Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kehadirannya Membuatku Tersiksa

Kehadirannya Membuatku Tersiksa

Hidup Arlena berubah total pasca perjodohan mendadak dengan pria asing. Alih-alih pernikahan datar, suaminya justru sangat perhatian dan selalu hadir menuntaskan masalahnya secara misterius. Rahasia besar terungkap saat Arlena melihat siaran televisi tentang miliarder tampan yang sangat memuja istrinya. Arlena syok menyadari pria di layar adalah suaminya sendiri. Ternyata, di balik kesederhanaan mereka, tersimpan kekuasaan besar dan cinta tulus sang suami.
Bab
Bagikan

Bab 3

Arlena membuka mata lebih awal dari biasanya. Cahaya fajar yang lembut menembus tirai jendela penthouse, menyoroti ruangan luas yang biasanya terasa aman namun kini terasa asing baginya. Pikirannya masih dipenuhi bayangan ancaman yang ia dengar dari pria misterius di kafe. Ada banyak hal yang belum ia mengerti tentang dunia Arvan, dan yang lebih menakutkan, banyak hal itu menyangkut dirinya sendiri.

Ia duduk di tepi tempat tidur, tangan mengepal selimut, mencoba menenangkan diri. "Aku tidak bisa terus hanya menunggu," bisiknya. "Jika aku ingin bertahan... aku harus bertindak."

Seusai sarapan, Arlena mengenakan blazer abu-abu gelap dan celana panjang hitam, berpakaian seperti wanita karier yang siap menghadapi dunia. Tujuannya hari itu adalah pertemuan dengan salah satu anak perusahaan Arvan, sebuah perusahaan yang tampaknya biasa tapi ternyata memiliki keterkaitan dengan jaringan rahasia suaminya.

Saat memasuki gedung tinggi itu, Arlena merasakan tatapan orang-orang yang tampak mengenalinya, sebagian dengan kagum, sebagian dengan rasa ingin tahu. Ia melangkah mantap menuju ruang rapat, membawa dokumen yang ia temukan dari kafe sebagai acuan.

Di ruang rapat, Arlena disambut seorang pria paruh baya dengan setelan rapi. "Nyonya Arvan," sapanya, menunduk sopan. "Senang bertemu Anda lagi."

Arlena mengangguk tipis, menatap sekeliling. Ruangan itu luas, dengan layar besar di dinding yang menampilkan grafik keuangan dan statistik proyek perusahaan. Ada aura serius di udara, yang langsung membuat Arlena sadar bahwa ini bukan sekadar urusan bisnis biasa.

Pria paruh baya itu, yang memperkenalkan dirinya sebagai Mr. Fadli, memulai pembicaraan dengan nada formal namun tegas. "Kami menghadapi masalah besar dengan proyek terbaru. Investor mulai meragukan kelayakan, dan ada tekanan dari pihak luar yang ingin menggoyahkan stabilitas perusahaan."

Arlena menatap grafik di layar. Ada pola yang mencurigakan-beberapa transaksi tampak tidak wajar, beberapa angka tampak dimanipulasi. Intuisi bisnisnya mulai bekerja, meskipun ia baru mengenal dunia ini. "Apakah ini mungkin sengaja dibuat untuk menekan perusahaan?" tanyanya.

Mr. Fadli menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Kemungkinan besar, Nyonya. Ada pihak yang ingin mengambil alih aset tertentu. Mereka tahu Arvan tidak bisa langsung menolak tekanan ini, jadi mereka bermain secara halus."

Arlena menahan napas. Ancaman itu bukan lagi kabar burung; ia merasakannya di udara. Dunia Arvan ternyata jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan. Tapi ada dorongan dalam dirinya yang memberitahu: ini saatnya dia menunjukkan kemampuan dan keberanian yang belum pernah ia sadari.

"Baik," kata Arlena, menatap layar dengan fokus. "Kita harus menyiapkan strategi. Tidak cukup hanya menunggu Arvan mengurus semuanya. Aku ingin terlibat. Aku ingin tahu apa yang bisa aku lakukan untuk membantu."

