Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kehormatan Yang ternoda

Kehormatan Yang ternoda

Salmah, gadis desa yang hidup melarat, harus membesarkan Ayuna sendirian setelah menjadi korban pemerkosaan. Tiga tahun berlalu, Jhondra Mahardika, sang pelaku, muncul kembali untuk merebut putrinya. Hal ini terjadi karena istrinya, Dinda Kirana, tak lagi bisa hamil usai operasi pengangkatan rahim. Demi melindungi hak asuh Ayuna, Salmah terpaksa bersedia menjadi istri kedua Jhondra. Namun, pernikahan ini justru menjadi awal penderitaan batin yang sangat menyiksa dirinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah usai melaksanakan sholat magrib, Salmah pergi menuju pulang.

Rona langit yang mulai temaram, tanda matahari akan meninggalkan langit.

Sesekali Salmah menatap kosong pada langit itu, seakan berharap asa masih tersisa untuk dia.

Asik dengan pikiran sendiri, Salmah dikejutkan oleh suara yang tidak asing baginya mulai semenjak sore tadi.

"Mau pulang, Neng?"

Salmah melirik arah suara dan mengangguk pelan sambil terus mengayunkan langkah kakinya.

"Emang berani pulang sendiri?"

"Insyaallah."

"Kalau takut, saya bisa nemani," seloroh Evan lagi.

"Terima kasih. Saya sendiri saja."

Salmah menjawab sopan lagi pelan suaranya, seraya mempercepat langkah kakinya.

"Sombong amat sih! Mending ada seorang Dokter tampan yang menyapa," ucap Jhondra dengan ketus. Ia sangat kesal melihat Salmah, seolah Salmah angkuh dimatanya.

"Itu bukan sombong Jhon! tapi itu rasa sopan dia terhadap lawan jenis, makanya dia menunduk dan menghindar." Gavin menepuk pundak Jhondra yang masih terlihat sangat kesal.

"Lain kali, jangan menegur cewek itu lagi Van! kesal aku dibuatnya."

"Aku tidak tersinggung sama sekali, malah menurutku jarang ada gadis seperti dia. Bahkan sebelumnya setiap gadis tergila-gila padaku." Evan menepuk dadanya sambil tersenyum puas karena telah memuji dirinya sendiri.

"Hanya gadis desa sombong! penampilan kumuh, wajah juga pas-pasan,"

Jhondra duduk di kursi teras kost dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya ketika mereka sudah tiba.

Evan dan Gavin juga duduk bersamaan.

"Jangan menilai orang dari luar! juga jangan merendahkan." Gavin menasehati Jhondra.

"Hooh, banyak kejadian. Orang yang kita rendahkan malah jadi pendamping hidup."

Evan terkekeh sambil meraih gitar yang tersandar di dinding. Kemudian ia memetik tali gitarnya sambil bersenandung.

"Najis. Dindaku tidak akan pernah tergantikan."

Jhondra menekan tombol memanggil nama Dinda sang pujaan hatinya.

Sementara Gavin masuk ke dalam. Ia mengambil mushaf Al-Qur'an dan membacanya.

Salmah?

Dia kini sedang asyik bermain dengan khayalan tingkat tingginya. Sambil telungkup ia menopang dagunya menggunakan kedua tangan.

Sesekali ia menepuk kepala sendiri sambil tersenyum bagaikan orang gila.

"Salmah! Salmah!" Rara menepuk pundak adiknya itu.

Salmah terlonjak dan langsung duduk.

"Ada apa sih kak! kaget tau."

"Makanya jangan melamun! lagi pula tidak biasanya kamu begini."

"Kak, ada gak sih orang miskin seperti kita berjodoh dengan pangeran seperti di dongeng Cinderella?"

Rara menempelkan telapak tangannya pada kening Salmah.

"Kamu sehat?" tanya Rara.

Cepat Salmah menepis tangan kakaknya itu. Wajahnya langsung cemberut karena Rara bukannya menjawab pertanyaan, malah menanyakan kondisi kesehatannya pula. Angannya yang tadi sempat melambung tinggi terhempas seketika. Dia menghembuskan napasnya kasar seolah kenyataan tidak seindah khayalan. Andai saja, nasib itu seperti kisah-kisah dalam novel maupun dalam dongeng. Tentu saja Salmah punya harapan akan masa depannya kelak. Akan tetapi sudahlah, biarkan waktu yang berbicara.

