
Kehormatan Yang ternoda
Bab 2
Setelah usai melaksanakan sholat magrib, Salmah pergi menuju pulang.
Rona langit yang mulai temaram, tanda matahari akan meninggalkan langit.
Sesekali Salmah menatap kosong pada langit itu, seakan berharap asa masih tersisa untuk dia.
Asik dengan pikiran sendiri, Salmah dikejutkan oleh suara yang tidak asing baginya mulai semenjak sore tadi.
"Mau pulang, Neng?"
Salmah melirik arah suara dan mengangguk pelan sambil terus mengayunkan langkah kakinya.
"Emang berani pulang sendiri?"
"Insyaallah."
"Kalau takut, saya bisa nemani," seloroh Evan lagi.
"Terima kasih. Saya sendiri saja."
Salmah menjawab sopan lagi pelan suaranya, seraya mempercepat langkah kakinya.
"Sombong amat sih! Mending ada seorang Dokter tampan yang menyapa," ucap Jhondra dengan ketus. Ia sangat kesal melihat Salmah, seolah Salmah angkuh dimatanya.
"Itu bukan sombong Jhon! tapi itu rasa sopan dia terhadap lawan jenis, makanya dia menunduk dan menghindar." Gavin menepuk pundak Jhondra yang masih terlihat sangat kesal.
"Lain kali, jangan menegur cewek itu lagi Van! kesal aku dibuatnya."
"Aku tidak tersinggung sama sekali, malah menurutku jarang ada gadis seperti dia. Bahkan sebelumnya setiap gadis tergila-gila padaku." Evan menepuk dadanya sambil tersenyum puas karena telah memuji dirinya sendiri.
"Hanya gadis desa sombong! penampilan kumuh, wajah juga pas-pasan,"
Jhondra duduk di kursi teras kost dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya ketika mereka sudah tiba.
Evan dan Gavin juga duduk bersamaan.
"Jangan menilai orang dari luar! juga jangan merendahkan." Gavin menasehati Jhondra.
"Hooh, banyak kejadian. Orang yang kita rendahkan malah jadi pendamping hidup."
Evan terkekeh sambil meraih gitar yang tersandar di dinding. Kemudian ia memetik tali gitarnya sambil bersenandung.
"Najis. Dindaku tidak akan pernah tergantikan."
Jhondra menekan tombol memanggil nama Dinda sang pujaan hatinya.
Sementara Gavin masuk ke dalam. Ia mengambil mushaf Al-Qur'an dan membacanya.
Salmah?
Dia kini sedang asyik bermain dengan khayalan tingkat tingginya. Sambil telungkup ia menopang dagunya menggunakan kedua tangan.
Sesekali ia menepuk kepala sendiri sambil tersenyum bagaikan orang gila.
"Salmah! Salmah!" Rara menepuk pundak adiknya itu.
Salmah terlonjak dan langsung duduk.
"Ada apa sih kak! kaget tau."
"Makanya jangan melamun! lagi pula tidak biasanya kamu begini."
"Kak, ada gak sih orang miskin seperti kita berjodoh dengan pangeran seperti di dongeng Cinderella?"
Rara menempelkan telapak tangannya pada kening Salmah.
"Kamu sehat?" tanya Rara.
Cepat Salmah menepis tangan kakaknya itu. Wajahnya langsung cemberut karena Rara bukannya menjawab pertanyaan, malah menanyakan kondisi kesehatannya pula. Angannya yang tadi sempat melambung tinggi terhempas seketika. Dia menghembuskan napasnya kasar seolah kenyataan tidak seindah khayalan. Andai saja, nasib itu seperti kisah-kisah dalam novel maupun dalam dongeng. Tentu saja Salmah punya harapan akan masa depannya kelak. Akan tetapi sudahlah, biarkan waktu yang berbicara.
"Mukanya jelek di buat cemberut seperti itu. Lagi pula, sudah dari tadi kakak memanggil kamu, tapi tidak dijawab. Memangnya kamu memikirkan apaan sih?"
"Au ah, Kakak tidak enak diajak bercerita. Aku mau keluar saja by."
Salmah bangkit dari duduk dan keluar dari kamarnya. Hanya dengan keluarganya sendiri yang bisa tempat Salmah menjadi diri sendiri tanpa berhati-hati dalam berucap atau pun bersikap.
Rara, dia mempercepat langkah kakinya untuk menyamai langkah Salmah.
"Enak itu khusus makanan tau." goda Rara.
