
Kekasih Bayaran
Bab 3
Waktu berjalan terasa begitu lambat bagi Tiara di ruang tunggu rumah sakit. Setiap detik bagaikan jarum jam yang menusuk hatinya. Rafan, putranya yang berharga, terbaring lemah di dalam. Ibunya, Kartika, duduk di sampingnya, terus melafalkan doa-doa. Tiara mencoba menenangkan dirinya, namun cemas yang mendalam mencengkeram. Pikirannya melayang pada percakapannya dengan Adrian. Pria itu akan datang. Pria yang adalah ayah biologis Rafan, namun tak pernah mengetahui keberadaannya.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang mantap mendekat. Tiara mengangkat kepala. Di ambang pintu bangsal, berdiri Adrian Wiratama. Aura dominasi dan kemewahan masih terpancar kuat darinya, seolah waktu tak mampu mengikisnya sedikit pun. Ia mengenakan setelan jas bisnis yang rapi, rambutnya tertata sempurna, dan tatapan matanya tajam. Ia memang terlihat lebih dewasa, mungkin sedikit lebih berisi, namun pesonanya tetap tak terbantahkan.
Jantung Tiara berdebar tak karuan. Ia merasakan perpaduan antara lega karena pertolongan yang datang, dan takut yang mencekam akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Adrian menatapnya, tatapan matanya menyiratkan keterkejutan, mungkin juga sebuah pertanyaan tanpa suara. Kartika, yang mengenali Adrian sebagai pria yang pernah "menyelamatkan" mereka dari utang, segera berdiri.
"Tuan Adrian," sapa Kartika sopan, sedikit membungkuk.
Adrian mengangguk tipis, pandangannya tak lepas dari Tiara. "Tiara, anakmu yang mana?" tanyanya tanpa basa-basi, suaranya dalam dan menuntut.
Tiara menunjuk ke arah kamar Rafan yang tirainya sedikit terbuka. "Di dalam, Adrian. Dia butuh penanganan segera."
Tanpa menunggu persetujuan, Adrian melangkah masuk. Tiara dan Kartika mengikutinya. Di dalam, Rafan terbaring di ranjang, wajahnya pucat pasi, bibirnya kering, dan napasnya pendek-pendek. Sebuah infus terpasang di lengannya yang kecil. Melihat kondisi putranya, hati Tiara terasa perih.
Adrian mendekati ranjang Rafan, menatap anak itu dengan seksama. Ada kerutan di dahinya, seolah ia sedang memproses sesuatu. Ia lalu menoleh ke Tiara. "Siapa nama anak ini?"
"Rafan," jawab Tiara lirih.
Adrian tak berkomentar. Ia segera mengeluarkan ponselnya, menelepon seseorang. Suaranya terdengar tegas dan cepat, memerintahkan sesuatu yang Tiara tak bisa dengar jelas. Beberapa saat kemudian, seorang dokter dan beberapa perawat tergesa-gesa masuk ke kamar.
"Tuan Adrian," sapa dokter itu dengan hormat. "Ada yang bisa kami bantu?"
"Pasien ini, Rafan," kata Adrian menunjuk Rafan. "Saya ingin dia ditangani oleh dokter terbaik di rumah sakit ini. Lakukan semua yang diperlukan, tanpa memikirkan biaya. Saya akan menanggung semuanya. Jika ada kendala, laporkan langsung pada saya."
Dokter mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Kami akan segera mengurusnya."
Tiara menatap Adrian dengan takjub. Pria itu memang berkuasa. Dengan satu panggilan telepon, situasi Rafan langsung ditangani dengan prioritas tinggi. Rasa syukur memenuhi hatinya, namun juga rasa malu yang mendalam. Ia masih harus bergantung pada pria ini.
Adrian berbalik menatap Tiara. "Kamu tunggu di luar. Aku akan berbicara dengan dokter."
