
Kesemptan Kedua Juna
Bab 2
Juna beberapa kali mengumpat kesal seraya memukul kemudi. Rasa benci bertubi-tubi pada wanita bernama Dara itu tak bisa hilang dari benaknya
Ia memejamkan mata guna menetralisir perasaan yang bercokol di hati. Dering ponsel menyadarkan ia dari lamunan panjang. Membuat matanya terbuka dan meraih ponsel yang ia letakkan di atas dashboard mobil.
“Halo sayang.“ Suara Diandra terdengar. Membuat rasa marahnya yang tadi memuncak kian mereda.
“Iya, sayang,” ucapnya dengan kalimat lembut.
“Kamu di mana? Kita gak jadi jalan?“
“Jadi, kok, aku lagi di jalan ini. Tunggu, ya! Aku segera ke sana.“
“Oke, aku tunggu. Jangan lama-lama!“
“Hm ….“ Juna memutuskan sambungan telepon. Sejenak menatap walpaper ponselnya. Sebuah kertas berwarna pink berisi puisi yang di bawahnya tertulis nama D'SecretAdmirer.
Puisi dari Diandra saat mereka masih SMA dulu. Puisi yang membuatnya jatuh cinta dengan wanita itu untuk pertama kali.
Seseorang yang ia tekadkan dalam hati untuk ia nikahi namun semuanya sirna saat sang Papa yang memaksa untuk menjodohkannya dengan Dara.
Wanita yang merupakan anak teman Papa. Seorang rekan bisnis yang berjanji akan menolong perusahaan Papa Juna yang saat itu tengah berada di ambang kehancuran.
Mau tidak mau, suka tidak suka Juna menerima hal itu demi menyelamatkan perusahaan keluarga yang juga ia kelola demi keberlangsungan hidupnya.
Membuat Diandra menangis karena mendengar kabar pernikahannya dengan Dara. Namun Juna tak bisa berbuat apa-apa.
Juna hanya bisa memilih untuk memutus hubungannya dengan Diandra atau perusahaannya hancur sedemikian rupa.
Untung saja wanita itu mengusulkan hal yang menurut Juna brilian, yang pada dasarnya tak terpikir dalam benak Juna. Pernikahan kontrak dengan Dara dalam kurun waktu dua tahun dan Diandra siap menunggunya untuk bercerai.
Juna pikir itu alasan yqng bagus untuk mengakhiri pernikahannya. Walau Dara cenderung lebih cantik dari Diandra dengan wajah naturalnya, Juna tetap tak bisa menaruh hati.
Karena dari awal yang ia sukai adalah si penulis puisi dengan nama pena D'SecretAdmirer yang secara tidak langsung telah menyelamatkan hidupnya.
Bagi Juna, Diandra adalah penyelamatnya saat ia benar-benar hancur. Surat-surat berisi kata-kata semangat dan puisi mengenai kehidupan mampu membangkitkannya dari keterpurukan pasca ditinggal mamanya dahulu.
Betapa Diandra begitu berarti dan tak ada yang bisa menggantikan wanita itu di hidupnya.
Maka, dalam waktu dua tahun itu Juna benar-benar bekerja keras untuk membangkitkan perusahaannya kembali seperti sedia kala agar ia bisa tepat waktu berpisah dengan Dara.
Lagipula ia perlu waktu agar ayahnya yakin kalau pernikahannya dengan Dara memang tak bisa dipertahankan dengan perceraian itu. Dua tahun adalah waktu yang cukup.
***
“Kamu bermasalah lagi sama Dara?“ tanya Diandra saat keduanya berada di salah satu restoran mall besar setelah Juna menjemput wanita itu di apartemennya.
“Dia menyentuh barang-barangku dan aku tidak suka itu.“
Diandra menghentikan suapannya. “Barang-barangmu?“
“Berkas-berkas di meja kerjaku. Ia membereskannya karena tampak berserakan.“
“Kenapa dia begitu berani?“
“Entahlah padahal sudah kuperingatkan berkali-kali. Aku sudah katakan padanya kalau aku dan dia punya batas yang tak boleh dianggar dan juga tak boleh kulanggar. Namun sepertinya wanita itu lupa apa yang kusampaikan.“
“Astaga, memang benar-benar aneh istrimu itu. Kau mesti bersabar, hanya satu minggu lagi sayang. Setelah itu kau akan lepas darinya.“
“Kuharap kau tetap mau menungguku Diandra.“
“Pasti Juna, aku akan selalu menunggumu sampai kapanpun karena aku percaya akan janjimu. Kau lelaki yang menepati janji bahkan sejak pertama kali aku mengenalmu.“
“Terima kasih.“ Juna menggenggam erat tangan Diandra dan mengecupnya. Wanita itu tersipu malu dengan pipi bersemu merah.
Keduanya melanjutkan makan kembali hingga makanan yang ada di hadapan masing-masing habis tak bersisa.
“Setelah ini kau mau ke mana?“ tanya Juna mengelap mulutnya dengan tisu.
