
Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
Bab 2
"Raivan, cepat kemari, datang ke sisiku."
Saat ini, terdengar suara yang akrab dan serak.
Tubuh Meta sangat kurus setelah bekerja terlalu keras untuk waktu yang lama, dia baru berusia 40 tahunan, tapi rambutnya sudah beruban.
Suara teriakan itu sepertinya telah menghabiskan seluruh kekuatan ibunya.
Mendengar suara ini, Raivan segera menghampirinya dan memegang lengan ibunya, lalu berkata dengan sedih, "Bu, Ibu seharusnya berbaring di tempat tidur saja. Jangan banyak berjalan-jalan dalam cuaca seperti ini."
Meta mengibaskan tangannya dengan tidak peduli dan menghela napas panjang, "Raivan, sekarang kamu sudah dewasa, ada beberapa hal yang ingin Ibu katakan padamu. Ayahmu sebenarnya belum mati, namanya Tobias Januar."
"Tobias Januar?"
Raivan tidak bisa memercayainya dan berkata dengan terkejut, "Tapi, jelas-jelas Ibu mengatakan bahwa Ayah telah lama meninggal dan bahkan tidak mau memberitahuku namanya! Kenapa nama ini sama dengan orang terkaya di negeri ini..."
"Putraku, ini bukan kebetulan. Orang terkaya di ibu kota, Tobias Januar, CEO dari Grup Januar adalah ayah kandungmu!" Setelah memberi tahu Raivan tentang fakta itu, Meta akhirnya merasa lega.
Pikiran Raivan kosong, dia tidak pernah mengira bahwa Tobias yang sangat terkenal di ibu kota sebenarnya adalah ayah kandungnya.
Namun, tidak peduli seberapa kaya dia, dia tidak seharusnya meninggalkan istri dan anaknya seperti ini!
Raivan sama sekali tidak menyukai ayahnya, dia berkata dengan wajah tegas, "Lalu, kenapa dia tidak pernah pulang dan menemui kita selama ini? Kita sangat menderita selama bertahun-tahun, sedangkan dia menjalani kehidupan yang sangat nyaman!"
Kepala Pelayan Zoe menghela napas dan berkata, "Tuan Muda, tolong maafkan saya. Tuan sedang menegosiasikan sebuah bisnis senilai ratusan triliunan di luar negeri. Dia benar-benar tidak bisa datang secara pribadi, jadi dia sengaja mengutus saya datang untuk menemui Anda."
Meta yang berada di samping juga menunjukkan senyum pahit, dengan air mata yang berlinang di matanya, dia mengatakan kalimat demi kalimat secara perlahan.
"Ini semua salah Ibu. Ibu yang menyulitkan ayahmu. Raivan, Ibu harap kamu tidak membencinya. Selama bertahun-tahun, dia telah melalui banyak kesulitan, lebih dari yang bisa dibayangkan olehmu dan Ibu."
Mendengar kata-kata ibunya, Raivan terdiam, tapi sebuah perasaan membanjiri hatinya.
Selama 20 tahun, dia belum pernah melihat ayah kandungnya, tidak sekali pun.
Di dalam hatinya, ayahnya sudah meninggal.
Namun sekarang, ada orang yang mengatakan kepadanya bahwa ayahnya tidak hanya hidup, tapi juga merupakan orang terkaya di negara ini!
Perbedaan yang begitu besar membuat Raivan merasa pusing.
Kepala Pelayan Zoe memahami kebencian Raivan terhadap ayahnya dan berkata dengan tak berdaya, "Tuan juga terpaksa, saat itu dia hampir dibunuh musuh, jadi dia buru-buru mengamankan kalian berdua. Sekarang, seluruh kekayaannya di ibu kota telah berhasil dikumpulkan dan musuhnya telah berhasil dibasmi, jadi Tuan Muda dan Nyonya sudah bisa kembali dengan tenang."
Dia berhenti sejenak, kemudian mengeluarkan selembar kartu hitam dari balik tas dokumennya, lalu menyerahkannya pada Raivan.
