
Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
Bab 3
Wajahku pucat pasi. Aku terus mundur, lalu berbalik dan berlari ke arah pintu keluar. Namun, sebelum keluar, pengawal sudah mengejarku dan menahanku. Semua perlawananku sia-sia. Aku dibawa ke mobil dan akhirnya tiba di rumah sakit.
Aku menyerahkan hasil pemeriksaan kehamilan itu kepada dokter. "Hasil pemeriksaan ini dari rumah sakit kalian. Dokter, beri tahu mereka, aku hamil dan nggak boleh donor darah."
Dokter melirik hasil pemeriksaan itu, lalu bertatapan dengan Zoey. "Ini bukan hasil pemeriksaan dari rumah sakit kami. Ini palsu."
Aku bisa menilai bahwa dokter ini telah disuap oleh Zoey. Aku hanya bisa memohon kepada Diego, "Dokter ini bohong. Bawa aku ke rumah sakit lain ya? Aku benaran hamil."
Saat ini, Zoey bersandar di pelukan Diego dan berucap dengan lemas, "Diego, aku lemas sekali. Apa aku akan mati sebentar lagi ...."
Diego menenangkannya dengan cemas, "Zoey, kamu bakal baik-baik saja. Kamu nggak bakal mati."
Kemudian, Diego menginstruksi pengawal untuk menahanku. Aku terus meronta-ronta. "Lepaskan! Diego, kamu hanya akan mencelakai anakmu! Dasar setan!"
Diego menatapku dengan tatapan benci. "Cherish, nggak usah bertingkah. Donorkan saja darahmu untuk Zoey."
Aku hanya bisa menyaksikan jarum memasuki kulitku dan mengambil darahku. Setelah selesai, aku merasa pusing. Ketika aku hendak pergi, dokter tiba-tiba berkata, "Pak, darahnya belum cukup."
Diego berujar dengan kejam, "Ambil lagi darahnya!"
Mataku memerah. Aku ingin sekali membunuhnya! "Diego, aku membencimu!"
Diego bisa merasakan kebencianku. Dia mengernyit dan bertanya, "Cherish, kamu marah karena aku pergi lebih awal saat pesta nikah? Setelah Zoey sembuh, aku bawa kamu dan nenekmu jalan-jalan ke luar negeri."
Aku memejamkan mata. Kesadaranku melemah. Aku bisa merasakan anakku meninggalkan tubuhku. Aku bermimpi panjang.
Aku bermimpi tentang pertemuan pertamaku dengan Diego. Saat itu, aku mengendarai sepeda listrik dan tidak sengaja menabrak mobil Diego. Dia bukan hanya tidak meminta kompensasi, tetapi juga membawaku ke rumah sakit untuk diperiksa.
Saat aku diopname, Diego menjengukku setiap hari dan selalu membawakanku bunga lili. Kemudian, dia menyatakan cinta kepadaku. Aku tidak langsung menerima karena kesenjangan status di antara kita. Namun, dia tidak menyerah dan terus menemaniku.
Saat aku sakit, Diego akan memasak bubur untukku. Pada hari ulang tahunku, dia akan berkemudi delapan jam untuk ke tempatku dan merayakan ulang tahun denganku.
Diego memberiku banyak kehangatan, membuatku jatuh makin dalam dan mengira aku pantas dicintai. Kemunculan Diego bak cahaya yang menyinari kehidupanku yang suram.
Suatu hari, Diego membawaku ke rumah sakit untuk melakukan transfusi darah. Dia bilang teman wanitanya itu mengidap hemofilia dan punya rhesus yang sama denganku, jadi hanya aku yang bisa menolongnya.
"Zoey pernah menyelamatkan nyawaku. Aku harus membalas budinya."
Aku berpikir, karena aku akan menjadi istri Diego, berarti penyelamatnya juga adalah penyelamatku. Lagi pula, hanya donor darah, tidak ada yang menakutkan. Jadi, aku menyetujuinya.
Suatu hari lagi, aku menemukan foto Zoey di dompet Diego. Ternyata mereka pernah berpacaran. Setelah lulus kuliah, Zoey mengikuti keluarganya ke luar negeri. Karena jarang bertemu, keduanya akhirnya putus.
Saat itu, aku baru tahu Diego punya cinta pertama yang tidak bisa dilupakannya sampai sekarang. Ini adalah kenyataan yang kejam bagiku.
Aku pun mengusulkan untuk putus. Namun, Diego mengatakan wanita yang dicintainya adalah aku. Dia bahkan melamarku.
Aku tidak rela berpisah dari Diego dan segala kehangatan yang diberikannya kepadaku. Karena aku mencintainya, aku pun memberinya kesempatan.
Pada akhirnya, kebodohanku malah mencelakai nenekku dan anakku. Kini, aku sungguh membenci Diego dan diriku sendiri.
Ketika aku siuman, Zoey duduk di pinggir ranjang. Hanya ada kami berdua di sini, jadi Zoey pun tidak bersandiwara lagi.
"Jalang, asal kamu tahu, Diego mendekatimu karena tahu rhesus darahmu sama denganku. Dia ingin menjadikanmu bank darahku. Kalau nggak, mana mungkin dia bersikap baik padamu!"
Aku termangu sejenak. Ternyata, semua kasih sayang yang diberikan Diego palsu. Tujuannya hanya supaya aku menjadi bank darah Zoey.
Zoey mengeluarkan sekantong darah. "Ini darahmu. Warnanya cantik sekali, 'kan?"
Kemudian, dia membuka kantong darah itu dan menuangkan isinya ke tong sampah. Dia tersenyum jahat dan berujar, "Jujur saja, aku nggak mengidap hemofilia. Setiap kali kamu mendonorkan darah untukku, aku selalu membuangnya. Dasar bodoh!"
Aku sungguh murka. Aku turun dari ranjang, lalu menyerbu ke arahnya dan mencengkeram lehernya. "Zoey, kamu bakal masuk neraka!"
"Cherish, apa yang kamu lakukan?" Diego tiba-tiba menyerbu masuk dan mendorongku.
Aku baru mengalami keguguran sehingga tubuhku sangat lemah. Begitu didorong, tubuhku sontak menghantam sudut meja. Rasa sakit yang menusuk membuat air mataku menetes. Aku berusaha bangkit dan menunjuk Zoey.
"Diego, dia nggak mengidap hemofilia. Dia menipumu sejak awal! Dia membuang darahku ke tong sampah! Kamu periksa saja tong sampah ...."
"Cukup! Kamu makin lama makin kelewatan saja! Beraninya kamu memfitnah Zoey!" sela Diego menatapku dengan dingin.
Tubuhku sontak menegang. Saat berikutnya, aku tergelak. Tanpa memeriksa tong sampah, Diego langsung memutuskan bahwa aku memfitnah Zoey. Sikapnya yang begitu pilih kasih ini sungguh mengecewakanku.
Dulu aku sangat mencintai Diego. Aku menganggapnya sebagai duniaku. Namun, kini masa lalu itu hanya lelucon bagiku.
"Diego, kita cerai saja."
Anda Mungkin Juga Suka





