Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kau Tak Menyadari Disaat Aku Pergi

Kau Tak Menyadari Disaat Aku Pergi

Bianca adalah sosok istri idaman yang sangat manja dan penuh kasih, membuat Adrian merasa sangat dicintai. Namun, kebahagiaan itu hancur saat sebuah pesan misterius membongkar pengkhianatan Adrian. Alih-alih mengamuk, Bianca justru memilih membalas dengan keheningan yang dingin tanpa peringatan sama sekali. Adrian pun terperangkap dalam kebingungan mendalam, hingga ia akhirnya tersadar bahwa kehilangan cinta secara perlahan jauh lebih menyiksa.
Bab
Bagikan

Bab 2

Mobil itu melaju di jalanan Jakarta yang masih sepi di pagi buta. Bianca melirik spion, bayangan rumah yang semakin mengecil di belakangnya, lalu menghilang di balik deretan pepohonan. Tidak ada air mata. Tidak ada keraguan. Hanya kekosongan yang membekukan, sebuah lubang menganga di tempat yang seharusnya berisi hatinya. Ia tahu jalan ini. Ini adalah jalan menuju masa depan yang tidak pernah ia bayangkan.

Ia mengemudi tanpa tujuan pasti, hanya mengikuti naluri yang menyuruhnya untuk menjauh, sejauh mungkin dari kenangan dan pengkhianatan. Pikirannya kosong dari rencana, tapi jiwanya terasa penuh dengan tekad. Ia akan memulai lagi. Sendiri. Tanpa Adrian. Tanpa bayangan pengkhianatan yang terus membayangi.

Matahari mulai naik, mewarnai langit dengan spektrum warna oranye dan merah muda. Bianca memarkir mobilnya di sebuah taman kota yang belum terlalu ramai. Ia duduk di bangku taman, memandangi beberapa orang yang berolahraga pagi, anjing-anjing yang berlarian riang, dan burung-burung yang berkicau. Sebuah kontras yang tajam dengan badai di dalam hatinya.

Ponselnya berdering. Nama Adrian muncul di layar. Jantung Bianca berdesir, sebuah reaksi refleks yang segera ia tekan. Ia mengabaikan panggilan itu. Lalu panggilan kedua, ketiga. Adrian mulai mengirim pesan. Pesan yang penuh kebingungan, khawatir, dan pertanyaan.

Sayang, kamu di mana?

Kenapa kamu pergi? Apa yang terjadi?

Bianca, tolong jawab aku. Aku khawatir.

Aku pulang, dan kamu tidak ada. Aku melihat catatanmu. Ada apa ini?

Bianca membaca pesan-pesan itu, tanpa ekspresi. Catatan singkatnya hanyalah: "Aku pergi. Jangan mencariku." Ia ingin Adrian merasakan kebingungan yang sama, ketidakpastian yang sama, kehampaan yang sama. Ia ingin Adrian mencicipi pahitnya ketidaktahuan.

Ia mematikan ponselnya. Keheningan itu terasa seperti pelukan dingin, namun ia merangkulnya. Ia harus memutuskan ke mana ia akan pergi. Keluarganya? Ibunya akan mencemaskannya, menanyainya, dan mungkin akan memaksanya untuk kembali. Tidak, belum saatnya. Ia membutuhkan ruang, waktu untuk bernapas dan memulihkan diri.

Ada sebuah properti kecil di pinggir kota yang sudah lama menjadi impian Bianca: sebuah pondok tua dengan taman luas yang bisa ia ubah menjadi studio bunga impiannya. Mereka pernah mengunjunginya setahun yang lalu, Adrian sempat menyarankan untuk membelinya sebagai investasi. Bianca menggelengkan kepala. Itu terlalu jauh dari kota, terlalu jauh dari kehidupan mereka. Namun kini, jauh dari kota adalah persis apa yang ia butuhkan.

Ia menarik napas dalam-dalam. "Ini dia," bisiknya pada dirinya sendiri. "Awal yang baru."

Sementara itu, Adrian terbangun dengan perasaan aneh, semacam kekosongan di sisi tempat tidurnya. Ia mengulurkan tangan, mencari tubuh hangat Bianca, tapi yang ia temukan hanyalah seprai yang dingin. Ia membuka mata. Matahari sudah cukup tinggi, tapi Bianca tidak ada di sana.

