
Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
Bab 2
Zoey tersenyum kepadaku dan berkata, "Cherish, aku sudah tanya master. Katanya, asalkan hamsterku mengadakan acara pemakaman di sini, dia bisa bereinkarnasi jadi manusia. Ini adalah perbuatan baik lho."
Diego berujar dengan lembut, "Zoey, kamu memang baik hati. Tenang saja, hamstermu pasti bisa merasakan kebaikanmu."
Zoey menatap guci abu di tanganku. "Diego, guci di tangan Cherish sangat cantik. Andai saja abu hamsterku bisa ditaruh di sana."
Aku memelotot dengan galak sambil memeluk guci abu Nenek. "Kalau kalian berani menyentuh guci abu nenekku, jangan salahkan aku bertindak lancang pada kalian!"
Diego berkata dengan tidak percaya, "Cherish, nenekmu sangat menyayangimu. Kamu malah terus mengutuknya mati dan membuat aula berkabung palsu begini. Kamu nggak merasa tindakanmu ini bisa membuat nenekmu sial?"
Aku memelotot sambil menyahut, "Nenekku sudah meninggal. Dia meninggal di pesta nikah kemarin. Kalau kamu nggak percaya, tanya saja pada dokter di rumah sakit. Mereka bisa bersaksi untukmu!"
Zoey berucap dengan lembut, "Cherish, abu di guci putih itu pasti palsu. Hamsterku sudah mati. Dia kasihan sekali. Ayolah, kasih aku guci itu."
Diego menatapku dengan tidak sabar. "Aku masih harus mengadakan pemakaman untuk hamster. Cepat berikan guci itu. Aku nggak punya waktu melihat sandiwaramu."
"Jangan mimpi!" pekikku dengan wajah pucat pasi.
Diego menyuruh pengawal mengambil guci abu dari tanganku. Aku ingin melawan, tetapi kedua pengawal itu menahanku dengan erat. Aku hanya bisa berteriak, "Kembalikan guci abu nenekku!"
Namun, tidak peduli bagaimana aku berteriak, pengawal tetap membuang abu di dalam layaknya membuang sampah.
Aku murka hingga sekujur tubuhku gemetaran. Aku ingin sekali menikam dan mencabik-cabik Diego!
Zoey maju dan menginjak abu nenekku. "Cherish, aku mewakili hamsterku berterima kasih padamu."
Ketika melihat Zoey menginjak abu Nenek, aku hampir menggila. Aku berteriak histeris, "Singkirkan kakimu itu!"
Aku mengerahkan seluruh tenagaku dan akhirnya berhasil melepaskan diri dari kedua pengawal itu. Kemudian, aku langsung menyerbu ke arah Zoey dan mendorongnya.
Setelah itu, aku berlutut dan memungut abu nenekku sambil bergumam dengan panik, "Nenek, maafkan aku. Aku gagal melindungi guci abumu."
Zoey yang terjatuh pun menjulurkan tangan untuk menyentuh dahinya. Ketika melihat tangannya dipenuhi darah, dia memekik, "Diego, aku berdarah!"
Diego segera menghampiri untuk melihat darah di dahi Zoey. Seketika, ekspresinya berubah drastis. "Cherish, kamu harus melakukan transfusi darah untuk Zoey! Sekarang juga!"
Begitu mendengar kata transfusi darah, tubuhku sontak menegang. Aku tanpa sadar memegang perutku dan menggeleng. "Aku hamil, nggak boleh donor darah."
Dulu setiap kali Zoey membutuhkan darah, aku akan selalu mendonorkan darahku.
Diego termangu sesaat. "Kamu hamil?"
Aku khawatir Diego tidak percaya dan akan melakukan sesuatu yang bisa melukai anakku. Jadi, aku mengeluarkan hasil pemeriksaan kandunganku kepadanya.
"Diego, aku benaran hamil. Aku nggak bisa donor darah." Aku telah kehilangan nenekku, jadi tidak ingin kehilangan anakku.
Zoey menangis sesenggukan. "Aku tahu kamu membenciku dan nggak ingin menolongku. Tapi, nggak usah menipu kami pakai hasil pemeriksaan palsu. Biarkan aku mati saja."
Ekspresi Zoey terlihat sangat menyedihkan, ditambah lagi luka di dahinya. Seketika, Diego langsung memercayainya dan menatapku dengan dingin.
"Cherish, kukira kamu baik hati dan lembut. Tapi, ternyata kamu licik dan busuk. Kamu sampai membuat laporan palsu begini. Aku sudah salah menilaimu selama ini. Kamu harus donor darah untuk Zoey!"
Anda Mungkin Juga Suka





