Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Istri Sah Hanya Dijadikan Pengasuh Anakmu

Ketika Istri Sah Hanya Dijadikan Pengasuh Anakmu

Dua tahun terpuruk dalam duka, Reno Adiprana mencoba menata hidup melalui mutasi kerja ke Yogyakarta. Di lereng Merapi, ia menetap di rumah Bude Ratna demi mencari ketenangan. Tak disangka, rutinitas pagi membawanya bertemu Mira Pradipta, sarjana gizi yang memilih berjualan bubur demi merawat ayahnya yang demensia. Pertemuan ini menyatukan dua jiwa yang terluka, menumbuhkan benih cinta tak terduga, dan memberi makna baru tentang arti rumah di tengah kesederhanaan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kabut tipis menyelimuti jalan-jalan kecil di lereng Merapi. Udara pagi terasa dingin, tapi di dapur rumah Bude Ratna, aroma kopi hitam dan gorengan membuat suasana hangat. Reno duduk di kursi rotan, memandangi halaman yang perlahan diterpa sinar matahari pertama.

Sudah hampir dua bulan sejak ia pindah ke Yogyakarta. Aneh, tapi dalam waktu sesingkat itu, hidupnya terasa jauh berbeda. Ia mulai bangun pagi tanpa rasa berat di dada. Mulai menikmati perjalanan ke kantor, bahkan kadang pulang lebih cepat hanya agar bisa mampir sebentar ke pasar dan membeli bubur dari Mira.

Namun pagi ini, gerobak bubur itu tidak ada di tempat biasa.

Ia berhenti di tepi jalan, menunggu beberapa menit, tapi yang datang hanya ibu-ibu desa yang lewat membawa keranjang sayur. Papan kecil bertuliskan "Bubur Sehat Mira" masih tergantung di tiang, tapi panci dan meja kayu yang biasa menemani sudah menghilang.

Entah kenapa, dada Reno terasa kosong. Ada rasa kehilangan yang aneh, meski ia tahu itu konyol untuk seseorang yang baru dikenalnya beberapa minggu.

"Mas Reno nyari Mbak Mira, ya?" tanya seorang penjual bunga yang lewat.

Reno mengangguk. "Iya, Bu. Biasanya dia jualan di sini."

"Oh, tadi pagi ada ambulans lewat. Katanya Bapaknya Mbak Mira dibawa ke klinik desa," jawab ibu itu lirih.

Reno langsung diam. Ujung jarinya terasa dingin. Tanpa pikir panjang, ia menstarter mobil dan menuruni jalan kecil menuju arah klinik.

Klinik desa itu kecil, tapi ramai. Suara batuk, tangisan bayi, dan aroma obat bercampur di udara. Di pojok ruang tunggu, ia melihat Mira duduk sendirian, menunduk dalam diam. Rambutnya terurai, wajahnya pucat, dan mata sembab seolah habis menangis.

"Mbak Mira..." panggil Reno pelan.

Mira menoleh, terkejut. "Mas Reno? Kok bisa tahu saya di sini?"

"Saya dengar dari warga. Gimana Bapak?"

Mira menghela napas berat. "Kambuhnya parah, Mas. Tadi pagi Bapak tiba-tiba panik, nyari jalan pulang ke kampung lamanya di Klaten. Untung tetangga lihat dan bantu. Sekarang lagi diobservasi dokter."

Reno duduk di sampingnya tanpa bicara. Kadang diam lebih bermakna daripada seribu kata.

Beberapa menit berlalu sebelum Mira bersuara lagi.

"Saya takut, Mas. Kalau nanti Bapak nggak ingat saya lagi... saya nggak tahu harus gimana."

Reno menatapnya, lembut. "Kalau pun Bapak lupa, kamu tetap anaknya, Mir. Kenangan bisa hilang, tapi cinta nggak."

Mira menunduk, menahan air mata yang kembali menggenang. "Kata-kata Mas Reno terlalu manis buat orang yang masih belajar kuat."

"Kadang orang kuat justru yang paling sering jatuh," jawab Reno lirih.

