
Ketika Suamiku Minta Rujuk
Bab 3
Malam itu, setelah obrolan singkat mereka di ruang tamu, Reyna kembali ke kamar dengan perasaan yang bercampur aduk. Dia mencoba memejamkan mata, tetapi bayangan sikap aneh Damar akhir-akhir ini terus mengganggu pikirannya.
Di sisi lain, Damar duduk di ruang tamu, termenung dengan ponselnya di tangan. Ada pesan dari Livia masuk beberapa menit yang lalu:
Livia: Aku rindu. Kau sudah pulang?
Damar mengetik balasan dengan cepat, tanpa ragu.
Damar: Baru sampai. Aku tidak bisa lama menghubungimu. Reyna sedang curiga.
Livia: Dia curiga? Bukankah dia terlalu polos untuk menyadari apa pun?
Damar menggigit bibirnya. Kata-kata Livia, meskipun terdengar benar, membuatnya tidak nyaman. Dia tahu Reyna terlalu percaya padanya, dan justru itulah yang membuat rasa bersalahnya semakin berat.
Livia: Aku ingin bertemu lagi besok. Kamu bisa?
Damar: Aku usahakan.
Keesokan Harinya
Pagi itu, Reyna berusaha melupakan rasa curiganya. Dia menyiapkan sarapan dengan penuh semangat, berharap bisa menghabiskan waktu bersama Damar sebelum dia berangkat kerja.
"Mas, aku buatkan roti panggang dan jus jeruk. Kamu pasti suka," ucap Reyna ceria, menaruh piring di depan Damar yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Oh, iya. Terima kasih, Rey," jawab Damar tanpa menoleh.
Reyna memperhatikan Damar yang tampak sibuk, entah dengan siapa di ponselnya. Dia mencoba tersenyum, tetapi ada rasa pahit yang sulit diabaikan. "Mas, hari ini kita makan malam bareng, ya? Aku akan masak spesial buat kamu."
Damar terdiam sejenak, lalu meletakkan ponselnya. "Aku enggak janji, Rey. Mungkin aku lembur lagi."
"Lembur lagi?" Reyna mencoba menyembunyikan kekecewaannya.
"Iya, kerjaan di kantor makin numpuk," jawab Damar singkat sambil berdiri. "Aku berangkat dulu."
Reyna hanya mengangguk, meskipun hatinya terasa kosong. Setelah Damar pergi, Reyna duduk di meja makan, menatap piringnya yang masih penuh.
Di Kantor Damar
Damar tiba di kantor, tetapi bukannya langsung bekerja, dia malah sibuk membaca pesan dari Livia. Wanita itu mengiriminya beberapa foto dirinya sedang tersenyum dengan gaun baru yang ia beli.
Livia: Kau suka? Aku ingin memakainya saat kita bertemu nanti.
Damar tersenyum tipis. Dia tidak bisa menahan perasaan kagum terhadap Livia. Wanita itu selalu tahu cara membuatnya merasa istimewa.
Beberapa jam kemudian, Damar membuat alasan untuk keluar dari kantor lebih awal. Dia mengatakan kepada rekannya bahwa ada urusan mendesak yang harus diselesaikan di luar.
Di Apartemen Livia
Livia menyambut Damar dengan senyum lebar dan pelukan hangat. "Kau datang lebih cepat dari yang aku duga."
"Aku tidak bisa menunggu," jawab Damar, meraih wajah Livia dan menciumnya lembut.
Mereka duduk di sofa, berbincang seolah-olah tidak ada beban. Namun, di tengah-tengah percakapan mereka, Livia memutuskan untuk mengungkit sesuatu.
"Damar, sampai kapan kita akan seperti ini?" tanyanya, nada suaranya berubah serius.
"Maksudmu?"
"Kau tahu maksudku. Aku tidak ingin terus-menerus menjadi wanita di belakang layar. Aku ingin lebih dari ini," kata Livia tegas.
Damar terdiam. Dia tahu permintaan Livia akan datang suatu saat, tetapi dia belum siap untuk menghadapinya.
"Aku tidak bisa meninggalkan Reyna," ujar Damar akhirnya.
"Kenapa?" potong Livia. "Kau bilang kau tidak mencintainya lagi. Apa karena kau takut dia akan tahu?"
"Dia istriku," jawab Damar lirih.
"Dan aku wanita yang kau cintai sekarang," balas Livia dengan tajam. "Aku pantas mendapatkan lebih dari sekadar waktu-waktu rahasia seperti ini."
Damar menghela napas panjang. Dia tidak tahu harus berkata apa.
Di Rumah Reyna
Sementara itu, Reyna merasa hari itu terlalu sepi. Dia memutuskan untuk membersihkan kamar Damar, sebuah rutinitas yang biasa ia lakukan. Namun, kali ini sesuatu menarik perhatiannya.
Di dalam laci meja kerja Damar, dia menemukan sebuah kotak kecil. Dengan ragu, Reyna membuka kotak itu dan menemukan sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati.
"Apa ini?" gumamnya, bingung.
Reyna mengingat bahwa Damar tidak pernah memberinya perhiasan selama mereka menikah. Apakah kalung itu untuknya? Atau untuk orang lain?
Hati Reyna mulai dipenuhi dengan pertanyaan. Dia mencoba menepis pikiran negatif, tetapi rasa curiga itu semakin kuat.
"Aku harus tahu," bisik Reyna pada dirinya sendiri.
Malam Hari
Ketika Damar pulang malam itu, Reyna menunggunya di ruang tamu seperti biasa. Namun, kali ini dia tidak menunjukkan senyum hangatnya.
"Mas," panggil Reyna saat Damar masuk.
Damar terkejut melihat istrinya duduk di sofa dengan ekspresi serius. "Iya, ada apa, Rey?"
Reyna berdiri perlahan, membawa kotak kecil yang tadi ia temukan. "Aku menemukan ini di laci meja kerjamu."
Damar tertegun. Wajahnya berubah pucat seketika. "Rey, aku bisa jelaskan-"
"Kalung ini untuk siapa, Mas?" potong Reyna, matanya mulai berkaca-kaca.
Damar tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya berdiri kaku, merasa bahwa kebohongannya akan segera terungkap.
Anda Mungkin Juga Suka





