Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kekuatan Hati, Kekuatan Cinta

Kekuatan Hati, Kekuatan Cinta

Demi kesembuhan ibunya, Alira Santika terpaksa menikahi Dimas Aditya Wiratama, pewaris ningrat yang butuh keturunan. Gadis 19 tahun ini harus meninggalkan kekasihnya, Raka, demi perjodohan tanpa cinta. Di rumah barunya, Alira menderita akibat kekejaman Cynthia, istri pertama Dimas yang penuh dendam. Tanpa pembelaan sang suami, ia berjuang sendirian melawan intrik keluarga. Akankah Alira mampu bertahan di tengah pengkhianatan dan tekanan demi cinta sejatinya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu, rumah besar keluarga Wiratama terasa sunyi. Matahari mulai menembus tirai jendela, tapi keheningan itu justru menambah ketegangan di hati Alira. Ia sedang duduk di ruang belajar, memegang cangkir teh hangat, berusaha menenangkan pikirannya. Pikiran tentang Raka dan ibunya terus bergelayut di kepalanya, menyadarkannya bahwa setiap langkah yang diambil di rumah ini harus penuh perhitungan.

Pintu ruang belajar terbuka perlahan. Cynthia muncul, wajahnya tetap anggun, tapi mata tajamnya seolah menelusuri setiap gerakan Alira. "Selamat pagi, Alira," sapanya tipis, seperti embusan angin dingin. "Aku ingin bicara."

Alira menegakkan tubuhnya, menaruh cangkir teh. "Selamat pagi, Bu Cynthia. Ada yang ingin dibicarakan?"

Cynthia mencondongkan tubuh, tatapannya menusuk. "Aku ingin kau memahami satu hal. Aku sudah melihat caramu... mencoba menyesuaikan diri, mencoba menarik perhatian Dimas. Aku akan memberi satu saran: jangan pernah merasa aman di rumah ini. Setiap tindakanmu, sekecil apa pun, akan diperhatikan. Dan jangan lupa... aku selalu tahu cara menempatkanmu di posisi yang benar-benar tak nyaman."

Alira menelan ludah, mencoba tersenyum, tapi senyum itu terasa kaku. "Aku hanya ingin hidup damai di sini, Bu Cynthia. Aku tidak berniat mengganggu siapa pun."

Cynthia tersenyum tipis, lalu berbalik. "Kau memang pendatang, Alira. Tapi jangan lupa, rumah ini... dunia ini... hanya akan menghargai mereka yang kuat."

Setelah Cynthia pergi, Alira duduk terdiam, memikirkan kata-kata itu. Ia tahu, tinggal di rumah ini bukan hanya soal bertahan hidup, tapi juga soal bertahan secara emosional. Setiap hari ia harus menjaga harga diri, menghadapi tekanan, dan tetap berusaha menjaga hubungan dengan Dimas yang kerap ambigu.

Beberapa jam kemudian, Dimas masuk ke ruang belajar. Wajahnya serius, tapi matanya menyiratkan sesuatu yang berbeda dari biasanya. "Aku dengar Cynthia sudah berbicara denganmu," ucapnya datar, menatap Alira.

Alira mengangguk. "Ya, Pak. Aku... aku akan berusaha memahami semua ini."

Dimas duduk di kursi di hadapannya, menatap jauh ke luar jendela. "Aku tahu... Cynthia sulit. Tapi kau harus belajar satu hal: bukan semua orang yang berwajah ramah itu benar-benar baik. Dan bukan semua orang yang terlihat dingin itu benar-benar jahat. Rumah ini... keluargaku... penuh dengan aturan yang tidak tertulis. Kau harus memahami itu jika ingin bertahan."

Alira menunduk. Kata-kata Dimas terdengar seperti petuah yang penuh makna, tapi hatinya tetap gelisah. Ia tahu, setiap langkah yang ia ambil akan selalu diperiksa oleh Cynthia, dan terkadang oleh Dimas sendiri, meski pria itu menunjukkan sisi perhatian yang jarang.

Siang hari, Alira menerima kabar dari rumah sakit. Ibunya memerlukan tindakan tambahan segera. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, setiap keterlambatan berarti risiko besar. Ia harus memastikan bahwa biaya pengobatan tetap tersedia, dan itu membuatnya merasa terperangkap dalam pernikahan ini-pernikahan yang bukan pilihannya.

Ketika ia sedang merenung, Raka menelepon. Suaranya terdengar tegang dan lembut sekaligus. "Alira... bagaimana keadaanmu hari ini? Aku mendengar kabar dari rumah sakit..."

Alira menahan tangis, mencoba terdengar tenang. "Ibu memerlukan perawatan tambahan, Ka. Aku harus memastikan semuanya berjalan lancar. Aku... aku merasa terjebak, Ka. Aku ingin bersamamu, tapi... aku tidak bisa meninggalkan ibu."

