Sampul Novel KIBAS DASTER BUNDA

KIBAS DASTER BUNDA

8.0 / 10.0
Dona, ibu tiga anak yang telah menikah selama 17 tahun, sering disepelekan karena penampilannya yang hanya berdaster dan dianggap kuno oleh putri sulungnya, Sakura. Di tengah tekanan ekonomi akibat krisis di kantor suaminya dan tuntutan keluarga yang tinggi, Dona harus berjuang sabar. Namun, rasa jenuh sang anak memicu tekad Dona untuk bertransformasi. Ia memutuskan mengungkap rahasia masa lalunya demi membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi sosok luar biasa bagi keluarga.

KIBAS DASTER BUNDA Bab 1

"Dicukupin, Bun." Mario memberikan bukti transfer uang gajinya kepada Dona - Istrinya - yang selalu mengangguk dan tersenyum mendapat uang masuk setiap bulannya.

"Ok, Yah," ia mengambil ponsel miliknya dan mengecek melalui m-banking.

"Kacau, Bun. Nggak ada naik gaji tahun ini!"

"Nggak pa-pa, sabar, yang penting uang sekolah anak-anak bisa kebayar, 'kan?" Dona beranjak menyiapkan makan malam suaminya.

Ketiga anaknya sibuk di kamar masing-masing, yang tertua bernama Sakura, yang kedua Dimas dan yang ketiga Akasia.

Anak pertama dan terakhir punya nama pohon. Terdengar aneh, tapi punya arti bagus. Dona yang ngotot memberi nama itu. Suaminya ambil andil saat kelahiran Dimas. Akasia paling kecil, sekolah dasar kelas dua beranjak kelas tiga, yang tertua enam belas mau tujuh belas tahun, yang kedua lima belas tahun. Semua lahir secara normal dan bukan di rumah sakit. Tapi di bidan. Bidan turun temurun keluarga Dona alias ibundanya sendiri. Nenek dari ketiga putra putrinya. Selain Gratis, Dona juga mendapat fasilitas mewah di klinik milik ibundanya itu. Jelas, dong.

"Masak apa kamu, Bun?" tanya Mario saat menuju ke meja makan.

"Ayam penyet, Yah. Anak-anak udah makan kok, aku juga udah."

"Bener kamu udah?" tatapan Mario penuh telisik. Dona mengangguk sambil tersenyum.

Flashback dua jam sebelum.

"Punya Akas itu ayam pahanya, Abang ...!" rengek Akasia kepada Dimas yang tak sengaja mengambil ayam bagian paha bawah. Dimas memindahkan ayam itu ke atas piring Akas. Ia mengganti dengan mengambil ayam bagian paha atas.

"Kalau Abang makan ini, boleh?" tunjuk Dimas ke ayam yang sudah ia pegang. Akasia mengangguk. Dimas melirik ke piring kakak perempuannya.

"Diet lo. Makan nasi segitu, sama sayur doang. Udah kurus juga!" tegur Dimas sewot.

"Berisik!" jawab Sakura cuek.

Dona membawa satu mangkuk sop sayur dan ia letakan di tengah meja makan.

"Sayurnya di makan, yes ...." ucap Dona. Sakura mengambil sendok dan memasukan tiga sendok makan sop sayur itu ke piringnya. Berganti Dimas dan terakhir Akasia yang cuma mau makan wortel dan kuah saja.

"Bunda nggak makan?" tanya Sakura.

"Udah tadi. Makan ya kalian. Terus kerjain PRnya, ada 'kan?" Dona menatap satu persatu anak-anaknya. Dua anaknya mengangguk, kecuali si bungsu yang diam.

"Akas," tanya Dona.

"Udah selesai, Bun. Tadi dikerjain pas Bunda lagi ke rumah depan," jawab Akasia. Dona terkekeh dan mengusap rambut putra kecilnya itu.

Dona tersenyum melihat ketiga anaknya makan dengan lahap. Ia melirik ke satu potong ayam bagian dada yang besar. Hanya itu yang tersisa. Ia meneguk ludah dan menyingkirkan piring berisi ayam.

"Ini buat Ayah ya, kalian udah, 'kan?" Dona beranjak dan memasukan piring berisi ayam ke dalam lemari penyimpan makanan. Anak-anaknya mengangguk. Tak lama Akasia menyandarkan punggungnya. Ia melirik ke Dona.

"Kenyang?" tanya Dona sambil menyodorkan gelas berisi air putih untuk Akasia.

"Habisin Akas!" tegur Sakura. Akasia menggeleng.

"Udah ... Bunda aja yang habisin nanti." Dona tersenyum. Akasia beranjak untuk mencuci tangan. Sementara Dona menunggu kedua anaknya yang lain selesai makan.

