
Ketika Suamiku Minta Rujuk
Bab 2
Damar berbaring di samping Reyna, tapi pikirannya masih melayang. Wajah Livia, senyumnya yang menggoda, dan sentuhannya yang membuatnya kehilangan kontrol terus menghantui. Dia memejamkan mata, tetapi rasa bersalah perlahan menyusup. Reyna di sebelahnya, tertidur lelap tanpa curiga sedikit pun.
Reyna menggeliat kecil, tangannya secara tidak sengaja menyentuh lengan Damar. "Mas, kamu baru pulang? Kerjanya berat sekali, ya?" bisiknya tanpa membuka mata.
Damar menahan napas, seolah-olah kata-kata Reyna adalah pengingat betapa ia telah mengkhianatinya. "Iya, Rey. Kerjaannya banyak banget," jawabnya datar, lalu membalikkan badan, membelakangi istrinya.
Namun, tidur tetap tak datang untuk Damar. Bayangan kebersamaan dengan Livia beberapa jam lalu terus terputar di kepalanya. Bagaimana bisa ia membiarkan dirinya jatuh sejauh ini? Reyna adalah wanita yang sempurna dalam kesederhanaannya, namun ada sesuatu dari Livia yang membuatnya sulit berpaling-ketertarikan yang tidak bisa dijelaskan.
Keesokan Paginya
Reyna bangun lebih awal seperti biasa. Dia menyibukkan diri di dapur, membuatkan sarapan kesukaan Damar: nasi goreng sederhana dengan irisan telur mata sapi. Damar masuk ke dapur dengan rambut masih acak-acakan, mencoba menghindari tatapan istrinya.
"Mas, sarapan dulu sebelum berangkat," ajak Reyna dengan senyum hangat.
"Enggak sempat, Rey. Aku harus langsung ke kantor," jawab Damar sambil menyambar kopi dari meja.
Reyna menatapnya dengan heran. "Tapi biasanya Mas selalu makan dulu. Apa ada sesuatu yang mengganggu?"
Damar tertegun sejenak, lalu memasang senyum palsu. "Enggak, cuma lagi banyak deadline aja."
Reyna mengangguk kecil, meski perasaan tidak nyaman mulai merayap. Akhir-akhir ini, Damar sering terlihat tergesa-gesa dan jarang menghabiskan waktu bersamanya seperti dulu. Namun, Reyna menepis pikiran negatif itu. Dia selalu percaya bahwa Damar mencintainya dan bahwa semuanya hanya soal pekerjaan.
Di Apartemen Livia
Livia sedang menikmati secangkir kopi di balkon apartemennya ketika ponselnya berbunyi. Pesan dari Damar masuk:
Damar: Aku nggak bisa lama hari ini. Reyna mulai curiga.
Livia tersenyum tipis, lalu mengetik balasan:
Livia: Kau selalu khawatirkan Reyna. Kau tahu, kita sudah terlalu jauh untuk kembali, Damar.
Damar membaca pesan itu dengan perasaan campur aduk. Benar yang Livia katakan-mereka sudah terlalu jauh terjerat dalam hubungan ini. Tapi setiap kali ia mencoba berpikir rasional, hasrat untuk Livia mengalahkan semuanya.
Beberapa jam kemudian, Damar tiba di apartemen Livia. Wanita itu sudah menunggunya di pintu, mengenakan pakaian santai tetapi tetap menggoda.
"Kau datang lebih awal hari ini," ujar Livia sambil menyeringai, membiarkan Damar masuk.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu," jawab Damar dengan nada rendah, mendekatinya.
Livia tertawa kecil, lalu menyentuh dada Damar dengan lembut. "Kau tahu, aku suka sekali saat kau berkata seperti itu."
Damar menariknya ke dalam pelukan tanpa berkata apa-apa lagi. Ada kehangatan di antara mereka yang ia pikir tidak pernah ia temukan dalam pernikahannya.
Di Rumah Reyna
Reyna merasa hari itu berbeda. Ketika ia membereskan pakaian Damar, ia menemukan sesuatu yang tidak biasa-aroma parfum yang asing tercium samar dari salah satu bajunya. Reyna mengernyit.
"Parfum ini... bukan milikku," gumamnya pelan, mencoba menyangkal pikiran buruk yang mulai muncul.
Ia mencoba mengabaikannya, tetapi rasa gelisah itu semakin kuat. Tanpa sadar, Reyna memutuskan untuk menghubungi Damar.
"Mas, kamu di mana?" tanyanya saat telepon tersambung.
"Oh, aku lagi di kantor. Kenapa, Rey?" jawab Damar dengan suara yang terdengar normal, meskipun sebenarnya ia sedang berada di apartemen Livia.
"Enggak apa-apa, cuma mau memastikan. Kamu pulang jam berapa nanti?"
"Seperti biasa. Jangan khawatir, ya," ucap Damar sambil melirik Livia yang sedang tersenyum di sofa.
Setelah menutup telepon, Reyna merasa sedikit lega, meskipun perasaan aneh itu masih ada. Sementara itu, Damar hanya menatap ponselnya dengan perasaan bersalah.
"Apa Reyna curiga?" tanya Livia sambil menyesap teh.
Damar menghela napas panjang. "Belum. Tapi aku takut suatu saat dia tahu."
Livia tersenyum sinis. "Jika dia tahu, apa yang akan kau lakukan? Kau akan meninggalkanku untuk dia?"
Damar terdiam, tidak mampu menjawab.
Malam Hari
Damar pulang lebih larut dari biasanya. Reyna sudah menunggunya di ruang tamu, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di wajahnya.
"Mas," panggil Reyna lembut, tetapi suaranya terdengar serius.
"Iya, Rey? Ada apa?"
"Aku mau tanya," Reyna menatapnya lurus, mencoba menahan perasaan gelisah yang terus menghantui. "Akhir-akhir ini, kamu seperti menjauh dariku. Apa aku melakukan sesuatu yang salah?"
Damar merasa dadanya sesak mendengar pertanyaan itu. Wajah Reyna terlihat penuh harap, tetapi juga terselip kesedihan.
"Enggak, Rey. Kamu enggak salah apa-apa," jawabnya, berusaha terdengar meyakinkan.
Namun, di dalam hati, Damar tahu kebohongan ini tidak akan bisa bertahan lama.
Anda Mungkin Juga Suka





