
KhaRisma
Bab 3
Risma terus mengayuh sepatu rodanya hingga dia berhenti di sebuah kafe yang tampak ramai pengunjung. Lalu Risma masuk ke dalam kafe dan mencari orang yang akan dia temui hari itu.
Manik mata Risma menangkap seseorang dengan baju warna kuning dengan bawahan jeans biru. Dia duduk di pojokan dekat meja Barista.
"Untung gue tepat waktu dan tidak terlambat," cicit Risma sambil mengatur napasnya pelan.
Risma melepas sepatu rodanya sebelum masuk ke dalam kafe, lalu dia melangkah mendekati wanita berbaju kuning tersebut.
"Bu Nila," sapa Risma. Wanita berbaju kuning itu mengangkat kepalanya dan menatap Risma.
"Aku kira kau tidak akan datang," balas wanita tersebut, "Duduklah!"
Risma meraih kursi dan menariknya ke belakang, lalu dia mendudukkan dirinya di sana.
"Telat semenit, mungkin kau tidak akan menemukanku dan akan aku menawarkannya pada orang lain," kata wanita yang bernama Nilawati dengan tegas.
"Ja-jangan begitu, Bu. Tadi ada suatu hal yang terjadi." Risma beralasan.
"Jadi?"
Nilawati memastikan kembali ucapan Risma. Wanita itu menatap gadis yang sedang duduk di depannya. Gadis cantik dengan rambut panjang sebahu itu membalas menatap Nilawati.
"Aku akan mengambilnya," ucap Risma meyakinkan.
"Baiklah," ucap Nilawati. Wanita paruh baya itu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kunci, lalu menaruhnya di atas meja berdekatan dengan gelas Quick Berry miliknya. "Ini kuncinya." Nilawati memberi kode pada Risma.
"Hanya satu?" Risma merasa heran, "Biasanya ada beberapa kunci untuk cadangan," imbuhnya.
Nilawati menghela napas mendengarkan celotehan Risma.
"Kau bisa menduplikat kuncinya sendiri, tapi jika kau tidak mau aku tidak masalah. Jika hanya karena kunci dipermasalahkan dan kau membatalkannya, oke ... aku akan menawarkannya pada orang lain. Masih banyak kok yang mengantri di belakangmu."
"Eh, ja-jangan Bu. Oke, aku ambil ini." Risma segera meraih kunci yang tergeletak di atas meja sebelum wanita paruh baya itu berubah pikiran dan mengambilnya. "Aku ambil dan ini uangnya." Risma menyodorkan sebuah amplop putih.
"Bagus!" sahut Nilawati tersenyum puas dan menerima amplop putih dari Risma.
Nilawati membuka amplop tersebut, menghitung uang yang ada di dalam. Dia pun menganggukkan kepalanya.
"Deal!" Nilawati mengulurkan tangannya sebagai tanda transaksi telah berhasil. Risma membalas menatap wajah Nilawati, lalu tatapannya turun ke bawah.
"Terima kasih." Risma membalas uluran tangan wanita tersebut.
"Semoga betah, ya. Senang berbisnis denganmu, Ris." Nilawati beranjak dari duduknya, lalu pergi meninggalkan Risma.
Gadis cantik dan tomboi itu masih duduk terdiam menatap kunci yang ada di dalam genggamannya, lalu dia melihat sisa uang yang ada di dalam amplop. Risma menghela napas menatap lembaran uang yang ada di dalam amplop.
"Hanya tersisa ini," keluh Risma, "Gue tidak mungkin pulang ke rumah. Apa kata Mama dan Papa. Ini sudah keputusan gue." Risma merenung sesaat. Memasukkan amplop kembali ke dalam tasnya, kemudian berdiri dan melangkah keluar dari kafe.
Risma duduk di sebuah kursi kayu di bawah pohon yang rindang. Menunduk dan mulai sibuk memakai sepatu rodanya. Kembali dia menghela napas, mengangkat kepalanya ke atas menatap langit siang yang begitu cukup terik.
"Seminggu lagi. Ah, kenapa gue jadi merasa frustrasi seperti ini," lirihnya pelan. Risma menggelengkan kepalanya, "Tidak-tidak ... gue tidak boleh mengeluh. Tidak ada kata mengeluh di dalam kamus gue."
Segeralah dia mengayuh sepatu rodanya menembus kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar. Tentunya dengan memperhitungkan keselamatan dirinya sendiri juga orang-orang di sekitar jalan.