Tiara dan Kartika kembali ke ruang tunggu. Tak lama kemudian, Adrian keluar, raut wajahnya tetap tegar. "Dia akan baik-baik saja. Dokter mengatakan mereka akan melakukan yang terbaik."
"Terima kasih, Adrian," Tiara berkata tulus. "Saya... saya tidak tahu harus berterima kasih bagaimana."
Adrian hanya melambaikan tangan. "Tidak perlu. Sekarang, kita perlu bicara." Ia menatap Kartika. "Maaf, Bu, bisakah Anda meninggalkan kami berdua sebentar?"
Kartika mengangguk, memahami situasi, dan beranjak pergi. Tiara dan Adrian kini hanya berdua di ruang tunggu yang sepi.
"Jadi," Adrian memulai, tatapannya lekat pada Tiara. "Anak itu... Rafan. Apakah dia anakku?"
Pertanyaan itu menghantam Tiara seperti badai. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan muncul. Ia bisa berbohong, mengatakan bukan. Tapi, melihat bagaimana Adrian telah bertindak cepat demi Rafan, dan juga menyadari kemiripan wajah Rafan dengan Adrian yang samar-samar, kebohongan itu akan sia-sia. Lagipula, Tiara sudah terlalu lelah dengan kebohongan.
"Ya, Adrian," Tiara menjawab, suaranya gemetar. "Dia putramu."
Adrian terdiam. Ada campuran emosi di matanya: terkejut, marah, dan... sesuatu yang lain, yang tak bisa Tiara identifikasi. "Kenapa kamu tidak memberitahuku? Kenapa kamu menyembunyikannya selama ini?" Nada suaranya dingin, menuntut.
"Untuk apa? Agar kamu mencampakkanku dan anak ini sama seperti kamu mencampakkanku saat aku hamil?" Tiara tak bisa menahan diri, nada suaranya berubah pahit. "Kamu pikir aku mau meminta belas kasihan darimu? Aku pergi karena aku tidak ingin menjadi beban bagimu. Aku tidak ingin anakku tumbuh dengan mengetahui bahwa ayahnya adalah pria yang bahkan tidak menginginkannya!"
Adrian mengepalkan tangannya. "Aku tidak mencampakkanmu, Tiara. Aku hanya... aku hanya harus menikahi tunanganku. Itu sudah menjadi komitmen sejak lama. Dan jika kamu memberitahuku tentang anak ini, semuanya akan berbeda."
"Berbeda bagaimana, Adrian?" Tiara tersenyum pahit. "Apa kamu akan meninggalkanku dan membiarkan anak ini tumbuh tanpa sosok ayah? Atau kamu akan menikah denganku dan merusak reputasimu? Jangan munafik, Adrian. Kamu sudah memilih hidupmu sendiri."
Adrian menghela napas panjang. "Baiklah, itu masa lalu. Yang penting sekarang adalah Rafan. Aku akan bertanggung jawab penuh atas anakku."
"Bertanggung jawab?" Tiara tertawa sinis. "Kamu bahkan tidak pernah tahu dia ada sampai sekarang! Aku yang membesarkannya sendirian, Adrian. Aku yang berjuang mati-matian agar dia bisa hidup layak. Kamu tidak punya hak untuk tiba-tiba muncul dan berkata akan bertanggung jawab!"
"Aku ayahnya, Tiara!" suara Adrian meninggi, ia bangkit dari duduknya. "Dan aku akan mengambil alih hak asuh anakku."
Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar. "Apa?" Tiara melompat berdiri, matanya membelalak tak percaya. "Tidak! Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah menyerahkan Rafan padamu!"
"Kamu tidak punya pilihan, Tiara," Adrian berkata dengan dingin. "Kamu tidak punya uang, kamu tidak punya pekerjaan tetap. Bagaimana kamu bisa menjamin masa depan anakku? Aku bisa memberikan segalanya untuknya. Pendidikan terbaik, kehidupan yang layak, dan semua yang tidak bisa kamu berikan."