"Sayang?" panggilnya, suaranya sedikit mengantuk. Tidak ada jawaban.

Ia bangkit dari tempat tidur, sedikit bingung. Bianca biasanya bangun lebih dulu, menyiapkan kopi, atau sibuk di studionya. Tapi rumah terasa sunyi, terlalu sunyi.

Adrian berjalan ke dapur. Cangkir kopi mereka tidak ada di tempatnya. Tidak ada aroma roti panggang. Segalanya terasa terlalu rapi, terlalu sepi. Sebuah kecemasan kecil mulai merayap di benaknya.

Lalu ia melihatnya. Di meja samping tempat tidur, sebuah catatan kecil. Dan di bawahnya, ponselnya, dengan panggilan tak terjawab dari "Klien Jaya" yang ia lupakan di sana tadi malam.

Adrian meraih catatan itu. Tulisan tangan Bianca, rapi, elegan, tapi isinya menusuk jantungnya. "Aku pergi. Jangan mencariku."

Napas Adrian tercekat. Matanya melebar. Apa? Pergi? Ke mana? Kenapa?

Ia buru-buru memeriksa lemari pakaian Bianca. Kosong. Beberapa laci terbuka. Sebuah koper kecil yang biasa Bianca gunakan untuk perjalanan singkat tidak ada di tempatnya.

"Bianca!" teriak Adrian, suaranya panik, menggelegar di rumah yang sepi. Ia berlari ke studio bunga Bianca. Ruangan itu juga terasa aneh, tidak ada aura kehidupan, tidak ada wangi bunga segar yang biasanya memenuhi ruangan.

Ia merogoh sakunya, mencari ponselnya, lalu teringat bahwa ia meninggalkannya di kamar. Ia berlari kembali ke kamar tidur, meraih ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Bianca. Kenapa ia tidak mengangkatnya? Kenapa ia tidak menyadarinya?

Adrian segera menelepon Bianca. Tidak ada jawaban. Panggilan langsung masuk ke kotak suara. Ia menelepon lagi, dan lagi. Sama. Ia mengirim pesan, menuntut penjelasan, hatinya berdebar tak karuan. Bingung. Marah. Panik.

Sayang, kamu di mana?

Kenapa kamu pergi? Apa yang terjadi?

Bianca, tolong jawab aku. Aku khawatir.

Aku pulang, dan kamu tidak ada. Aku melihat catatanmu. Ada apa ini?

Pesan-pesan itu membanjiri ponsel Bianca, tapi Adrian tidak tahu bahwa pesan-pesannya hanya menemukan kesunyian di ujung sana.

Adrian duduk di tepi tempat tidur, kepalanya pusing. Ia membaca kembali catatan itu. Jangan mencariku. Kata-kata itu terasa seperti pukulan. Ada apa ini? Ia tidak ingat ada pertengkaran. Mereka baik-baik saja tadi malam. Mereka pergi makan malam di Restoran Serenity, mereka tertawa, mereka saling berpegangan tangan. Bianca bahkan mengatakan Adrian adalah segalanya baginya. Lalu kenapa? Kenapa tiba-tiba Bianca pergi?

Pikirannya melayang kembali ke malam sebelumnya. Bianca tampak sangat bahagia. Adrian ingat senyumnya, tawanya, cara ia menatapnya. Semuanya tampak normal. Atau apakah ada sesuatu yang ia lewatkan?

Adrian mencoba mengingat. Apakah ada tanda-tanda? Pertengkaran kecil? Perubahan suasana hati? Tidak ada. Bianca adalah Bianca yang selalu ia kenal. Penuh cinta, manja, genit.

Atau apakah ia yang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri untuk melihatnya?

Ia bangkit, mondar-mandir di kamar. Apa yang harus ia lakukan? Menelepon keluarganya? Keluarga Bianca? Apa yang akan ia katakan? "Istri saya pergi dan meninggalkan catatan singkat tanpa penjelasan"? Itu akan menjadi skandal, aib.

Adrian duduk kembali, memijat pelipisnya. Ia tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti. Selama ini, ia selalu menganggap hubungannya dengan Bianca adalah sesuatu yang kuat, tak tergoyahkan. Bianca adalah dunianya. Dan sekarang, dunianya tiba-tiba runtuh, tanpa peringatan.