"Sayur sopnya udah, nih?" lirik Dona. Dimas dan Sakura mengangguk.

"Oke. Buat bunda juga, ya." Dona menggeser mangkuk sop sayur yang hanya tersisa beberapa potongan wortel.

"Kita ke kamar ya, Bun .... " Dimas memeluk leher Dona lalu berganti Sakura yang juga memeluk bundanya itu.

"Oke. PR kerjain ya!" Dona kembali mengingatkan.

"Ya ...." jawab Sakura santai. Dona menatap piring bekas makan Sakura dan Dimas. Ia terkekeh. Dimas mirip dirinya, makan tak bersisa dan rapi. Hanya tulang ayam yang tak mungkin di telan. Sedangkan Sakura mirip suaminya, suka menyisakan makanan.

"Hajarrr ...." lirih Dona sambil memakan sisa makanan anak-anaknya.

Flash back end.

Dona duduk menatap suaminya yang makan dengan lahap juga. Setelah selesai, ia mencuci piring dan mengelap meja makan. Ia berjalan ke kulkas dan menyiapkan bahan makanan untuk esok sarapan pagi.

***

Dona membaca grup sekolah anak terakhir. Kehebohan terjadi karena membahas study tour. Hasil keputusan sekolah, mereka akan berkunjung ke taman binatang terbesar di puncak. Dan masing-masing anak membayar tujuh ratus enam puluh lima ribu. Belum dengan pendamping.

Keributan di grup kembali terjadi karena membahas tentang seragam anak dan pendamping juga. Jika Dona mentotal semuanya berjumlah satu juta dua ratus sekian ... sekian ... sekian.

Ia melihat tanggal terakhir pembayaran jika Akasia harus ikut. Dua bulan lagi. Dona lalu menghitung pengeluaran keluarganya dalam sebulan. Ia mendengkus. Tak ada sisa untuk ditabung khusus uang kegiatan Akasia. Ia melirik suaminya yang sudah tidur pulas. Jam menunjukan pukul sebelas malam.

Kamarnya di ketuk. Dona berjalan dan membuka pintu. Tampak Sakura berdiri dengan wajah cemberut.

"Lho, Kakak kok belum tidur?" Dona menatap Sakura lekat.

"Bunda, aku boleh minta uang jajan lebih nggak buat besok?"

"Berapa?"

"Seratus lima puluh ribu?"

"Eeehhh ...," Dona mengusap tengkuknya. "Buat apa cantik?" lanjut Dona.

"Mau nonton sama temen-temen. Besok kan jumat, mau nonton yang jam tiga sore," jawab Sakura.

"Emang berapa harga tiketnya, bukannya cuma empat puluh ribu?" Dona mencecar dengan cara halus.

"Iya. Tapi Kakak mau ada pegangan lebih Bun, takut temen ngajak jalan lagi atau jajan-jajan. Bisa nggak?" Sakura merengek. Pipinya gembung menunggu jawaban bundanya.

"Seratus ribu cukup?" Dona bernegosiasi.

"Yah Bundaaa .... " Sakura menunduk.

"Hmh ... yaudah, besok pagi ya, sekarang tidur."

"Iya. Makasih Bunda," Sakura berjalan kembali ke kamarnya. Dona menutup pintu. Ia berjalan ke lemari pakaiannya dan membuka dompet bermotif bunga.

Dompet itu khusus ia isi dengan uang untuk kesehatan. Karena mereka tak pakai asuransi jika sakit. Jadi Dona selalu menyisihkan uang setiap bulannya.

***

Pagi menjelang. Dona sudah sibuk di dapur. Ia membuat nasi kuning, kering tempe dan telur dadar yang ia iris tipis.

Suami dan ketiga anaknya menatap Dona.

"Why oh why, sayangku semua?" Dona tersenyum.

"Nasi kuning lagi, Bun? Udah empat hari berturut-turut, lho," tegur Mario.

"Makan aja Ayah. Bersyukur masih bisa sarapan," celetuk Dimas yang beranjak mengambil piring untuk ia dan Akasia. Dimas juga mengambilkan nasi kuning untuk Akas.

"Makan yang cepet, Kas, Abang ada piket pagi." Dimas mengambilkan lauk juga. Dimas dan akan berangkat bersama, dimas selalu mengantar hingga masuk ke kelas. Mereka berjalan kaki karena sekolah Akasia masih di dalam komplek. Setelahnya, baru Dimas berangkat bersama Fadil, teman sekelas sekaligus sahabat sejak kelas dua SMP.

"Bunda nggak sarapan?" tanya Sakura.

"Udah tadi. Nih, lagi ngeteh santai," sahut Dona. Padahal, ia belum sarapan. Seperti biasa, menunggu semua warganya makan dan berangkat beraktifitas, baru ia yang makan.

