Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel KEJUTAN UNTUK HARI PERNIKAHAN

KEJUTAN UNTUK HARI PERNIKAHAN

Persahabatanku dengan Ratna berujung pengkhianatan pahit. Pria pilihannya, Bagas, yang hampir kunikahi ternyata adalah kekasih gelapnya sendiri. Mereka bersekongkol demi mengincar kekayaan keluargaku, namun rencana busuk itu terbongkar tepat sebelum janji suci terucap. Pernikahan pun batal, tapi Papa justru memaksaku menikahi pria lain yang sangat aku benci. Di balik luka penipuan ini, dimulailah babak baru hidupku bersama sosok yang tak pernah kuinginkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Tetapi kenapa Ratna? Kenapa cowok itu, gak kamu jadiin pasangan kamu aja? Kamu juga kan belum ada pasangan, Ratna? Karena selama aku temenan sama kamu, kamu juga gak pernah kenalin aku sama cowokmu. Itu artinya, kamu belum punya cowok juga, kan? " tanyaku lagi.

Aku bertanya kepada Ratna, kenapa dia sampai tega ingin menjauhiku, dan kenapa ia tidak pacaran saja sekalian sama si cowok tersebut.

Padahal selama ini, aku juga belum pernah melihat Ratna memiliki pasangan. Sebab tidak ada satu orang pun cowok, yang Ratna perkenalkan sama aku. Sungguh aku merasa tersinggung, dengan sikap Ratna saat ini.

"Jangan ngaco kamu, Anisa. Aku sudah punya cowok, tau! Asal kamu tau, Nisa. Aku sudah memiliki cowok, sejak lama. Tapi, cowokku sedang mengejar S dua, di luar negeri. Makanya, si Bagas, aku mau kenalin sama kamu. Kalau aku belum punya cowok, sudah pasti aku akan menjadikan Bagas sebagai pacarku. Gak perlu repot-repot untuk ngenalinnya sama kamu," cerocos Ratna.

Ratna membentakku, saat aku menyuruhnya untuk berpacaran, dengan cowok yang bernama Bagas tersebut. Aneh Ratna ini, sampai segitunya Dia belain temen cowoknya, yang satu ini. Dia sampai rela berdebat denganku, demi laki-laki tersebut. Akupun akhirnya mengikuti keinginan Ratna, kalau hanya untuk sekedar berkenalan saja.

"Baiklah Ratna, aku mau kalau hanya untuk sekedar berkenalan. Tetapi, aku tidak akan langsung memutuskan kalau aku menerimanya, atau tidak. Untuk kelanjutannya, kita lihat saja nanti." Aku berkata, sambil menatap wajah Ratna yan cemberut.

"Nah gitu dong Nis, baru namanya temenku. Sekarang yang penting berkenalan aja dulu, baru setelah itu terserah kamu, mau lanjut atau pun tidak." Ratna langsung menyahut ucapanku, wajahnya pun kini berubah drastis, tidak merengut lagi.

"Kapan kita akan ketentuannya, Ratna?" Aku bertanya kepada Ratna, kapan kami akan ketemuan dengan Bagas.

"Kalau besok, kamu bisa tidak? Kamu gak lagi repot kan?" tanya Ratna.

Ia bertanya, sambil menatap wajahku tajam. Ia menanyakan kepadaku tentang skedulku

besok. Ratna bilang kalau besok aku tidak sibuk, kami akan mengadakan pertemuan dengan Bagas.

"Besok ya Rat, aku besok gak ada kegiatan deh kayanya. Boleh deh, besok," sahutku. Aku pun menyetujui rencana Ratna, untuk mempertemukanku dengan Bagas.

"Kita besok mau ketemuan dimana, Rat? Jam berapa?" tanyaku lagi. Aku bertanya tentang tempat dan juga waktu, untuk pertemuan besok.

"Gimana kalau di Restauran Samudra aja, yang deket kantorku. Besok jam makan siang, kita ketemu disana." Ratna menjawab ucapanku.

"Ok deh," kataku, sambil mengacungkan jempol, ke arah Ratna.