"Aku memang miskin, Adrian!" Tiara membalas, air mata mengalir deras di pipinya. "Tapi aku memberinya cinta! Aku memberinya kasih sayang! Sesuatu yang tidak pernah bisa kamu berikan! Kamu hanya ingin merebutnya dariku!"
"Aku akan memberinya masa depan yang lebih baik!" Adrian bersikeras. "Dia berhak mendapatkan yang terbaik. Dan itu bukan bersamamu, Tiara, dalam kemiskinan dan kesulitan ini."
Perdebatan mereka menarik perhatian beberapa perawat yang lewat. Tiara tak peduli. Hatinya sakit, marah, dan takut menjadi satu. Ia tidak akan pernah menyerahkan Rafan. Ia telah berjuang terlalu keras untuk putranya.
"Aku tidak akan pernah menyerahkannya padamu, Adrian," Tiara berkata tegas, suaranya penuh tekad. "Aku akan melawannya, sampai titik darah penghabisan."
Adrian hanya menyeringai tipis. "Kita lihat saja, Tiara. Ingat, aku punya segalanya. Kamu tidak punya apa-apa."
Percakapan itu berakhir tanpa solusi. Adrian tetap di rumah sakit, memastikan Rafan mendapatkan penanganan terbaik. Tiara hanya bisa melihatnya dari jauh, hatinya dipenuhi ketakutan akan ancaman Adrian.
Hari-hari berikutnya di rumah sakit terasa seperti neraka bagi Tiara. Rafan mulai membaik, namun Adrian tak pernah pergi. Ia selalu ada di sana, di samping Rafan. Adrian selalu membawa makanan enak, mainan baru, dan buku cerita untuk Rafan. Ia berbicara dengan Rafan, mencoba membangun ikatan. Rafan, yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dari sosok ayah, tampak menikmati kehadiran Adrian. Melihat interaksi mereka, hati Tiara terasa tercabik. Ia bahagia Rafan mendapatkan perhatian, namun ia juga takut bahwa Rafan akan berpaling darinya.
Adrian memanfaatkan momen itu untuk mendekati Rafan, membangun koneksi, seolah ingin menunjukkan bahwa ia adalah "ayah" yang lebih baik. Ia bahkan seringkali membicarakan masa depan Rafan di depan Tiara, tentang sekolah-sekolah elit, tentang kursus-kursus yang mahal, semua hal yang Tiara tahu ia tak akan pernah bisa berikan. Itu adalah bentuk tekanan halus, pengingat akan ketidakmampuannya.
Suatu sore, saat Rafan sedang tertidur pulas, Adrian mendekati Tiara yang duduk di samping ranjang Rafan. "Aku sudah bicara dengan pengacaraku, Tiara," katanya pelan. "Kami akan mengajukan gugatan hak asuh."
Tiara merasakan darahnya berdesir dingin. "Kamu tidak bisa melakukan ini, Adrian!"
"Tentu saja bisa," Adrian menjawab santai. "Aku punya bukti bahwa kamu tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak punya aset, dan hidup dalam kemiskinan. Sementara aku bisa memberikan segalanya. Pengadilan pasti akan berpihak padaku."
"Itu tidak adil!" Tiara berbisik, suaranya serak. "Aku ibunya! Aku yang mengandungnya, melahirkannya, membesarkannya!"
"Hanya karena kamu melahirkannya, bukan berarti kamu pantas menjadi walinya jika kamu tidak bisa memberinya kehidupan yang layak," Adrian berkata tanpa empati. "Pikirkan masa depan Rafan, Tiara. Aku bisa memberinya kehidupan yang jauh lebih baik daripada yang bisa kamu bayangkan."
Kata-kata Adrian terus menghantui Tiara. Ia tahu Adrian tidak main-main. Pria itu punya uang, kekuasaan, dan pengacara yang handal. Sementara Tiara hanya memiliki cinta dan kasih sayangnya yang tulus. Cukupkah itu untuk melawan kekuatan Adrian?