Ia merasa ada sesuatu yang salah, sesuatu yang ia lewatkan. Tapi apa?

Pandangannya jatuh pada ponselnya lagi. Panggilan dari "Klien Jaya" tadi malam. Ia ingat Bianca menanyakan siapa yang menelepon. Ia ingat bagaimana ia sedikit gelisah saat menjawabnya.

"Klien Jaya." Itu adalah nama kontak yang ia gunakan untuk... yah, untuk menjaga segala sesuatunya tetap terpisah.

Sebuah bayangan tipis melintas di benak Adrian. Mungkinkah Bianca mengetahui sesuatu? Tidak, tidak mungkin. Ia sangat berhati-hati.

Adrian membuka kontak "Klien Jaya". Foto profil wanita itu muncul. Maya. Wajahnya yang cantik, rambut pirangnya yang terang, senyumnya yang memikat. Maya, seorang desainer interior yang bekerja sama dalam proyek Klien Jaya. Ia memang sering bertemu Maya di luar jam kantor, membahas detail proyek, kadang-kadang makan siang bersama. Tapi itu hanya untuk pekerjaan. Atau apakah itu lebih?

Adrian menatap foto itu. Ia teringat makan siang mereka di kafe beberapa hari yang lalu, saat mereka tertawa terbahak-bahak tentang sesuatu yang konyol, dan Adrian tanpa sadar meraih tangan Maya, sebuah sentuhan spontan yang tidak berarti apa-apa baginya. Sentuhan pertemanan. Atau apakah bagi Maya dan bagi orang lain yang melihatnya, itu berarti lebih?

Jantung Adrian berdesir ketakutan. Mungkinkah ada seseorang yang melihat mereka? Mungkinkah seseorang salah paham dan mengirimkannya pada Bianca? Tidak, itu terlalu jauh. Bianca tidak mungkin begitu saja pergi hanya karena hal sepele seperti itu.

Namun, rasa gelisah mulai tumbuh di dadanya. Rasa bersalah yang samar, yang sebelumnya ia abaikan, kini mulai mencakar-cakar kesadarannya. Ia memang sedikit terlalu nyaman dengan Maya. Ia memang sering mengobrol dengan Maya lebih dari yang seharusnya dengan seorang rekan kerja. Terkadang mereka mengirim pesan di luar jam kerja, tentang hal-hal non-pekerjaan. Tapi itu tidak berarti-

Tidak, itu berarti. Itu berarti ia telah ceroboh. Ia telah membiarkan garis tipis antara profesionalisme dan keintiman menjadi kabur.

Tapi, apakah Bianca tahu semua ini? Apakah itu alasannya pergi?

Adrian menatap ponselnya, lalu ke catatan Bianca lagi. Aku pergi. Jangan mencariku.

Sebuah pukulan telak yang dingin. Bianca tidak marah-marah. Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis. Ia hanya pergi. Dan kepergiannya yang hening, tanpa penjelasan, jauh lebih menyakitkan daripada segala omelan atau kemarahan yang bisa Adrian bayangkan. Ia ditinggalkan dalam kegelapan, tanpa petunjuk, tanpa kesempatan untuk membela diri.

Hari-hari berikutnya adalah neraka bagi Adrian. Rumah terasa hampa. Sepi. Dingin. Setiap sudut mengingatkannya pada Bianca. Bunga-bunga segar yang biasa ada di vas kini layu, karena Bianca tidak ada di sana untuk menggantinya. Cangkir kopi yang dulu selalu berpasangan, kini hanya ada satu. Meja makan yang dulu selalu ramai dengan obrolan mereka, kini terasa begitu besar dan kosong.

Ia mencoba menelepon Bianca lagi, setiap jam, tapi selalu masuk ke kotak suara. Ia mengirim pesan, memohon, mengancam, menjelaskan, tapi tidak ada balasan. Bianca menghilang tanpa jejak.

Adrian tidak bisa berkonsentrasi di kantor. Pikirannya melayang, terus-menerus kembali pada Bianca. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa ia begitu ceroboh? Mengapa ia tidak memperhatikan?

Maya menyadari perubahan pada diri Adrian. Adrian yang biasanya energik dan fokus, kini tampak lesu, murung, dan sering melamun.

"Adrian, kamu baik-baik saja?" tanya Maya suatu pagi, di kantor. "Kamu terlihat tidak sehat."

Adrian mengangkat bahu. "Tidak apa-apa, hanya sedikit stres pekerjaan." Ia tidak ingin berbagi masalah pribadinya dengan Maya. Ironisnya, Maya adalah bagian dari masalahnya.

Maya mengangguk, tapi sorot matanya menunjukkan kecurigaan. "Kalau butuh teman bicara, aku selalu ada," katanya, suaranya lembut.

Adrian hanya mengangguk, merasa semakin bersalah.

Ia mencoba menghubungi teman-teman Bianca, tapi tidak ada yang tahu apa-apa. Mereka juga sama terkejutnya dengan Adrian. "Bianca tidak pernah cerita apa-apa," kata Sarah, sahabat Bianca, dengan nada khawatir. "Terakhir kali aku bertemu dengannya, dia baik-baik saja. Dia terlihat sangat bahagia."

Kata-kata Sarah itu menusuk Adrian. Bahagia. Apakah kebahagiaan itu hanya ilusi? Apakah Bianca selama ini menyembunyikan rasa sakitnya dari semua orang?

Adrian mulai minum. Malam-malam yang dulu ia habiskan dengan Bianca, kini ia habiskan dengan sebotol wiski, mencoba mematikan pikiran-pikirannya, mencoba melupakan kekosongan yang ia rasakan. Tapi alkohol hanya memperburuk keadaannya. Setiap tegukan hanya memperjelas betapa kesepiannya ia, betapa hancurnya ia.

Ia menyadari bahwa kehilangan Bianca secara perlahan, tanpa konfrontasi, tanpa peringatan, adalah siksaan yang jauh lebih buruk daripada ledakan kemarahan. Ia tidak bisa memohon maaf. Ia tidak bisa menjelaskan. Ia tidak bisa memperbaiki apa pun. Ia dibiarkan menggantung, dalam ketidakpastian yang menyakitkan.

Ia mulai memutar ulang setiap momen mereka, mencari petunjuk. Kapan Bianca mulai curiga? Apakah itu karena ia sering pulang larut? Apakah itu karena panggilan telepon dari Maya? Apakah Bianca melihat sesuatu di ponselnya?

Ponsel. Ya, ponselnya. Ia teringat malam ia meninggalkan ponselnya di kamar tidur. Bianca ada di sana. Apakah Bianca melihat riwayat panggilannya? Apakah Bianca melihat foto profil Maya di kontak "Klien Jaya"?

Sebuah kesadaran yang mengerikan menghantam Adrian. Itu pasti. Itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal. Bianca tidak berteriak padanya. Bianca tidak melemparkan tuduhan padanya. Ia hanya diam, dan menunggu.

Adrian mengingat kembali ekspresi Bianca di restoran malam itu. Senyumnya yang sempurna, tawanya yang ringan. Ia pikir Bianca bahagia. Ia pikir Bianca merayakan proyek besar bersamanya. Tapi sekarang ia tahu. Bianca sedang mengucapkan selamat tinggal, dalam diam. Bianca sedang merencanakan kepergiannya, di bawah hidungnya.

Adrian merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya. Bianca begitu cerdas, begitu tenang, begitu terkendali. Ia telah menganggap remeh Bianca, menganggapnya sebagai istri yang manja dan genit yang selalu menuruti keinginannya. Tapi ia lupa, di balik sifat manja itu ada kecerdasan dan kekuatan yang tak terduga.

Dan sekarang, kekuatan itu digunakan untuk menghancurkan Adrian.

Ia melihat kembali foto dan video yang dikirim ke Bianca. Ia yakin Bianca telah menerimanya. Seseorang telah membocorkan rahasianya. Seseorang ingin menghancurkan pernikahannya. Tapi siapa? Dan mengapa?

Adrian tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa Bianca telah melihatnya. Dan Bianca memilih untuk membalas dengan cara yang paling menyakitkan: dengan keheningan.

Seminggu berlalu. Adrian kehilangan nafsu makan, tidurnya terganggu. Ia bahkan tidak bisa fokus pada pekerjaan. Proyek Klien Jaya yang ia banggakan kini terasa hampa. Apa gunanya kesuksesan jika ia kehilangan orang yang paling ia cintai?