Kakak beradik ini sangatlah dekat bagaikan sahabat.
Saat itu muncul seorang bocah.
"Tante, Syakil mau di gendong dong!"
Syakil bocah berusia empat tahun, putra dari Rara keponakan Salmah. Dia sangat manja dengan Salmah. Setiap sore dia selalu ikut dengan Salmah untuk pergi mengaji ke masjid. Hanya saja kemarin sore dia sedang tidak sehat, sehingga tidak ikut seperti biasa.
"Syakil sudah besar sayang. Berat, Tante sudah tidak sanggup menggendong kamu lagi."
"Ga mau, pokoknya Tante, gendong Syakil!"
"Sama Ibu kamu aja ya!" bujuk Salmah sambil berjongkok untuk menyamai tingginya dengan syakil.
"Syakil mau sama Tantenya, Salmah!" ucap Rara.
Salmah mengeluh sambil melotot matanya pada Rara namun dia akhirnya menggendong Syakil.
Mereka bersama pergi ke dapur untuk makan malam. Meskipun hidup pada garis kemiskinan, keluarga mereka terlihat sangat bahagia, penuh canda dan tawa.
*****
Baru saja Salmah akan memejamkan mata, bayangan seorang Dokter muda berparas tampan hadir dalam benaknya. Tidak pernah sebelumnya ia merasakan sensasi seperti ini. Ketika bayangan itu muncul tanpa permisi, irama detak jantung Salmah pun bergemuruh hebat. Cepat dia membuka mata kembali.
"Astaghfirullah, ampuni hambamu ini Tuhan! karena sudah memikirkan seorang akhwat yang tidak halal bagiku,"
Salmah memanjatkan doa, karena dia tau tidak pantas untuk dia mengingat wajah itu. Akan tetapi, entah mengapa semakin dia mencoba menghilangkan bayangan Dokter itu, semakin pula ia hadir berulang kali seperti kaset DVD rusak. Dengan gerakan cepat Salmah membolak-balik badannya, gelisah menghantui jiwa.
"Tuhan! bantu aku! aku mohon!"
Takdir berkata lain, dia dihadapkan pada kesusahan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Sehingga dia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dengan dirinya saat ini. Mata yang dipaksakan terpejam menimbulkan rasa berasap pada matanya. Karena hanya mata yang terpejam namun hati dan pikirannya menari-nari.
Salmah bangkit dari tidurnya dengan langkah gontai ia pergi menuju kamar Rara. Saat sudah tiba di depan pintu kamar itu, datang keraguan untuk mengetuk, karena takut mengganggu tidur iparnya. Namun dia butuh bantuan. Ini sangat darurat. Bila tidak, bisa sampai pagi dia akan tersiksa.
Perlahan dia ayunkan tangan mengetuk pintu sambil memanggil Rara.
"Kak, Kak Rara," panggil Salmah.
Rara pun membuka pintu, dahinya mengernyit heran. Sebenarnya semenjak Salmah pulang dari masjid sore tadi, Rara sudah merasa heran dengan tingkah adiknya itu.
Rara keluar dan menutup pintu kamar perlahan dan hati-hati, supaya tidak membangunkan suami dan anaknya.
"Ada apa?" tanya Rara penuh penekanan.
"Tidak enak bicara di sini, bagaimana kalau kita ke kamarku saja!"
Rara mengangguk mengiyakan. Saat sudah tiba di kamar Salmah, Rara mengulangi pertanyaannya.
"Ada apa?"
"Mmm, aku bingung harus memulainya."
"Katakan saja! kalau tidak ingin bercerita, mending Kakak pergi tidur aja. Ngantuk." Rara menguap sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Jangan, Kak! aku mohon! aku butuh bantuan. Aku tidak bisa tidur. Hatiku gelisah. Setiap akan memejamkan mata, hati dan pikiranku menari-nari."
"Kenapa bisa begitu? apa ada yang sedang kamu pikirkan saat ini?"
"Sebenarnya, aku--"
"Ya." Rara menunggu cerita selanjutnya.
"Aku--, setiap aku memejamkan mata, wajah seseorang selalu hadir. Membuat aku sulit untuk tidur."
Saat ini wajah Rara, sulit untuk diartikan. Namun ujung bibirnya melengkung.
"Siapa orangnya?" tanya Rara antusias.
"Itu, Dokter yang baru datang ke kampung kita, Kak. Kost mereka akan kita lalui bila mau pergi ke masjid."
Anda Mungkin Juga Suka





