
Kekasih Bayaran
Bab 2
Langkah Tiara terasa berat, namun tak ada keraguan dalam hatinya saat ia meninggalkan gemerlap apartemen Adrian. Ia tak menoleh, tak sekalipun tergoda untuk kembali pada kemewahan yang terasa seperti belenggu. Udara malam Jakarta yang pengap terasa dingin di kulitnya, seolah ikut merasakan kehampaan yang ia bawa. Di dalam tas kecilnya, hanya ada beberapa lembar pakaian dan satu-satunya harta berharga: kartu identitasnya. Segala perhiasan dan pakaian mahal yang Adrian berikan ia tinggalkan. Ia tak ingin membawa sehelai benang pun yang bisa mengingatkannya pada sangkar emas itu.
Tujuannya hanya satu: rumah kecilnya, tempat ibunya berada. Ia tahu ia harus menghadapi ibunya, menjelaskan mengapa ia kembali secepat ini setelah "mendapat pekerjaan bagus." Kebohongan yang ia rajut kini harus diurai, namun ia belum siap mengungkapkan kebenaran pahit tentang statusnya sebagai wanita simpanan. Terlalu memalukan, terlalu menyakitkan, dan ia tak ingin membebani ibunya lebih jauh.
Tiara tiba di rumah saat dini hari. Lampu di teras masih menyala redup, seolah menunggunya. Ia mendorong pintu gerbang yang sedikit reyot, melangkah pelan agar tidak menimbulkan suara. Namun, ibunya, Kartika, sudah terbangun. Sosoknya yang kurus berdiri di ambang pintu, matanya yang cekung menatap Tiara dengan campuran kekhawatiran dan kelegaan.
"Tiara? Kamu sudah pulang? Kenapa tidak bilang?" Suara Kartika serak, namun ada nada syukur di dalamnya. Ia memeluk putrinya erat, pelukan yang terasa begitu hangat dan tulus, berbeda jauh dengan sentuhan dingin Adrian.
Tiara menahan air matanya agar tidak tumpah. "Maaf, Bu. Tadi mendadak ada lembur, jadi tidak sempat kabari Ibu." Kebohongan pertama meluncur mulus dari bibirnya, terasa begitu pahit.
Kartika menghela napas lega. "Syukurlah kamu baik-baik saja. Ibu sempat khawatir." Ia melepaskan pelukannya, menatap Tiara dengan cermat. "Kamu terlihat pucat sekali, Nak. Apa pekerjaanmu seberat itu?"
"Mungkin hanya kelelahan, Bu," jawab Tiara, mencoba tersenyum tipis. "Besok saya izin tidak masuk kerja." Ia harus memikirkan langkah selanjutnya. Bagaimana ia akan memberitahu ibunya tentang kehamilannya? Dan bagaimana ia akan menjelaskan bahwa ia telah berhenti dari "pekerjaan bagus" itu?
Malam itu, Tiara tidur di samping ibunya. Aroma minyak angin dan obat-obatan yang biasa tercium di kamar itu kini terasa begitu menenangkan. Ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan fisik dan mental merayapi tubuhnya. Ia harus kuat. Demi dirinya, demi bayinya, dan demi ibunya.
Keesokan harinya, Tiara mencoba mencari cara untuk menjelaskan situasi kehamilannya. Ia tahu, ibunya adalah wanita kolot yang sangat menjunjung tinggi norma dan agama. Mendengar putrinya hamil di luar nikah pasti akan menjadi pukulan berat bagi Kartika, yang selama ini selalu membanggakan Tiara sebagai anak satu-satunya yang patuh.
"Bu," Tiara memulai, saat mereka sedang sarapan sederhana, "saya... ada yang ingin saya katakan." Jantungnya berdegup kencang.
Kartika meletakkan sendoknya, menatap putrinya dengan tatapan khawatir. "Ada apa, Nak? Wajahmu tegang sekali."