“Aku mau nyalon, kau mau menunggu, kan?“
“Pagi-pagi begini?“
“Aku dari kemarin tidak keramas Juna. Rambutku sudah sangat gatal sekali.“
Juna memandang rambut lurus Diandra yang sangat terawat persis seperti iklan shampo. Berbeda dengan rambut Dara yang bergelombang di ujungnya. Entahlah, satu kalipun sepertinya ia tak pernah melihat Dara pergi ke salon atau ia yang tak pernah tahu.
“Juna!“
Tersentak dari lamunan, Juna menatap Diandra dengan senyuman.
“Gimana?“
“Apa gak bisa keramas sendiri? Sebenarnya aku ngajak kamu ke luar supaya bisa jalan berdua, Dian. Bukan nunggu kamu nyalon yang bisa makan waktu sampai satu harian.“
“Jadi kamu gak mau nemenin?“
“Bukannya gak mau, tapi aku ingin menghabiskan waktu satu harian sama kamu kebetulan aku libur hari ini. Kalau kamu nyalon, aku cuma menunggu dan gak melakukan apa-apa. Kalau gitu buat apa kita jalan?“
“Juna, aku kemarin baru nail art. Sayang dong kalau aku pakai buat keramas nanti jadi rusak. Sia-sia udah bayar mahal.“
Juna berdecak, menggaruk kepalanya yang tak gatal. Selalu dan selalu seperti ini. Setiap jalan dengan Diandra selalu saja ada hambatannya.
“Jadi kamu gak mau nemenin aku? Biar aku pergi sendiri aja.“
“Gak, gak gitu. Yaudah, oke, aku mau tapi … apa aku boleh minta sesuatu?“
“Apa itu?“
“Boleh aku memintamu menulis puisi lagi, untukku. Satu bait saja seperti yang kau lakukan saat kita sekolah dulu, Dian. Jujur aku sangat merindukan tulisanmu. Aku ingin membacanya lagi.“
“P—puisi?“ ujar Diandra terbata. Ia memilin rambutnya sembari mengalihkan pamdangan ke arah lain. “Kenapa tiba-tiba?“
“Entahlah, aku tiba-tiba terkenang masa lalu. Kau tahu salah satu puisi darimu yang menjadi favoritku kujadikan walpaper ponselku. Saat aku melihatnya tadi tiba-tiba saja terkenang akan hal itu lagi. Jadi, kau bisa membuatnya, kan?“
“Tapi puisi sudah tidak zaman lagi sekarang, Juna. Kenapa kau masih mau mengoleksi kertas berisi tulisan seperti itu?“
“Karena berisi kenangan tentangmu.“
“Aku tak bisa.“
“Kenapa?“
“Aku sudah lama tidak buat puisi, jadi teras kaku. Nanti kamu malah kecewa karena hasilnya gak bagus.“
“Gak apa-apa, Sayang. Aku cuma mau lihat tulisanmu.“
“Besok saja, deh atau kelar nyalon nanti.“
“Sekarang gimana?“
“Aku gak bisa Juna kenapa kamu maksa terus. Kepalaku gatal dan aku gak bisa mikir. Sekarang lebih baik antarin aku ke salon dulu. Lalu setelah itu aku bakalan buatin kamu puisi. Untuk sementara kamu lihatin puisi-puisi yang ada di sosmed dulu.“
“Tapi aku maunya kamu yang nulis.“
“Iya, tapi nanti.“
Juna menghela nafas. Entah kenapa ia merasa Dian sedikit berbeda hari ini.
“Mau, kan? Setelah itu bakalan aku bikinin kok puisinya. Sekarang temenin aku dulu, yuk!“
Juna berdecak, ia tak bisa berdebat melawan Diandra. Maka dengan anggukan pasrah, mulutnya menjawab, “ya sudah.“
***
Laki-laki dengan kacamata itu berjalan dengan langkah menunduk. Sesekali ia melangkah mundur kala siswa dari kelas lain berlarian di koridor sekolah.
Juna, nama siswa itu melangkah masuk ke dalam kelasnya. Duduk menyendiri dibangku sudut kelas. Di tengah hiruk pikuknya suasana kelas yang ramai karena saling bercengkerama. Ia malah berdiam diri tak berusaha membaur sembari mengeluarkan bukunya.
Sesaat setelah memasukkan tas ke dalam laci meja, dan menarik buku dari dalam tas. Sebuah surat jatuh dari laci mejanya.
Kertas berwarna hijau dengan tulisan D'SecretAdmirer di depan surat. Terletak di ujung kiri membuat dahinya berkerut. Juna memungut dan membuka kertas tersebut.
Untuk kamu yang sedang berada dalam masa sulit. Untuk kamu yang merasa sendiri. Untuk kamu yang tak pernah dekat dengan siapapun dan merasa rendah diri. Percayalah ada seseorang yang selama ini selalu memandangmu dari kejauhan. Berharap kamu tetap tersenyum dan semangat dalam melanjutkan hari.
Keberadaanmu begitu penting bagi seseorang ini. Jadi, jangan pernah menyerah, ya!
Juna membenarkan letak kacamatanya. Sesaat setelah membaca surat itu ia melihat ke sekeliling kelas. Seseorang dengan inisial D cuma ada satu di sini.
Diandra.
Dan gadis itu tengah menatap ke arahnya.
Anda Mungkin Juga Suka