Mr. Fadli menatapnya dengan campuran kagum dan waswas. "Nyonya... jika Anda benar-benar ingin terlibat, ini akan berisiko. Dunia bisnis ini kejam, dan beberapa pihak tidak segan menggunakan cara licik untuk menang."

Arlena mengangguk. "Aku mengerti risikonya. Tapi aku tidak bisa hanya diam. Jika aku ingin tetap berada di sisi Arvan dan bertahan di dunia ini... aku harus mulai belajar, mulai bertindak."

Hari itu, Arlena ikut dalam rapat strategis, mempelajari alur transaksi, pola investor, dan tekanan eksternal yang membayangi perusahaan. Ia menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tajam, mengejutkan beberapa eksekutif yang tidak menyangka istrinya memiliki analisis yang kritis.

Namun, ketegangan terbesar terjadi ketika seorang pria dari investor tiba-tiba menelpon, meminta pertemuan mendesak di gedung lain. Arlena menyadari ini bukan kebetulan. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik panggilan itu. Ia memutuskan untuk pergi sendiri, meskipun peringatan Mr. Fadli mengalun di telinganya: "Jangan pergi sendiri, Nyonya."

Hujan turun deras saat Arlena sampai di gedung investor. Ia memasuki ruang tunggu, menunggu pria yang menelponnya. Beberapa menit kemudian, seorang pria berjas hitam dengan raut serius muncul. "Nyonya Arvan," katanya. "Kami perlu bicara tentang hal yang tidak bisa dibicarakan melalui telepon."

Arlena menatapnya, waspada. "Apa yang ingin Anda bicarakan?"

Pria itu mencondongkan badan, menurunkan suara. "Ada pihak yang menargetkan perusahaan dan keluarga Anda. Mereka tahu hubungan Anda dengan Arvan, dan mereka melihat Anda sebagai titik lemah. Kita harus segera bertindak sebelum sesuatu terjadi."

Arlena merasakan jantungnya berdebar kencang. Dunia yang ia masuki ternyata penuh dengan ancaman nyata, bukan sekadar misteri atau rahasia kecil. Dan kini, ia menjadi target secara langsung.

Tanpa kehilangan kesadaran, Arlena mulai memetakan situasi. Ia tahu harus tetap tenang, memikirkan strategi. Ia juga mulai menyadari bahwa Arvan mungkin telah merencanakan ini sejak awal-bahwa semua ini bukan hanya ujian, tetapi bagian dari dunia yang harus ia pahami jika ingin bertahan.

Malam itu, Arlena kembali ke penthouse. Arvan menunggunya dengan secangkir teh hangat, tatapannya lembut namun penuh perhatian. "Kamu pulang basah," katanya sambil menepuk pundaknya.

Arlena menatapnya, mencoba menyembunyikan ketegangan yang masih menghantui. "Ada masalah. Lebih serius dari yang kukira. Aku... hampir menjadi target."

Arvan mendekat, matanya tajam namun tenang. "Aku sudah memperkirakan kemungkinan itu. Aku ingin kau tetap aman, tapi aku juga ingin kau mulai memahami dunia ini. Kau harus siap, Arlena. Tidak ada jalan kembali."

Arlena menatapnya, campuran antara takut dan tekad. "Aku siap. Aku tidak ingin lagi hanya diam. Aku akan belajar, aku akan bertindak. Dan aku akan bertahan."

Arvan tersenyum tipis, menepuk tangannya. "Itulah yang aku harapkan. Dunia kita keras, tapi aku tahu kau lebih kuat daripada yang kau kira. Dan kau tidak akan sendiri."

Malam itu, Arlena duduk di ruang kerjanya, menatap peta dan dokumen yang kini mulai ia pelajari dengan tekun. Ia menyadari satu hal: untuk bertahan di sisi Arvan, ia harus menjadi lebih dari sekadar istri. Ia harus menjadi sekutu, analis, bahkan pelindung-semua dalam satu paket.

Di luar penthouse, hujan masih turun deras, menimpa kota yang gemerlap. Arlena merasa gelombang baru tantangan menghampirinya, tapi kali ini ia tidak lagi takut. Ia siap menghadapi dunia yang selama ini tersembunyi dari matanya-dunia yang penuh intrik, bahaya, dan rahasia.