Tiara mencoba mencari bantuan hukum. Ia mendatangi beberapa kantor bantuan hukum gratis, namun mereka semua mengatakan kasusnya akan sangat sulit dimenangkan mengingat kondisi finansialnya. Beberapa bahkan menyarankan untuk "mengalah demi kebaikan anak," saran yang membuat Tiara semakin frustrasi.
Setelah Rafan pulih dan diperbolehkan pulang, perang perebutan hak asuh dimulai. Adrian tidak membiarkan Tiara membawa Rafan pulang ke rumahnya. Ia mengirimkan pengacara yang datang dengan perintah pengadilan sementara untuk menempatkan Rafan di bawah pengasuhan Adrian sampai putusan pengadilan final.
Tiara melawan dengan sekuat tenaga. Ia berteriak, menangis, memohon. Ia memeluk Rafan erat-erat, tak ingin melepaskannya. Rafan, yang tak mengerti apa-apa, menangis ketakutan dalam pelukan Tiara.
"Mama, jangan tinggalkan Rafan! Rafan mau sama Mama!" teriak Rafan, mencoba berpegangan pada Tiara.
"Tidak, Nak, Mama tidak akan tinggalkan kamu!" Tiara mencium putranya berkali-kali, air matanya membanjiri wajah Rafan.
Namun, kekuatan Tiara tak sebanding dengan pengawal Adrian yang besar-besar. Mereka menarik Rafan paksa dari pelukan Tiara. Tiara menjerit, mencoba meraih putranya, namun ia dihalangi. Rafan terus menangis dan memanggilnya, "Mama! Mama!"
Pemandangan itu bagaikan mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Tiara melihat Rafan dibawa masuk ke dalam mobil mewah Adrian, mata putranya yang ketakutan menatapnya dari balik kaca jendela. Lalu mobil itu melaju kencang, membawa pergi belahan jiwanya.
Tiara jatuh terduduk di jalan, meraung-raung, seperti orang gila. Hatinya hancur berkeping-keping. Putranya telah direbut. Ia merasa kosong, hampa, seolah sebagian jiwanya telah ikut pergi bersama Rafan. Ibunya, Kartika, segera berlari menghampirinya, memeluknya erat, ikut menangis bersamanya.
"Rafan... anakku..." Tiara meracau, tubuhnya gemetar tak terkendali. "Mereka merebut Rafan dariku, Bu! Adrian merebut anakku!"
Kartika hanya bisa memeluk putrinya, mencoba menenangkannya, namun ia sendiri juga tak sanggup menahan kesedihannya.
Setelah peristiwa itu, Tiara jatuh sakit. Ia demam tinggi, nafsu makannya hilang, dan ia seringkali hanya bisa berbaring lemah. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Rafan yang ketakutan dan panggilannya yang pilu selalu membayang. Ia tidak bisa tidur nyenyak, sering terbangun di tengah malam dengan keringat dingin, menjeritkan nama Rafan.
Kartika merawatnya dengan sabar, namun Tiara tak kunjung pulih. Ia kehilangan semangat hidup. Dunia terasa gelap tanpa kehadiran Rafan. Rumah kecil mereka, yang dulu dipenuhi tawa Rafan, kini terasa begitu sunyi dan hampa.
Adrian, melalui pengacaranya, sesekali mengirimkan surat resmi tentang proses hukum hak asuh. Setiap surat itu datang, Tiara merasa seperti disiram air dingin. Ia harus menghadiri persidangan, menghadapi Adrian dan pengacaranya yang tangguh.
Di setiap persidangan, Adrian selalu tampil sempurna, dengan argumen-argumen kuat yang didukung oleh bukti-bukti finansial. Ia menunjukkan rekening banknya, aset-asetnya, semua hal yang menunjukkan bahwa ia mampu memberikan masa depan terbaik bagi Rafan. Sementara Tiara, hanya bisa bersaksi dengan hati yang hancur, bercerita tentang perjuangannya, tentang cintanya pada Rafan. Namun, di mata hakim, bukti cinta tidak sekuat bukti finansial.
