Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kebangkitan Wanita Cacat Yang Dikhianati

Kebangkitan Wanita Cacat Yang Dikhianati

Silvia Rahman, wanita difabel, mengira cinta Dion Kurniawan tulus. Namun, pendengarannya pulih dan mengungkap fakta keji: Dion sengaja menghambat kesembuhannya demi berselingkuh dengan Arini. Saat pesta, Dion menghinanya, sementara Arini mencoba membunuhnya lewat tabrak lari. Kini, Silvia bertekad membalas dendam. Di hari pernikahan, ia menyiapkan kejutan mematikan yang akan membongkar kebusukan Dion sebelum ia menghilang dengan identitas baru.
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku, Silvia Rahman, seorang wanita cacat yang bertunangan dengan dokter bedah saraf terkemuka, Dion Kurniawan. Aku buta, tuli, dan bisu setelah sebuah kecelakaan, dan percaya bahwa belas kasihannya adalah cinta sejati.

Namun, keajaiban terjadi. Pendengaranku pulih secara diam-diam, dan aku mendengar kebenaran yang menghancurkan: Dion sengaja membuatku tetap cacat agar bisa berselingkuh dengan kekasihnya, Arini, tanpa rasa bersalah.

Di pesta ulang tahunnya, di depan teman-temannya, Dion dengan bangga mengakui perselingkuhannya. "Istri adalah simbol status, tapi kekasih adalah gairah yang tak bisa kau berikan," katanya, sementara teman-temannya menertawakanku. Dia bahkan mengaku telah meminta dokter untuk memastikan aku tidak akan pernah sembuh.

Rasa sakit itu menusukku lebih dalam ketika Arini dengan sengaja mengirimiku foto dan rekaman suara perselingkuhan mereka, mengejekku karena "tidak bisa menjadi wanita sejati" untuk Dion. Dia bahkan merekayasa sebuah kecelakaan tabrak lari, membuatku terluka parah, sementara Dion hanya peduli pada luka kecil di jari Arini.

Aku pernah rela mati untuknya. Sekarang, aku hanya ingin melihatnya hancur.

Di hari pernikahan kami, alih-alih pengantin wanita, Dion hanya akan menemukan peti mati kosong dan sebuah rekaman suara terakhir dariku. Aku akan membiarkan seluruh dunia mendengar kebusukannya, sebelum aku menghilang selamanya dengan identitas baru.

Bab 1

Silvia Rahman POV:

Aku, Silvia Rahman, tunangan seorang dokter bedah saraf terkemuka, Dion Kurniawan, dulunya hanyalah seorang wanita cacat yang percaya buta pada cintanya. Aku membiarkan diriku tenggelam dalam ilusi, mengira belas kasihan adalah cinta sejati.

Aku pernah begitu yakin Dion mencintaiku. Percaya bahwa setiap sentuhan, setiap kata-kata manisnya, adalah tulus dari hati. Setelah kecelakaan itu, duniaku runtuh. Penglihatan parsialku membuat segalanya buram, dan pita suaraku lumpuh, hanya bisikan serak yang mampu keluar. Aku bergantung padanya, pada setiap gerakannya, setiap isyarat tangannya. Aku percaya dia adalah penyelamatku, pahlawan yang akan selalu ada.

Namun, beberapa minggu lalu, keajaiban kecil terjadi. Malam itu, aku terbangun dari tidurku dengan perasaan aneh di telingaku, seolah ada sesuatu yang pecah. Aku mencoba memejamkan mata, berharap itu hanya mimpi buruk. Tapi saat aku membuka mata lagi, suara kipas angin di kamar mulai terdengar samar. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri, berpacu kencang di dadaku. Duniaku yang sunyi senyap tiba-tiba dipenuhi bisikan, lalu berangsur-angsur menjadi suara yang jelas. Setelah berbulan-bulan dalam keheningan, telingaku kembali berfungsi. Itu seperti kebangkitan, dan aku menyimpannya rapat-rapat. Tidak ada yang tahu.