Tatapan Kepala Pelayan Zoe sangat lembut dan terlihat mengandung permintaan maaf, "Tuan meminta saya untuk memberikan kartu berlian hitam ini pada Tuan Muda dan berharap bisa memberi kompensasi atas utangnya selama beberapa tahun karena tidak memenuhi kewajibannya sebagai seorang ayah."
"Kartu berlian hitam?" tanya Raivan, tapi dia tidak menjulurkan tangan untuk mengambilnya.
Matanya tertuju pada kartu hitam itu.
Itu adalah kartu yang dipenuhi dengan berlian hitam, dan sepertinya terlihat sangat eksklusif.
Dalam 20 tahun hidupnya, Raivan tidak pernah melihat kartu bank yang seperti itu.
"Tuan besar berkata, uang 200 miliar itu hanya uang saku, jika tidak cukup, maka masih ada kartu yang tak terbatas ini!" jawab Kepala Pelayan Zoe.
"Tak terbatas?"
Mulut Raivan terasa kering, seumur hidupnya, dia tidak pernah mendengar jumlah uang yang begitu besar.
Ternyata, ada kartu tak terbatas yang bisa digunakan untuk menarik uang miliaran dan bahkan triliunan! Bahkan menarik uang untuk membangun gedung pun tidak masalah.
"Tuan juga menginstruksikan, di tempat tandus seperti Kota Gixa ini, dia masih memiliki banyak industri yang belum berkembang, salah satunya merupakan sebuah hotel kecil. Dia berharap Tuan Muda bisa mengelolanya dengan baik."
"Aku masih kuliah, jika aku menyia-nyiakan pendidikanku dan malah menjalankan perusahaan, bukankah malah tidak baik?"
Tidak menyangka Raivan akan menjawab seperti itu, Kepala Pelayan Zoe mau tidak mau menjadi menghormatinya.
Dia memang putra Tobias!
"Hotel itu adalah hotel bintang lima yang lumayan dan mudah untuk dikelola. Jika saya tidak salah ingat, hotel itu bernama Hotel Scarton," Kepala Pelayan Zoe berkata dengan acuh tak acuh, seolah-olah hotel bintang lima itu hanyalah hotel kecil biasa!
"Hotel Scarton... Apa hotel itu bisa disebut hotel kecil?!"
Raivan tercengang, sebenarnya seberapa kaya keluarganya?
Namun setelahnya, dia mengingat kembali adegan ketika dia ditindas di hotel, matanya pun memancarkan aura dingin.
Di hotel yang bahkan belum pernah dimasukinya itu, dia memiliki keengganannya sendiri!
Sekarang, dia memiliki kesempatan untuk memutarbalikkan keadaan.
"Baik! Aku meyetujuinya, tapi hanya untuk sementara sebelum bertemu ayahku yang bajingan itu."
"Jangan khawatir, Anda tidak akan menunggu lama."
Kemudian...
Kepala Pelayan Zoe secara singkat menggambarkan kesulitan yang dialami oleh Tobias di dunia bisnis selama 20 tahun terakhir.
Meski sekarang Tobias telah menjadi orang terkaya di dalam negeri, tapi dia pernah ditolak, pernah dipermalukan, bahkan ditindas oleh banyak pihak dan telah bangkrut beberapa kali.
Namun, semua ini telah dilaluinya satu per satu.
"Perusahaan Tuan tidak mudah untuk dikendalikan, ada pemegang saham utama yang memegang banyak saham dan perusahaan asing yang telah bekerja sama selama bertahun-tahun. Semua ini membutuhkan usaha Anda untuk mendapatkan persetujuan mereka satu per satu."
Ekspresi wajah Kepala Pelayan Zoe menjadi serius, tatapannya pada Raivan dipenuhi dengan harapan.
Dia berharap tuannya bisa memiliki ahli waris yang kompeten, pewaris yang bisa memimpin Keluarga Januar kembali ke kejayaan!
Raivan bisa merasakan tatapan panas dari pria tua itu. Dia juga bisa merasakan tanggung jawab yang berat di pundaknya.
Tekanan dan harapan yang tiba-tiba ini belum pernah dirasakannya dalam hidupnya selama 20 tahun ini.
"Mulai saat ini, aku bukan lagi Raivan yang dulu!"
Anda Mungkin Juga Suka