Pengacara Adrian selalu menekankan bahwa Tiara tidak memiliki penghasilan yang stabil, bahwa suaminya, Bagus, bahkan tidak menunjukkan perhatian yang cukup pada Rafan. Mereka menggali semua "kekurangan" Tiara, bahkan mengungkit masa lalu Tiara yang kelam, bagaimana ia hamil di luar nikah. Semua itu membuat Tiara merasa semakin kecil dan tak berdaya.
Bagus, yang diharapkan bisa menjadi saksi pendukung bagi Tiara, justru memperparah keadaan. Ia tidak hadir di sebagian besar persidangan, dan ketika ia datang, kesaksiannya terdengar datar, nyaris tanpa emosi. Bahkan, ia sempat keceplosan mengatakan bahwa ia "tidak terlalu dekat" dengan Rafan, sebuah pernyataan yang langsung dimanfaatkan oleh pengacara Adrian.
"Bapak Bagus, apakah benar Anda jarang berinteraksi dengan Tuan Rafan?" tanya pengacara Adrian.
Bagus menggaruk tengkuknya. "Ya... begitu, Pak. Saya kan sibuk kerja. Anak-anak biasanya diurus ibunya."
Jawaban itu sudah cukup bagi pengacara Adrian untuk memperkuat argumen mereka.
Tiara menatap Bagus dengan tatapan terluka. Ia tahu Bagus tidak berniat jahat, ia hanya mengatakan apa adanya. Namun, di mata hukum, kejujuran itu justru merugikan mereka.
Semakin hari, kondisi mental Tiara semakin memburuk. Ia mulai sering bicara sendiri, terkadang tertawa tanpa alasan, terkadang menangis tanpa henti. Ingatannya mulai kacau. Ia sering lupa di mana ia meletakkan barang-barang, atau bahkan lupa apa yang baru saja ia katakan. Dunia nyata dan fantasinya mulai bercampur.
Kartika berusaha keras membawanya ke psikiater, namun Tiara menolak. Ia tidak mau mengakui bahwa ia gila. Ia hanya ingin Rafan kembali. Ia yakin, jika Rafan kembali, ia akan sembuh.
Suatu hari, ketika persidangan masih berlangsung dan belum ada putusan final, Tiara menerima kunjungan dari seorang psikolog yang ditunjuk oleh pengadilan. Psikolog itu mencoba berbicara dengannya, mengevaluasi kondisi mentalnya.
"Bagaimana perasaan Anda, Bu Tiara?" tanya psikolog itu lembut.
Tiara menatap kosong ke arah jendela. "Perasaan saya? Saya baik-baik saja. Saya hanya... merindukan anak saya. Rafan. Dia sedang bermain, kan? Dia pasti akan pulang sebentar lagi."
Psikolog itu menatap Kartika yang duduk di samping Tiara dengan tatapan prihatin. Kartika hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, air mata menetes.
Laporan psikolog itu menjadi pukulan terakhir bagi Tiara. Laporan itu menyatakan bahwa kondisi mental Tiara tidak stabil, dan ia tidak mampu merawat Rafan dengan baik. Laporan itu juga mendukung argumen Adrian bahwa Rafan harus berada di bawah pengasuhan ayahnya yang "stabil" dan "mampu."
Ketika putusan pengadilan akhirnya keluar, hati Tiara terasa mati. Hakim memutuskan bahwa hak asuh Rafan sepenuhnya diberikan kepada Adrian Wiratama. Tiara dinyatakan tidak layak menjadi wali karena kondisi mentalnya yang terganggu dan ketidakmampuannya secara finansial.
Dunia Tiara runtuh sepenuhnya. Ia tidak lagi memiliki apa-apa. Putranya telah direbut secara paksa, dan ia tak bisa berbuat apa-apa. Suara hakim yang membacakan putusan itu terdengar seperti gema di telinganya, semakin mendorongnya ke dalam jurang kegilaan.
