
Ketika Suami Tak Peduli
Bab 3
Adrian merapikan kancing jasnya, sementara Selina sibuk merapikan blus yang sempat berantakan. Wajahnya masih memerah, bekas ciuman Adrian masih terasa di bibirnya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Jangan bilang kau menyesal," gumam Adrian sambil melirik Selina yang masih berdiri di dekat ranjang pemeriksaan.
Selina tersenyum kecil, matanya berbinar penuh godaan. "Kenapa aku harus menyesal? Aku menyukai sentuhanmu."
Adrian terkekeh pelan, lalu mendekat, menyingkirkan helaian rambut Selina yang jatuh di pipinya. "Kalau begitu, kau bisa mendapatkannya kapan saja."
Selina menatap pria itu dengan tatapan penuh arti. Godaan mereka terasa begitu ringan, tapi di baliknya ada perasaan yang jauh lebih dalam.
Tapi kemudian, ia teringat sesuatu. Ibu mertuaku!
Selina langsung mundur beberapa langkah, matanya membesar. "Astaga, Adrian! Ibu mertuaku ada di luar! Bagaimana kalau dia curiga?"
Adrian tersenyum santai. "Kalau begitu, aku harus berakting sebagai dokter profesional, bukan?"
Selina mendengus kecil, lalu menatap meja kerja Adrian. Matanya tertuju pada ponsel pria itu yang tergeletak di sana. Dengan cepat, ia meraihnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Adrian dengan alis terangkat.
Selina mengetik sesuatu di layar ponsel Adrian sebelum menyerahkannya kembali. "Menyimpan nomorku. Aku yakin kita butuh lebih banyak komunikasi."
Adrian terkekeh. "Dan kau yakin suamimu tidak akan curiga kalau aku meneleponmu?"
Selina mendekat lagi, jari-jarinya menyusuri dada Adrian, membiarkan sentuhannya membuat pria itu menahan napas. "Nathaniel tidak pernah peduli, Adrian."
Adrian menelan ludah. Wanita ini... dia tahu betul bagaimana membuatnya kehilangan kendali.
Tapi sebelum godaan itu semakin jauh, Selina melangkah mundur. "Aku pergi dulu. Kalau terlalu lama di dalam, ibu mertuaku bisa masuk dan menemukan kita dalam keadaan..."
Adrian menyeringai. "Tidak profesional?"
Selina tertawa kecil sebelum melangkah ke pintu. "Kita bicara lagi nanti, Adrian."
Saat Selina membuka pintu dan melangkah keluar, wajahnya langsung berubah menjadi ekspresi tenang dan lembut, seolah tidak terjadi apa pun di dalam ruangan itu.
Di luar, seorang wanita paruh baya dengan tatapan tajam langsung berdiri dari kursinya. Margareth Astor.
"Ibu," sapa Selina dengan nada lembut.
Margareth meliriknya sejenak sebelum mengarahkan pandangannya ke Adrian yang baru saja keluar dari ruangan. "Bagaimana keadaan kandungannya, Dokter?"
Adrian mengangguk sopan. "Semuanya dalam kondisi baik, Nyonya Astor. Bayinya berkembang dengan sehat, tidak ada masalah apa pun. Selina hanya perlu lebih banyak istirahat dan mengurangi stres."
Margareth mengangguk dengan ekspresi puas. "Bagus. Aku ingin cucuku lahir dalam kondisi sempurna."
Selina tersenyum tipis. Ia tahu, bagi Margareth, bayi ini lebih penting daripada dirinya sendiri.
"Kalau begitu, kami pamit dulu, Dokter."
Adrian melirik Selina sekilas sebelum mengangguk. "Tentu. Jangan ragu untuk menghubungiku jika ada keluhan."
Selina tersenyum kecil. Oh, tentu saja, aku akan menghubungimu, Adrian.
Sambil menggandeng lengan ibu mertuanya, Selina berjalan meninggalkan klinik. Tapi pikirannya masih tertinggal di dalam ruangan itu-bersama Adrian, bersama sentuhannya, bersama perasaan yang selama ini ia pendam.
Dan ia tahu, ini baru permulaan.
Anda Mungkin Juga Suka