Tiara menarik napas dalam-dalam. "Saya... saya hamil, Bu." Suaranya nyaris tak terdengar. Ia menutup matanya, menunggu reaksi ibunya.
Hening. Sunyi sekali. Bahkan suara jangkrik pun tak terdengar. Tiara membuka matanya perlahan. Kartika duduk terpaku, sendoknya terjatuh dari tangannya, matanya terbelalak tak percaya. Wajahnya yang semula pucat kini semakin memutih.
"Hamil?" bisik Kartika, suaranya tercekat. "Bagaimana bisa, Nak? Dengan siapa? Kamu... kamu belum menikah!"
Tiara merasakan air matanya kembali mengalir. "Maafkan saya, Bu. Saya... saya melakukan kesalahan." Ia tak sanggup menyebut nama Adrian. Ia tak sanggup menceritakan semua detail kotor itu.
Kartika bangkit dari duduknya, berjalan mendekat, dan memeluk Tiara erat. Bukan pelukan marah, melainkan pelukan putus asa yang campur aduk. "Astaga, Nak... kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana nanti? Apa kata orang?" Kartika mulai terisak. "Siapa ayah dari anakmu?"
"Saya tidak ingin membicarakannya, Bu," Tiara berbisik, membalas pelukan ibunya. "Yang penting sekarang, saya harus bertanggung jawab. Saya akan membesarkan anak ini, Bu."
Kartika melepaskan pelukannya, menatap Tiara dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekecewaan, kesedihan, namun juga kasih sayang yang tak terbatas. "Tentu saja, Nak. Ibu akan selalu mendukungmu. Tapi kamu tidak bisa sendirian. Kita harus pikirkan ini."
Beberapa hari berikutnya, suasana di rumah terasa begitu berat. Kartika seringkali melamun, sesekali menghela napas panjang. Tiara bisa merasakan beban yang ia timbulkan pada ibunya. Namun, ia juga melihat kekuatan Kartika. Ibunya tidak mencaci maki, tidak menghakimi. Ibunya hanya berpikir keras mencari solusi.
Suatu sore, saat Tiara sedang membantu Kartika menyiapkan makan malam, Kartika berbicara. "Tiara," panggilnya lembut. "Ibu sudah memikirkan ini matang-matang. Kamu tidak bisa membesarkan anak tanpa ayah, Nak. Apalagi dalam kondisi seperti ini. Akan sulit bagimu, dan juga bagi anakmu nanti."
Tiara menunduk. Ia tahu itu. Ia sudah memikirkannya berulang kali. Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Ada... ada seorang pria yang sudah lama mengenal keluarga kita," lanjut Kartika, suaranya sedikit ragu. "Namanya Bagus. Dia pekerja keras, baik hati, dan sangat menghormati Ibu. Dia sudah lama menjodohkan diri denganmu, sejak dulu. Tapi Ibu tahu kamu tidak tertarik."
Bagus. Tiara ingat pria itu. Tetangga lama mereka, seorang tukang reparasi elektronik yang sederhana. Pria itu memang baik, selalu membantu jika ada kerusakan di rumah mereka. Ia memang pernah mendengar selentingan bahwa Bagus tertarik padanya, namun Tiara tidak pernah menganggapnya serius. Ia hanya menganggapnya sebagai teman baik.
"Bagus?" Tiara mengangkat kepala, terkejut. "Tapi, Bu... dia tahu saya hamil?"
Kartika mengangguk perlahan. "Ibu sudah memberitahunya. Ibu tidak berani berbohong. Dan dia... dia mau menerimamu, Nak. Dia mau menerima anakmu, bahkan jika itu bukan darah dagingnya."
Tiara terdiam, membeku. Menerima? Seorang pria yang tahu ia hamil di luar nikah, dan masih mau menikahinya? Ini sungguh mengejutkan. Apakah ini solusi yang terbaik? Menikah dengan pria yang tidak ia cintai, pria yang menerima dirinya dengan segala "kekurangan"nya, demi menyelamatkan nama baik keluarganya dan memberikan sosok ayah bagi anaknya?
