Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketua Jurusan vs Cewek Kampungan

Ketua Jurusan vs Cewek Kampungan

Mutiara Embun Pagi terpaksa pindah ke Jakarta demi memenuhi wasiat mendiang ayahnya. Di sana, ia terusik oleh Leon Bhaskara Granada, pemenang King of School yang arogan dan gemar meremehkannya sebagai gadis kampungan. Tak terima dihina, Embun bertekad memenangkan ajang Queen of School untuk membuktikan kemampuannya. Di tengah persaingan dan intimidasi Leon, mampukah Embun bertahan, meraih takhta sekolah, sekaligus menaklukkan hati sang playboy kaya tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Non. Ayok Non, Nyonya Emma meminta bibi agar membantu Non. Mari bibi antarkan ke kamar Non Embun," ujar Bi Ijah pada Embun.

"Oh, iya Bi. Terimakasih ya Bi. Bibi baik banget," kata Embun pada Bi Ijah.

"Ah, tidak usah begitu, Non. Bibi jadi malu, ayok Non."

Bi Ijah bangkit dari sofa, dan masuk ke rumah megah itu. Embun mengikutinya dari belakang sambil menyeret koper. Embun melewati ruang makan yang besar tadi. Kali ini ruang makan itu sudah tertata rapi dengan semua hidangan makanan. Sudah tak ada lagi para pelayan yang berlalulalang di ruangan itu. Embun tetap berjalan saja di belakang Bi Ijah. Mereka melewati kolam renang dan taman yang berada di tengah rumah mewah itu. Ada ayunan berwarna putih di tengah taman. Embun masih terus berjalan, Bi Ijah dan Embun melewati ruang gym yang biasanya digunakan berolahraga oleh Tuan Muda Utama Keluarga Bhaskara Granada, Reyji.

Setelah berjalan beberapa waktu melewati rumah megah itu. Akhirnya mereka telah sampai di depan kamar yang nantinya akan ditinggali oleh Embun.

"Ini kamarnya, Non. Malam ini dan seterusnya Non bisa tinggal disini."

Bi Ijah berkata sambil membuka kunci pintu kamar itu. Setelah pintu terbuka, ia mempersilakan Embun untuk masuk.

"Silakan, Non. Kamarnya sudah dibersihkan para pelayan disini kok Non."

Bi Ijah menjelaskan. Embun segera memasuki kamar itu dengan menyeret kopernya. Kamar yang akan embun huni juga tampak mewah. Ada kamar mandi dengan shower yang di desain mewah, satu ranjang single bad. Sebuah almari, cermin, dan dinding yang dilukis gambar salah satu kota di spanyol. Benar benar tampak menakjubkan.

"Aku akan tinggal disini? Pasti nyaman sekali," batin Embun.

"Non, nanti serahkan berkas berkasnya Non ke bibi ya," ujar Bi Ijah pada Embun.

"Eh? Untuk apa Bi?" tanya Embun ragu-ragu.

"Non masih sekolah, kan?" tanya Bi Ijah.

"Eh iya, Bi."

"Iyaa, bibi minta berkasnya. Besok bibi yang daftarin Non ke sekolah ya. Nanti Non sekolah bareng sama Den Leon," ujar Bi Ijah pada Embun.

"Den Leon?" sahut Embun.

"Iya, Den Leon itu anak nomor duanya Nyonya Emma, Non."

Bi Ijah menjelaskan pada Embun.

"Oh, iya Bi. Kalo gitu saya mau menata barang barang saya dulu, ya Bi."

"Iya, silakan Non. Bibi tinggal dulu ya, nanti berkasnya tolong kasihkan bibi."

"Baik, Bi."

Bi Ijah berlalu meninggalkan kamar Embun. Tanpa menunggu lama lagi, Embun segera menata barang barangnya. Pertama ia melepas sepatu yang dipakainya. Ditaruhnya di rak sepatu yang telah tersedia di pojok kamarnya. Kemduian ia membuka kopernya, mengeluarkan baju-baju dari koper. Ia menatanya rapi didalam almari. Embun meraih peralatan mandinya seperti sikat gigi, sabun, dan shamponya di kamar mandi. Setelah ia menata semua dengan rapi, Embun bergegas mandi. Karena dirinya merasa perlu mandi setelah seharian menempuh perjalanan.

