Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel KEJUTAN UNTUK HARI PERNIKAHAN

KEJUTAN UNTUK HARI PERNIKAHAN

Persahabatanku dengan Ratna berujung pengkhianatan pahit. Pria pilihannya, Bagas, yang hampir kunikahi ternyata adalah kekasih gelapnya sendiri. Mereka bersekongkol demi mengincar kekayaan keluargaku, namun rencana busuk itu terbongkar tepat sebelum janji suci terucap. Pernikahan pun batal, tapi Papa justru memaksaku menikahi pria lain yang sangat aku benci. Di balik luka penipuan ini, dimulailah babak baru hidupku bersama sosok yang tak pernah kuinginkan.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Pelayan ...," panggilku sambil mengacungkan tangan kanan. Kemudian pelayan pun menghampiri meja kami, setelah tadi aku memanggilnya.

"Iya, Mbak," sahut si pelayan kafe, setelah sampai meja kami.

"Berapa semuanya?" tanyaku. Aku menanyakan bill makanan dan minuman, yang tadi kami makan.

"Semuanya empat ratus delapan puluh ribu rupiah, Mbak. Ini notanya," ucap sang pelayan, sambil memberikan nota kepadaku.

"Oh iya Mbak, terima kasih. Bisa pake debit kan, Mbak?" tanyaku, sambil mengambil nota tersebut.

"Bisa, Mbak, langsung aja ke kasir." Pelayan tersebut menjawabnya dan menunjuk, ke arah kasir yang berada di pojok, dekat pintu keluar.

"Iya Mbak, terima kasih, ya." Aku kembali mengucapkan terima kasih.

"Sama-sama, Mbak. Aku permisi dulu ya, Mbak," sahutnya. Pelayan pun pergi dari hadapan kami.

Aku pun berdiri dan berjalan ke arah kasir, setelah sampai aku merogoh tas untuk mengambil ATM, buat membayar makanan yang kami makan tadi. Tetapi, saat aku mau menyerahkan kartu ATM tersebut, kepada Mbak kasir, Bagas menghampiriku.

"Nis, udah biar Mas yang bayar. Masa iya, cowok di traktir cewek, sih?" Bagas berkata, sambil menyodorkan kartu ATM miliknya.

"Ih tidak apa-apa, Mas, santai aja!" Aku berkata sambil menyerahkan kartu ATMku, kepada Mbak kasir.

"Janganlah Nis, bisa malu Mas nanti. Masa iya, baru kenalan udah di bayarin cewek." Andre tetap meminta, supaya ia yang membayarnya.

"Udah enggak apa, Mas, untuk kali ini aja. Nanti lain waktu, Mas yang traktir aku." ujarku. Aku tetap memaksa, bahwa aku yang akan membayarnya.

"Mas mending susul Ratna aja, dia sudah keluar tuh!" Aku menyuruh, Bagas supaya ikut keluar aja, bareng Ratna.

"Ya udah, lain kali Mas, yang traktir kamu, ya. Mas keluar duluan," pamit Bagas. Ia pun berjalan keluar, menghampiri Ratna yang sudah duluan di sana, tanpa menunggu jawaban dariku.

"Ini Mbak," ucapku, sambil menyerahkan kartu ATM kepada Mbak kasir, setelah Bagas pergi keluar.

"Iya, Mbak," sahutnya. Mbak kasir menerimanya ATM dariku, setelah itu ia memintaku untuk memasukan pinnya. Aku pun mengetik pin tersebut, lalu kembali memberikan printer kasir, kepada Mbak kasir tersebut.

Setelah selesai membayar, aku menemui Bagas dan Ratna yang telah berada di luar kafe. Mereka sedang tertawa bersama, entah sedang membicarakan apa, sehingga membuat mereka tertawa serenyah itu.

"Nis, aku malu sama kamu. Masa iya, aku malah di traktir sama kamu. Aku yang seharusnya mentraktir kamu, bukannya kamu yang mentraktir aku. Aku ini kan cowok," ujar Bagas, saat aku sudah berada di antara mereka berdua. Mereka pun tidak lagi tertawa seperti tadi, saat melihatku menghampiri mereka.

"Oh, enggak apa-apa, Mas, selama aku bisa dan mampu. Santai aja, jangan terlalu di pikirkan." Aku berkata kepada Bagas, kalau semua itu tidaklah masalah buatku.

"Oh ya, Ratna, aku pulang ya! Kalian sudah mau masuk kantor lagi, bukan?" tanyaku.

"Iya Nis, kamu hati-hati di jalan, ya? Kamu jangan ngebut-ngebut, bawa mobilnya." pesan Ratna.

"Terima kasih, Ratna, ya udah aku duluan. Assalamualaikum," pamitkku, sembari mengucapkan salam.

"Waalaikumsalam, hati-hati, Nisa!" sahut mereka berdua serempak.

Aku pun segera berlalu, dari hadapan Ratna dan Bagas, menuju parkirkan. Aku segera menaiki mobilku, setelah itu aku pacu mobil alphard ini, dengan kecepatan sedang.

Saat dalam perjalanan pulang, handphoneku berbunyi. Aku pun segera memasang headset bluetooth, di telingaku. Setelah terpasang, aku pun menyapa si penelepon.

"Hallo, assalamualaikum." Aku menyapa serta mengucapkan salam.

"Waalaikumsalam, Nis." sahut si penelepon, yang ternyata adalah Papa.

"Iya Pah, kenapa?" tanyaku.

"Kamu ada di mana? Udah selesai belum, acara ketemuan sama temannya Ratna? Kalau udah selesai, tolong kamu ke kantornya Papa, ya! Papa tunggu," pinta Papa. Ia menyuruhku untuk datang ke kantornya.

"Iya, Pah, sudah selesai, kok. Ini Anisa, lagi di jalan, tadinya mau langsung pulang. Ya udah Pah, nanti Anisa, biar langsung ke kantor Papa aja." Aku menyetujui, jika aku akan langsung ke kantor Papa.

"Ok, Papa, tunggu! Hati-hati di jalan, ya Nak? Assalamualaikum," ucap Papa, mengakhiri pembicaraan kami.

"Baiklah, Pah, Waalaikumsalam." sahutku.

Setelah telepon terputus, aku kembali memacu mobilku, dengan kecepatan lumayan kencang, yaitu delapan puluh kilo meter perjam.

Tidak sampai tiga puluh menit, aku sampai di kantor pusat Papa. Kebetulan, jalanan lumayan lengang karena para karyawan sedang sibuk kerja.

Beda lagi jika pagi dan sore hari, jalanan penuh sesak karena banyak orang yang pergi dan pulang kerja. Jika pagi dan sore hari, jalanan dipenuh oleh kendaraan, baik roda dua atau pun roda empat. Membuat kepulan asap dari kendaraan, membumbung ke udara. Sehingga menambah polusi udara di metropolitan, yang terkenal dengan sebutan ibukota negara ini.

"Mbak Irma, aku mau ketemu Papa, tadi Papa yang suruh datang! Papa ada di ruangannya, kan?" Aku bertanya, kepada sekertaris Papa yang bernama Irma. Aku bertanya tentang keberadaan Papa, takutnya tidak ada di ruangannya.

"Iya, Mbak, Bapak ada kok, di dalam." Mbak Irma menjawab pertanyaanku.

"Ok, Mbak, terima kasih, ya!"

"Sama-sama," sahutnya.

Aku segera melangkah, menuju ruang kerja Papa. Aku pun mengetuk pintu dulu, sebelum masuk keruangannya. Walaupun aku seorang anak, dari pemilik perusahaan ini. Tetapi aku tetap mengutamakan tatak rama dan sopan santun.

Papa, yang selalu mengajarkan semua itu, padaku. Papa bilang sekaya apapun kita, setinggi apapun derajat kita harus tetap mengutamakan tatak rama. Tatak rama, merupakan ciri kepribadian seseorang.

"Tok ... tok ... tok!"

"Assalamualaikum," ucapku.

"Waalaikumsalam, ayo masuk, Nis." sahut Papa.

Aku pun segera memutar knop pintu, kemudian masuk ke dalam. Rupanya di dalam, Papa sedang ada tamu. Mereka sedang berbicara, entah sedang membicarakan tentang apa.

"Pah, ada apa? Kenapa, Nisa, di suruh datang ke kantor?" Aku langsung to the point, menanyakan maksud dan tujuan Papa, menyuruh aku datang ke kantornya tersebut.

"Sini, sayang, kamu duduk dulu! Biar nanti, Papa jelasin sama kamu." Papa melambaikan tangannya, supaya aku menghampiri beliau, yang sedang ngobrol bareng seorang pria muda. Sepertinya, ia seorang rekan bisnisnya Papa.

"Iya, Pah," sahutku.

Aku pun menghampiri Papa, yang sedang duduk bersama pria tersebut di sofa. Aku pun kemudian duduk, di samping Papa. Sedangkan Pria yang sedang bersama Papa, duduk berseberangan dengan Papa. Ia cuma melirikku sekilas, tetapi sama sekali tidak menyapaku.

Boro-boro menyapa, melirik pun sekedarnya saja. Wajahnya begitu datar, raut mukanya pun tidak bersahabat. Aku merasa tidak nyaman, saat berhadapan dengannya. Bukan karena takut tetapi karena aku merasa, orangnya ini orang yang paling jutek yang pernah aku temuin.

"Nis,bermaksud Papa nyuruh kamu kesini. Papa mau kenalin kamu, sama Nak Andre ini. Dia rekan bisnis Papa, Nak Andre, ini hebat lho, Nis. Masih muda udah jadi pengusaha," ungkap Papa.