💓💓
Berbicara tentang masalah hidup, tidak akan pernah ada hentinya. Manusia hidup di dunia tidak lepas dari masalah. Dalam kehidupan, masalah selalu datang silih berganti. Satu selesai, pasti akan datang masalah baru. Kita semua sejatinya manusia biasa. Kita bisa merasa senang, bisa juga berduka. Dalam hidup ini, kita juga bisa mengalami kebahagiaan atau penderitaan. Masalah dan kesulitan dalam hidup, sejatinya dialami semua manusia. Dengan jenis dan kadar yang berbeda, setiap orang pastinya punya masalahnya masing-masing.
Masalah adalah keadaan ketika apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Ya, hidup adalah kenyataan. Kenyataan adalah hidup. Hidup adalah kenyataan yang dipenuhi dengan banyak masalah. Masalah adalah pelangi yang mewarnai kehidupan kita semua. Hidup tanpa masalah adalah mustahil. Masalah akan selalu ada di manapun, kapanpun, dan besar ataupun kecil. Hidup tanpa masalah bagaikan sayur tanpa garam, karena sejatinya manusia hidup selalu berdampingan dengan masalah, dengan adanya masalah kita bisa menikmati manis asamnya kehidupan ini.
Begitu pun dengan Kharis. Pemuda berwajah tampan itu sedang terbelit masalah. Bukan masalah utang, tapi ini adalah masalah keluarga yang harus dia terima dan dia hadapi pada usianya yang baru menginjak remaja.
Kharis yang masih menumpang di tempat kos si Bagus, merasa sangat tersiksa. Baik lahir atau pun batin, tapi Kharis selalu bersabar dan terus bersabar, karena dia tidak tahu akan pergi ke mana jika dia harus pergi.
"Gus, lu kenapa jadi orang jorok sekali sih?" teriak Kharis yang merasa tidak nyaman melihat kamar kos yang dia tempati bersama dengan Bagus berantakan dan baunya sangat tidak enak. Baju-baju kotor yang berserakan di mana-mana, bahkan celana dalam banyak yang berceceran.
"Nanti gue akan merapikannya, kok," tutur Bagus santai.
"Ah, lu hanya ngomong doang. Yang ada gue juga yang merapikan dan membereskan kamar ini," rutuk Kharis.
"Tenang saja, nanti pasti gue rapikan," timpal Bagus yang masih dengan santainya bermain game.
"Baju kotor ya langsung dicuci, bukan malah disimpan seperti ini," teriak Kharis.
"Lu ini ya, lama-lama gue empet lihat lu," sindir Bagus.
"Kamar-kamar gue, jadi suka-suka gue dong. Lagi pula lu punya rumah kenapa tidak pulang saja sih?" imbuh Bagus.
Kata-kata Bagus benar-benar langsung menusuk hari Kharis.
"What? Sejak gue numpang di kamar lu ini, sudah dua puluh kali lu menyuruh gue pulang ke rumah. Lu ngusir gue?" bela Kharis. "Lagi pula gue juga ikut bayar kos ini." Sekali lagi Kharis membela haknya.
"Kalau lu memang merasa, ya sudah sana pulang."
"Iya, nanti gue bakal cari apartemen."
"Alhamdulillah ...." Bagus mengurut dada, dari raut wajahnya terlihat sangat lega mendengar pengakuan dari Kharis.
"Bagus!" teriak Kharis dengan nada panjang dan melempar pakaian kotor ke muka Bagus.
"Apa? Kenapa? Kalau lu tidak terima, sana pulang ke rumah. Lu punya rumah kenapa pakai acara kabur segala," sindir Bagus.
"Masalah buat lu?" balas Kharis.
"Sudah sana pulang. Lebih enak itu tinggal di rumah sendiri," celetuk Bagus.
"Nah ini--lebih enak rumah sendiri kan? Terus kenapa lu sewa kamar kos?" Kharis bertanya balik pada Bagus.
"Suka-suka gue dong. Gue kan nyewa kos, tidak seperti lu yang kabur dari rumah."
"Lu itu sebenarnya sahabat gue bukan sih? Kenapa suka sekali cari perkara sama gue?" Kharis melempar pakaian kotor lagi ke arah muka Bagus.
Begitulah hari-hari Kharis dan Bagus yang tinggal satu kamar di sebuah kost elite.
Bagus adalah teman sekaligus sahabat dekat Kharis. Keributan bagi mereka berdua sudah hal biasa.
Mereka berdua juga satu sekolah. Tidak heran setiap ribut pasti akan kembali akur seperti semula. Dua sahabat yang benar-benar seperti anjing dan kucing. Layaknya Tom and Jerry yang selalu bermain kejar-kejaran.
Anda Mungkin Juga Suka