Embun memasuki kamar mandi mewah itu. Awalnya ia bingung, bagaimana cara ia mandi. Tidak ada gayung di kamar mandi itu. Yang ada hanyalah shower dan toilet duduk serta tisu. Lantai kamar mandi terbuat dari keramik dan di pinggir pinggirnya terdapat bebatuan kecil yang halus.

"Kamar mandinya kok gini? Ini saya kalo mandi kelihatan dari luar apa engga ya?" pikir Embun was was ketika mendapati dinding kamar mandi yang hanya dari kaca buram, bukan dari tembok. Pintu kamar mandi juga dari kaca. Ada handuk putih halus yang tergantung di sudut kamar mandi itu. Embun memutar otak bereksperimen. Ia mencoba menyalakan shower. Dan berhasil. Air dari shower memancar dengan sempurna.

Tanpa pikir panjang lagi, Embun segera melepas pakaiannya, kemudian menggantungkannya di sudut kamar mandi. Ia menikmati setiap air yang keluar memancar dari shower itu.

"Ahh segarnyaaaaaa," lengguh Embun. Tak lupa ia memakai sabun, kemudian membasuhnya kembali dibawah shower.

Setelah selesai mandi, Embun menggunakan handuk putih halus yang berada di sudut kamar mandi.

"Ini handuk? Tapi kok gini ya kayak pakaian," batin Embun.

"Oh, ini mungkin dipakai," pikir Embun. Akhirnya ia memakainya dan keluar dari kamar mandi.

Ia lalu mengambil baju tidurnya. Dan memakainya. Embun menyisir rambutnya di depan cermin dan memakai hand body lotion nya. Ia juga memakai cream wajah yang biasanya ia gunakan sebelum tidur.

Puk! Puk! Puk!

Embun menepuk nepukkan telapak tangannya pelan di kedua pipinya.

"Dah, selesai. Pengen tidur capeeeek," umpatnya kemudian melemparkan dirinya ke kasur yang empuk itu.

"Huuhhftt..," lengguhnya ketika melemparkan dirinya.

"Sebenernya hubungan ayah dengan Keluarga Bhaskara Granada apa ya? Apa mereka teman ayah? Atau salah satu kerabat tiri ayah?" pikir Embun mengira-ngira.

Akan tetapi, ia masih tak menemukan jawabannya. Sepertinya Embun harus mencari tahu sendiri. Yang terpenting sekarang adalah Embun tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan selama dia ada disini. Tujuannya disini adalah ia harus belajar serajin mungkin dan meraih cita-citanya. Karena tak ada lagi yang ia andalkan selain dirinya sendiri.

Ketika ia tengah sibuk berpikir, mendadak Embun teringat jika ia harus menyerahkan berkas berkasnya pada Bi Ijah. Ia segera bangkit dari tidurnya, kemudian mengambil berkas berkasnya.

Ia segera keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Bi Ijah.

"Bi Ijah tadi gak bilang dia mau kemana, dimana ya kamar Bi Ijah?" Embun berjalan menyusuri rumah keluarga bhaskara granada. Terlihat Embun yang membawa berkas berkas nya di tangan itu menoleh ke kanan dan ke kiri, mengedarkan pandangannya disetiap sudut rumah itu, mencari-cari keberadaan Bi Ijah.

Embun melewati bagian dapur keluarga bhaskara granada yang sangat luas. Tampak ada delapan orang pelayan yang sedang berada di dapur itu membersihkan peralatan dapur.

"Sepertinya mereka baru selesai memasak," batin Embun.

Ia kemudian memberanikan diri untuk bertanya pada salah satu pelayan keluarga bhaskara granada.

"Permisi, maaf saya mau tanya Bi Ijah ada dimana ya?" tanya Embun hati-hati.

"Bi Ijah sepertinya tadi ada di ruang makan, coba cari disana," jawab salah satu pelayan rumah keluarga bhaskara granada.

"Oh iya, saya cari kesana coba, terimakasih, mari."

Embun berucap sembari senyum pada para pelayan itu.

"Iya," sahut pelayan yang tadi menjawab pertanyaan Embun.