"Mukanya jelek di buat cemberut seperti itu. Lagi pula, sudah dari tadi kakak memanggil kamu, tapi tidak dijawab. Memangnya kamu memikirkan apaan sih?"

"Au ah, Kakak tidak enak diajak bercerita. Aku mau keluar saja by."

Salmah bangkit dari duduk dan keluar dari kamarnya. Hanya dengan keluarganya sendiri yang bisa tempat Salmah menjadi diri sendiri tanpa berhati-hati dalam berucap atau pun bersikap.

Rara, dia mempercepat langkah kakinya untuk menyamai langkah Salmah.

"Enak itu khusus makanan tau." goda Rara.

Kakak beradik ini sangatlah dekat bagaikan sahabat.

Saat itu muncul seorang bocah.

"Tante, Syakil mau di gendong dong!"

Syakil bocah berusia empat tahun, putra dari Rara keponakan Salmah. Dia sangat manja dengan Salmah. Setiap sore dia selalu ikut dengan Salmah untuk pergi mengaji ke masjid. Hanya saja kemarin sore dia sedang tidak sehat, sehingga tidak ikut seperti biasa.

"Syakil sudah besar sayang. Berat, Tante sudah tidak sanggup menggendong kamu lagi."

"Ga mau, pokoknya Tante, gendong Syakil!"

"Sama Ibu kamu aja ya!" bujuk Salmah sambil berjongkok untuk menyamai tingginya dengan syakil.

"Syakil mau sama Tantenya, Salmah!" ucap Rara.

Salmah mengeluh sambil melotot matanya pada Rara namun dia akhirnya menggendong Syakil.

Mereka bersama pergi ke dapur untuk makan malam. Meskipun hidup pada garis kemiskinan, keluarga mereka terlihat sangat bahagia, penuh canda dan tawa.

*****

Baru saja Salmah akan memejamkan mata, bayangan seorang Dokter muda berparas tampan hadir dalam benaknya. Tidak pernah sebelumnya ia merasakan sensasi seperti ini. Ketika bayangan itu muncul tanpa permisi, irama detak jantung Salmah pun bergemuruh hebat. Cepat dia membuka mata kembali.

"Astaghfirullah, ampuni hambamu ini Tuhan! karena sudah memikirkan seorang akhwat yang tidak halal bagiku,"

Salmah memanjatkan doa, karena dia tau tidak pantas untuk dia mengingat wajah itu. Akan tetapi, entah mengapa semakin dia mencoba menghilangkan bayangan Dokter itu, semakin pula ia hadir berulang kali seperti kaset DVD rusak. Dengan gerakan cepat Salmah membolak-balik badannya, gelisah menghantui jiwa.

"Tuhan! bantu aku! aku mohon!"

Takdir berkata lain, dia dihadapkan pada kesusahan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Sehingga dia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dengan dirinya saat ini. Mata yang dipaksakan terpejam menimbulkan rasa berasap pada matanya. Karena hanya mata yang terpejam namun hati dan pikirannya menari-nari.

Salmah bangkit dari tidurnya dengan langkah gontai ia pergi menuju kamar Rara. Saat sudah tiba di depan pintu kamar itu, datang keraguan untuk mengetuk, karena takut mengganggu tidur iparnya. Namun dia butuh bantuan. Ini sangat darurat. Bila tidak, bisa sampai pagi dia akan tersiksa.

Perlahan dia ayunkan tangan mengetuk pintu sambil memanggil Rara.

"Kak, Kak Rara," panggil Salmah.

Rara pun membuka pintu, dahinya mengernyit heran. Sebenarnya semenjak Salmah pulang dari masjid sore tadi, Rara sudah merasa heran dengan tingkah adiknya itu.

Rara keluar dan menutup pintu kamar perlahan dan hati-hati, supaya tidak membangunkan suami dan anaknya.

"Ada apa?" tanya Rara penuh penekanan.

"Tidak enak bicara di sini, bagaimana kalau kita ke kamarku saja!"