Sejak hari itu, Tiara benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia tidak lagi mengenali Kartika sebagai ibunya, kadang-kadang ia mengira Kartika adalah Adrian. Ia seringkali berbicara tentang Rafan seolah-olah putranya masih bersamanya, sedang bermain di kamar, atau sedang makan. Ia tertawa sendiri, menangis sendiri, meracau tak jelas. Matanya yang dulu penuh harap kini kosong, tanpa kilau.
Ia seringkali duduk di teras, menatap jalanan, seolah menunggu kedatangan Rafan. Ia akan tersenyum dan melambaikan tangan pada anak-anak kecil yang lewat, mengira mereka adalah Rafan. Hatinya telah pecah menjadi jutaan keping, dan ia tak lagi bisa menyusunnya kembali.
Adrian, setelah memenangkan hak asuh Rafan, membawa putranya tinggal di apartemen mewahnya. Ia memastikan Rafan mendapatkan semua yang terbaik: sekolah elit, guru privat, mainan terbaru, dan semua kemewahan yang dulu tak pernah bisa Rafan bayangkan. Namun, Rafan, meskipun berada di lingkungan yang serba ada, seringkali terlihat murung. Ia merindukan ibunya. Ia seringkali memanggil nama Tiara dalam tidurnya.
Adrian mencoba mengisi kekosongan itu dengan segala cara, namun ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tak bisa ia beli dengan uang: kasih sayang seorang ibu. Rafan seringkali menolak makanan, tidak bersemangat untuk belajar, dan tatapan matanya seringkali kosong, persis seperti tatapan Tiara di akhir-akhir pertemuan mereka.
Beberapa kali Adrian mencoba membawa Rafan menjenguk Tiara di rumahnya yang sederhana. Namun, setiap kali mereka datang, Tiara tidak mengenali Rafan. Ia hanya tersenyum kosong, memanggil nama Rafan dengan nada aneh, atau bahkan menatap Rafan dengan tatapan orang asing. Pemandangan itu selalu menyakitkan hati Rafan, membuatnya semakin murung. Adrian akhirnya memutuskan untuk tidak membawa Rafan lagi ke sana, dengan alasan tidak ingin memperparah kondisi psikologis putranya.
Adrian melihat Tiara yang kini benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia merasa sedikit... bersalah? Atau mungkin, hanya penyesalan samar. Ia telah mendapatkan Rafan, putranya, namun ia telah menghancurkan Tiara. Ia telah mengubah seorang wanita kuat dan penuh kasih menjadi cangkang kosong yang tersenyum hampa.
Kartika, yang kini harus mengurus Tiara yang sakit jiwa, juga hidup dalam penderitaan. Ia melihat putrinya yang dulu ceria, kini hanya bisa meracau dan melamun. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain merawatnya, memandikannya, memberinya makan, dan menjaga agar Tiara tidak melukai dirinya sendiri. Setiap kali ia melihat Tiara tertawa sendiri, hatinya terasa terkoyak.
"Ya Tuhan, apakah ini akhir dari segalanya?" Kartika seringkali bertanya pada dirinya sendiri, sambil menatap putrinya yang tak berdaya.
Di tengah kegilaannya, apakah Tiara akan selamanya terperangkap dalam dunianya sendiri yang hampa? Apakah ia akan selamanya gila karena kehilangan putranya?
Dan akankah ada keadilan untuk Tiara? Keadilan yang selama ini selalu jauh dari genggamannya? Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban pasti. Tiara mungkin telah kehilangan akal sehatnya, namun luka di hatinya terlalu dalam untuk sembuh. Dan mungkin, hanya waktu, atau takdir, yang bisa menjawab apakah ada secercah harapan di balik kegelapan yang menelannya.
Anda Mungkin Juga Suka





