sekarang ini adalah sesuatu yang memang dia cari. Atau sesuatu yang menyenangkan baginya.
Belasan menit kemudian, aku dan Damar berhasil keluar dari pasar itu dengan tanpa seorang pun yang mengikuti kami.
Yah, sepertinya dengan aku yang sangat hafal kondisi pasar itu memudahkan kami untuk menghindari kejaran anak-anak SMA dari sekolah lain tadi.
Dan rumahku, tidak berapa jauh lagi dari posisi kami sekarang.
“Ayo, kita ke rumah elu aja, Rin!”
“Ntar dulu, bego!” Aku terbungkuk-bungkuk dengan dada yang sesak, perut yang terasa kram, dan rusuk yang bernyut setiap kali menghela napas. “Ngap, gue ngap. Ntar dulu!”
Damar juga terbungkuk-bungkuk, kami saling pandang, dan dia terkekeh seraya menepuk-nepuk punggungku.
“Keren!” ucapnya.
“Berengsek lu!” makiku.
Dia tetap saja tertawa. “Ayok!”
Sampai di depan rumah, ayahku baru saja menaiki sepeda motornya yang sudah butut, dia memandangi kami dengan kening mengernyit.
“Lho, udah pulang?” tanyanya. “Padahal Ayah mo jemput kamu lho, Rin.”
“Gak usah, Om,” sahut Damar sembari merangkul bahuku. “Aku udah nemenin Rina ini, kok.”
Aku mendelik padanya dan dia tetap saja terkekeh menanggapiku. Dasar cowok selengean!
“Oh, ya udah,” balas ayahku.
“Ayah mo kemana lagi?” tanyaku dengan napas yang masih saja sedikit memburu.
“Mau tahu aja lu!”
Yah, begitulah ayahku. Entah dia menganggapku anaknya atau justru temannya, yang jelas, selalu saja percakapan di antara kami terjadi seperti percakapan di antara teman sepermainan.
Menyebalkan!
Mesin motor meraung dan sekejap kemudian, ayahku telah berlalu dari depan rumah.
“Ayuk ah, Rin!” Damar mendahului memasuki rumahku dengan terlebih dahulu melepaskan sepatunya. “Permisi, ada orang di rumah?”
“Nggak ada!” seruku dari belakang sembari melepaskan sepatu. “Penghuni udah pada mati!”
Dan si cowok sialan itu hanya tertawa-tawa saja menanggapi.
“Eh, Rin.”
“Apa lagi?” Yah, aku masih kesal padanya. Gara-gara dia aku terpaksa lari selama beberapa belas menit dan itu sangat tidak menyenangkan.
“Dih, sewot!” kekehnya seraya menghempaskan tubuhnya di sofa panjang di ruang tengah. “Ambilin gue minum, dong!”
“Berengsek lu, ya!” Aku berdiri tegap dengan tangan berada di pinggang dan menatap garang padanya. “Lu gak lihat, hah?”
Dia mengernyit seolah tak berdosa. “Lihat apaan?”
“Badan gue!” balasku. “Muka gue, habis semua basah. Semua gara-gara elu, anak setan!”
Dan sudah bisa ditebak, Damar lagi-lagi menanggapi kekesalanku dengan tertawa saja, bahkan dengan santai dia merebahkan punggungnya di sofa panjang yang sudah kusam itu, seolah-olah dia sedang berada di rumahnya sendiri.
“Buruan dong,” katanya, lagi. “Air dingin, ya!”
“Lu―”
Dan aku tidak bisa berbuat banyak selain meninggalkan Damar di ruang tengah sendirian.
Tapi ‘masa bodo’ saja dengan permintananya itu. Memangnya dia pikir aku ini pelayannya, begitukah? Main suruh begitu aja, ini kan rumahku―maksudku, rumah orang tuaku, bukan rumahnya dia.
Sialan! Dasar anak orang kaya!
“Assalamualaikum!”
“Waalaikumusalam.”
Dari dalam kamarku, selagi aku berganti pakaian, aku mendengar suara seorang wanita yang memasuki rumah dan disambut oleh Damar. Aku tahu itu adalah ibuku dan aku bergegas keluar dari kamar.
“Lho, Damar … habis ngapain, keringetan gitu?”
“Ahh, ini Tan, biasalah, habis jogging.”
Anda Mungkin Juga Suka