Ia mencoba mencari Bianca, mengikuti jejak-jejak yang mungkin ditinggalkan. Ia menghubungi teman-teman dan kerabat jauh Bianca, berharap ada yang tahu di mana Bianca. Tapi tidak ada. Bianca seperti menghilang ditelan bumi.

"Kamu harus makan, Adrian," kata ibunya, yang datang berkunjung setelah Adrian akhirnya menceritakan bahwa Bianca pergi. Ibunya khawatir, sangat khawatir, tapi Adrian tidak bisa memberinya jawaban yang jelas. Ia tidak ingin ibunya tahu tentang Maya. Itu hanya akan memperburuk keadaan.

"Aku tidak lapar, Ma," jawab Adrian, mendorong piring di depannya.

Ibunya menghela napas. "Apa yang sebenarnya terjadi, Nak? Bianca tidak mungkin pergi begitu saja tanpa alasan."

Adrian menatap ibunya, matanya kosong. "Aku tidak tahu, Ma. Aku tidak tahu." Kebohongan itu terasa pahit di lidahnya.

Ia mulai merasa putus asa. Ia bahkan mempertimbangkan untuk melaporkan Bianca hilang ke polisi, tapi ia tahu itu akan menjadi bencana. Bianca meninggalkan catatan, itu bukan kasus penculikan. Itu adalah kepergian yang disengaja.

Dan kepergian yang disengaja itu adalah hukuman Adrian.

Ia mulai melihat masa depannya tanpa Bianca. Kosong. Hampa. Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpanya. Setiap sudut rumah, setiap kenangan, setiap objek yang mereka bagi, kini terasa seperti pisau yang mengiris hatinya.

Ia teringat betapa Bianca selalu memenuhi rumah dengan tawa, dengan aroma bunga, dengan kehadirannya yang ceria. Sekarang, semua itu hilang. Hanya ada keheningan yang memekakkan.

Adrian akhirnya memutuskan untuk jujur pada dirinya sendiri. Ia telah berbuat salah. Ia telah mengkhianati kepercayaan Bianca. Ia telah meremehkan ikatan mereka. Ia telah membiarkan godaan kecil mengaburkan pandangannya. Dan sekarang, ia membayar harganya.

Ia teringat ekspresi Bianca di restoran malam itu. Ia pikir Bianca bahagia, merayakan keberhasilannya. Tapi Bianca sedang merencanakan kepergiannya, dalam diam. Dan keheningan itu jauh lebih menyakitkan daripada ledakan kemarahan.

Adrian berjalan ke studio Bianca. Bau bunga kering dan dedaunan mati memenuhi ruangan. Ia menyentuh meja kerja Bianca, tempat ia biasa merangkai bunga, menciptakan keindahan. Kini, tempat itu kosong. Hanya ada vas-vas kosong dan alat-alat yang ditinggalkan.

Sebuah foto kecil tergeletak di meja. Foto mereka berdua, di hari pernikahan mereka. Bianca tersenyum, gaun putihnya berkibar, matanya memancarkan kebahagiaan murni. Adrian memeluknya erat, dunia terasa sempurna saat itu.

Adrian meraih foto itu, membelai wajah Bianca dengan ibu jarinya. Air mata mulai mengalir di pipinya, air mata penyesalan yang dalam. Ia telah merusak keindahan itu. Ia telah menghancurkan senyum itu.

Ia tidak tahu di mana Bianca berada. Ia tidak tahu apakah Bianca akan kembali. Tapi satu hal yang ia tahu pasti: ia telah kehilangan cinta perlahan-lahan, dan itu jauh, jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan segalanya sekaligus. Kehilangan semua asetnya, semua hartanya, tidak akan sebanding dengan kehilangan Bianca.

Ia teringat kata-kata Maya, "Kalau butuh teman bicara, aku selalu ada."

Adrian mengangkat teleponnya, tapi bukan Maya yang ia tuju. Ia menelepon pengacaranya.

"Aku butuh bantuanmu," kata Adrian, suaranya serak. "Aku perlu mencari istriku. Dan aku perlu mencari tahu siapa yang mengirim foto-foto itu padanya."

Adrian tahu ini tidak akan mudah. Ia tahu ia harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya. Tapi ia tidak akan menyerah. Ia akan mencari Bianca, bahkan jika itu berarti ia harus menghadapi kebenaran yang paling pahit sekalipun.