Sejak hari itu, Reno mulai sering mampir ke rumah Mira, bukan untuk membeli bubur, tapi sekadar memastikan semuanya baik-baik saja. Kadang ia datang membawa buah, kadang sekadar membantu memperbaiki atap bocor atau kran air.

Mira semula menolak dengan sopan, tapi lama-lama ia menyerah. "Kalau Mas Reno terus datang, saya takut utang budi," katanya suatu sore.

Reno tersenyum. "Anggap aja ini saya bayar bubur yang kemarin belum sempat beli."

Mira terkekeh. "Mas Reno itu ada-ada aja."

Hari-hari berikutnya terasa seperti potongan film yang sederhana tapi damai. Ada tawa kecil, aroma bubur labu yang mengepul, dan obrolan ringan tentang hidup. Tapi di balik semua itu, Reno mulai menyadari sesuatu: ia mulai takut kehilangan Mira.

Bukan karena cinta-setidaknya belum ia akui. Tapi karena perempuan itu satu-satunya yang membuat dunia barunya terasa berarti.

Sampai suatu hari, masa lalu datang mengetuk pintu.

Reno baru saja selesai rapat ketika ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuatnya membeku - Nadine, adik mendiang istrinya.

"Halo, Din."

"Mas... aku di Jogja. Bisa ketemu?"

Reno menghela napas. "Ada apa, Din?"

"Aku cuma mau kasih sesuatu dari Rhea. Aku nemuin jurnalnya waktu beresin gudang rumah Mama."

Seketika dada Reno bergetar. Nama itu saja sudah cukup membuat kenangan lama berhamburan. Tapi ia tak mungkin menolak.

"Baik. Kita ketemu di kafe mana?"

Pertemuan itu terasa aneh. Nadine, yang dulu masih SMA ketika Rhea meninggal, kini sudah jadi perempuan dewasa. Senyumnya masih sama, tapi ada kesedihan yang samar di sana.

"Mas, aku nemuin ini." Ia mengeluarkan buku catatan lusuh berwarna cokelat. "Rhea nulis ini beberapa bulan sebelum kecelakaan."

Reno menerima buku itu dengan tangan gemetar. Helaan napasnya terasa berat. "Terima kasih, Din."

Nadine menatapnya lama. "Mas... aku senang Mas mulai hidup lagi. Tapi aku cuma mau bilang satu hal. Jangan terus merasa bersalah, ya?"

Reno menatap keluar jendela, menghindari mata adik iparnya. "Kamu nggak tahu apa yang aku lakukan waktu itu, Din."

"Tapi Rhea udah maafin, Mas. Dia nulis sendiri di situ," kata Nadine pelan.

Reno tak sanggup bicara lagi.

Malam itu, di kamar, ia membuka jurnal itu perlahan. Tulisan tangan Rhea masih sama seperti dulu-rata, rapi, penuh hati-hati.

"Kalau aku pergi duluan, semoga Reno bisa bahagia lagi. Aku tahu dia keras kepala, tapi aku cuma ingin dia berhenti menyalahkan diri sendiri."

Tulisan itu membuat dadanya serasa diremas.

Ia menutup jurnal itu dan menatap langit-langit kamar. Air matanya jatuh pelan tanpa suara. Ia sadar, mungkin inilah waktu untuk benar-benar melepaskan.

Keesokan paginya, Reno memutuskan pergi ke rumah Mira lebih awal. Tapi kali ini bukan sekadar ingin tahu kabar. Ia ingin bicara jujur-tentang siapa dirinya, tentang masa lalu yang belum tuntas.

Namun saat ia tiba di halaman, terdengar suara laki-laki dari dalam rumah. Reno berhenti di depan pagar. Suara itu bukan suara bapak Mira.

"Mir, kamu nggak bisa terus kayak gini. Aku tahu kamu masih bisa kerja di kota. Kamu punya potensi."

Itu suara Bayu, teman kuliah Mira, yang pernah datang sekali dulu membantu memperbaiki gerobak. Dari sela pintu yang terbuka, Reno melihat Bayu berdiri agak dekat dengan Mira. Wajahnya serius.