Dan begitu, Arlena mengangkat kepalanya, menatap layar laptop yang penuh dokumen, dan berbisik: "Aku tidak akan mundur. Aku akan menguasai permainan ini... dan aku akan bertahan, apapun yang terjadi."

Arlena duduk di kursi ruang tamu penthouse, menatap secangkir kopi yang mengepul di tangannya. Kota di bawahnya terlihat seperti hamparan lampu yang menenangkan, namun hatinya sama sekali tidak tenang. Malam sebelumnya ia mendapat pesan tak terduga dari seorang wanita yang mengaku mengenal Arvan sejak lama—seorang perempuan yang tampaknya mengetahui sisi lain suaminya yang tidak pernah diceritakan pada siapapun.

Pesan itu singkat, tapi cukup untuk membuat Arlena terjaga sepanjang malam:

"Arlena, kau pikir kau mengenal Arvan, tapi ada hal yang bahkan aku sendiri baru tahu belakangan. Datanglah ke alamat ini malam ini. Jangan bilang siapa pun. – R."

Rasa penasaran dan ketakutan bersatu dalam dirinya. Arlena tahu ini bisa berisiko, tapi ada sesuatu yang memberinya dorongan: ia ingin tahu kebenaran tentang pria yang ia nikahi.

Malam itu, Arlena mengenakan mantel panjang berwarna gelap, menutupi wajahnya sebisa mungkin, dan melangkah keluar dari penthouse. Taksi yang ia pesan membawanya ke sebuah kompleks perumahan tua di pinggiran kota. Tempat itu tampak sepi, hanya ada lampu jalan yang berpendar samar.

Ketika ia melangkah ke depan rumah yang dituju, seorang wanita berdiri di ambang pintu. “Arlena?” tanya wanita itu dengan suara rendah, tapi tegas.

Arlena mengangguk. “Ya… kau R, kan?”

Wanita itu tersenyum tipis. “Aku memang R. Masuklah. Kita tidak punya banyak waktu.”

Begitu memasuki rumah, Arlena merasakan suasana yang berbeda—hangat, tapi juga penuh rahasia. Lampu-lampu redup dan rak-rak penuh dokumen membuatnya sadar bahwa wanita ini bukan sembarang orang.

“Kau ingin tahu tentang Arvan,” kata R, sambil menggeser dokumen ke arah Arlena. “Aku mengenalnya sejak lama. Dia bukan hanya miliarder yang tampak sempurna. Ada masa lalu, dan ada orang-orang yang pernah dekat dengannya tapi menghilang begitu saja dari hidupnya. Dan sekarang, kau adalah bagian dari dunia itu.”

Arlena menelan ludah. “Apa maksudmu… menghilang begitu saja?”

R menatapnya tajam. “Ada pihak yang ingin menguasai kekuasaan Arvan. Orang-orang yang dulu dekat dengannya, yang tahu rahasianya, tiba-tiba lenyap. Kau harus tahu ini bukan kebetulan. Dan sekarang, mereka mulai memperhatikanmu.”

Detik-detik itu membuat jantung Arlena berdegup kencang. Semua rahasia yang ia curigai selama ini ternyata jauh lebih gelap daripada yang ia bayangkan. Ia merasa seperti masuk ke labirin yang penuh jebakan dan bayangan.

“Kalau begitu… apa yang harus kulakukan?” tanyanya, suaranya bergetar namun tegas.

R menarik nafas panjang. “Pertama, jangan pernah mempercayai siapa pun sepenuhnya—bahkan Arvan. Kedua, kau harus mulai mengumpulkan informasi sendiri. Dan ketiga, kau perlu sekutu. Aku bisa membantumu… tapi kau harus bersedia berani.”

Arlena menatap mata R, melihat ketegasan yang menyiratkan pengalaman dan pengetahuan yang dalam. Ia tahu, meskipun risikonya besar, ini adalah satu-satunya cara untuk memahami dunia suaminya. “Baik… aku siap.”

Malam itu, Arlena pulang dengan hati yang campur aduk—antara takut dan bertekad. Begitu ia sampai di penthouse, Arvan sudah menunggunya di ruang tamu, duduk dengan santai. “Kau pulang lebih larut dari biasanya,” katanya dengan nada ringan.

