
Kehormatan Yang ternoda
Bab 3
"Oh, Dokter tampan yang sedang menjadi buah bibir di kampung ini. Dokter muda dan tampan yang tengah menjadi perbincangan hangat mulai dari gadis desa sini, hingga para emak-emak yang menginginkan mereka untuk jadi menantu. Diantara mereka bertiga, yang mana?"
"Namanya Evan," jawab Salmah malu-malu.
"Sudah Kenalan rupanya?" goda Rara.
"Tidak. Dia sendiri yang memperkenalkan diri."
Rara menatap teduh pada adiknya itu. Ia sangat senang sekali Salmah akhirnya mau membuka hatinya. Karena selama ini Salmah selalu menyendiri dan tidak pernah bergaul dengan teman sebayanya.
Bukan tanpa alasan. Salmah menjadi pribadi tertutup begini adalah efek dari bullying yang selalu dia terima dari teman-temannya juga dari keluarga besar sendiri. Alasannya hanya karena faktor ekonomi dan wajah pas-pasan yang ia miliki.
"Kakak sangat bahagia melihat kamu dalam situasi sekarang. Keluar dari keterpurukan dan rasa kurang percaya diri. Kamu berhak untuk menjalani hidup seperti semestinya."
"Dan tentang pertanyaan kamu sore tadi, tentang dongeng Cinderella bisa saja berlaku kepada siapa pun saja."
"Tapi, aku takut berharap, Kak. Berharap seorang diri yang mustahil untuk digapai. Jadi sebelum semuanya menjadi terasa sakit lebih baik dari sekarang aku menyudahinya."
"Lho, baru tadi kakak bilang, jangan merasa rendah diri. Kehidupan tidak ada seorangpun yang tahu kedepannya bagaimana,"
"Jadi, Kak! bagaimana dengan pertanyaanku yang tadi?"
"Yang mana?"
"Cara melupakan. Aku sampai lelah memejamkan mata."
"Ya, nikmati saja. Karena perasaan yang baru tumbuh tidak akan mudah untuk di kubur."
"Jadi?"
"Ya, itu. Nikmati saja! Bawa sholat dan sisipkan namanya dalam doamu," goda Rara sambil mengedipkan mata. Lalu dia langsung pergi meninggalkan Salmah seorang diri.
Salmah melempar gulingnya pada Rara yang hampir menghilang di balik pintu kamar.
"Oke, baiklah. Aku akan sholat sekarang. Mudahan aku bisa tidur nyenyak." gumam Salmah.
****
Saat ketika Dokter muda itu akan keluar dari kost untuk pergi ke masjid. Dari kejauhan tampak Salmah sedang berjalan dengan Syakil.
"Sudah punya suami rupanya. Pantesan aja dia tidak menggubris," gumam Evan lirih.
"Kamu kecewa? Kasihannya jadi jomblo akut seperti kamu ini. Istri orang disangka gadis," ejek Jhondra.
"Dia masih terlihat sangat muda. Jadi wajarlah aku mengira dia gadis."
"Bukannya gadis desa memang begitu? mereka tidak berpendidikan, jadi lebih memilih untuk berumah tangga di usia muda," jawab Jhondra merendahkan.
Di teras masjid, mereka mendengar suara Salmah sedang mengaji.
"Masya Allah, sungguh menyejukkan jiwa. Rasanya adem mendengar suara dia," gumam Gavin takjub. Salmah gadis pemalu dan pendiam juga berhijab. Masuk dalam kategori istri idaman Gavin. Gavin berharap dalam hati semoga kelak dia bisa mendapatkan jodoh yang seperti gadis ini.
"Woi, sadar! sudah istri orang." bisik Evan menyenggol bahu Gavin.
"Satu lagi terkena virus. Gadis kampung seperti itu tidak habisnya jadi topik mereka," ucap Jhondra.
"Aku hanya sekedar mengagumi saja. Dan seandainya ada stok seperti itu lagi, pasti akan aku lamar untuk di jadikan sebagai seorang istri," ucap Gavin.
Jhondra langsung menahan tawa.
"Puff, hampir lupa, kamu 'kan juga dari kalangan bawah. Yah, jadi sepadanlah. Seleranya pasti tidak jauh dari model beginian," ejek Jhondra.
Gavin tidak menghiraukan ocehan Jhondra. Dia seakan sudah terbiasa mendengar setiap kata yang tidak baik dari mulut temannya ini. Gavin langsung pergi meninggalkan mereka berdua masuk ke dalam Masjid.
Setelah kepergian Gavin, Evan langsung memukul bahu Jhondra dan menasehatinya.
"Kamu keterlaluan Jhon! Gavin itu teman kita. Tidak seharusnya berucap menghinanya seperti tadi."
"Salah dia sendiri." Jhondra berjalan masuk ke masjid. Evan mengejarnya dan ikut duduk di sebelahnya.
Di balik tirai pemisah shaf lelaki dan perempuan. Terdengar suara Salmah sedang berbicara dengan Ustadz.
"Alhamdulillah, Nak Salmah sudah ikut berpartisipasi dalam mendidik anak-anak desa dengan mengajari mereka tanpa pamrih. Semoga Allah mengirimkan jodoh yang baik lagi sholeh." Doa sang Ustadz tulus.
Doa sang Ustadz langsung di amini oleh Salmah. Sementara Jhondra, Evan dan Gavin yang mendengar percakapan itu membuat mereka heran.
"Mengapa pak Ustadz mendoakan dia dapat jodoh? apa dia seorang janda?" tanya Evan kepo.
"Bukan urusanku. Lagi pula tidak ada yang akan betah punya istri yang berwajah biasa seperti dia," jawab Jhondra masih dengan mulut pedasnya. Entah mengapa dia seakan tidak menyukai Salmah. Entah apa kesalahan gadis itu kepada dirinya.
Usai melaksanakan sholat, mereka langsung pulang. Beriringan dengan Salmah dan Syakil.
Evan berbasa-basi menegur Salmah.
"Suaminya tidak ikut sholat, Neng?"
Syakil bocah lelaki itu menjawab pertanyaan tersebut.
"Tante belum punya suami, om," jelasnya menatap ke atas untuk melihat Evan.
"Tante? jadi ini Tantenya?"
"Iya, om Tante Salmah," jawab Syakil lagi.
Sementara Salmah, hanya menatap wajah Evan sekilas lalu menundukkan kepalanya kembali. Jantungnya berulah lagi hingga dia berkeringat dingin. Karena grogi dia pun mengajak Syakil pulang.
"Maaf, kami harus pulang sekarang," Salmah permisi kepada Evan kemudian membimbing tangan keponakannya itu untuk pergi dari sana buru-buru.
"Salmah! nama yang bagus," ucap Evan menatap kepergian Salmah.
"Biasa saja. Tidak ada bagus-bagusnya. Bahkan seribu gadis seperti dia bisa aku dapatkan hanya dengan satu kali jentikan jari tangan," balas Jhondra angkuh.
Mendapati keangkuhan Jhondra membuat Evan geram. Lalu dia menantang Jhondra untuk taruhan.
"Kalau begitu, aku tantang kamu untuk mendapatkan cinta gadis itu. Seandainya kamu bisa, semua keinginan kamu akan aku penuhi," tantang Evan.
"Ah, ngapain? aku tidak tertarik sedikitpun melihat dia."
"Katakan saja kalau kamu takut. Dasar pengecut! katanya kamu primadona setiap gadis. Ditantang untuk merebut hati seorang gadis desa saja tidak berani," cibir Evan.
Gavin yang diam sedari tadi melihat perdebatan kedua temannya ini angkat bicara.
"Jangan mempermainkan perasaan orang lain demi ego kalian, kasihan orang yang tidak bersalah jadi korban," Gavin menasehati kedua temannya ini. Karena menurut dia mereka berdua ini sudah keterlaluan.
Namun ucapan yang dilontarkan Evan kepadanya sangat menghina harga dirinya yang begitu angkuh.
"Oke! Siap-siap saja kamu jatuh miskin," gertak Jhondra geram.
*****
Karena taruhan dengan Evan kemarin, terpaksa Jhondra harus menurunkan standar statusnya. Walaupun berat hati tetap saja ia berusaha untuk mendapatkan cinta Salmah supaya dia memenangkan taruhan.
Taruhan yang ia yakini akan membuat jatuh miskin temannya itu. Karena Jhondra yakin Salmah akan langsung meleleh saat dia menyatakan cinta. Sama seperti gadis lain yang selalu mengharapkan Jhondra menjadi kekasih.
Ketika Salmah melewati kost mereka, Jhondra menegur gadis itu dengan sangat ramah. Berbasa-basi bertanya berbagai hal sebagai upaya pendekatan.
Siapa yang tidak meleleh hatinya ketika seorang Jhondra yang tampan rupawan memberikan perhatian. Begitu juga dengan Salmah. Namun begitu, hatinya sudah duluan tertambat pada Evan pada pandangan pertamanya. Jadi Salmah hanya menanggapi Jhondra dengan biasa saja.
Pada suatu Sore Jhondra mengajak Salmah untuk bertemu dengan dia selepas ashar.
"Mau kemana Jhon?" tanya Evan ketika melihat Jhondra bersiap dan terlihat rapi.
"Mau menunjukkan kepada kamu secepatnya bahwa aku ini bukan pengecut. Dan bersiaplah untuk memenuhi apapun keinginanku."
Anda Mungkin Juga Suka