Mira menjawab pelan, "Bayu, aku nggak bisa ninggalin Bapak. Dia cuma punya aku."

"Tapi sampai kapan? Hidupmu berhenti di sini, Mir. Aku cuma nggak mau kamu nyesel nanti."

Suasana hening. Reno mundur selangkah, tak ingin terlihat. Tapi sebelum ia pergi, Mira berkata lirih, "Aku nggak nyesel, Yu. Aku udah milih jalan ini."

Reno menunduk dan meninggalkan halaman itu tanpa suara.

Hari-hari berikutnya, Reno kembali menjaga jarak. Ia tetap mampir sesekali, tapi tidak seperti dulu. Mira menyadarinya, tapi tidak tahu alasan sebenarnya.

Kadang ia hanya memandangi jalan dari teras, menunggu mobil putih itu lewat seperti biasa. Tapi mobil itu sering hanya berhenti sebentar, lalu pergi lagi.

Bude Ratna, yang selalu peka, akhirnya menegur.

"Ren, kamu kenapa? Wajahmu kayak orang kehilangan arah lagi."

Reno menghela napas. "Saya nggak tahu, Bude. Mungkin saya takut mengulang kesalahan yang sama."

"Kesalahan apa?"

"Mencintai, tapi nggak bisa melindungi."

Bude Ratna menatapnya tajam. "Ren, cinta bukan tentang menyelamatkan. Kadang cukup menemani."

Kata-kata itu terngiang di kepala Reno lama setelahnya.

Sementara itu, Mira juga bergulat dengan batinnya sendiri. Setelah Bayu datang, pikirannya jadi kacau. Ia mulai bertanya-tanya, apakah benar keputusannya untuk tetap di desa adalah bentuk cinta, atau justru pelarian dari ketakutan kehilangan.

Malam itu, saat Bapaknya tertidur, Mira duduk di teras sambil menatap langit. Angin gunung berembus pelan, membawa suara jangkrik dan aroma tanah basah.

Tiba-tiba lampu depan rumah menyala. Reno berdiri di sana, membawa dua gelas teh.

"Boleh saya duduk?" tanyanya hati-hati.

Mira mengangguk. "Silakan."

Mereka duduk tanpa bicara cukup lama. Hanya suara malam yang menemani.

"Aku dengar Bapakmu sudah agak membaik," kata Reno akhirnya.

"Sudah, Mas. Tapi ya begitu... tiap hari kayak lotre. Kadang ingat, kadang nggak."

Reno menatap gelasnya. "Kalau suatu hari kamu bisa ninggalin semua ini, apa kamu mau?"

Mira menoleh. "Maksudnya?"

"Pergi dari sini. Hidup di kota, kerja di tempat yang kamu mau."

Mira tersenyum samar. "Dulu aku sempat mikir gitu. Tapi sekarang... aku merasa, mungkin Tuhan naruh aku di sini bukan buat dihukum, tapi buat belajar menerima."

"Dan kamu nggak merasa terjebak?"

"Kadang iya. Tapi setiap kali lihat Bapak bisa makan bubur dengan tenang, rasanya semua cukup."

Reno menatapnya lama. "Kamu tahu nggak, Mir... dulu aku kehilangan seseorang karena terlalu sibuk menebus rasa bersalah. Aku nggak mau itu kejadian lagi."

Mira terdiam, menatap matanya. "Mas Reno masih mencintai almarhumah istri Mas?"

Pertanyaan itu membuat waktu seolah berhenti.

Reno menarik napas panjang. "Aku nggak tahu. Tapi aku tahu, aku nggak ingin terus hidup di masa lalu."

Mira menunduk. "Kalau begitu, berhentilah menyamakan setiap hal dengan kenangan."

Hening menyelimuti mereka. Tapi hening yang aneh-menyakitkan, tapi juga jujur.

Beberapa minggu kemudian, klinik tempat Bapak Mira dirawat meminta Mira datang lebih sering. Kondisi Bapaknya mulai menurun. Mira jarang ke pasar, dan Reno semakin jarang bertemu dengannya. Namun setiap kali ia lewat jalan itu, ia tetap memperlambat mobilnya-seolah berharap gerobak itu muncul lagi di tempat biasa.

Hingga suatu sore, ia menerima pesan singkat:

"Mas Reno, Bapak saya mau ketemu. Katanya mau minta maaf."

Reno segera melajukan mobilnya ke rumah Mira. Ketika sampai, pria tua itu duduk di kursi, wajahnya pucat tapi tersenyum samar. "Kamu Reno, ya?" katanya lirih.

"Iya, Pak."

"Terima kasih sudah bantu Mira. Anak saya keras kepala, tapi hatinya baik. Jangan biarkan dia sendirian."

Reno menatap Mira, yang matanya mulai berkaca-kaca. "Saya janji, Pak."

Beberapa hari kemudian, Bapak Mira meninggal dunia dengan tenang di pangkuan putrinya. Desa kecil itu ikut berduka. Reno ikut membantu pemakaman, diam-diam, tak banyak bicara. Tapi setiap kali mata Mira menatapnya, ia tahu-tidak ada kata yang cukup untuk mengisi kehilangan seperti itu.

Setelah tujuh hari berlalu, Mira datang ke rumah Bude Ratna membawa sebuah bungkusan kecil.

"Ini titipan Bapak sebelum meninggal," katanya lirih pada Reno. "Katanya, kasih ke orang yang bikin Mira berani tersenyum lagi."

Reno membuka bungkusan itu perlahan. Di dalamnya ada sapu tangan putih bersulam nama Rhea-milik istrinya dulu.

Ia terpaku. "Ini...?"

Mira menatapnya lembut. "Bapak pernah cerita, dulu sapu tangan ini dikasih Rhea waktu mereka sama-sama jadi relawan gizi di desa sini, sebelum Mas Reno menikah dengannya."

Dunia seakan berhenti sejenak. Reno menggenggam sapu tangan itu dengan mata basah.

"Jadi ini... tempat yang sama?"

Mira mengangguk. "Mungkin bukan kebetulan Mas akhirnya ke sini."

Reno menatap wajah Mira, yang kini tampak lebih tenang meski baru saja kehilangan.

"Mir," katanya pelan, "mungkin kita berdua sama-sama kehilangan. Tapi mungkin juga, kita disatukan bukan buat menggantikan siapa pun-melainkan buat belajar hidup lagi."

Mira tersenyum, senyum yang tipis tapi hangat. "Kalau begitu, ayo kita belajar bareng."

Dari kejauhan, Merapi tampak berdiri megah dalam cahaya senja. Angin berembus membawa aroma tanah dan doa yang tak terucap.

Di antara dua hati yang hancur, perlahan tumbuh sesuatu yang baru-bukan cinta yang berapi-api, tapi ketenangan yang akhirnya mereka temukan bersama.

Udara pagi di lereng Merapi tak pernah gagal menenangkan hati Reno. Kabut tipis turun perlahan dari arah gunung, menyelimuti atap rumah dan sawah yang menguning di kejauhan. Suara ayam berkokok bersahut-sahutan, berpadu dengan aroma tanah basah setelah gerimis semalam.

Reno berdiri di teras rumah Bude Ratna, memegang secangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Ia menatap ke arah langit, membiarkan udara dingin menusuk kulit. Setiap pagi di sini seperti pengingat kecil bahwa hidup masih berjalan. Meski ada bagian dirinya yang belum pulih, tapi setidaknya, ia sudah mulai bernafas tanpa rasa sesak.

“Reno!” suara Bude Ratna memanggil dari dapur. “Kalau mau sarapan, cepat, keburu dingin.”

Reno menoleh, tersenyum kecil. “Iya, Bude. Saya cuma mau habiskan kopi dulu.”

“Jangan cuma kopi. Tubuhmu itu perlu karbohidrat juga. Sudah kurus dari dulu, malah makin kering.”

Reno tertawa kecil. “Bude ini, selalu saja.”

Ia menyesap sisa kopi lalu masuk ke dapur. Meja makan kayu sederhana itu sudah penuh dengan hidangan: sayur lodeh, tempe goreng, dan sambal bawang. Aroma masakannya selalu seperti rumah — sesuatu yang sudah lama hilang sejak istrinya meninggal.

“Ren,” kata Bude Ratna pelan, menatap keponakannya dengan sorot mata hangat. “Aku dengar dari Pak RT, kamu kemarin bantu warga perbaiki jembatan?”

Reno mengangguk sambil menyendok nasi. “Cuma bantu sedikit, Bude. Mereka kekurangan tenaga.”

“Ya Tuhan…” Bude tersenyum. “Akhirnya kamu mau berbaur juga. Waktu pertama datang, mukamu kayak awan mendung. Sekarang sudah mulai bisa ketawa.”

Reno tersenyum, menunduk. “Saya cuma nggak mau terus-terusan hidup di masa lalu, Bude. Saya pikir, mungkin tempat ini memang bikin orang belajar ikhlas.”

Bude Ratna menatapnya lembut, lalu mengangguk pelan. “Mungkin juga karena ada seseorang yang bikin kamu betah di sini.”

Reno tersedak nasi. “Bude… apa maksudnya?”

“Sudahlah, jangan pura-pura. Aku ini bukan anak kemarin sore. Aku sering lihat kamu mampir ke pasar pagi-pagi sekali, padahal kamu bisa sarapan di kantor. Kalau bukan karena si penjual bubur itu, masa iya tiap hari kamu bela-belain turun ke pasar?”

Reno menunduk, pipinya memanas. “Cuma… beli bubur, Bude.”

“Beli bubur? Kalau cuma beli, kenapa kamu bantu dia angkat galon air minggu lalu?”

Reno tak bisa menjawab. Bude Ratna terkekeh kecil, senyum nakal tersungging di wajahnya. “Sudah kubilang, Reno. Hati yang hancur bukan berarti tidak bisa jatuh cinta lagi. Kadang, Tuhan hanya mengganti tempatnya.”

Reno hanya terdiam. Tapi ucapan itu berputar-putar di kepalanya sepanjang perjalanan ke kota.

Jam makan siang di kantor. Reno duduk di kantin sambil menatap layar ponselnya. Ia membuka pesan dari Mira:

“Mas Reno, bubur labu hari ini banyak yang pesan. Bapak saya senang banget, katanya rasanya mirip buatan Mama dulu.”

Reno tersenyum tanpa sadar. Ia membalas pelan:

“Syukurlah, Mir. Bapakmu sehat hari ini?”

“Iya, cuma tadi pagi sempat bingung siapa saya. Tapi sekarang sudah lebih tenang.”

Hatinya menghangat membaca pesan itu. Ia tahu betapa beratnya Mira merawat ayahnya sendirian. Ia pernah melihat langsung bagaimana lelaki tua itu duduk termenung di kursi bambu, memandangi jalanan seolah menunggu seseorang yang tak akan kembali.

“Kalau butuh bantuan, kabari aja ya,” Reno mengetik.

“Aku pulang sore ini, bisa mampir.”

“Jangan repot, Mas. Saya nggak enak.”

“Nggak repot. Saya cuma pengen lihat kamu baik-baik aja.”

Pesan itu terkirim sebelum sempat Reno berpikir panjang. Ia menatap layar, menunggu balasan yang tak kunjung datang. Mungkin Mira merasa canggung. Mungkin juga ia takut salah menafsirkan. Tapi yang jelas, hatinya mulai bergerak ke arah yang bahkan ia sendiri tak rencanakan.

Sore itu langit Yogyakarta berwarna jingga pucat. Reno menghentikan motornya di depan rumah kecil Mira. Gerobak bubur sudah disandarkan di bawah pohon mangga, ember-ember sudah dibersihkan.

Mira keluar sambil menenteng gayung air, rambutnya diikat asal, wajahnya masih basah keringat. “Mas Reno?” katanya sedikit terkejut.

“Katanya nggak repot,” jawab Reno santai, menurunkan helm. “Tapi kelihatannya kamu belum sempat istirahat.”

Mira tersenyum malu. “Baru kelar. Tadi banyak pesanan.”

“Bagus dong. Usahamu makin laris.”

Mira mengangguk, tapi tatapannya cepat berpindah ke dalam rumah. “Bapak lagi tidur. Tadi sempat gelisah.”

Reno menunduk sedikit. “Boleh aku bantu apa?”

Mira menggeleng. “Nggak perlu. Tapi kalau Mas nggak keberatan, bisa tolong duduk sebentar? Kadang Bapak suka bangun kaget kalau dengar suara orang asing. Kalau dia dengar Mas ngobrol, mungkin merasa tenang.”

Reno mengikuti Mira ke teras. Mereka duduk di kursi bambu, memandangi pekarangan kecil yang dipenuhi bunga melati. Aroma harum itu menenangkan.

“Bapakmu suka melati?” tanya Reno.

“Iya. Dulu Mama yang tanam. Sekarang aku rawat supaya rumah ini tetap wangi. Katanya, kalau melati masih mekar, berarti cinta Mama belum pergi jauh.”

Reno terdiam. Kata-kata itu menohok hatinya seperti pisau lembut. “Aku juga pernah punya kebiasaan begitu,” katanya pelan. “Dulu setiap pagi aku nyalain lilin di kamar istriku. Tapi sekarang aku nggak berani lagi. Rasanya bukan dia yang hilang… tapi aku yang tersesat.”

Mira menatapnya penuh empati. “Mungkin bukan tersesat, Mas. Mungkin Mas cuma belum menemukan arah baru.”

Mereka terdiam lama. Hanya suara jangkrik yang mulai muncul, dan bunyi dedaunan bergesekan karena angin.

“Mas Reno,” kata Mira kemudian, suaranya lembut. “Aku nggak tahu banyak soal kehilangan. Tapi aku tahu rasanya takut setiap hari melihat orang yang kita sayang makin lupa siapa kita.”

Reno menoleh. “Bapakmu?”

Mira mengangguk pelan. “Tadi pagi dia tanya aku, ‘Kamu siapa, Nak?’ Aku cuma bisa senyum dan jawab, ‘Saya Mira, Pak. Anak Bapak.’ Tapi beberapa menit kemudian dia sudah lupa lagi.”

Reno menggenggam tangannya spontan, mungkin karena empati, mungkin karena sesuatu yang lebih dari itu. Mira menatap tangan mereka, tapi tak menarik diri.

“Terima kasih,” katanya pelan. “Nggak banyak orang yang mau denger cerita kayak gini tanpa merasa iba.”

“Aku nggak iba,” ujar Reno jujur. “Aku cuma kagum. Kamu kuat banget, Mir.”

Mira tersenyum samar. “Kalau aku nggak kuat, siapa lagi yang akan jaga Bapak?”

Sore itu berakhir dengan keheningan yang hangat. Saat Reno pamit pulang, Mira memberinya sebungkus kecil bubur labu. “Buat Bude Ratna. Katanya suka yang manis.”

Reno menerima, tapi di dalam hatinya, yang terasa manis bukan buburnya—melainkan cara Mira memandang dunia, meski penuh luka.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti lembaran baru. Reno semakin sering mampir ke rumah Mira setelah pulang kerja, kadang hanya untuk membawa bahan masakan, kadang membantu memperbaiki gerobaknya yang sudah mulai reot.

Warga desa mulai memperhatikan. Ada bisik-bisik kecil di warung kopi dan pos ronda.

“Mas Reno itu duda, to?” tanya seorang ibu muda sambil menakar gula.

“Iya, katanya istrinya meninggal di Jakarta.”

“Lha, sering banget ke rumah Mira. Jangan-jangan…”

“Ah, biar aja. Mira itu butuh teman juga. Lagian Mas Reno orang baik.”

Gosip itu akhirnya sampai ke telinga Bude Ratna. Saat makan malam, beliau berdeham pelan. “Reno, kamu tahu kan, di desa ini apa-apa cepat nyebar?”

Reno meletakkan sendok. “Bude dengar sesuatu?”

“Dengar banyak.” Bude tersenyum, tapi nadanya tegas. “Aku nggak larang kamu dekat sama Mira. Tapi hati-hati, Nak. Jangan datang kalau kamu belum siap menetap.”

Reno menghela napas. “Saya cuma… pengen bantu.”

“Bantuan itu baik, tapi jangan sampai berubah jadi janji yang nggak bisa kamu tepati.”

Kalimat itu membekas. Malam itu, Reno tak bisa tidur. Ia menatap foto lama istrinya, Aila, yang masih tersimpan di dompet. Wajah lembut itu membuat dadanya nyeri.

“Aila…” bisiknya lirih. “Kalau aku belajar mencintai lagi, apa itu salah?”

Angin malam menjawab dengan dingin yang panjang.

Beberapa hari kemudian, Reno datang ke rumah Mira lebih pagi dari biasanya. Tapi kali ini suasananya berbeda. Gerobak belum dibuka, pintu rumah tertutup rapat.

“Mir?” panggilnya pelan.

Tak ada jawaban.

Ia mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya terdengar langkah pelan dari dalam. Pintu terbuka, dan Mira muncul dengan wajah pucat, mata sembab.

“Bapak kambuh?” tanya Reno cepat.

Mira mengangguk, suaranya bergetar. “Iya… semalam beliau keluar rumah. Aku nemuin dia pagi-pagi di pinggir jalan, duduk sendirian, tanpa sandal.”

Reno langsung masuk tanpa banyak bicara. Di ruang tengah, lelaki tua itu duduk di kursi bambu, memandangi lantai dengan tatapan kosong.

“Bapak?” sapa Reno pelan. “Saya Reno, teman Mir—”

Belum sempat ia lanjutkan, tangan tua itu menggenggam tangannya erat. “Aila…” suara serak itu bergetar. “Kamu pulang, Nak?”

Reno tertegun. Mira menutup mulutnya, menahan tangis.

“Bapak… bukan Aila, ini Mas Reno,” ucapnya lembut.

Tapi pria itu terus menggenggam tangan Reno, matanya mulai basah. “Aku kangen kamu, La… kamu dulu suka buat bubur kayak gini, kan?”

Reno terpaku. Rasanya aneh—nama itu, Aila, seperti menghantam sisi hatinya yang belum sembuh. Dunia mendadak sunyi.

“Mir,” katanya akhirnya, berusaha tenang. “Biar aku jagain Bapak sebentar. Kamu istirahat dulu.”

Mira hanya mengangguk, menunduk dalam-dalam.

Saat lelaki tua itu tertidur, Reno duduk diam di sampingnya, memandangi wajah renta yang tenang. Di dadanya, ada perasaan campur aduk: iba, haru, tapi juga ketakutan. Ketakutan bahwa ia mulai menambatkan hatinya pada seseorang yang hidup di dunia penuh kehilangan—sama seperti dirinya.

Malamnya, sebelum pulang, Reno berdiri di depan rumah Mira. Bulan separuh tergantung di langit, menerangi halaman dengan cahaya lembut.

“Mira,” katanya pelan, “kalau suatu hari kamu butuh tempat bersandar, kamu bisa datang ke rumah Bude.”

Mira menatapnya lama. “Mas Reno…” suaranya serak. “Aku nggak mau jadi seseorang yang kamu tolong cuma karena kamu kasihan.”

“Bukan kasihan.” Reno menatapnya dalam. “Aku datang karena kamu bikin aku merasa hidup lagi.”

Mira menunduk. Air matanya menetes, jatuh di punggung tangan Reno. “Aku takut, Mas. Takut kalau semua ini cuma sementara.”

Reno mengusap air matanya dengan ujung jari. “Nggak ada yang tahu sampai kapan sesuatu bertahan. Tapi aku tahu, aku pengen terus di sini… bareng kamu.”

