
Kembar Manis: Memuaskan Diri dalam Cinta Ayah
Bab 3
"Kurasa bukan itu yang terjadi." Charles Kusuma akhirnya berkomentar sambil menggelengkan kepalanya.
Begitu ia mengetahui tentang hilangnya Robin dari rumah, ia segera mengirimkan semua anak buah dan pelayannya untuk mencari bocah itu.
Ia bahkan sampai menelepon polisi untuk mengantisipasi agar penculiknya tidak bisa melarikan diri, jika memang itu yang terjadi. Berdasarkan laporan itu, pihak kepolisian pun telah melakukan pencarian ke seluruh penjuru kota, namun mereka tak dapat menemukan apa pun.
Sepertinya Robin sangat pandai dalam menghilangkan jejak yang ia tinggalkan ketika ia kabur.
"Apa kau berpikir ini semua perbuatan pamanmu? Atau mungkin Yusuf? Karena, Robin adalah sasaran mereka," kata Angelina, suaranya terdengar bergetar karena rasa cemas.
Sesuatu melintas di mata Charles.
Ia juga memiliki dugaan, bahwa Yusuf mungkin ada kaitannya dengan hilangnya Robin.
Enam tahun lalu, Kelvin Kusuma, ayah Charles, mengadakan pertemuan keluarga pada hari ulang tahunnya yang kedelapan puluh, mengenai siapa yang akan mengelola perusahaan di masa depan.
"Aku saat ini sudah tua dan sekarat, akan tetapi, baik Charles maupun Yusuf, keduanya belum ada yang berumah tangga," kata Kelvin dengan kerutan di wajahnya. "Sejujurnya, aku tidak peduli dengan status mereka, apakah akan segera menikah atau tidak. Namun, aku menginginkan seorang cicit yang dapat meneruskan masa depan perusahaan kita. Jadi, kuputuskan, siapa di antara keduanya yang dapat memberiku seorang cicit laki-laki pertama, akan memiliki tujuh puluh persen sahamku di perusahaan,"
Ia mengumumkannya dengan nada yang sangat tenang. Namun, perkataannya menciptakan sebuah kekacauan dalam benak semua anggota keluarga yang hadir dan mendengarkannya. Siapa pun yang mendapatkan bagian saham itu, akan menjadi pewaris Grup TS berikutnya, keterangan itu saja sudah cukup untuk menarik semua anggota keluarga dari kedua pihak berlomba-lomba untuk dapat memenuhi persyaratan yang diminta olehnya.
Begitu menariknya ide untuk dapat menguasai Grup TS, sehingga setiap orang berusaha dan bersaing untuk menemukan seorang calon istri baik bagi Charles maupun Yusuf.
Setelah pengumuman dari Kelvin, Jaka Kusuma dan Deco Kusuma berusaha menemukan gadis yang cocok untuk masing-masing putra mereka.
Keesokan harinya, Yusuf mengumumkan pernikahannya dengan Amanda Salim, seorang bintang pop yang sedang naik daun.
Namun sebaliknya dengan Charles, ia belum melakukan apa pun demi memenuhi persyaratan dari kakeknya.
"Yusuf baru saja menikah. Istrinya bisa saja hamil dalam waktu sebulan," ucap Angelina dengan nada cemas.
Akan tetapi putranya, Charles, tak mengucapkan sepatah kata pun untuk menanggapi perkataannya.
"Bukankah kamu dekat dengan Rebecca? Bagaimana menurutmu kalau kita coba menghubunginya?" Angelina berusaha menyampaikan perkataannya dengan nada lembut, berusaha tidak terpancing oleh sikap cuek yang ditunjukkan putranya.
Setelah merenungkannya beberapa saat, Charles menganggukkan kepalanya, dan menjawab pertanyaan ibunya. "Kamu bisa mencobanya."
