
Ketika Dunia Hancur, Ia Memilih Wanita Lain
Bab 2
Pagi menjelang, tapi ruang ICU masih tetap dingin dan sunyi, penuh dengan aroma antiseptik dan kesedihan yang menyesakkan dada. Calla duduk termenung di kursi panjang di sudut ruang tunggu, tubuhnya remuk, tapi pikirannya masih berusaha keras merangkai kenyataan yang baru saja menghancurkan hatinya.
Leona... putrinya, telah pergi.
Ia meninggalkan dunia tanpa satu kali pun melihat ayahnya di sisinya. Tidak ada pelukan terakhir, tidak ada suara yang menenangkan, tidak ada janji yang dibuat dengan penuh harapan.
Dan Ares? Masih jauh dari sini.
Calla memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir bebas untuk pertama kalinya sejak malam itu. Tangis yang dipendam berhari-hari akhirnya meledak, merobek sepi di ruang tunggu yang dingin.
"Bu Calla?" suara seorang perawat lembut membuyarkan lamunannya.
Ia menoleh, melihat wajah muda yang penuh simpati. "Kami sudah melakukan segala yang kami bisa. Leona sudah tenang sekarang. Tapi jika ibu ingin, kami bisa bantu untuk proses administrasi dan memberikan waktu untuk keluarga."
Calla mengangguk pelan, tapi hatinya terasa kosong. Ia menatap jendela, hujan masih turun pelan, seperti mengiringi perpisahan yang tak pernah ia inginkan.
Di sisi lain kota, di sebuah vila mewah dengan lampu kristal yang berkilauan, suasana berbeda sama sekali.
Ares duduk di ruang tamu, dikelilingi oleh kerumunan yang bersorak. Gelak tawa dan musik jazz mengalun lembut di udara yang hangat. Lyanna, dengan gaun merah anggur yang elegan, berada di pelukan Ares. Mereka tertawa, berbagi cerita masa lalu yang penuh gairah dan penyesalan yang belum tuntas.
Namun di balik senyum itu, mata Ares sesaat terlihat kosong-seolah ada bayangan gelap yang mengintai di balik tirai pesta mewah ini.
Namun saat seseorang mengirimkan pesan singkat ke ponselnya, Ares mengabaikannya. Sebuah pesan yang ia tahu berasal dari Calla.
"Leona kritis. Tolong segera pulang."
Ia membalas dengan pesan singkat, berusaha menenangkan dirinya sendiri:
"Aku sudah titipkan semuanya pada rumah sakit terbaik. Jangan khawatir."
Tapi saat pesta berlangsung, kabar buruk datang menghantamnya lewat telepon dari asistennya.
"Pak Ares, saya... maaf. Leona sudah meninggal dunia."
Waktu terasa membeku. Musik di pesta seolah berubah menjadi suara hantu, tawa berubah menjadi gema kosong. Ares memandang ke arah Lyanna, yang kini wajahnya juga berubah-dari bahagia menjadi cemas.
Ia berusaha menyusun kata-kata, tapi hanya suara bisu yang keluar dari mulutnya.
Calla menerima kabar itu lewat telepon beberapa menit setelahnya. Hatinya yang remuk menjadi lebih hancur. Air matanya berhenti mengalir, berganti dengan rasa amarah yang membara.
Bagaimana mungkin pria yang dulu mengucapkan janji di altar itu bisa memilih untuk tidak ada di saat putrinya sekarat? Bagaimana mungkin ia bisa merayakan dengan wanita lain, sementara dunia Calla runtuh?
Setelah pemakaman Leona yang sunyi dan sederhana, Calla pulang ke rumah mereka-rumah yang dulu penuh harapan dan tawa kecil anaknya. Kini hanya menyisakan dinding yang dingin dan bayangan masa lalu yang menghantui.
Ia berdiri di tengah ruang tamu, menatap foto keluarga yang retak di sudut meja. Foto itu menunjukkan tiga sosok bahagia: Ares, Calla, dan Leona kecil yang tersenyum ceria.
Calla merasakan amarah yang membakar dalam diam. Ia tahu, ini bukan hanya soal kehilangan anak mereka, tapi juga soal pengkhianatan terbesar dari seorang pria yang dulu ia percayai.
Malam itu, ponselnya bergetar. Pesan dari Ares.
"Calla, aku ingin bicara. Aku tahu aku sudah gagal sebagai suami dan ayah. Tapi aku ingin memperbaikinya."
Calla menatap pesan itu tanpa balasan. Di matanya, Ares sudah kehilangan hak untuk berbicara.
Beberapa hari setelahnya, Calla bertemu dengan Lyanna secara tak sengaja di sebuah kafe kecil di kota.
Lyanna tersenyum manis, namun ada sesuatu di matanya yang membuat Calla merinding. "Aku tahu ini sulit, Calla. Tapi aku datang bukan untuk merebutmu. Aku datang untuk mengingatkan bahwa cinta tidak selalu berjalan mulus."
Calla membalas dengan dingin, "Cinta? Bagaimana kau bisa bicara soal cinta, saat kau merenggut nyawa putriku dengan kehadiranmu?"
Lyanna menunduk, "Aku tidak merencanakan ini. Aku hanya ingin kesempatan kedua. Ares dan aku dulu... kami punya masa lalu yang belum selesai."
Calla tertawa getir, "Masa lalu yang menghancurkan masa depan kami."
Setelah pertemuan itu, Calla mulai merasakan api dalam dirinya yang tak pernah padam. Ia sadar bahwa hidupnya harus terus berjalan, meski penuh luka dan pengkhianatan.
Ia mulai merencanakan langkahnya dengan hati-hati. Ia tidak bisa membiarkan Ares dan Lyanna berjalan begitu saja, sementara dirinya terluka dalam kesunyian.
Calla bertekad untuk mengambil kendali hidupnya kembali, dan menunjukkan pada dunia bahwa ia bukan hanya wanita yang hancur.
Ares, di sisi lain, mulai merasakan konsekuensi dari pilihannya. Bisnis keluarga mulai goyah karena fokusnya terbagi, dan rumor tentang hubungan gelapnya dengan Lyanna mulai merebak di kalangan bisnis.
Ia tahu, jika tidak segera memperbaiki keadaan, segalanya akan hancur. Namun, hatinya tetap terbelah antara rasa bersalah, cinta lama, dan kewajiban yang belum selesai.
Malam itu, saat hujan turun pelan seperti di hari terakhir Leona, Calla berdiri di balkon rumahnya, menatap ke kejauhan dengan mata yang penuh tekad.
"Ini bukan akhir," bisiknya pada diri sendiri. "Ini baru awal."
Anda Mungkin Juga Suka