"Ya udah Nis, aku pulang dulu ya! Udah sore nih, kasian nanti Mamaku menunggu." Ratna mengakhiri percakapan kami, ia berpamitan sambil melihat arloji, yang menempel di pergelangan tangan kirinya.

"Iya Ratna, hati-hati di jalan. Jangan ngebut bawa motornya!" pesanku. Aku memberi peringatan kepada Ratna, supaya berhati-hati bawa motornya, dan jangan sampai ngebut.

"Iya Nis, terima kasih perhatiannya. Aku permisi ya, assalamualaikum," pamit Ratna. Iya berjalan menuju pintu, dan aku pun mengekorinya. Aku mengantar Ratna sampai teras depan.

Ratna menaiki motor matiknya, dan menstaternya. Setelah mesinnya hidup, ia pun langsung tancap gas. Aku kembali masuk ke dalam rumah, setelah Ratna tidak terlihat lagi.

Sesampainya di dalam rumah, aku masuk ke kamar. Aku malah kepikirkan sama semua ucapan, yang dikatakan Ratna tadi. Aku kepikiran ucapan Ratna, yang ingin mengenalkanku dengan pria, yang bernama Bagas.

Jujur aku akui, kalau Bagas itu tampan, seperti yang dibilang Ratna. Aku melihat poto Bagas di layar handphonenya Ratna, kelihatannya sih baik. Tetapi tidak tahu kalau kenyataannya.

Saat sedang melamun, aku tersadar dengan bunyi handphone, yang begitu nyaring. Ternyata Papa yang menelfonku, aku pun segera mengangkat telpon dari Papa.

"Hallo, assalamualaikum, Papa." Aku menyapa, dan mengucapkan salam kepada Papaku itu.

"Waalaikumsalam. Nis kamu sedang apa, dan lagi di mana?" Papa bertanya tentang keberadaanku, Beliau pun menjawab salamku.

"Aku ada di rumah, Pah. Tidak lagi ngapa-ngapain, kenapa Pah?" tanyaku. Aku menjawab pertanyaan Papa tentang keberadaanku, dan bertanya kenapa Papa menanyaiku.

"Nggak apa-apa, Nis. Papa cuma mau nanya, kamu sudah makan apa belum? Papa juga mau bertanya, kamu besok ada acara nggak?" Papa memberitahu maksudnya, jika Papa ingin tahu aku sudah makan atau belum. Papa juga ingin tahu, besok aku ada kegiatan atau nggak.

"Anisa sudah makan Pah, dan besok Anisa juga ada kegiatan, mau ketemuan sama temannya Ratna. Boleh kan, Pah?" tanyaku.

"Ya sudah, Nis. Terserah kamu aja," sahut Papa.

Setelah tidak ada lagi kepentingan, yang disampaikan. Kami pun memutuskan sambungan telponnya. Aku kembali larut dalam lamunanku, memikirkan tentang pertemuan besok. Ada perasaan tidak karuan, di dalam hati ini. Saat mengingat yang ingin aku temui, adalah seorang laki-laki.

*****

Keesokan harinya, aku sedang bersiap-siap, untuk menuju ke Restoran Samudra. Restoran yang berada dekat dengan kantor Ratna, yaitu kantor cabang perusahaan Papa. Ratna bekerja di kantor itu, sebagai ketua HRD.

Ratna bekerja di kantor Papa, atas rekomendasi dariku. Aku yang meminta Papa, untuk menerima Ratna sebagai karyawannya. Aku juga yang meminta Papa, untuk memberi kedudukan kepada Ratna di kantor itu, dan Papa mengangkatnya menjadi Ketua HRD.

Jam telah menunjukan pukul sebelas kurang lima belas menit, aku telah berdandan rapi. Aku sedikit memoles riasan di wajahku, supaya tidak kelihatan pucat. Aku telah berkali-kali bercermin, takut kalau penampilanku ada yang kurang

Setelah aku rasa cukup, aku mengambil tas selendang, dan kunci mobil yang berada di atas nakas. Tidak lupa aku memasukan handphoneku, ke dalam tas tersebut. Setelah semuanya beres, aku keluar dari kamar menuju garasi.