Arlena menatapnya, menahan keinginannya untuk mengatakan hal-hal yang baru saja ia pelajari. “Aku… hanya berjalan-jalan. Butuh udara malam,” jawabnya, suara tenang tapi penuh arti.

Arvan tersenyum tipis, menatap matanya. “Aku mengerti. Tapi kau harus hati-hati, Arlena. Dunia di luar sana tidak seaman yang kau kira.”

Keesokan harinya, Arlena kembali menelusuri jejak rahasia Arvan, kali ini lebih dalam ke dunia bisnis keluarga. Ia menemukan bahwa beberapa anggota keluarga Arvan memiliki pengaruh besar di berbagai lembaga dan perusahaan, namun tidak semuanya berpihak padanya. Ada ketegangan internal, perselisihan lama yang tersembunyi di balik senyum manis dan ucapan sopan.

Suatu sore, Arlena menerima panggilan dari sepupu Arvan, seorang pria bernama Adrian, yang selama ini jarang muncul di kehidupan Arvan. “Arlena… aku dengar kau mulai mengorek beberapa hal,” kata Adrian, nada suaranya sulit dibaca.

Arlena menatap telepon dengan waspada. “Apa maksudmu?” tanyanya, berusaha tetap tenang.

Adrian menghela napas. “Hidup kita penuh rahasia, Arlena. Dan beberapa rahasia itu berbahaya. Tapi aku… aku ingin membantumu. Ada pihak dalam keluarga yang tidak menyukai Arvan, dan mereka mulai menargetmu. Kau harus tahu siapa sekutu dan siapa lawanmu.”

Arlena merasa detak jantungnya meningkat. Sekutu baru, tapi juga peringatan tentang bahaya yang nyata. Ia sadar bahwa dunia yang ia masuki semakin rumit. Ia tidak hanya berhadapan dengan bisnis, tetapi juga intrik keluarga, pengkhianatan, dan sejarah masa lalu yang membayangi setiap langkahnya.

Hari-hari berikutnya, Arlena mulai berinteraksi lebih dekat dengan Adrian dan R, mengumpulkan informasi sambil tetap berpura-pura menjalani kehidupan sebagai istri Arvan yang sempurna. Ia menghadiri jamuan, rapat bisnis, dan acara sosial, namun setiap langkahnya di bawah pengawasan mata-mata yang tidak terlihat.

Suatu malam, saat Arlena sedang meneliti dokumen di ruang kerjanya, ia mendengar suara langkah kaki di koridor. Sebelum sempat menoleh, seseorang mengetuk pintu. Arlena menahan napas, menunggu siapa yang datang.

Pintu terbuka perlahan, dan R masuk, menutup pintu di belakangnya. “Kau harus berhati-hati,” katanya, menatap Arlena dengan serius. “Mereka mulai bergerak lebih dekat. Ini bukan lagi teori… ini nyata. Ada orang yang akan mencoba menghentikanmu karena mereka takut rahasia terbongkar.”

Arlena menatap mata R, merasakan ketegangan yang menekan dada. Ia tahu, meskipun Arvan selalu tampak melindunginya, ada banyak hal yang berada di luar kendali siapa pun. Dunia ini penuh intrik, dan setiap langkah bisa menjadi jebakan.

Ia menarik napas dalam-dalam. “Aku tidak bisa mundur sekarang. Aku harus menghadapi semua ini… untuk diriku sendiri dan untuk tahu siapa Arvan sebenarnya.”

R menepuk pundaknya, seakan memberi dukungan tanpa kata. “Kau memiliki tekad yang kuat, Arlena. Dan itu satu-satunya hal yang bisa membuatmu bertahan di dunia ini. Tapi ingat… jangan pernah menyepelekan musuhmu.”

Malam itu, Arlena duduk di jendela ruang kerja, menatap lampu kota yang memantul di genangan hujan. Ia menyadari satu hal: dunia suaminya bukan hanya soal kekayaan dan cinta, tapi juga kekuasaan, intrik, dan rahasia yang bisa menghancurkan siapa pun yang salah langkah.

Dan begitu, dengan tekad yang baru ditemukan, Arlena menutup buku catatan dan dokumen rahasia, menatap cermin, dan berbisik:

“Aku akan bertahan. Aku akan mengungkap semua rahasia ini… dan aku tidak akan takut.”