Pilihan itu terasa pahit, namun realistis. Ia tidak bisa egois. Ia harus memikirkan bayinya, dan ibunya.
"Bagaimana, Nak?" tanya Kartika, suaranya penuh harap. "Pikirkan baik-baik. Ini demi masa depanmu dan masa depan anakmu."
Tiara memejamkan mata. Ia membayangkan Adrian, pria yang telah menghancurkannya. Ia membayangkan hidupnya sendirian, membesarkan seorang anak tanpa dukungan siapa pun. Lalu ia membayangkan Bagus, pria sederhana yang menawarkan sebuah rumah dan nama, meski tanpa cinta.
"Baiklah, Bu," Tiara akhirnya berucap, suaranya lemah. "Saya... saya mau menikah dengan Bagus."
Kartika langsung memeluk Tiara erat, air mata kelegaan membasahi pipinya. "Terima kasih, Nak. Terima kasih. Ibu tahu ini berat untukmu."
Pernikahan Tiara dan Bagus dilangsungkan secara sederhana. Tidak ada pesta besar, hanya akad nikah yang dihadiri oleh keluarga dekat dan tetangga. Tiara mengenakan kebaya sederhana, wajahnya terlihat pucat di balik riasan tipis. Bagus, di sisi lain, terlihat tulus dan bahagia. Ia mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan mantap, tatapannya penuh kasih sayang saat menatap Tiara.
Tiara tahu, Bagus benar-benar tulus. Pria itu memang baik. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mencoba menjadi istri yang baik bagi Bagus, meskipun hatinya masih terasa hampa.
Setelah menikah, Tiara pindah ke rumah Bagus, yang tak jauh dari rumah ibunya. Rumah itu sederhana, namun bersih dan rapi. Bagus adalah pria pekerja keras. Ia selalu pulang malam, membawa sedikit uang dari hasil reparasi elektronik. Tiara berusaha menjalani perannya sebagai istri. Ia memasak, membersihkan rumah, dan merawat Bagus.
Beberapa bulan kemudian, Tiara melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Ia menamai putranya Rafan. Saat pertama kali melihat Rafan, hati Tiara luluh. Semua rasa sakit, semua pengorbanan, terasa sepadan. Rafan adalah segalanya baginya. Wajahnya yang mungil, tangisnya yang nyaring, jari-jari kecilnya yang menggenggam erat jarinya – semua itu mengisi kekosongan dalam hati Tiara.
Kartika adalah nenek yang sangat bahagia. Ia sering datang berkunjung, membantu Tiara merawat Rafan. Bagus juga berusaha menjadi ayah yang baik. Ia bekerja keras untuk menafkahi keluarga, dan sesekali ia menggendong Rafan. Namun, Tiara bisa merasakan, ada sekat tak terlihat antara Bagus dan Rafan. Tatapan Bagus pada Rafan, meskipun tidak kasar, terasa... jauh. Ada sesuatu yang hilang.
Seiring berjalannya waktu, sekat itu semakin terlihat jelas. Bagus tidak pernah bermain-main dengan Rafan. Ia jarang tersenyum pada putranya. Jika Rafan menangis di malam hari, Bagus seringkali menggerutu, menyuruh Tiara untuk segera menenangkan anak itu. Ia tidak pernah mendekati Rafan saat Rafan sakit, atau saat Rafan merengek minta digendong. Semua tanggung jawab merawat Rafan ada di pundak Tiara.
"Bagus," Tiara pernah mencoba berbicara lembut, suatu malam setelah Rafan tertidur. "Rafan anakmu juga. Kenapa kamu tidak pernah mengajaknya bermain?"
Bagus menghela napas. "Aku sibuk bekerja, Tiara. Lagipula, dia anak kecil. Kamu saja yang urus. Sudah jadi kewajiban ibu, kan?"