Rara mengangguk mengiyakan. Saat sudah tiba di kamar Salmah, Rara mengulangi pertanyaannya.

"Ada apa?"

"Mmm, aku bingung harus memulainya."

"Katakan saja! kalau tidak ingin bercerita, mending Kakak pergi tidur aja. Ngantuk." Rara menguap sambil menutup mulutnya dengan tangan.

"Jangan, Kak! aku mohon! aku butuh bantuan. Aku tidak bisa tidur. Hatiku gelisah. Setiap akan memejamkan mata, hati dan pikiranku menari-nari."

"Kenapa bisa begitu? apa ada yang sedang kamu pikirkan saat ini?"

"Sebenarnya, aku--"

"Ya." Rara menunggu cerita selanjutnya.

"Aku--, setiap aku memejamkan mata, wajah seseorang selalu hadir. Membuat aku sulit untuk tidur."

Saat ini wajah Rara, sulit untuk diartikan. Namun ujung bibirnya melengkung.

"Siapa orangnya?" tanya Rara antusias.

"Itu, Dokter yang baru datang ke kampung kita, Kak. Kost mereka akan kita lalui bila mau pergi ke masjid."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dia Mengambil Rumah, Mobil, Dan Hatiku
8.4
Dunia Flora runtuh saat Kevin meminta cerai demi cinta lamanya yang kembali. Tanpa air mata, Flora justru menuntut mobil mewah, vila megah, dan separuh harta bersama sebagai syarat perpisahan. Kevin terkejut, baru menyadari bahwa selama ini istrinya adalah otak genius di balik kesuksesan finansialnya. Setelah kehilangan sosok kunci dalam hidup dan bisnisnya, Kevin kini harus berjuang keras demi memenangkan kembali hati Flora yang telah dia lepaskan.
Sampul Novel DILEMA SUAMI BAYARAN
9.6
Barra Farzan, seorang duda yang mendambakan kebahagiaan, akhirnya menikahi Astra, putri konglomerat cantik. Namun, saat resepsi pernikahan berlangsung penuh tawa, seorang wanita tiba-tiba muncul dan menampar Astra. Ia mengaku sebagai istri sah Barra yang ditinggalkan bersama anak mereka. Tuduhan pelakor pun seketika menghancurkan suasana. Rahasia gelap apa yang disembunyikan Barra? Sanggupkah mereka bertahan, atau Barra hanya akan menjadi suami bayaran?
Sampul Novel Istri Dari Desa
8.5
Asmi sering dihina oleh keluarga suaminya karena penampilannya yang gemuk dan asal-usulnya dari desa. Bahkan, sang ibu mertua menolak kehadirannya karena menganggapnya miskin serta tidak memiliki ayah. Namun, sebuah rahasia besar perlahan terungkap. Sang suami baru menyadari bahwa istrinya sebenarnya adalah pengusaha kaya raya dengan aset di mana-mana. Kini, saat identitas aslinya terbongkar, mampukah keluarga tersebut berhenti merendahkan sosok Asmi?
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Kasih Sayang Mendalam: Sayang, Kembalilah Padaku
8.7
Dua tahun Nina terikat pernikahan kontrak dengan pria misterius yang identitasnya tidak ia ketahui sama sekali. Sebuah kesalahan fatal terjadi saat ia salah memasuki kamar dan menyerahkan kesuciannya pada orang asing. Terdesak beban kompensasi pelanggaran kontrak, Nina nekat mengajukan perceraian. Namun, saat ia menemui suaminya untuk menyerahkan dokumen tersebut, Nina terkejut menyadari bahwa pria itu adalah orang yang sama yang menidurinya malam itu.
Sampul Novel Keluar dari Kepompong
8.7
Emma Fowler kembali ke tanah air setelah tiga tahun, namun ia justru berakhir di ranjang Nathan Tate sebagai pendamping. Nathan terpesona tanpa menyadari identitas asli Emma. Saat Emma menagih janji pernikahan lama mereka, Nathan menolak dingin dan menganggapnya hanya saudara. Kecewa, Emma memutuskan hubungan sepuluh tahun itu. Namun, saat ia hendak pergi selamanya, Nathan justru berlutut memohon agar Emma tidak meninggalkannya dan menepati janji lama mereka.