Dona memberikan uang permintaan Sakura. Putrinya itu tersenyum.

"Kak, Bunda dapat surat dari sekolah, besok rapatnya. Bunda boleh datang?" Sakura diam. Lalu menggeleng.

"Ayah aja ya, Bun. Rapat kenaikan kelas doang kok, Sakura masuk IPA, kemarin pengumumannya. Bunda nggak usah hadir."

"Kenapa? Bunda pingin lho, Kak lihat sekolah Kakak yang selesai renovasi, terakhir bunda ke sekolah kamu pas kamu kelas tiga SMP."

Sakura lagi-lagi diam.

"Ayah aja ya, Bunda, Bunda di rumah aja. Kakak berangkat ya, bye, Bunda!" Sakura mencium punggung tangan bunda dan menuju ke mobil temannya yang sudah menunggu di depan pagar rumah mereka.

Dimas dan Akasia pamit kemudian, terakhir, suaminya sambil melambaikan tangan dari dalam mobil.

Dona berjalan ke dalam rumah dan menatap hidangan yang berformasi seperti biasa. Ia menghabiskan sisa sarapan Sakura dan Mario. Sedangkan Akasia tumben menghabiskan sarapannya.

'Sakura kenapa ya, masa Bundanya nggak boleh ke sekolah.'

Dona berpikir sendiri. Ia akan coba mencari tau jawabannya pelan-pelan.

Bersambung,

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi KIBAS DASTER BUNDA

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa khusus pembaca 21 tahun ke atas ini mengeksplorasi sisi tersembunyi kehidupan yang jarang terungkap. Di balik topeng kesucian, tersimpan luka, dilema, dan kerinduan yang kompleks. Melalui narasi yang realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan jati diri di tengah kegelapan demi menemukan titik cahaya. Sebuah hiburan penuh makna tentang pencarian makna hidup dan cinta yang tidak selamanya berjalan lurus, memberikan perspektif baru bagi pembacanya.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Demi melindungi nyawa buah hati yang tidak berdosa, Neva Zetrix terjebak dalam situasi yang sangat memilukan. Ia terpaksa menekan harga dirinya dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson setiap hari. Perjuangan hidup Neva ini didorong oleh kasih sayang seorang ibu yang rela melakukan apa pun demi sang anak. Di tengah tekanan dari sosok Brian yang dominan, Neva harus bertahan dalam dinamika hubungan yang penuh dengan pengorbanan batin.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Kisah mafia dan romansa ini berawal saat seorang ayah tega menjual putri kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, gadis itu tumbuh dewasa hanya untuk menghadapi kenyataan pahit tentang garis hidupnya. Dia tidak memiliki pilihan selain menerima takdir kelam yang telah ditetapkan, yakni menjadi istri dari seorang pengedar narkoba yang berbahaya. Perjalanan hidupnya kini terjebak dalam dunia kriminalitas yang penuh dengan intrik dan bahaya besar.
Sampul Novel MY LOVELY LITTLE WIFE
8.9
Yuki tak mampu menyembunyikan kekesalannya setelah ditolak mentah-mentah oleh pria yang dijodohkan dengannya. Alasan pria itu sangat klise, ia merasa tidak mengenal Yuki sama sekali. Sambil mengumpat dalam hati, Yuki menjuluki calon suaminya itu sebagai pria tua yang menyebalkan. Namun, rasa dongkol itu segera berubah menjadi sebuah rencana licik. Sebuah seringai muncul di wajahnya saat sebuah ide brilian terlintas untuk memberi pelajaran bagi pria itu.
Sampul Novel Nafsu Kakak Tiriku
9.6
Nando menyimpan obsesi gelap terhadap Laily, adik tirinya yang tampak anggun dan bersahaja. Puncak kegilaan Nando terjadi saat ia nekat mencoba menodai Laily di tengah malam ketika sang adik hendak beribadah. Beruntung, seorang pemabuk bernama Abdi datang menyelamatkan Laily. Namun, situasi berbalik tragis saat Abdi justru difitnah melakukan tindakan asusila. Akibat kesalahpahaman itu, Abdi terpaksa menikahi Laily demi menanggung beban fitnah yang menimpanya.
Sampul Novel Pengantin Pengganti, Hati Pendendam
8.8
Upacara janji nikah yang seharusnya menjadi ajang kampanye Baskara berubah jadi pengkhianatan. Aku dibius dan melihatnya menikahi selingkuhannya di depan para elite. Setelah tujuh tahun pengorbananku membangun kariernya, dia justru menyebutku tidak berguna. Namun saat perceraian tiba, Baskara berpura-pura amnesia akibat kecelakaan dan memohon agar aku tidak pergi. Dia ingin bermain sandiwara, maka aku akan memastikan dialah yang hancur dalam permainan ini.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan