
Ketika Istri Sah Hanya Dijadikan Pengasuh Anakmu
Bab 3
Sudah hampir tiga bulan Reno tinggal di lereng Merapi, tapi setiap harinya selalu ada hal baru yang membuatnya merasa hidup lagi. Udara di pagi hari yang dinginnya menggigit, aroma kopi dari dapur Bude Ratna, hingga suara kentongan di pos ronda yang kini mulai akrab di telinganya.
Namun pagi ini terasa berbeda. Bukan karena cuaca, tapi karena ada surat resmi yang ia temukan di meja makan saat hendak berangkat kerja. Amplop berwarna coklat dengan logo kantor pusat di pojok kiri atas.
"Dari kantor, Ren," kata Bude Ratna sambil menuang teh. "Tadi diantar kurir. Katanya penting."
Reno membuka amplop itu perlahan. Isinya surat panggilan dinas. Matanya menelusuri kalimat demi kalimat dengan perasaan campur aduk.
"Diperintahkan untuk mengikuti evaluasi tahunan di Jakarta selama dua minggu."
Jakarta. Kota yang selama ini berusaha ia tinggalkan, kini memanggilnya kembali.
"Kenapa, Ren?" tanya Bude dengan nada khawatir.
Reno meletakkan surat itu. "Saya harus ke Jakarta, Bude. Dua minggu."
"Wah, jauh juga. Terus, siapa yang bantuin Mira kalau kamu pergi?"
Pertanyaan itu membuat Reno terdiam. Ia tak tahu bagaimana menjawab. Mira memang sudah bisa mengurus usahanya sendiri, tapi entah kenapa, meninggalkannya begitu saja membuat dada Reno terasa sesak.
Sore itu, Reno memutuskan mampir ke rumah Mira. Langit mulai memerah, dan kabut turun perlahan di kaki gunung. Gerobak bubur sudah ditutup, tapi Mira masih duduk di teras sambil mengupas labu.
"Mas Reno?" katanya begitu melihatnya. "Tumben sore-sore ke sini."
Reno tersenyum kecil. "Ada yang mau aku bilangin."
Mira menatapnya penuh tanya. "Apa, Mas?"
"Aku... harus ke Jakarta. Dinas dua minggu."
Mira menunduk sesaat, lalu tersenyum lembut. "Oh, begitu. Berarti Bude bakal sendirian, ya?"
"Kayaknya iya. Tapi aku udah bilang ke Pak RT, kalau butuh apa-apa nanti bisa bantuin."
"Baguslah." Mira mencoba terdengar tenang, meski nada suaranya samar berubah. "Jakarta... pasti banyak kenangan, ya, Mas?"
Reno menatap jauh ke arah barat, di mana matahari mulai tenggelam. "Iya. Banyak yang pengen aku lupakan, tapi kota itu selalu tahu caranya mengingatkan."
Mira berhenti mengupas labu. "Kamu takut kembali ke sana?"
"Bukan takut," jawab Reno pelan. "Cuma nggak siap kalau harus bertemu masa lalu."
Mira menatapnya lama, lalu tersenyum lagi. "Kadang, masa lalu nggak datang buat menyakiti. Tapi buat memastikan kamu sudah benar-benar sembuh."
Reno hanya mengangguk. Kata-kata itu seperti menampar lembut, tapi juga menenangkan.
Dua hari kemudian, Reno berangkat ke Jakarta. Bude Ratna menyiapkan bekal nasi liwet dan sambal terasi kesukaannya. "Kalau sudah sampai sana, jangan lupa makan. Jangan kerja melulu," katanya sambil menepuk pundak Reno.
Reno tertawa. "Iya, Bude. Doain aja biar cepat selesai."
Perjalanan itu memakan waktu hampir delapan jam. Begitu memasuki kota, suara klakson dan hiruk-pikuk jalan langsung menyambutnya. Semua terasa sama, tapi juga berbeda. Gedung-gedung tinggi masih berdiri kokoh, lampu kota tetap berkelip, tapi di hatinya, ada sesuatu yang dulu terasa berat kini perlahan ringan.
Di hotel tempatnya menginap, Reno menatap keluar jendela. Dari lantai dua puluh, ia bisa melihat hamparan lampu kota yang seperti lautan cahaya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama di layar membuatnya tersenyum.
Mira
"Mas Reno udah sampai?"
"Udah. Baru nyampe hotel."
"Capek, ya?"
"Lumayan. Tapi udah lega. Di sini rame banget."
"Kalau kangen suasana tenang, lihat foto Gunung Merapi aja. Aku kirim, ya?"
Tak lama kemudian, foto langit sore dengan latar gunung muncul di layar. Reno terdiam lama. "Terima kasih, Mir," tulisnya akhirnya. "Kayak bisa nyium aroma melati dari sini."
"Hati-hati, Mas. Jakarta suka bikin orang lupa pulang."
Reno menatap pesan itu lama, sebelum membalas, "Kalau yang nunggu di sana kamu, aku pasti pulang."
Hari-hari di Jakarta berjalan cepat. Reno sibuk dengan presentasi dan laporan tahunan, menghadiri rapat-rapat yang membuatnya hampir lupa waktu. Namun di sela semua kesibukan itu, pikirannya tetap tertambat pada satu hal: Mira.
Setiap malam ia menelponnya, sekadar menanyakan kabar Bapak atau membicarakan hal-hal ringan. Tapi malam ketujuh terasa berbeda. Suara Mira di seberang telepon terdengar berat.
"Bapak mulai sering diam, Mas. Nggak mau makan."
"Sudah dibawa ke dokter?"
"Sudah. Katanya wajar, tapi aku takut."
"Mau aku pulang sekarang?"
"Jangan. Tugas kamu belum selesai. Aku cuma pengen cerita aja."
Reno terdiam, lalu berkata pelan, "Mir, kamu nggak sendirian. Aku di sini, selalu."
Suara Mira tercekat. "Aku tahu, Mas. Dan itu cukup buat aku kuat."
Namun keesokan harinya, sesuatu yang tak ia duga terjadi. Saat Reno baru selesai rapat, seseorang memanggilnya dari belakang.
"Reno?"
Ia menoleh, dan tubuhnya kaku seketika. Seorang perempuan berdiri di sana, mengenakan setelan biru navy dengan rambut dikuncir rapi. Senyum lembut tapi tajam tersungging di wajahnya.
"Rena," ucap Reno pelan, nyaris tak percaya.
"Sudah lama, ya?" katanya sambil melangkah mendekat. "Aku dengar kamu pindah ke Yogyakarta."
Reno menarik napas panjang. "Iya. Udah hampir tiga bulan."
"Pantas, aku nggak pernah lihat kamu lagi di kantor pusat." Rena tertawa kecil. "Dulu kamu susah banget diajak pindah, sekarang malah betah di sana."
"Aku cuma butuh suasana baru."
"Suasana baru atau hati baru?" pertanyaan itu meluncur ringan, tapi menusuk.
Reno menatapnya tajam. "Apa maksudmu?"
Rena tersenyum samar. "Kabar menyebar cepat, Ren. Katanya kamu dekat dengan seorang perempuan penjual bubur?"
Reno diam. "Itu urusanku."
"Reno, aku cuma khawatir. Kamu dulu butuh waktu lama buat lepas dari kehilangan Aila. Aku nggak mau kamu salah langkah."
Reno menghela napas. "Aku tahu apa yang kulakukan, Rena. Dan aku nggak butuh nasehatmu."
Perempuan itu menatapnya lama, lalu berkata pelan, "Kalau begitu, semoga dia bisa menyembuhkan kamu seperti yang tak bisa aku lakukan dulu."
Setelah Rena pergi, Reno berdiri lama di lorong kantor. Kata-katanya bergema di kepalanya. Ia dan Rena memang sempat dekat setelah Aila meninggal, tapi hubungan itu tak pernah benar-benar jadi apa-apa. Ia tahu Rena menyayanginya, tapi hati Reno waktu itu sudah mati rasa.
Kini, setelah bertahun-tahun, kenapa rasa bersalah itu muncul lagi?
Malamnya, Reno duduk di balkon hotel dengan segelas teh. Ia menatap langit Jakarta yang nyaris tanpa bintang. Ia membuka ponselnya, menulis pesan untuk Mira, lalu menghapusnya lagi.
Akhirnya, ia menekan panggilan.
"Mira?"
"Mas Reno? Kok tumben nelpon jam segini?"
"Aku cuma pengen dengar suara kamu."
Mira tertawa kecil. "Mas capek, ya?"
"Lumayan. Tapi tadi ketemu orang masa lalu."
"Hm... mantan?"
Reno terdiam. "Ya, semacam itu."
Mira tidak menjawab seketika. Hanya ada napas pelan di ujung telepon. "Berarti Tuhan lagi nguji hati Mas."
"Kayaknya iya," jawab Reno lirih. "Tapi aku cuma pengen kamu tahu satu hal. Aku nggak mau kembali ke siapa pun. Aku sudah punya alasan untuk tetap di lereng Merapi."
Suara di seberang sana terdengar menurun. "Terima kasih, Mas."
"Kenapa suaramu gemetar?"
"Nggak apa-apa. Aku cuma senang. Dan... sedikit takut."
"Takut apa?"
"Takut kamu beneran jatuh cinta."
Reno tersenyum dalam gelap. "Kalau itu terjadi, kamu mau aku berhenti?"
Suara Mira lama terdiam, sebelum akhirnya terdengar pelan, nyaris seperti bisikan. "Nggak. Aku cuma mau kamu jujur sama perasaanmu."
Hari terakhir di Jakarta akhirnya tiba. Setelah semua laporan selesai, Reno bergegas menuju stasiun. Ia tak sabar ingin kembali ke Yogyakarta, ke udara yang bersih, ke suara jangkrik malam, dan ke seseorang yang membuatnya merasa pulang.
Namun sesampainya di stasiun Tugu malam itu, ponselnya berdering. Nama Mira muncul di layar, tapi suaranya kali ini panik.
"Mas Reno... Bapak jatuh! Aku bawa ke puskesmas sekarang!"
Darah Reno berdesir. "Mir! Aku baru sampai Yogya! Di mana kamu?"
"Puskesmas Cangkringan! Tolong, Mas, aku takut-"
Telepon terputus. Reno langsung menyalakan motor, melaju di jalan berkelok menuju lereng. Angin malam memukul wajahnya, tapi ia tak peduli. Di kepalanya hanya ada satu hal: jangan sampai terlambat.
Sesampainya di puskesmas, Mira duduk di kursi tunggu dengan mata bengkak. Reno berlari menghampiri. "Gimana Bapak?"
"Masih di dalam. Dokter lagi periksa."
Reno memegang bahunya. "Sabar, Mir."
Tak lama kemudian, pintu ruang periksa terbuka. Seorang dokter keluar, melepaskan masker. "Bapak kalian jatuh karena tekanan darahnya drop. Untung cepat dibawa ke sini. Tapi harus rawat inap semalam, biar kami pantau."
Mira menunduk lega, menangis pelan. Reno merengkuhnya tanpa pikir panjang. Pelukan itu bukan sekadar pelipur - tapi janji diam-diam, bahwa ia tak akan pergi lagi.
Malam semakin larut. Setelah Bapak Mira dipindah ke ruang rawat, Reno duduk di kursi plastik di sebelah ranjang. Mira tertidur di tepi tempat tidur, kepalanya bersandar di lengan Reno.
Reno menatap wajahnya yang lelah tapi damai. Dalam hati ia berbisik, "Mungkin benar, Tuhan tidak mengambil Aila untuk membuatku hancur. Tapi untuk menyiapkan ruang baru agar aku bisa belajar mencintai lagi - dengan cara yang lebih tenang."
Dari luar jendela, suara serangga malam berpadu dengan angin gunung yang menembus celah kaca. Di tengah keheningan itu, Reno menatap Mira dan tahu, untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak lagi sendiri.
Anda Mungkin Juga Suka