Mira tersenyum di sela tangisnya. “Bapak mungkin nggak akan ingat siapa kamu, tapi aku nggak akan lupa.”

Dan malam itu, di bawah cahaya bulan dan aroma melati yang masih semerbak, dua hati yang terluka perlahan menemukan cara baru untuk percaya lagi — meski mereka tahu, perjalanan ini baru saja dimulai.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anugerah Cinta
9.3
Dila, putri Gus Wirto, terjebak dalam perjodohan dengan Fabian, mantan pecandu yang sedang memperbaiki diri di pesantren. Hati Dila sebenarnya terpikat pada Prima, seorang hafiz yang saleh. Meski berupaya membatalkan taaruf, Dila tak kuasa melawan harapan orang tuanya. Namun, saat kesepakatan tercapai, rahasia kelam Fabian mulai terkuak satu per satu. Akankah Dila bertahan dengan pilihannya? Mampukah Fabian benar-benar lepas dari masa lalunya yang kelam?
Sampul Novel Cinta Datang Terlambat
9.0
Sagar terpaksa menikahi Bella demi memenuhi ambisi sang kakek, namun ia tak pernah menunjukkan kepedulian hingga hubungan mereka hancur. Saat perceraian membayang, Bella memilih melarikan diri secara diam-diam sambil membawa janin di rahimnya. Kepergian sang istri yang tiba-tiba membuat Sagar terpuruk dalam penyesalan yang mendalam. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta dan permintaan maafnya mungkin telah terlambat bagi Bella.
Sampul Novel Hati Suamiku Milik Sepupuku
8.5
Kirana telah mengerahkan segala upaya demi memenangkan cinta Revan dalam pernikahan perjodohan mereka. Namun, harapannya hancur saat mengetahui bahwa suaminya mencintai wanita lain, yaitu sepupunya sendiri, Sekar. Pengkhianatan menyakitkan ini terungkap secara langsung, membuat rumah tangga mereka yang dingin kian runtuh. Di tengah luka yang mendalam, sosok Bara Mahendra dari masa lalu kembali hadir, membawa warna baru saat Kirana berada di titik terendah.
Sampul Novel I LOVE U HOT PAPA
8.1
Edelweiss Hana kini terjebak dalam pusaran pesona mendebarkan milik Reigan Finley Alfarez, pria yang merupakan ayah angkatnya sendiri. Meski telah berupaya keras mengendalikan gejolak di hati, api asmara yang membara justru kian sulit dipadamkan. Akhirnya, Hana tak lagi sanggup memendam hasrat terlarang yang selama ini menyiksa batinnya. Akankah Reigan ikut terhanyut dalam api gairah yang sama, atau justru menolak perasaan Hana yang begitu membara?
Sampul Novel Istri yang terbuang
9.2
Natasha terpaksa pergi setelah diusir oleh Aiden, suami yang sangat ia puja, di depan seluruh keluarga besar hanya karena masalah sepele. Ironisnya, tak ada satu pun anggota keluarga yang mencari atau mempedulikannya. Saat Natasha mencoba menghubungi mereka, panggilannya pun diabaikan. Di bawah guyuran hujan deras, ia jatuh pingsan sambil meratapi kehancuran pernikahannya. Akankah Natasha sanggup memaafkan Aiden setelah pengkhianatan menyakitkan ini?
Sampul Novel Mantan Istriku yang Penurut Adalah Seorang Bos Rahasia?!
9.4
Tiga tahun Emilia mengabdi sebagai istri penurut Brandon berakhir sia-sia demi wanita lain. Namun, setelah bercerai, ia muncul kembali sebagai sosok tangguh yang jauh berbeda. Brandon terkejut saat mengetahui identitas rahasia Emilia sebagai peretas, dokter, hingga pembalap. Saat pria itu berusaha mengejarnya kembali, Emilia justru menikmati kebebasan dan menunjukkan keahliannya yang tak terbatas. Kini, Brandon harus menghadapi kenyataan bahwa mantan istrinya adalah bos rahasia.