Mobil alpard keluaran terbaru, yang aku bawa saat ini. Mobil ini akan membawaku menuju Restoran Samudra, untuk bertemu dengan Anisa dan juga Bagas. Sekitar empat puluh menit aku sudah berada di restoran itu, aku segera mencari meja yang kosong, untuk duduk kami bertiga. Setelah aku mendapatkan meja yang cocok, aku segera mengabari Ratna.

[Assalamualaikum, Ratna. Aku sudah sampai di Restoran Samudra, dan aku telah memboking sebuah meja, untuk makan siang kita. Kamu segera datang ya, kalau kerjaannya sudah selesai.] Aku mengetik pesan kepada Ratna, untuk memberitahu keberadaanku.

Sambil menunggu kedatangan Ratna, dan Bagas. Aku memesan minuman kepada pelayan, aku meminta jus alpukat kesukaanku. Tidak berapa lama terdengar sebuah notifikasi, dari handphoneku. Aku pun segera menggeser layar, kemudian membacanya. Rupanya Ratna yang mengirim balasan chat dariku.

[Ok, Nis. Tunggu aja ya, aku sebentar lagi selesai. Aku nunggu jam istirahat dulu, baru aku dan Bagas kesana.] seperti itulah Ratna mengirim balasan pesan kepadaku.

[Ok Ratna, aku tunggu.] Aku kembali mengirim pesan kepada Ratna.

*****

Tidak berapa lama Ratna datang, bersama dengan seorang laki-laki. Laki-laki ini sama persis dengan yang ada di foto, waktu kemaren Ratna menunjukannya ke aku.

"Hai, Nis, maaf ya lama nunggunya. Tadi, kerjaan belum selesai dan belum istirahat. Makanya, kami baru keluar ini." Ratna berkata, sambil duduk di kursi yang masih kosong.

"Iya, Rat, gak apa-apa kok." sahutku.

"Oh iya Nis, ini orang yang mau aku kenalin sama kamu. Ayo, kalian saling memperkenalkan diri masing-masing!" perintah Ratna. Ratna pun memberitahu kalau laki-laki yang bersamanya, adalah orang yang ingin ia perkenalkan.

"Bagas," ucapnya, sambil mengulurkan tangan kepadaku.

"Anisa," sahutku, sambil menelunngkupkan kedua tangan di dada.

"Oh, maaf," ucapnya lagi, sambil menarik uluran tangannya, kembali.

"Iya, gak apa-apa. Seharusnya aku yang minta maaf," ujarku.

"Ya sudah, ayo kita pesan makan. Aku juga belum pesan, kok, nunggu kalian datang." Aku memerintahkankan, Bagas dan Ratna untuk memesan makanan.

Kami pun memanggil pelayan untuk memesan makanan, sesuai dengan selera kami. Kami pun makan dengan khusyuk, tanpa mengeluarkan suara. Setelah selesai makan kami ngobrol kesana kemari, hingga membahas tentang kerjaannya Bagas.

"Oh, jadi Mas Bagas kerja di kantor Papa, ya Rat?" Aku bertanya kepada Ratna.

"Iya Nis, cuma masih sebagai karyawan biasa. Tapi, mungkin kamu mau membantunya, supaya naik jabatan. 'Kan kamu anaknya Bos," ujar Ratna.

"Hee, iya gampang, itu bisa di atur. Sekarang, apa kalian sudah mau masuk kantor lagi?" tanyaku.

"Iya, Nis," sahut Ratna.

"Ya sudah, ayo, kita bayar dulu!" ajakku. Ratna dan Bagas malah saling melirik, saat aku mengajaknya membayar makanan.

Rupanya, Bagas bekerja di perusahaan Papa. Ia menjadi karyawan, di kantor cabang Papa, satu kantor dengan Ratna. Selesai makan, kini tinggal pembayaran, apa yang telah kami makan tadi.

Aku ingin tahu, Bagas ini peka, atau enggak orangnya. Aku ingin melihat tanggung jawabnya sebagai seorang lelaki, apakah Bagas mau membayarkan makanan kami, atau tidak.

