
Ketika Suami Tak Peduli
Bab 2
Adrian menatap layar USG dengan ekspresi yang sulit diartikan. Tangan Selina beristirahat di atas perutnya yang masih datar, sementara gel dingin yang Adrian oleskan tadi terasa kontras dengan kehangatan jemari pria itu yang menyentuh kulitnya dengan begitu lembut.
"Jantungnya berdetak dengan baik," ujar Adrian, suaranya dalam namun lembut. "Kau sudah memasuki minggu ke-12, semuanya terlihat normal."
Selina menatap layar di hadapannya. Ada kehidupan kecil di sana, di dalam tubuhnya. Seharusnya ia merasa bahagia, tapi entah mengapa, justru kehadiran Adrian di ruangan ini yang membuatnya merasakan sesuatu yang jauh lebih intens dibandingkan dengan berita kehamilannya sendiri.
Tatapan Adrian perlahan turun ke perut Selina. Hening menyelimuti ruangan saat tangan pria itu masih bertahan di sana, mengusap dengan sentuhan yang hampir tidak kentara. Seolah-olah, dalam pikirannya, ia sedang membayangkan sesuatu yang mustahil.
"Andai saja anak ini adalah milikku," gumam Adrian pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Selina menahan napas. Kata-kata itu seharusnya membuatnya terkejut, atau setidaknya membuatnya tersinggung. Tapi yang ia rasakan hanyalah kehangatan yang menjalar di hatinya, sesuatu yang seharusnya tidak ia izinkan tumbuh.
Ia tersenyum kecil, lalu menatap Adrian dengan tatapan yang tak kalah dalam. "Apa kau ingin menjadi ayahnya, Adrian?" tanyanya dengan nada menggoda.
Adrian menoleh padanya, mata mereka bertemu dalam tatapan yang sulit diartikan. "Selina..."
"Jawab aku," desak Selina, bibirnya melengkung dalam senyum yang sulit diartikan.
Adrian menarik napas dalam, mencoba memahami situasi yang sedang terjadi. Selina sedang menggodanya-dan itu berhasil. Ia masih menginginkannya. Ia masih mencintainya. Tidak ada gunanya berbohong pada dirinya sendiri.
Tapi kemudian, sebuah pertanyaan muncul di kepalanya, mencabik kesadarannya. "Bagaimana dengan suamimu?"
Selina tersenyum tipis, seolah pertanyaan itu adalah lelucon. "Nathaniel tidak mencintaiku. Dia tidak pernah menyentuhku."
Adrian mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Anak ini... bukan hasil hubungan kami. Nathaniel tidak pernah menyentuhku, Adrian. Kehamilan ini hasil dari bayi tabung," ujar Selina tenang, seolah kenyataan itu bukan sesuatu yang menyakitkan.
Adrian terdiam. Pikirannya mencoba mencerna fakta yang baru saja ia dengar. Nathaniel Astor, suami Selina, tidak pernah tidur dengannya? Itu berarti selama ini, Selina menjalani pernikahan yang hanya ada di atas kertas-tanpa cinta, tanpa kehangatan, tanpa sentuhan.
"Selama ini..." gumam Adrian. "Kau hidup seperti itu?"
Selina mengangkat bahu. "Aku sudah terbiasa. Aku menikah bukan karena aku menginginkannya, tapi karena keluargaku menginginkannya."
Adrian menatapnya dengan mata yang semakin gelap. Ada kemarahan yang bergejolak dalam dirinya, bukan hanya pada Nathaniel, tapi juga pada situasi yang membuat Selina harus menjalani kehidupan seperti itu.
Dan di saat itu juga, ia sadar-ia tidak ingin membiarkan Selina terus berada dalam ikatan yang tidak membahagiakannya.
Tanpa pikir panjang, Adrian meraih wajah Selina dan menangkupnya dengan kedua tangannya. Selina terkesiap, tapi ia tidak menolak. Mata mereka bertemu, dan dalam sepersekian detik, sesuatu yang sudah lama terkubur di antara mereka kembali muncul ke permukaan.
Adrian menundukkan wajahnya, bibirnya hanya berjarak beberapa inci dari milik Selina. "Aku menginginkanmu," bisiknya, suaranya serak karena emosi yang ia tahan.
Selina tersenyum tipis, matanya berbinar penuh tantangan. "Lalu milikilah aku."
Itu adalah kata-kata terakhir sebelum Adrian kehilangan kendali atas dirinya. Bibirnya menutup jarak, mencium Selina dengan penuh hasrat-bukan hanya sekadar ciuman biasa, tapi sebuah ciuman yang dipenuhi oleh tahun-tahun yang terbuang, oleh rasa sakit, oleh keinginan yang tidak pernah benar-benar padam.
Selina membalasnya, jari-jarinya mencengkeram jas putih yang dikenakan Adrian, seolah ingin menarik pria itu lebih dekat, lebih dalam. Mereka tenggelam dalam dosa yang seharusnya tidak mereka lakukan, tapi tidak ada dari mereka yang berusaha menghentikannya.
Karena di saat itu, tidak ada lagi yang lebih penting selain satu hal-mereka masih saling mencintai.
Anda Mungkin Juga Suka