Ia tahu bahwa jalan di depannya panjang dan berbahaya. Ada pengkhianatan yang menunggu, ada musuh yang tersembunyi, dan ada rahasia yang harus ia bongkar, satu demi satu. Tapi kali ini, ia siap—tidak hanya sebagai istri Arvan, tetapi sebagai Arlena yang tangguh, cerdas, dan siap menghadapi dunia yang penuh intrik dan misteri.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Accidentally Fall For You
9.6
Arsenio Orlando Lazcano adalah CEO Lazcano's Corps yang kaya dan penuh kharisma. Di balik pesonanya, ia menyembunyikan sisi gelap sebagai pria yang tak segan membunuh. Namun, dunianya yang kelam berubah total setelah sebuah insiden mempertemukannya dengan seorang gadis lugu yang sangat baik hati. Perbedaan kepribadian yang kontras justru memicu rasa penasaran Arsen. Ketertarikan mendalam pun muncul saat ia mulai terobsesi pada gadis yang sangat polos tersebut.
Sampul Novel BUKAN SUAMI RAHASIA
8.1
Ava dan Jay terjebak dalam pernikahan paksa selama dua tahun. Sementara Jay terus berselingkuh, Ava membalasnya dengan memadu kasih bersama pria kaya dari keluarga terpandang. Meski keduanya mendambakan perpisahan, perceraian bukanlah sebuah pilihan. Jay pun akhirnya setuju membiarkan Ava menjalani hubungan tersembunyi dengan lelaki lain. Namun, mampukah rahasia besar ini bertahan selamanya tanpa terungkap ke permukaan? Akankah sandiwara mereka terus berjalan?
Sampul Novel CALON MERTUAKU
8.1
Indah terjebak dalam rasa penasaran mendalam terhadap Om Andi, seorang pria kaya raya yang telah lama menduda. Di balik ketampanan dan kemewahan hidupnya, tersimpan sisi misterius yang sulit ditembus. Akankah Indah berhasil mengungkap kebenaran di balik rahasia yang disembunyikan pria tersebut? Ikuti perjuangan Indah dalam mencari jawaban atas segala teka-teki yang menyelimuti sosok calon mertuanya di tengah gelombang romansa dan misteri.
Sampul Novel CLARITTA, KAMU MILIKKU
9.1
Claritta Indriana, model populer, terjerat dalam pernikahan rumit dengan pewaris Andromeda Group, Aslan Teryeka. Meski mengaku cinta, Aslan memperlakukan Claritta semena-mena dan bersikap posesif, bahkan tega berselingkuh dengan sekretarisnya. Di tengah pengkhianatan dan kebencian Aslan yang membara, Claritta terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia bertahan sebagai boneka dalam hubungan hancur ini, atau memilih menghilang selamanya demi meraih kebebasan?
Sampul Novel Dalam Pelukan (Sang ) CEO
9.1
Kevin Hadiwajaya, CEO sukses berjuluk monster berwajah malaikat, terobsesi menjadikan asisten pribadinya, Sarah Rania, miliknya seutuhnya. Namun, langkah Kevin terhalang oleh Hansen Rudolf, sahabat kecilnya yang juga mencintai Sarah dengan kelembutan. Di tengah persaingan sengit dua pria ini, Sarah terjebak dalam pertarungan emosi yang memilukan. Akankah ia bertahan dalam pelukan sang bos yang tegas, atau berpaling pada Hansen yang selalu menyapanya dengan kasih?
Sampul Novel Derita Seorang Gadis Desa
9.4
Alya, gadis yatim piatu lulusan SMP, nekat merantau ke kota demi membiayai neneknya yang sakit. Nasib membawanya bekerja di kediaman Ibu Ratna yang baik hati. Namun, hidupnya hancur saat Arka, putra majikannya, pulang dan merenggut kehormatannya secara paksa. Bukannya bertanggung jawab, Arka justru menghina dan mengusir Alya dengan kejam. Di tengah luka batin yang mendalam, Alya harus berjuang bangkit menghadapi kenyataan pahit demi kelangsungan hidupnya.