
Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
Bab 3
"Aku akan mengendalikan masa depan banyak orang dan juga akan memiliki kekayaan yang telah kuimpikan!"
Raivan memejamkan matanya, mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
Seperti ada yang berbeda dari dirinya. Seperti ada cahaya harapan masa depan yang hidup kembali setelah sebelumnya hancur oleh kemiskinan dan kesulitan hidup yang dilaluinya.
Juga ada kepercayaan diri!
Tiba-tiba, Raivan membuka matanya lagi. Dari matanya, terlihat secercah tekad dan keinginan untuk bergerak maju.
"Dia memulai dari awal dan bisa berada di tahap ini setelah beberapa dekade. Dengan anugerah dari statusku yang sekarang, aku harus lebih baik dan lebih hebat darinya!" Raivan berkata dengan perlahan, meski kata-katanya lambat, tapi cukup tegas.
Janji seorang pria harus ditepati!
Hari ini, Raivan telah berjanji pada dirinya sendiri. Namun, dia masih sulit membuka mulut untuk mengucapkan panggilan "Ayah".
Setelah meninggalkan informasi kontaknya, Kepala Pelayan Zoe pun pergi.
Raivan memegang kartu berlian hitam di tangannya, tangannya terasa panas, semua ini seperti mimpi.
Seorang bocah miskin dari daerah kumuh yang selalu ditindas dan dipermalukan dalam segala hal kini telah menjadi generasi kedua orang kaya.
Aku ingin membuat mereka yang telah menindasku membayar harganya. Aku ingin membuat semua orang tidak berani meremehkanku lagi.
...
"Tuan, saya telah mengatur hal-hal yang Anda minta."
"Mereka... bagaimana kondisi mereka? Apa mereka baik-baik saja?"
Panggilan telepon itu menjadi hening untuk waktu yang lama, dan hanya terdengar napas tidak stabil yang mengandung rasa bersalah.
Tobias yang terkenal dengan kekejaman dan ketegasannya di dunia bisnis jarang menunjukkan sikap hati-hati seperti itu.
"Tuan Muda menerima pemberian Anda dan juga setuju untuk mengelola bisnis di daerah Kota Gixa." Kepala Pelayan Zoe tidak langsung menjawab, tapi setelah berbicara dengan Raivan, dia merasa Raivan memiliki kepribadian yang sama dengan Tobias.
Penindasan yang diterimanya, harus dibalasnya sendiri.
"Baguslah... Baguslah! Awalnya, aku takut dia tidak akan menerimanya. Hahaha!" Tobias akhirnya bisa merasa lega. Dia menghela napas dan ekspresi wajahnya yang awalnya tegang pun menjadi lembut.
"Tuan Muda masih memiliki sedikit dendam pada Anda, saya khawatir memberinya semua ini akan..."
"Aku mengerti, aku akan menebus semua kesalahanku perlahan-lahan. Jika dia menjadi semena-mena, maka biarkan saja, tapi kalau dia benar-benar mampu, maka Grup Januar akan menjadi miliknya."
Seseorang yang tiba-tiba menjadi kaya tanpa berusaha dan tidak memiliki visi dan cara kerja yang sesuai hanya akan menjadi kucing yang berbalut kulit harimau.
Meski Tobias tidak terlalu optimis pada putranya, tapi itu tetap tidak menghentikannya untuk berharap.
Pagi keesokan harinya, matahari perlahan-lahan menampakkan diri dan bersinar. Hotel Scarton terletak di pusat kota yang paling memesona.
Pagi-pagi, para karyawan sudah tiba di hotel untuk membersihkan jendela, meja, kursi dan bahkan ubin yang mereka pijak juga dibersihkan sampai berkilau.
Ada sekitar 200 orang yang berbaris yang membentuk dua baris dari depan pintu sampai meja depan hotel, dari satpam hingga wakil manajer umum. Wakil manajer utama, Tommy, yang mencuri mantan pacar Raivan berada di baris paling depan.
Saat ini, dia memegang wine paling mahal di hotel, Lafite tahun 1982, mereka sedang menunggu kedatangan sang direktur baru dengan tenang.
Sedangkan ada sekelompok karyawan yang sedang diam-diam mengobrol dan berdiskusi.
"Direktur baru orang yang seperti apa, ya? Apa itu seorang paman paruh baya atau pria tua yang ceroboh?"
"Direktur baru ini pasti memiliki hubungan yang tidak biasa dengan Presdir Tobias. Hanya beberapa orang yang bisa membuat wakil manajer umum kita bersikap begitu."
"Berhenti bicara omong kosong! Bahkan kalau dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan Presdir Tobias, dia pasti bukan orang sembarangan karena bisa langsung menjabat sebagai direktur baru."
"Yang pasti, aku hanya mendengarnya dari Renata. Siapa yang tahu apakah itu benar atau tidak?"
Sampai di situ, mata semua orang beralih ke arah wanita cantik yang berada di antara kerumunan.
Wanita itu mengenakan setelan pakaian hitam dan terlihat sangat cekatan dan cerdas, terutama bokong montoknya yang telah menarik perhatian banyak pria.
Wanita itu adalah mantan pacar Raivan, Renata.
Mendengar diskusi semua orang, Renata tersenyum bangga. Dia sangat menikmati perasaan menjadi pusat perhatian.
Renata berkata dengan datar, dan ada sedikit kesombongan di matanya, "Tenang saja, informasi itu pasti benar. Aku mendengarnya sendiri dari Wakil Manajer Tommy, jadi tidak mungkin salah."
Dengan dukungan dari Tommy, sekarang Renata telah menjadi salah satu manajer lobi hotel ini.
Ketika pertama kali dia mulai bekerja di hotel, gaji bulanannya saja sudah 40 juta. Terlebih lagi, karena Renata adalah seorang mahasiswa, dia hanya perlu datang bekerja di waktu luangnya. Entah sudah ada berapa banyak karyawan yang cemburu.
"Manajer Renata sangat cantik, tentu saja kata-katanya bisa dipercaya!"
"Benar, kelak semoga Manajer Renata bisa lebih menjagaku, aku sudah lama mengagumi Anda."
Banyak karyawan yang mengambil kesempatan ini untuk menjilat Renata dan mengatakan kata-kata yang menyanjung.
Renata sangat senang mendengarnya, ketika dia ingat hari-hari sulitnya bersama Raivan telah berakhir, dia merasa sangat bahagia. Kehidupan seperti ini baru merupakan kehidupan yang dia inginkan, dan ini semua didapatkan oleh dirinya sendiri.
Di sisi lain.
Saat ini, tokoh utama sebenarnya dari acara penyambutan ini baru saja turun dari taksi.
Raivan sengaja memilih satu set pakaian yang lebih formal hari ini, kemeja putih dan celana panjang hitam.
Dulu Raivan sengaja membelinya untuk menghadiri pernikahan anak tetangganya. Karena tidak sempat, dia belum pergi ke mal untuk berbelanja.
"Hari ini adalah langkah pertama dalam hidup baruku."
Anda Mungkin Juga Suka