Kini, aku tahu. Aku tidak akan pernah menikahi Dion. Tidak setelah semua ini. Aku akan membatalkan pernikahan itu, tapi tidak dengan cara yang konvensional. Aku akan membiarkan Dion tenggelam dalam kebahagiaan palsunya, sebelum aku menariknya ke dalam kehancuran yang telah kurencanakan. Aku memesan layanan "transisi kehidupan", memalsukan kematianku sendiri akibat "komplikasi pasca-operasi". Pernikahan kami, yang seharusnya menjadi puncaknya, akan menjadi panggung bagi peti mati kosong dan replika diriku.

Malam ini adalah pesta ulang tahun Dion. Aku duduk di kursi roda, di tengah keramaian, mencoba menyembunyikan getaran di tanganku. Dion datang menghampiriku, senyum menawannya merekah di bibir. Dia membungkuk, mencium keningku dengan lembut.

"Apakah kamu baik-baik saja, sayang?" tanyanya dengan suara penuh perhatian, yang kini terdengar begitu menjijikkan di telingaku.

Aku hanya mengangguk, memaksakan senyum tipis. Aku masih berpura-pura tidak bisa mendengar. Itu adalah bagian dari rencanaku.

Dia mengambil piringku, lalu dengan gerakan anggun, mulai mengupas udang untukku. Gerakan-gerakan yang dulu kumaknai sebagai bentuk kasih sayang, kini terlihat seperti bagian dari sandiwara murahan.

"Dion benar-benar tunangan idaman, ya," ucap salah satu teman lama Dion, yang duduk di seberang kami. "Sabar banget ngurus Silvia yang kondisinya kayak gini. Salut!"

Teman yang lain tertawa, matanya melirikku sekilas. "Betul sekali. Jarang ada pria sebaik Dion. Apalagi dengan segudang kesibukannya, masih sempat manjain tunangannya."

Dion hanya tersenyum tipis, merespons pujian itu dengan anggukan kepala yang merendah. Tangannya tetap sibuk, membersihkan udang dengan telaten.

"Tapi jangan salah paham, Dion juga butuh 'hiburan' lain," celetuk temannya lagi, suaranya sedikit lebih keras. "Kan nggak mungkin selamanya sama yang 'kurang' gini."

Aku merasakan cengkeraman tanganku pada garpu semakin kuat. Sendok di tanganku berderit. Otot-otot di pipiku menegang, mencoba menahan ekspresi yang mungkin akan mengkhianatiku. Aku menunduk, pura-pura tidak mendengar. Pemandangan udang yang dikupas Dion di piringku tiba-tiba terasa begitu menjijikkan.

Aku menunggu. Menunggu Dion membantah, menunggu dia membela kehormatanku. Tapi yang ada hanyalah keheningan. Dia menyelesaikan mengupas udang, meletakkannya di piringku seolah tidak ada yang terjadi. Kemudian ia menyerahkan garpu bersih kepadaku dengan senyum yang sama sekali tidak berubah.

"Kau beruntung, Silvia," kata Dion, suaranya pelan tapi jelas, seolah itu adalah sebuah rahasia yang hanya ia dan aku yang tahu. Namun aku tahu, itu adalah bagian dari pertunjukan. "Menikah denganku adalah keberuntungan terbesarmu."

Aku mengangkat pandanganku, menatapnya, dan merasakan mual yang luar biasa. Matanya, yang dulu kupikir penuh cinta, kini terlihat kosong, tanpa belas kasihan.

"Apakah kau masih mengharapkan kesetiaan dariku, setelah semua ini?" ia bertanya, dengan nada mengejek yang sama sekali tidak ia sembunyikan.

"Istri dan kekasih itu berbeda, Silvia," lanjutnya, matanya berkeliling, seolah semua orang di meja ini adalah penonton setia dari sandiwara mengerikan yang ia mainkan. "Istri adalah wanita yang mendampingimu di rumah, yang mendengarkan keluh kesahmu, yang mengurus kebutuhanmu di rumah. Ia adalah simbol status, representasi kesuksesanmu di mata masyarakat. Kau adalah isteri. Kau akan selalu ada di rumahku."

Aku menahan napas, dadaku terasa sesak. Dion seolah belum puas menyiksaku.