*****

Kira-kira siapa ya, yang akan mengeluarkan uang untuk makan siang mereka? Bagas, Ratna, atau Anisa?

Yuk. terus ikuti ceritanya biar gak penasaran sama endingnya.

Bersambung ...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alexandra Mata-mata sang CEO
9.1
Alexandra Johnson terjerat dalam kontrak rumit yang memaksa dirinya menjadi mata-mata untuk mengawasi seorang CEO ternama. Namun, sebuah insiden tidak terduga justru mengubah segalanya dan membuat nasib Alexa kini terjepit di antara dominasi dua CEO sekaligus. Terperangkap dalam situasi yang penuh risiko, ia harus menghadapi kendali dua pria berkuasa tersebut sembari menavigasi intrik dunia bisnis yang berbahaya dan penuh dengan tekanan emosional.
Sampul Novel Bujang Kaya Jadi Budak Cinta
9.4
Erhan adalah bujangan kaya yang ramah namun ceroboh dalam urusan asmara. Ia sering memicu konflik keluarga karena terang-terangan menggoda kekasih para sepupunya agar berpaling padanya. Namun, tantangan sesungguhnya muncul saat ia jatuh hati pada seorang wanita dingin yang sinis terhadap pernikahan dan cinta. Kini, Erhan harus berjuang keras membuktikan ketulusannya. Mampukah sang miliarder meyakinkan wanita itu bahwa ia telah menjadi budak cinta sejatinya?
Sampul Novel Diselingkuhi Tunangan Dinikahi CEO Tampan
9.2
Hidup Dea hancur setelah dikhianati papa, sahabat, dan tunangannya. Ia pun mengungsi ke rumah sang mama, namun hampir dilecehkan ayah tirinya. Beruntung, Bian sang kakak angkat sekaligus CEO tampan menyelamatkannya. Meski trauma dan enggan mencintai lagi, sebuah kesalahpahaman memaksa Dea menikah dengan Bian. Mampukah Dea menjalani rumah tangga tanpa rasa cinta? Akankah ia menyadari perasaan tulus yang telah lama Bian pendam untuk dirinya?
Sampul Novel OBSESI CINTA UNTUK NADEEVA
8.6
Rheno jatuh hati pada Nadeeva, ibu tiri sahabatnya yang hidup dalam bayang-bayang tragedi. Nadeeva kini terjebak dilema antara impian masa depan bersama Rheno atau tetap dalam perlindungan Aiman, suami yang menikahinya demi menyelamatkan nyawa dan aset keluarganya. Meski sepuluh tahun menikah, Nadeeva masih suci karena perjanjian status tersebut. Di tengah intrik dan ancaman pembunuh yang mengintai, mampukah Rheno meyakinkan Aiman untuk melepas Nadeeva?
Sampul Novel Orderan Kue Untuk Hari Pertunangan Suamiku
8.3
Selama tiga tahun membina rumah tangga, sosok suami yang kukira setia ternyata menyimpan rahasia gelap di balik punggungku. Perselingkuhan itu menghancurkan kepercayaan yang telah lama kujaga. Meski hati tersayat, aku memilih untuk tidak gegabah dalam melabraknya secara emosional. Bagiku, membalas pengkhianatannya dengan cara yang elegan dan terencana jauh lebih memuaskan daripada sekadar amukan yang sia-sia di depan matanya.
Sampul Novel Perjanjian 100 Hari Menikah Dengan Om CEO
9.5
Insiden salah masuk mobil menyeret Tiffania Almora ke dalam kehidupan Elnathan Devandra, sang CEO terpandang. Pertemuan yang intens membuat Devan nekat melamar Fania demi menghindari perjodohan dari keluarganya. Fania menyetujui ajakan tersebut, namun dengan syarat pernikahan kontrak selama seratus hari saja. Akankah Devan sepakat? Bagaimana nasib hubungan mereka saat perasaan cinta mulai tumbuh dan rahasia kontrak tersebut terancam terbongkar?