Hati Tiara mencelos. Kewajiban ibu? Apakah Bagus lupa bahwa ia telah berjanji untuk menerima Rafan sebagai anaknya sendiri? Tiara tahu, Bagus tidak mencintai Rafan seperti ayahnya sendiri. Mungkin karena Rafan bukan darah dagingnya, mungkin karena ada bayang-bayang masa lalu Tiara yang gelap. Ini adalah bagian dari "harga" yang harus ia bayar.
Meskipun demikian, Tiara tidak pernah menyerah. Ia berjuang seorang diri untuk membesarkan Rafan. Ia kembali bekerja serabutan, di sela-sela mengurus rumah dan Rafan. Dari mencuci baju tetangga, membuat kue untuk dijual di pasar, hingga menjadi buruh cuci piring di warung makan. Ia tak peduli dengan rasa lelah atau pandangan orang lain. Yang penting, Rafan harus makan, harus sehat, harus sekolah.
Rafan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan ceria, meski ia terlihat sering mencari perhatian dari Bagus yang dingin. Tiara selalu berusaha mengisi kekosongan itu dengan kasih sayang berlimpah. Ia adalah ayah sekaligus ibu bagi Rafan. Ia adalah dunia bagi Rafan.
"Mama, Ayah Bagus tidak sayang Rafan, ya?" tanya Rafan suatu sore, saat usianya menginjak lima tahun. Pertanyaan polos itu menusuk hati Tiara.
Tiara memeluk Rafan erat. "Tidak, Nak. Ayah Bagus sayang Rafan, kok. Ayah Bagus cuma sibuk bekerja untuk kita." Ia berbohong, lagi. Demi melindungi perasaan putranya.
"Tapi Ayah tidak pernah peluk Rafan seperti Mama," Rafan merengek, matanya berkaca-kaca.
Tiara mengusap rambut Rafan. "Ayah Bagus kan laki-laki, Nak. Laki-laki memang begitu. Yang penting, Mama sayang Rafan sekali."
Tahun-tahun berlalu, Tiara terus berjuang. Ia sering merasa lelah, sangat lelah. Fisiknya terkuras, hatinya terkadang hancur. Namun, melihat senyum Rafan, mendengar tawa Rafan, semua lelah itu terasa hilang. Rafan adalah sumber kekuatannya, satu-satunya alasan ia terus bertahan.
Kartika, yang kesehatannya mulai menurun lagi, sering menasihati Tiara. "Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri, Nak. Jangan terus-menerus memikul semuanya sendirian."
"Kalau bukan saya, siapa lagi, Bu?" jawab Tiara lirih. Ia tidak bisa meminta lebih dari Bagus.
Suatu hari, saat Rafan menginjak usia tujuh tahun, sebuah insiden kecil terjadi. Rafan jatuh dari sepeda saat bermain di depan rumah, lututnya berdarah. Tiara panik, segera membopong Rafan masuk. Bagus yang sedang membaca koran di teras hanya melirik sekilas, tanpa menunjukkan reaksi berarti.
"Aduh, Rafan! Kamu kenapa, Nak?" Tiara membersihkan luka Rafan dengan hati-hati.
Rafan menangis. "Sakit, Ma... Ayah tidak mau tolong."
Hati Tiara terasa perih. Ia menatap Bagus yang kini sudah kembali fokus pada korannya. "Bagus, bisakah kamu bantu ambilkan obat merah di kotak P3K?" Tiara mencoba bersuara setenang mungkin.
Bagus mendengus. "Kamu saja, Tiara. Aku sedang membaca."
Tiara menahan amarahnya. Ini bukan pertama kalinya Bagus menunjukkan sikap dinginnya pada Rafan. Ia bangkit, mengambil kotak P3K sendiri, dan mengobati luka Rafan. Rafan hanya menatap Ayah Bagus dengan mata berkaca-kaca. Tiara bisa merasakan kekecewaan di mata putranya.
Malam itu, setelah Rafan tertidur, Tiara mendekati Bagus yang sedang menonton televisi. "Bagus, aku mau bicara serius."
Bagus menghela napas, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Apa lagi, Tiara? Aku lelah."