"Baiklah." Angelina kemudian menghubungi Rebecca Wijaya melalui via telepon, namun, di tolak oleh Rebecca
Rebecca hanya tertawa dan mendengar apa yang dikatakan oleh Angelina di telepon. "Angelina, aku belum mau hamil untuk saat ini, tapi aku bersedia untuk menikah dengan Charles"
Angelina menutup telepon dengan penuh amarah, tanpa memberikan Rebecca kesempatan untuk dapat menyelesaikan kalimatnya. Ia menatap telepon yang dipegangnya dengan penuh rasa kecewa, andai saja sebuah tatapan bisa membakar, mungkin telepon itu sudah ditelan api yang berkobar saat ini. "Rebecca sungguh keterlaluan," ucapnya dengan nada keras. "Ia hanya ingin menikah denganmu, namun tidak ingin mengandung anak darimu untuk saat ini. Apa yang harus kita perbuat sekarang?"
Charles tidak menjawab pertanyaannya, dan meninggalkannya, hal ini membuatnya semakin merasa frustasi.
"Apa kamu akan duduk diam saja di sana, dan tidak melakukan apa pun, ketika Yusuf merebut semua saham Grup TS?" Angelina berteriak pada Charles, yang kemudian berdiri dan berjalan kembali ke kamarnya.
Charles kemudian berhenti, ia berbalik, hanya agar Angelina dapat melihat rasa tidak senang di wajahnya. "Kamu boleh mencarikanku seorang gadis, siapa pun dia, dan aku akan memberimu bayi dari gadis itu," Charles berkata dengan nada sinis. "Aku tidak perlu memberitahumu bagaimana cara melakukannya, kan?"
Angelina mendengus dan tertawa mendengar perkataan Charles. "Baiklah, aku paham."
Ia lebih menyukai ide yang baru saja dikatakan oleh Charles, karena hal ini berarti putranya tidak akan memiliki ikatan apa pun dengan wanita yang akan memberikan bayi bagi mereka. Dengan bersemangat, ia menelepon Sofia dan memintanya untuk menemukan seorang gadis untuk putranya.
Ketika Sofia berhasil mendapatkan gadis untuk Charles, maka sembilan bulan kemudian Robin pun hadir dan menjadi bagian dalam keluarga mereka.
Semuanya terjadi di belakang layar tanpa ada siapa pun yang mengetahuinya, bahkan Yusuf, hingga akhirnya Charles menyerahkan cicit kepada Kakeknya sebagai bukti dan memperoleh tujuh puluh persen saham Grup TS sebagaimana dijanjikan oleh Kelvin.
Amanda, istri Yusuf, masih mengandung lima bulan ketika semua itu terjadi.
Saking marahnya, Yusuf menendang perut istrinya, dan mengakibatkan keguguran pada kandungannya. Sejak saat itu, Amanda tidak bisa hamil lagi.
Meskipun itu semua terjadi di masa lalu, namun semua kejadian itu bukanlah hal yang mudah untuk dilupakan begitu saja.
Tidak ada yang tahu sejauh apa Yusuf mampu bertindak.
"Charles, aku akan pergi ke rumah pamanmu dan bertanya padanya sekarang juga. Jika memang dia yang melakukan ini semua, aku akan membawa Robin pulang ke rumah," ucap Angelina sambil menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Angelina bertekad untuk melakukan apa pun untuk dapat membawa cucunya pulang.
Tepat sebelum ia beranjak pergi, ponsel Charles berdering.
Melihat layar ponsel dan menemukan bahwa yang menghubunginya adalah Joni Riady, sahabat baiknya, Charles pun dengan cepat mengangkat panggilan itu. "Ada informasi apa?"
"Salah seorang anak buahku melihat Robin di bandara pagi ini, jadi aku coba mengirimkan lebih banyak orang untuk melakukan pencarian. Apa menurutmu dia bisa naik pesawat itu seorang diri?" tanya Joni dengan nada gugup.