Raka menghela napas panjang. "Aku mengerti... dan aku akan selalu mendukungmu. Jangan biarkan mereka mematahkan semangatmu, Alira. Kau kuat... dan aku tahu kau bisa melewati ini."

Alira menutup telepon dengan mata berkaca-kaca. Ia menyadari, cinta dan tanggung jawabnya kini saling bertabrakan. Ia harus memilih antara melindungi ibunya atau memperjuangkan cintanya. Dan di tengah semua itu, Cynthia terus mengawasinya, menunggu setiap kesempatan untuk menyerang.

Beberapa hari kemudian, konflik kecil terjadi di ruang makan. Cynthia, dengan suara manis tapi penuh sindiran, menyinggung latar belakang Alira. "Kau mungkin terbiasa hidup sederhana, Alira. Tapi di sini... rumah ini... kami terbiasa dengan standar tertentu. Jangan sampai kau membuat kesalahan yang memalukan."

Alira menelan ludah, menahan emosi. Ia tahu, melawan Cynthia secara langsung hanya akan menimbulkan masalah lebih besar. Ia mencoba tetap tenang, menunduk, dan membalas dengan sopan. "Aku akan belajar, Bu Cynthia. Aku tidak ingin mengecewakan siapa pun."

Dimas yang duduk di ujung meja menatap Alira sebentar, lalu menunduk membaca dokumen. Pandangannya singkat tapi memberi Alira sedikit rasa aman. Meskipun tidak secara terbuka membela, ia tahu Dimas memperhatikan setiap tindakan Alira.

Malam itu, Alira duduk di balkon, menatap langit Jakarta yang gelap. Hujan tipis mulai turun, menambah suasana muram. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Setiap malam terasa panjang dan berat. Ia harus menahan rindu pada Raka, menghadapi Cynthia, dan menjaga citra diri di hadapan Dimas. Namun di balik semua itu, ada tekad yang perlahan tumbuh: ia tidak akan menyerah begitu saja.

Hari berikutnya, Dimas mengajaknya ke ruang kerjanya. Lampu kuning lembut menyoroti wajahnya, membuatnya tampak lebih hangat daripada biasanya. "Aku ingin bicara," ucap Dimas pelan. "Aku tahu Cynthia menekanmu. Tapi aku juga ingin kau tahu, kau tidak sepenuhnya sendirian di sini."

Alira menatapnya, terkejut. "Benarkah, Pak?"

Dimas mengangguk. "Ya. Aku mungkin tidak selalu bisa membela, tapi aku bisa memastikan bahwa tidak ada yang akan menyakitimu terlalu jauh. Tapi... kau harus belajar menyesuaikan diri. Rumah ini memiliki aturan yang ketat, dan aku tidak bisa mengubah semuanya hanya karena permintaanmu."

Alira menelan ludah, hatinya campur aduk. Kata-kata Dimas terdengar hangat, tapi ia tahu, menembus dinding dingin keluarga Wiratama bukanlah hal mudah. Ia harus berhati-hati, menjaga emosi, dan tetap fokus pada tujuan utamanya: ibunya dan cintanya pada Raka.

Beberapa hari kemudian, Cynthia mencoba intrik baru. Ia mengundang beberapa tamu penting, dan sengaja menyinggung Alira di depan mereka. "Kau mungkin terbiasa hidup sederhana, Alira. Tapi di sini... kau harus belajar menghormati standar kami," katanya dengan senyum tipis tapi menusuk.

Alira menahan emosi, tersenyum sopan, dan berkata, "Aku akan belajar, Bu Cynthia. Terima kasih atas nasihatnya."

Dimas menatap interaksi itu dengan seksama. Ada ketegangan di udara, tapi ia tidak campur tangan secara langsung. Namun di dalam hatinya, ia mulai menyadari satu hal: Alira bukan gadis lemah yang bisa dengan mudah dijatuhkan. Ada keteguhan yang tersembunyi di balik kelemahannya, sesuatu yang membuat Dimas penasaran dan, entah bagaimana, ingin melindunginya.

Malam itu, Alira menulis surat lain untuk Raka. Ia menceritakan setiap intrik Cynthia, setiap pandangan Dimas yang membingungkan, dan rasa takutnya yang terus menghantuinya. Menulis surat menjadi cara baginya untuk menenangkan hati, sekaligus menyimpan harapan bahwa suatu hari ia bisa kembali pada Raka.

Di sisi lain, Dimas mulai menyadari perubahan kecil dalam dirinya. Ia tidak pernah mengakui perasaannya, tapi pandangan Alira, keteguhan hatinya, dan cara ia menghadapi Cynthia membuatnya merasa... tertarik. Perasaan yang awalnya ia anggap sebagai kewajiban, perlahan mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit.

