
Kematian Tragisku Menyadarkan Kakakku
Bab 3
Kakakku dan Paman Roni saling memandang. Melihat anak laki-laki di hadapan mereka menangis tersedu-sedu, kakakku pun mengerutkan bibir dan tidak tahu harus bagaimana menyampaikan kabar buruk ini padanya.
"Kami baru menemukan mayat wanita yang identitasnya belum diketahui ...." Suara kakakku sangat berat, dibaluti dengan ketidaktegaan.
Kaki anak laki-laki itu melemas, dia hampir jatuh ke lantai dan terus bergumam, "Nggak mungkin, nggak mungkin ...."
Dia dipapah di sepanjang jalan dan pergi melakukan interogasi yang lebih rinci.
Tiba-tiba, ponselnya berdering.
Terdengar suara riang wanita dari sambungan telepon. "Dik, kamu ke mana? Kenapa nggak ada di rumah? Aku naik bus selama dua hari, aku sengaja pulang untuk kasih kamu kejutan."
"Kak! Kukira terjadi sesuatu padamu, aku segera pulang."
Anak laki-laki itu menyeka air matanya, lalu menundukkan kepala untuk mengucapkan terima kasih dan bergegas pulang.
Aku dan kakakku menghela napas lega.
Seiring berjalannya waktu, para detektif yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus di luar pun kembali, tetapi mereka tidak menemukan petunjuk yang bermanfaat.
Kakakku kembali mengerutkan keningnya. Waktu terus berlalu, tetapi tidak ada kemajuan pada kasus ini.
Dua hari kemudian.
Paman Roni menghampiri kakakku dengan cemas.
"Owen, aku merasa ada yang nggak beres. Nala sudah hilang beberapa hari, ini sangat aneh."
Pada dasarnya, kakakku sudah kesal karena mereka tidak menemukan terobosan pada kasus ini. Setelah mendengar namaku, amarahnya pun meluap.
"Guru, sudah kubilang dia baik-baik saja. Sekarang, aku nggak punya waktu untuk mengurusnya. Aku masih harus menemani Yeri. Kalau nggak, aku mungkin nggak bisa menghadiri wisudanya."
Paman Roni sangat khawatir. "Owen, jangan keras kepala. Mungkin Nala dalam bahaya, kalau kamu nggak peduli, biar aku yang cari dia."
Kakakku melambaikan tangannya sambil berkata, "Terserah kamu, pokoknya aku nggak peduli. Lebih baik dia nggak pulang daripada merepotkan aku."
Paman Roni mengumpatnya dari belakang, "Bagaimana bisa aku mendidik bajingan sepertimu?"
Aku bersembunyi di sudut ruangan. Melihat Paman Roni membelaku, aku tanpa sadar meneteskan air mata.
Kak, kapan kamu akan percaya bahwa aku tidak baik-baik saja?
Begitu kakakku keluar, ponselnya berdering.
"Halo, apa kamu adalah kakaknya Nala? Aku adalah dosen pembimbingnya. Ada sedikit masalah dengan skripsinya, tapi aku nggak bisa menghubunginya, bisakah kamu ...."
Sebelum dosen pembimbingku selesai berbicara, kakakku sudah menyelanya dengan kesal, "Aku mana tahu dia pergi ke mana? Jangan ganggu aku. Hidup atau matinya, nggak ada hubungannya denganku."
Setelah berkata demikian, dia mengakhiri panggilan dengan kesal.
Saking marahnya, wajah kakakku memerah. Dia mengeluarkan ponsel untuk mengirimiku pesan.
"Kamu sudah puas berulah? Kalau kamu nggak muncul di wisuda Yeri, kamu akan menyesal!"
Air mataku pun mengalir.
Kak, aku bukannya tidak muncul ....
Aku sudah dua hari berbaring di ruang otopsi sebelah!
Kapan kamu akan menyadari bahwa itu adalah aku? Kapan kamu akan mendengarkan Paman Roni?
Saat ini, Yeri masuk ke kantor dengan membawa kotak makan.
Mata kakakku bersinar, dia menghampiri Yeri dengan senyuman hangat.
"Yeri, kenapa kamu datang?"
Yeri tersenyum manis padanya. "Aku mengkhawatirkan Kak Owen, aku datang mengantarkan makanan lezat untukmu."
Kakakku mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. "Yeri memang baik, nggak seperti bocah nakal itu, hanya tahu merepotkanku saja."
Mata Yeri berkaca-kaca.
Kakakku langsung panik dan bertanya dengan cemas, "Ada apa? Yeri, siapa yang menindasmu?"
Yeri menggigit bibirnya dan tampak sangat menyedihkan. "Tadi, aku bertemu Kak Nala di jalan. Aku ingin menyapanya, tapi dia malah mendorongku dan melemparkan liontin ini padaku. Dia juga bilang nggak ingin berurusan denganku lagi."
Kakakku menundukkan kepala, lutut Yeri memerah dan membengkak.
Dia mengeluarkan ponselnya untuk meneleponku sambil mengumpat dengan penuh amarah, "Dasar nggak tahu diuntung!"
Melihat liontin itu, Paman Roni segera merampasnya. "Kamu bilang Nala baru melemparkan ini padamu?"
Yeri seolah-olah ketakutan, dia mengangguk sambil bersembunyi di belakang kakakku.
"Paman Roni, sudah kubilang dia baik-baik saja, kamu masih nggak percaya. Beraninya dia mendorong Yeri, aku akan membuat perhitungan dengannya."
Paman Roni menggelengkan kepalanya dengan serius, "Nggak mungkin, Nala pakai liontin ini sejak kecil. Ini satu-satunya barang yang ditinggalkan ibumu untuknya, dia sangat menyayangi liontin ini, dia nggak mungkin membuangnya begitu saja."
Kakakku menyalakan pengeras suara. "Dengar, dia akan segera menjawab telepon."
Hal yang mengejutkan adalah kali ini, panggilannya tersambung.
Kakakku langsung berseru, "Nala, datang ke kantorku sekarang juga. Beraninya kamu melukai Yeri, kamu sudah bosan hidup?'
Orang di ujung lain telepon terdiam sejenak sebelum berkata, "Kak Owen, ini ponsel yang kami temukan di tempat kejadian."
Anda Mungkin Juga Suka