Charles berpikir sejenak hingga keningnya berkerut. "Dia tidak membawa kartu identitas apa pun bersamanya, jadi kurasa itu tidak mungkin."
"Bagaimana jika dia naik pesawat bersama orang lain?" Angelina menangis lebih keras dengan pertanyaan yang diutarakannya sendiri, ketakutan menyelimuti benaknya. "Jika memang dia diculik dan sesuatu yang buruk terjadi padanya," ucap Angelina sambil terisak, dan kemudian melanjutkan. Aku tidak akan mampu terus hidup jika mengetahui itu semua."
"Laporan dari anak buahku mengatakan bahwa Robin di sana sendirian, aku akan terus memonitor pencariannya," kata Joni.
"Baiklah. Terus lakukan pencarian. Aku akan segera ke sana."
Charles dengan cepat menutup teleponnya, dan kemudian mengambil kunci mobilnya. Sebelum beranjak pergi, ia menengok kepada Angelina. "Kamu di rumah saja, bu. Aku akan segera memberitahumu begitu mendapatkan informasi tentang Robin. Aku pikir ini semua tidak ada hubungannya dengan Yusuf."
Angelina merasa tubuhnya lemas mendengar ini semua, ia hanya dapat terdiam dan duduk di sofa. "Tolong bawa cucuku kembali pulang ke rumah."
Setelah Ningsih selesai mengajak Robin keluar untuk makan, ia mengunjungi ibunya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika mereka tiba di apartemen Ningsih.
Sepanjang waktu, Robin terus mengikuti Ningsih dengan sangat patuh.
Selesai memandikan bocah itu, Ningsih membongkar kopernya dan mengeluarkan sebuah piyama lucu untuk dikenakan kepada Robin.
Robin melihat piama itu sejenak, dan kemudian mengambilnya dari tangan Ningsih. "Kenapa kamu memiliki pakaian untuk anak-anak, Tante?"
Ningsih tertawa mendengar pertanyaan Bobby. "Aku suka dengan pakaian anak-anak, jadi aku akan membelinya jika menurutku bagus."
Kebenarannya adalah, ia selalu membeli pakaian anak-anak setiap tahunnya, demi mengenang putranya yang selama ini tak ada di sisinya. Ia sangat merindukan anak yang dilahirkan dari rahimnya, hingga terkadang ia menangis, dengan pakaian anak-anak melilit di tangannya. Terkadang ia memaksakan diri untuk menyingkirkan pakaian-pakaian itu, berusaha melupakannya.
"Kamu sangat menyukai anak-anak kan, Tante?" sambil bertanya, Robin memiringkan kepalanya dan menatapnya.
"Tentu saja, apalagi jika mereka pintar dan penurut sepertimu." Ningsih mencolek hidung Robin dengan jari telunjuknya.
Sesuatu melintas di mata Robin. Kenyataannya, ia adalah anak yang sangat nakal di rumahnya. Ia sering menghancurkan mainan apa pun yang tidak membuatnya merasa senang, membuat ayahnya terpaksa membelikannya mainan baru untuk menggantinya. Dan ia tak pernah berhenti melakukannya ketika ia di rumah.
Namun, Robin tidak berniat untuk menceritakan kenakalannya kepada Ningsih. Bagaimana jika Ningsih akhirnya meninggalkannya, setelah mengetahui betapa nakal dirinya?
Robin berjalan dengan canggung menghampiri Ningsih, dan kemudian mencium pipinya dengan lembut. "Tante," katanya ceria.
"Bolehkah aku memanggilmu ibu?"
Ibu, ibu...
Kata-kata itu menusuk sangat dalam di hati Ningsih.
Andai saja... mata Ningsih berlinang air mata.
"Robin, kurasa ibumu yang asli tak akan senang jika kamu memanggilku dengan panggilan ibu,"
Anda Mungkin Juga Suka





