
Keanehan Keluarga Pacarku
Bab 2
"Wanda, kalian lagi ngobrolin apa?" Jerry menghampiriku dan bertanya sambil tersenyum padaku.
Aku tersenyum canggung. "Aku mau menyapanya. Tapi, dia nggak peduli padaku."
Jerry melirik gadis kecil itu sekilas dan berkata dengan dingin, "Nggak usah dihiraukan. Dia itu bisu, nggak bisa ngomong."
Aku tertegun dan menatap gadis kecil itu dengan penuh simpati.
Gadis kecil itu melirik ke arah kami saat mendengar kata-kata tersebut. Tatapan sinis melintas di matanya. Kemudian, dia kembali menundukkan kepalanya.
Tanpa sadar, aku melihat ke arah Jerry. Namun, sepertinya Jerry tidak melihat tatapan mata gadis itu. Dia malah meraih tanganku untuk masuk ke rumah.
Aku terdiam sesaat dan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya dengan lembut, "Jerry, siapa gadis itu?"
Jerry merasa ragu-ragu untuk sesaat, lalu berkata dengan tidak sabar, "Dia itu adikku. Otaknya bermasalah sejak kecil, Jadi, nggak usah dipedulikan. Ayo, kita masuk. Ibu nggak mengizinkanku untuk membantunya dan memintaku untuk menemanimu."
Aku merasakan sesuatu yang berbahaya di dalam hati.
Gadis ini ternyata adalah adik Jerry? Dengan sikap acuh tak acuh mereka, kukira mereka itu adalah tetangga atau orang yang punya hubungan yang tidak baik dengan mereka.
Melihat sikap Jerry, kecurigaan di dalam hatiku menjadi makin besar.
Menurutku, Jerry adalah tipe pria yang hangat, lembut, sabar, ceria, dan suka tertawa. Tipe pria yang cocok dengan seleraku.
Namun, sekarang, sikap Jerry terhadap adiknya membuatku merasa merinding di dalam hati.
Jerry menoleh. Dia menyentuh kepalaku dan berkata sambil tersenyum, "Sudahlah, nggak usah dipikirkan. Aku menceritakan semuanya pelan-pelan padamu nanti."
Aku menganggukkan kepalaku.
Jerry menghela napas. "Adikku itu, hmm, namanya Yenny. Sebenarnya dia normal waktu masih kecil."
"Kemudian, tiba-tiba saja dia sakit parah. Otak dan tenggorokannya jadi rusak. Setelah sembuh, dia jadi benar-benar nggak normal, suka membuat keributan, kabur, atau memukul orang kalau nggak ada yang mengawasi."
"Aku harus pergi ke sekolah. Ibu nggak bisa mengawasinya sendiri. Jadi, Ibu nggak punya pilihan selain mengurungnya di rumah atau mengikatnya."
"Lalu, perlahan-lahan dia sedikit membaik dan berhenti membuat keributan. Tapi, dia jadi seperti ini sekarang. Hufh."
Jerry menceritakan semua itu dengan sungguh-sungguh.
Aku pun menghela napas dalam-dalam.
Sepertinya aku sudah salah sangka pada Jerry. Dia dan ibunya pasti juga mengalami banyak kesulitan.
Mengenai Yenny, benar-benar malang nasibnya.
Ketika tiba waktunya untuk makan, Bu Astri tidak mengizinkan Yenny untuk ikut makan di meja makan. Katanya, cara makan Yenny kurang sopan dan bisa merusak suasana.
Aku ingin mengatakan sesuatu. Namun, karena merasa sebagai tamu, aku pun memilih untuk diam.
Mungkin karena lelah, atau mungkin karena hal lain, aku merasa tidak nafsu makan dan makanannya juga terasa hambar.
Setelah makan, Bu Astri memanggil Yenny untuk menyuruhnya mencuci piring.
Bagaimanapun, ini pertama kalinya aku ke rumah mereka. Aku tidak ingin berebut mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Itu sebabnya, aku tidak mengatakan apa-apa.
Di sisi lain, Bu Astri mengajak Jerry untuk duduk di samping dan bertanya kepadanya.
Aku duduk di sana selama beberapa saat. Melihat sosok Yenny yang sibuk keluar masuk rumah, aku merasa sedikit tidak enak hati. Akhirnya, aku pun berdiri dan mengikuti Yenny ke dapur.
Anda Mungkin Juga Suka