Karena keheningan Bianca, ketidakpadiannya, jauh lebih menghantui daripada apa pun. Itu adalah penyesalan yang akan selalu bersamanya, sebuah bayangan yang tidak akan pernah hilang. Ia harus menemukan Bianca, tidak hanya untuk memohon maaf, tetapi untuk mencoba memahami mengapa Bianca memilih jalan ini.

Adrian menggenggam erat foto pernikahannya. Sebuah janji yang telah ia ingkari. Ia harus memperbaikinya. Atau setidaknya, mencoba.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Because of Mistake
9.6
Akibat kesalahpahaman fatal, Eudora terperangkap dalam penderitaan sebagai tawanan Legolas yang haus akan balas dendam. Kehidupannya hancur dalam siksaan hingga ia merasa maut lebih baik daripada bertahan hidup. Namun, kebenaran akhirnya terkuak bahwa Eudora adalah sosok penyelamat nyawa Legolas di masa lalu. Kini, rasa benci dan kekecewaan mendalam menyelimuti hati Eudora. Akankah cinta bersemi kembali atau mereka justru terjebak menjadi musuh abadi?
Sampul Novel Duda Pilihan Papa
9.6
Terjerat utang besar, Anwar Mahendra terdesak menyerahkan Ashiqa, putri tunggalnya, kepada rentenir. Demi melindungi masa depan sang anak, Anwar memohon bantuan Rama, duda kaya yang pernah berutang budi padanya, untuk menikahi Ashiqa. Meski terkejut, Ashiqa terpaksa menerima perjodohan ini. Kini, Rama harus menghadapi dilema antara menumbuhkan benih cinta dalam pernikahan mereka atau melepaskan Ashiqa demi kebahagiaan pilihan hatinya sendiri.
Sampul Novel En-PD157
8.5
Lu Xun tega menunda pernikahan demi membantu Jian Tong, sahabat wanitanya, memiliki anak melalui donor sperma. Ia bahkan menyodorkan perjanjian pengasuhan bersama dengan sikap dingin. Meski Lu Xun mencoba menyuapku dengan harta agar aku setuju, aku tetap menandatangani dokumen itu dengan tenang lalu pergi. Dia mengira aku akan membesarkan bayi itu bersamanya nanti. Padahal, dia tidak tahu bahwa aku sudah berencana menikah dengan sahabatnya sendiri minggu depan.
Sampul Novel Identitasku Dipakai di Pernikahan Mantanku
7.9
Hidup Rani hancur saat Angela, sahabatnya sendiri, mencuri identitasnya demi menikahi Azlan Bagaskara. Tak cukup mengkhianati cinta Rani, Angela bahkan memaksa wanita itu bekerja sebagai pelayan di rumah mereka. Setiap hari Rani harus menelan kepahitan saat menyaksikan kemesraan palsu sang mantan kekasih dengan sahabatnya. Di tengah siksaan batin tersebut, akankah Rani tetap diam atau bangkit menuntut keadilan atas pengkhianatan keji yang menghancurkan masa depannya?
Sampul Novel Jodohku Ceo Dingin
8.1
Vivi Raminta terjebak dalam situasi pelik saat dipaksa ibunya menikah dengan Devo, CEO dingin yang sangat ia benci. Keputusasaan Vivi memuncak setelah kekasihnya berkhianat demi wanita kaya. Di sisi lain, Devo setuju menikah hanya untuk menutupi skandal perselingkuhannya dengan artis bernama Karen. Meski terikat motif berbeda, benih asmara mulai tumbuh di antara keduanya. Kini, mampukah Devo melepas Karen demi Vivi saat cinta sejati mulai menguji ego mereka?
Sampul Novel Married by Accident
8.7
Hidup Clara hancur setelah dilecehkan oleh dosennya sendiri. Tragisnya, pelaku justru menimpakan kesalahan pada Dev, seorang mahasiswa hukum. Terjebak dalam situasi pelik, Clara terpaksa menikahi Dev meski ia masih memiliki kekasih. Benih cinta mulai muncul saat Dev berjanji menuntut keadilan secara hukum. Namun, pernikahan mereka diguncang rahasia besar yang disembunyikan Dev. Mampukah cinta Clara bertahan di tengah prahara dan misteri masa lalu suaminya?