"Tapi kekasih..." ia melanjutkan, bibirnya membentuk senyum tipis yang memuakkan. "Kekasih adalah wanita yang memuaskan segala hasrat pribadiku, yang mengerti kebutuhanku akan petualangan, hasrat tersembunyi yang tak bisa kau berikan. Ia adalah gairah, sensasi bahaya. Dan aku akan selalu menjamin kehidupannya,"

Suara tawa dan sorakan kecil dari para pria di meja itu terdengar. Mereka tertawa, seolah ini adalah lelucon paling lucu di dunia. Aku merasa terhina, martabatku diinjak-injak di depan mata mereka. Di depan pria yang berjanji akan menjagaku selamanya. Darahku mendidih, namun aku harus tetap tenang. Aku harus tetap menjadi Silvia yang rapuh, yang tidak berdaya. Aku memejamkan mata sejenak, menelan semua kekecewaan ini pahit-pahit.

---

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku yang Dinikahi, Selingkuhannya yang Dimanja
8.3
Hari pernikahan yang seharusnya sakral berubah hambar saat cinta pertama sang suami datang mengenakan gaun pengantin yang sama. Alih-alih murka melihat kebersamaan mereka, sang istri justru memuji keserasian keduanya. Reaksi tenang ini membuat wanita itu menangis lalu pergi, memicu kemarahan suami yang menuduh istrinya berhati sempit. Usai resepsi, sang suami memilih membawa cinta pertamanya pergi berbulan madu. Tanpa berniat memicu pertengkaran, sang istri langsung mendaftarkan diri untuk melakukan prosedur aborsi.
Sampul Novel Cinta Memang Begitu
8.8
Kematian tragis mengakhiri hidupku yang penuh persaingan sia-sia melawan Emma Moore, anak angkat kesayangan orang tuaku yang bahkan menerima donor retinaku dan menikahi kakak kandungku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, aku memutuskan untuk tidak lagi memedulikan mereka atau memperebutkan kasih sayang yang tak pernah jadi milikku. Fokus pada diri sendiri justru membuka jalan menuju babak baru yang penuh kebahagiaan tak terduga.
Sampul Novel CLARITTA, KAMU MILIKKU
9.1
Claritta Indriana, model populer, terjerat dalam pernikahan rumit dengan pewaris Andromeda Group, Aslan Teryeka. Meski mengaku cinta, Aslan memperlakukan Claritta semena-mena dan bersikap posesif, bahkan tega berselingkuh dengan sekretarisnya. Di tengah pengkhianatan dan kebencian Aslan yang membara, Claritta terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia bertahan sebagai boneka dalam hubungan hancur ini, atau memilih menghilang selamanya demi meraih kebebasan?
Sampul Novel Dendam Wanita Simpanan
8.1
Nayla terjebak dalam pusaran ancaman karena berusaha menghadapi masalahnya sendirian. Sumpah yang dilontarkan Kak Yuni kini seolah mulai menghantui kenyataan hidupnya. Merasa muak terus dituduh dan difitnah sebagai sosok perusak rumah tangga orang lain, Nayla akhirnya mengambil langkah ekstrem. Ia bertekad untuk mewujudkan semua label buruk tersebut menjadi nyata sebagai bentuk pembalasan atas segala penderitaan yang ia alami selama ini.
Sampul Novel DIBALIK CADAR ISTRIKU
9.5
Terjebak dalam pernikahan dengan Azizah tidak menghentikan perasaan lelaki ini terhadap Azkia, sosok cantik yang memikat hatinya. Keadaan kian rumit karena ia sama sekali belum pernah melihat wajah istrinya yang selalu tersembunyi di balik cadar. Tanpa ia sadari, Azizah menyimpan sebuah rahasia besar yang belum terungkap. Apakah misteri di balik penutup wajah itu akan mengubah segalanya? Sebuah kisah tentang cinta, keraguan, dan rahasia yang terpendam.
Sampul Novel Kencan Buta Setelah Pulang Kampung
9.4
Tujuh tahun mendampingi Daniel Liman dan menciptakan banyak karya untuknya, Nadya Luandra justru harus menelan pil pahit. Di hari yang seharusnya menjadi momen lamaran mereka, Daniel malah mengumumkan kerja sama dengan cinta pertamanya, Yuna Fadian. Nadya yang menuntut penjelasan justru mendengar kenyataan pahit dari balik pintu bahwa dirinya selama ini hanyalah seorang pengganti. Kini, putri Keluarga Luandra ini harus menghadapi kenyataan dan menentukan langkah barunya.