"Nak Andre, perkenalkan ini anak Om namanya, Anisa. Anisa, adalah anak Om satu-satunya. Ibunya sudah meninggalkan, sejak Anisa baru dilahirkan." Papa memperkenalkanku, dengan orang jutek tersebut, ternyata namanya Andre.

"Oh, iya Om. Nama yang cantik," sahut Andre. Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Ia hanya melihat, kearahku sekilas.

"Ayo, Nis, kenalan!" perintah Papa padaku, supaya mau berkenalan dengan manusia es batu tersebut.

"Anisa," ucapku, sambil merentangkan tangan kanan.

"Andre," sahutnya, sambil menyatukan kedua telapak tangan di dada.

Andre sama sekali tidak menyentuh tanganku, membuat aku langsung menarik tanganku. Malu? Jelas, aku malu. Aku merasa, menjadi seorang perempuan yang tidak ada artinya di hadapan Andre.

"Nis, Papa menyuruh kamu datang ke kantor. Bukan sekedar untuk memperkenalkan kamu sama Andre, tetapi Papa ingin supaya kalian berjodoh." Papa berkata, mengungkapkan tujuannya.

"Maksud Papa, apa?" tanyaku, tidak mengerti

Ini gimana sih, Papa, maen mau jodohin saja. Mana sama orang jutek, macam Andre, lagi.

Bersambung ...

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alexandra Mata-mata sang CEO
9.1
Alexandra Johnson terjerat dalam kontrak rumit yang memaksa dirinya menjadi mata-mata untuk mengawasi seorang CEO ternama. Namun, sebuah insiden tidak terduga justru mengubah segalanya dan membuat nasib Alexa kini terjepit di antara dominasi dua CEO sekaligus. Terperangkap dalam situasi yang penuh risiko, ia harus menghadapi kendali dua pria berkuasa tersebut sembari menavigasi intrik dunia bisnis yang berbahaya dan penuh dengan tekanan emosional.
Sampul Novel Bujang Kaya Jadi Budak Cinta
9.4
Erhan adalah bujangan kaya yang ramah namun ceroboh dalam urusan asmara. Ia sering memicu konflik keluarga karena terang-terangan menggoda kekasih para sepupunya agar berpaling padanya. Namun, tantangan sesungguhnya muncul saat ia jatuh hati pada seorang wanita dingin yang sinis terhadap pernikahan dan cinta. Kini, Erhan harus berjuang keras membuktikan ketulusannya. Mampukah sang miliarder meyakinkan wanita itu bahwa ia telah menjadi budak cinta sejatinya?
Sampul Novel Diselingkuhi Tunangan Dinikahi CEO Tampan
9.2
Hidup Dea hancur setelah dikhianati papa, sahabat, dan tunangannya. Ia pun mengungsi ke rumah sang mama, namun hampir dilecehkan ayah tirinya. Beruntung, Bian sang kakak angkat sekaligus CEO tampan menyelamatkannya. Meski trauma dan enggan mencintai lagi, sebuah kesalahpahaman memaksa Dea menikah dengan Bian. Mampukah Dea menjalani rumah tangga tanpa rasa cinta? Akankah ia menyadari perasaan tulus yang telah lama Bian pendam untuk dirinya?
Sampul Novel OBSESI CINTA UNTUK NADEEVA
8.6
Rheno jatuh hati pada Nadeeva, ibu tiri sahabatnya yang hidup dalam bayang-bayang tragedi. Nadeeva kini terjebak dilema antara impian masa depan bersama Rheno atau tetap dalam perlindungan Aiman, suami yang menikahinya demi menyelamatkan nyawa dan aset keluarganya. Meski sepuluh tahun menikah, Nadeeva masih suci karena perjanjian status tersebut. Di tengah intrik dan ancaman pembunuh yang mengintai, mampukah Rheno meyakinkan Aiman untuk melepas Nadeeva?
Sampul Novel Orderan Kue Untuk Hari Pertunangan Suamiku
8.3
Selama tiga tahun membina rumah tangga, sosok suami yang kukira setia ternyata menyimpan rahasia gelap di balik punggungku. Perselingkuhan itu menghancurkan kepercayaan yang telah lama kujaga. Meski hati tersayat, aku memilih untuk tidak gegabah dalam melabraknya secara emosional. Bagiku, membalas pengkhianatannya dengan cara yang elegan dan terencana jauh lebih memuaskan daripada sekadar amukan yang sia-sia di depan matanya.
Sampul Novel Perjanjian 100 Hari Menikah Dengan Om CEO
9.5
Insiden salah masuk mobil menyeret Tiffania Almora ke dalam kehidupan Elnathan Devandra, sang CEO terpandang. Pertemuan yang intens membuat Devan nekat melamar Fania demi menghindari perjodohan dari keluarganya. Fania menyetujui ajakan tersebut, namun dengan syarat pernikahan kontrak selama seratus hari saja. Akankah Devan sepakat? Bagaimana nasib hubungan mereka saat perasaan cinta mulai tumbuh dan rahasia kontrak tersebut terancam terbongkar?