"Kamu tidak pernah menyayangi Rafan, kan?" Tiara bertanya langsung, ia sudah tidak bisa menahan diri. "Kamu hanya mau menikahiku karena kasihan pada Ibu, bukan karena kamu benar-benar mau menerima Rafan."
Bagus mematikan televisi, menatap Tiara dengan tatapan dingin. "Apa yang kamu harapkan, Tiara? Dia bukan darah dagingku. Aku sudah cukup baik menerimamu dan anakmu. Jangan menuntut lebih."
Kata-kata itu menghantam Tiara seperti pukulan telak. "Kamu berjanji, Bagus! Kamu berjanji akan menerimanya sebagai anakmu sendiri!"
"Janji itu hanya di mulut, Tiara!" Bagus membentak. "Aku hanya berusaha menolong. Tapi aku tidak bisa memaksakan perasaanku. Lagipula, dia anak dari pria lain, kan? Anak dari pria yang sudah mencampakkanmu!"
Tiara merasakan pipinya memanas. Air mata mulai menetes. "Jangan ungkit masa lalu itu! Itu bukan salah Rafan!"
"Ya, itu bukan salahnya," Bagus berkata datar. "Tapi itu salahmu! Salahmu yang sudah hamil di luar nikah! Aku sudah cukup berkorban untukmu dan keluargamu!"
Tangisan Tiara pecah. Ia tidak menyangka Bagus akan berbicara sekejam itu. Selama ini ia berusaha untuk menjadi istri yang baik, berusaha untuk melupakan masa lalu yang kelam, dan berusaha menciptakan keluarga yang utuh bagi Rafan. Namun, kata-kata Bagus telah meruntuhkan semua harapannya.
Malam itu, Tiara menangis dalam diam di kamarnya, memeluk Rafan yang terlelap. Ia merasa begitu sendirian. Ia telah mengorbankan segalanya, namun tetap saja, ia dan putranya tak pernah benar-benar diterima. Ia merasa bodoh karena telah percaya pada kesepakatan itu. Kesepakatan yang berujung pada penderitaan yang tak ada habisnya.
Beberapa tahun kemudian, hidup Tiara masih berputar pada rutinitas perjuangan. Rafan tumbuh menjadi anak yang pendiam di rumah, namun ceria di sekolah. Tiara selalu memastikan Rafan tidak pernah kekurangan kasih sayang darinya. Ia bekerja lebih keras, mengambil pekerjaan tambahan sebagai buruh cuci di beberapa rumah sekaligus. Tangannya seringkali melepuh, punggungnya pegal, namun ia tak peduli.
Suatu hari, saat Tiara sedang dalam perjalanan pulang dari salah satu rumah tempat ia bekerja, Rafan tiba-tiba demam tinggi. Tubuhnya menggigil, dan ia mulai batuk-batuk. Tiara panik. Ia segera membawa Rafan ke puskesmas terdekat.
Dokter mengatakan Rafan terkena demam berdarah dan membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit. Tiara merasakan dunianya runtuh. Ia tidak punya uang sebanyak itu. Tabungannya sangat sedikit, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ia mencoba menelepon Bagus, namun ponselnya tidak aktif.
Dengan putus asa, Tiara menelepon ibunya. Kartika segera datang, wajahnya pucat pasi. "Bagaimana ini, Nak? Kita tidak punya uang sebanyak itu."
Tiara menggenggam tangan Rafan yang panas. "Saya akan mencari pinjaman, Bu. Saya akan melakukan apa saja."
Ia mencoba menghubungi beberapa kerabat, namun hasilnya nihil. Semua memiliki kesulitan masing-masing. Ia mencoba meminta tolong pada tetangga, namun mereka juga tidak memiliki uang sebanyak itu. Waktu terus berjalan, dan kondisi Rafan semakin memburuk.
