
Kisah Aku & Dia
Bab 3
“Jogging apaan?” Aku mendengus dengan dua tangan berada di pinggang. “Jangan percaya, Bu. Dia habis tawuran lagi, dasar bodoh!”
“Engg, nggak kok, Tan. Si Rina mah main tuduh aja,” sanggah Damar.
Aku mendelik padanya. Sementara ibuku tersenyum dengan menggelengkan kepala.
“Udah, udah,” kata ibuku. “Kalian itu, kalau ketemu kek anjing ama kucing aja, ribut aja bisanya.”
“Iya,” sahutku dengan sewot seraya menghampiri ibuku. “Dia anjingnya, aku yang kucingnya!”
Dan ya, si anak sultan itu tertawa-tawa lagi saja. Dasar menyebalkan!
“Tan, lihat, Tan!” sahutnya seraya menunjukku. “Rina kasar banget. Mana air minum gak dikasih lagi. Payah!”
“Payah, payah,” aku masih saja mengomel panjang-pendek seraya mengambil bawaan ibuku yang baru pulang berbelanja di pasar. “Lu yang payah!”
“Udah sih, Rin,” sahut ibuku. “Nggak baik ngomong keras-keras gitu.”
“Dengerin tuh!” Damar menyeringai. “Dasar aneh. Cewek kok kasar gini? Mana ada ntar cowok yang mau sama elu!”
“Lu tuh, ya!”
“Eeh, udah, udah!” Ibuku memasang badan, menghalangi langkahku. “Berantem mulu sih, Rin? Nggak capek?”
“Dih, Ibu kok malah ngebelain si Damar, sih?”
Dan ya, karena kesal, aku lantas memutar badan, melangkah ke arah dapur dengan mengentak-entakkan kaki lebih kuat ke lantai.
“Bentar ya, Mar,” kata ibuku pada si cowok berengsek itu. “Biar Tante ambilin. Mau air putih aja apa gimana, nih?”
“Ahh, gak usah, Tan,” jawab Damar. “Biar saya ambil sendiri ke belakang.”
Yah, begitulah kami. Maksudku, aku dan Damar. Kami berdua bisa dibilang sahabat baik dan sangat akrab malahan meskipun lebih sering dihiasi dengan pertengkaran.
Tapi berbeda dengan Damar yang sudah kenal baik dengan ayah dan ibuku, aku justru sebaliknya.
Seingatku, aku hanya pernah sekali saja main ke rumah orang tuanya Damar. Itu pun bersama teman-teman lainnya.
Rumah orang tuaku ini dibandingkan rumah orang tuanya Damar, ibarat Bumi dan langit. Jauh lebih besar garasi mobil yang mereka miliki untuk menempatkan mobil-mobil mewah mereka ketimbang rumah orang tuaku ini.
Tapi di situlah anehnya, Damar sama sekali tidak pernah mau menggunakan salah satu mobil ataupun sepeda motor yang dimiliki keluarganya.
Setiap kali aku ataupun teman yang lain bertanya tentang hal ini, dia selalu menjawab dengan seribu satu alasan.
Tapi bagiku, Damar hanya mencoba untuk tidak terlihat manja meskipun dia termasuk kategori anak sultan. Yah, lebih membaur atau membumi dengan lingkungan kecil seperti di mana aku tinggal sekarang ini.
Ada satu hal lagi yang membuatku heran sekaligus bingung pada sosok Damar. Hmm, mungkin dua atau tiga poin lagi. Entahlah, aku selalu bingung saja setiap kali memikirkan tentang dia.
Pertama, aku tidak tahu alasannya mengapa Damar justru lebih dekat padaku ketimbang teman-teman lain di kelas bahkan di sekolahan kami sekalipun.
Dan yang kedua, di saat anak-anak lain selalu berbangga hati, membusungkan dada dengan harta kekayaan orang tua mereka, Damar justru kebalikannya.
Padahal, dia sama sepertiku, maksudku, sebagai anak tunggal, anak semata wayang di keluarga masing-masing.
Mungkin karena lasan yang kedua inilah dia merasa lebih nyaman bersamaku.
Dan yang terakhir … meski cukup banyak cewek di sekolah yang tergila-gila padanya, tapi emang dasar cowok selengean, dia tidak merespon perasaan mereka. Tidak pernah sekali pun.
Aku pernah beberapa kali mendapati beberapa teman cewek di sekolah yang menangis tersedu-sedu di toilet akibat ditolak mentah-mentah oleh Damar.
Kadang aku kasihan melihat mereka, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Toh, itu kan haknya Damar. Dia mau bersama siapa, atau mengencani cewek yang mana satu, sepenuhnya adalah hak dia.
Anda Mungkin Juga Suka