Namun, ia juga tahu, Cynthia tidak akan tinggal diam. Istri pertamanya itu selalu menunggu kesempatan untuk menyingkirkan Alira, dan setiap langkah yang diambil Dimas harus penuh perhitungan. Rumah ini bukan sekadar tempat tinggal-ini medan pertempuran, tempat setiap emosi diuji, dan di mana hati manusia diuji oleh intrik dan tekanan.

Malam itu, Alira menatap hujan dari balkon kamar. Air hujan menetes di kaca jendela, seolah mencerminkan perjalanan hidupnya yang penuh tekanan. Tapi di dalam hatinya, ada satu tekad yang tidak bisa digoyahkan: ia akan bertahan. Ia akan menjaga ibunya, cintanya pada Raka, dan kehormatan dirinya.

Dan di ujung malam, ketika rumah itu sunyi, Alira menyadari satu hal: badai yang ia hadapi baru saja dimulai. Setiap hari membawa konflik baru, intrik baru, dan pilihan yang sulit. Tapi ia juga tahu, jika ia cukup kuat, ia bisa menemukan jalan untuk tetap bertahan dan, suatu hari, menemukan kebahagiaan yang ia impikan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JML" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JML
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bunga Kejahatan Dalam Pernikahan
9.5
Demi membalas penderitaan keluarganya, Layla berpura-pura mencintai seseorang dalam sebuah rencana balas dendam yang matang. Namun, ambisinya terancam saat perasaan tulus mulai tumbuh di tengah misinya. Kini ia terjebak dalam dilema besar antara menuntaskan dendam masa lalu atau menyerah pada cinta yang tak terduga. Akankah Layla tetap pada tujuannya, atau justru melepaskan segalanya demi perasaan itu? Ikuti kisah penuh intrik dalam Bunga Kejahatan Dalam Pernikahan.
Sampul Novel Cinta Palsu Dalam Pernikahan Kontrak
7.8
Aruna Larasati terjebak dalam pernikahan kontrak demi menyelamatkan keluarga. Lima tahun ia berkorban, namun Gavin Nugraha hanya menganggapnya bayangan. Kehadiran Elvira, cinta masa lalu Gavin, merenggut perhatian suami dan anak yang Aruna besarkan. Di tengah pengkhianatan dan harapan yang hancur, Aruna akhirnya memilih untuk bebas. Akankah ia mampu bangkit merebut kembali hidupnya, atau justru terpuruk dalam takdir yang kejam? Sebuah kisah haru tentang harga diri.
Sampul Novel Istri Muda Untuk Suamiku
9.6
Delapan tahun membina rumah tangga, Nayla Rahmawati belum juga dikaruniai buah hati. Demi mendapatkan keturunan, ia mengambil keputusan berat untuk menikahkan suaminya, Burhan, dengan gadis saleha bernama Bella. Akankah Nayla sanggup berbagi cinta dengan madunya? Di balik air mata dan perjuangan, tersimpan rahasia besar mengenai kondisi Nayla. Simak kisah poligami unik yang penuh kekompakan dan haru dalam menjalani biduk rumah tangga yang tak biasa.
Sampul Novel Istri Mudaku Meresahkan!
8.6
Demi menyelamatkan bisnis keluarga dari kebangkrutan, Yasmin yang baru berusia 20 tahun terjebak dalam pernikahan kontrak dengan duda kaya bernama Galih. Namun, konflik memuncak saat Galih memberikan pilihan sulit antara Vira, anak sambungnya, atau Anggara. Meski Yasmin sangat mencintai Vira, keraguan hatinya memicu amarah Galih. Pria itu akhirnya menjatuhkan talak dan melarang Yasmin menemui Vira selamanya, menghancurkan sisa harapan dalam rumah tangga mereka.
Sampul Novel Ketagihan Mama Temanku
8.8
Pras adalah remaja delapan belas tahun yang terpikat oleh pesona wanita matang. Baginya, kedewasaan dan ketenangan mereka jauh lebih menarik dibandingkan drama teman sebaya. Namun, obsesi ini perlahan berubah menjadi candu yang rumit. Di balik gairah yang membara, Pras mulai mempertanyakan apakah pencariannya ini adalah bentuk pelarian dari kekosongan di rumahnya sendiri. Ini adalah kisah tentang nafsu dan pendewasaan seorang pemuda yang tumbuh terlalu cepat.
Sampul Novel Kisahku Berakhir Di Pusara
8.2
Dua insan yang terikat kekeluargaan ini mulanya saling menyayangi hingga sebuah perjodohan direncanakan. Namun, salah satunya memilih ingkar demi mengejar cinta lain, memicu keretakan hubungan mereka. Di tengah ujian berat, pencarian kebahagiaan sejati tetap berlanjut. Saat perasaan akhirnya bertaut kembali, musibah besar justru datang melanda. Diangkat dari kisah nyata yang penuh duka, akankah takdir menyatukan mereka atau justru berakhir di pusara?