Di tengah keputusasaannya, pikiran Tiara kembali melayang pada masa lalu, pada nama yang pernah ia coba kubur dalam-dalam: Adrian Wiratama. Ia memaki dirinya sendiri karena memikirkan pria itu lagi. Pria yang telah mencampakkannya, pria yang telah menghancurkan hidupnya. Namun, ia tak punya pilihan lain. Hanya Adrian yang punya kekuasaan dan uang sebanyak itu.
Dengan tangan gemetar, Tiara mencari-cari di dalam dompet lamanya, tempat ia menyimpan kartu nama Adrian yang dulu. Ia masih menyimpannya, entah mengapa. Ia menemukan kartu itu, sedikit lusuh, namun masih terbaca jelas. Nomor ponsel Adrian. Ia menatap kartu itu, ragu. Apakah ia harus mengubur harga dirinya sekali lagi? Apakah ia harus kembali meminta belas kasihan pada pria yang telah menyakitinya?
Melihat wajah Rafan yang pucat dan napasnya yang terengah-engah, Tiara tahu ia tidak punya pilihan. Harga dirinya tidak sebanding dengan nyawa putranya.
Dengan air mata berlinang, Tiara meminjam ponsel ibunya, karena ponselnya sendiri sudah kehabisan pulsa. Jari-jarinya menekan nomor Adrian, nomor yang dulu ia hapus dari kontaknya, namun kini ia ketikkan lagi dengan gemetar.
Sambungan telepon berdering. Satu kali, dua kali, tiga kali... Tiara merasakan ketegangan menjalar di sekujur tubuhnya. Apakah Adrian akan mengangkatnya? Apakah ia akan menolaknya? Atau lebih buruk lagi, apakah ia akan mengejeknya?
Akhirnya, sebuah suara familier menyahut dari ujung telepon. "Halo?" Suara Adrian. Sama seperti yang ia ingat.
"Adrian... ini Tiara." Suara Tiara serak, menahan tangis.
Ada jeda singkat di ujung telepon. "Tiara? Ada apa? Tumben sekali kamu meneleponku." Nada suara Adrian terdengar dingin, tak ada lagi kehangatan yang dulu ia tunjukkan saat mereka pertama kali bertemu.
"Adrian, saya... saya butuh bantuanmu," Tiara berkata, menelan ludah. "Anak saya... Rafan... dia sakit parah. Demam berdarah. Dia butuh perawatan intensif. Saya tidak punya uang, Adrian. Tolong... tolong saya."
Hening lagi. Lebih lama dari sebelumnya. Tiara menunggu dengan napas tertahan. Ia bisa mendengar jantungnya berdegup kencang di telinganya.
"Anakmu?" Adrian akhirnya berbicara, nada suaranya terdengar... aneh. Ada sedikit nada terkejut, atau mungkin ketidakpercayaan. "Kau punya anak?"
"Ya, Adrian. Anakku," Tiara berkata, matanya menatap Rafan yang terbaring lemah. "Tolong, Adrian. Ini darurat. Dia butuh pertolongan sekarang juga."
"Baiklah," Adrian berkata tiba-tiba, nada suaranya berubah menjadi lebih tegas dan cepat. "Aku akan segera ke sana. Kirimkan alamat rumah sakitnya. Tunggu aku."
Tiara merasakan sedikit kelegaan, namun juga ketakutan. Adrian akan datang. Pria itu. Ayah biologis Rafan. Pertemuan ini pasti akan rumit. Tapi ia tak punya pilihan. Demi Rafan, ia akan menghadapi apa pun. Ia hanya berharap Adrian akan menolong putranya, dan setelah itu, ia akan kembali ke dunianya, dan Tiara akan kembali ke perjuangannya.
Tiara segera mengirimkan alamat rumah sakit dan nomor kamar Rafan kepada Adrian. Ia duduk di samping Rafan, mengusap dahi putranya, dan berdoa dalam hati. Semoga kali ini, ada keadilan untuknya. Semoga kali ini, ia tidak lagi dicampakkan. Ia hanya ingin putranya selamat.
Anda Mungkin Juga Suka