***

"Itu siapa, syah?" tanya salah satu pelayan bernama Fitri.

"Gatau, tanya kebaradaan Bi Ijah. Yaa saya jawab aja ada di ruang makan," jawab Aisyah yang juga merupakan pelajan di rumah itu.

"Yaudah kita beres beres saja cepat. Sebentar lagi teman temannya Den Leon datang. Nanti kita di omelin sama Den Leon kalo masih disini," kata Fitri pada Aisyah.

"Iya iya," sahut Aisyah segera bergegas menyelesaikan tugas bersih bersih peralatan dapur itu.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95NYF" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95NYF
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Baby CEO: Kehamilan yang Tak Diinginkan
8.4
Evalia terjebak dalam kehamilan tak terduga setelah menolak cinta Hanson Dirgantara. Meski Hans bersikeras ingin bertanggung jawab demi calon bayinya, Eva yang membenci kelicikan pria itu tetap menolak menikah. Di tengah ambisi Hans yang menggunakan kekayaan keluarganya untuk menaklukkan Eva, gadis yatim piatu ini justru berusaha menggugurkan kandungannya. Mampukah Eva lepas dari obsesi Hans dan meraih mimpinya menjadi dokter, atau ia akan selamanya terkendali?
Sampul Novel Bayangan Cinta Terlarang
8.0
Maya adalah arsitek sukses yang memiliki segalanya, namun hidupnya terasa hampa meski sudah bertunangan dengan Daniel. Segalanya berubah saat ia bertemu Ethan, pengusaha karismatik yang memicu gairah terpendamnya. Mereka terjebak dalam perselingkuhan membara yang penuh risiko. Di tengah kecurigaan Daniel yang mulai menguat, Maya dihantui rasa bersalah. Kini ia harus memilih antara kenyamanan hidup lama atau mengejar cinta terlarang yang bisa menghancurkan dunianya.
Sampul Novel CLARITTA, KAMU MILIKKU
9.1
Claritta Indriana, model populer, terjerat dalam pernikahan rumit dengan pewaris Andromeda Group, Aslan Teryeka. Meski mengaku cinta, Aslan memperlakukan Claritta semena-mena dan bersikap posesif, bahkan tega berselingkuh dengan sekretarisnya. Di tengah pengkhianatan dan kebencian Aslan yang membara, Claritta terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia bertahan sebagai boneka dalam hubungan hancur ini, atau memilih menghilang selamanya demi meraih kebebasan?
Sampul Novel Mantan Suami yang Gigih: Tetaplah Bersamaku
9.0
Linsey tak menyangka pertemuan pertama dengan suaminya, Bryson, setelah tiga tahun menikah justru terjadi dalam situasi memalukan. Bryson bahkan tak mengenalinya dan menganggapnya wanita rendah. Pasca cerai, takdir mempertemukan mereka kembali saat Linsey bekerja sebagai penasihat hukum di kantor Bryson. Kini, Bryson yang jatuh cinta memohon Linsey tetap tinggal. Akankah Bryson mampu membuang harga dirinya demi mengejar cinta Linsey yang dulu ia sia-siakan?
Sampul Novel Moments And Memories
9.6
Evelina adalah siswi cerdas nan jelita yang sulit membuka hati. Ia kembali bertemu Nox Cyril, pemuda kaya raya yang menyimpan trauma masa kecil, namun Evelina justru melupakan sosoknya. Rumitnya romansa mereka kian pelik saat Lucas sang model ternama, Frans si pakar IT, dan Owen sang pewaris medis raksasa hadir di hidupnya. Akankah memori masa lalu Evelina pulih? Mampukah perasaan yang terpendam tersampaikan di tengah bayang-bayang rahasia lama mereka?
Sampul Novel Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku
7.9
Elara dan Kiano terikat pernikahan karena perjodohan hingga akhirnya memilih bercerai akibat kebencian yang mendalam. Lima tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali dalam sebuah proyek kerja yang sama. Ketegangan dan sindiran masa lalu kembali muncul, namun perlahan mereka mulai melihat ketulusan yang dulu tersembunyi. Kini, benih cinta tumbuh dari sisa amarah. Mampukah mereka membuka hati atau justru kembali terjebak dalam luka lama yang belum sembuh?