Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kau Tak Menyadari Disaat Aku Pergi

Kau Tak Menyadari Disaat Aku Pergi

Bianca adalah sosok istri idaman yang sangat manja dan penuh kasih, membuat Adrian merasa sangat dicintai. Namun, kebahagiaan itu hancur saat sebuah pesan misterius membongkar pengkhianatan Adrian. Alih-alih mengamuk, Bianca justru memilih membalas dengan keheningan yang dingin tanpa peringatan sama sekali. Adrian pun terperangkap dalam kebingungan mendalam, hingga ia akhirnya tersadar bahwa kehilangan cinta secara perlahan jauh lebih menyiksa.
Bab
Bagikan

Bab 3

Adrian berdiri di ambang pintu studio bunga Bianca, napasnya tersengal. Aroma mawar kering dan lili layu masih sedikit tertinggal di udara, bagai hantu kenangan. Sejak Bianca pergi, ruangan ini menjadi kuil pengingat akan kesalahannya. Ia menyalakan lampu, menerangi vas-vas kosong, gulungan pita yang berantakan, dan gunting-gunting yang tergeletak di meja kerja. Setiap objek di sana adalah bukti keberadaan Bianca, bukti kebahagiaan yang kini hancur di tangannya sendiri.

"Ini gila, Bianc. Kamu tidak bisa pergi begitu saja," gumamnya, suaranya parau. Ia tahu itu gila, tapi ia juga tahu itu adalah keputusan yang dingin dan terencana. Itu adalah cara Bianca membalas.

Adrian menarik napas dalam-dalam. Tekadnya semakin membara. Ia harus menemukan Bianca. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk mereka berdua. Ia harus menjelaskan, memohon maaf, dan entah bagaimana, memperbaiki apa yang telah ia rusak.

Langkah pertama adalah mencari tahu siapa yang mengirim foto-foto itu. Adrian kembali ke kamarnya, meraih ponsel yang ia tinggalkan di sana malam Bianca pergi. Ia membuka riwayat pesan, mencari nomor anonim itu. Ia mencoba melacaknya, tapi itu adalah nomor prabayar yang sudah tidak aktif. Sebuah jalan buntu. Pengirimnya pintar, tidak meninggalkan jejak.

Ia memikirkan Maya. Apakah Maya terlibat? Tidak mungkin. Maya tidak akan punya alasan untuk menghancurkan hidupnya. Maya adalah... Maya hanyalah seorang rekan kerja. Namun, bayangan senyum Maya, tawa lepas mereka di kafe, dan sentuhan spontan di tangan itu kembali menghantuinya. Adrian menghela napas, rasa bersalah kian menusuk. Ia telah lalai, ia telah mengabaikan batas-batas.

Adrian memutuskan untuk berbicara dengan teman-teman dekat Bianca sekali lagi, kali ini dengan lebih mendesak. Ia menelepon Sarah, sahabat Bianca.

"Sarah, aku mohon, kamu pasti tahu sesuatu. Bianca tidak akan pergi tanpa memberitahu siapa pun," kata Adrian, suaranya putus asa.

Sarah terdiam sejenak di ujung telepon. "Adrian, aku juga tidak tahu apa-apa. Bianca tidak menghubungiku. Aku sudah mencoba meneleponnya berkali-kali, tapi ponselnya mati. Aku khawatir."

"Apakah dia pernah menyebutkan masalah di antara kita? Atau apakah dia pernah... mengeluh tentangku?" Adrian bertanya dengan hati-hati, mencoba menyembunyikan rasa takutnya.

"Tidak, Adrian. Tidak pernah," jawab Sarah, nada suaranya tegas. "Dia selalu membicarakanmu dengan penuh cinta. Dia pikir kalian adalah pasangan yang sempurna. Itu sebabnya ini semua sangat mengejutkan bagiku."

Kata-kata Sarah bagai tamparan keras. Sempurna. Itu adalah topeng yang Bianca kenakan dengan begitu apik. Adrian menutup telepon dengan perasaan campur aduk antara frustrasi dan penyesalan. Bianca telah berhasil menyembunyikan segalanya, bahkan dari sahabat terdekatnya.

Sementara Adrian tenggelam dalam keputusasaan, Bianca memulai babak barunya. Ia tiba di pondok tua yang dulunya hanya impian. Pondok itu terpencil, jauh dari hiruk pikuk kota, tersembunyi di antara pepohonan rindang dan semak belukar yang belum terjamah. Sebuah papan kayu usang bertuliskan "Dijual" masih terpampang di depannya.

Bianca turun dari mobil, menatap pondok itu. Debu dan jaring laba-laba melapisi jendela, catnya mengelupas, dan taman yang dulunya subur kini dipenuhi ilalang. Pondok itu tampak usang, terlupakan, mirip dengan perasaannya sendiri. Tapi di balik semua kerapuhan itu, Bianca melihat potensi. Sebuah kanvas kosong tempat ia bisa membangun kembali dirinya.

Ia membuka kunci pintu dengan kunci yang pernah Adrian dapatkan dari agen properti. Udara di dalam terasa pengap dan dingin. Namun, saat ia melangkah masuk, sebuah ketenangan aneh menyelimuti dirinya. Tidak ada kenangan Adrian di sini. Tidak ada tawa mereka yang bergema di dinding ini. Tidak ada jejak pengkhianatan yang menghantuinya.

Pondok itu terdiri dari dua kamar tidur kecil, sebuah kamar mandi, dapur sederhana, dan ruang tamu. Yang paling menarik perhatian Bianca adalah jendela besar di bagian belakang yang menghadap ke taman luas. Ini akan menjadi studio bunganya.

Ia menghabiskan beberapa hari pertama dengan membersihkan pondok. Menyapu debu tebal, menyikat lantai, mengelap jendela hingga berkilau. Setiap gerakan fisiknya adalah upaya untuk mengusir kekacauan di dalam hatinya. Ia membeli perlengkapan dasar, kasur sederhana, dan beberapa alat kebun.

Ponselnya tetap mati. Ia tahu Adrian pasti mencarinya, membombardirnya dengan pesan dan panggilan. Tapi Bianca tidak ingin mendengar suaranya, tidak ingin membaca kata-kata penyesalan yang ia tahu akan terasa hampa. Keheningan adalah senjatanya, dan ia akan menggunakannya sampai Adrian benar-benar merasakan dampaknya.

Hari-hari berlalu. Bianca mulai menata tamannya. Ia mencabut ilalang, memangkas semak-semak, dan menyiapkan tanah untuk menanam bunga-bunga baru. Tangannya yang lembut, yang dulu terbiasa merangkai keindahan, kini terbiasa dengan tanah, kotoran, dan kerasnya pekerjaan fisik. Setiap kali ia merasakan nyeri di punggungnya, atau luka kecil di tangannya, ia merasakan semacam kepuasan. Ini nyata. Ini adalah kerja keras yang jujur, jauh dari kebohongan dan sandiwara.

Ia menanam mawar, melati, krisan, dan berbagai jenis bunga lain yang ia tahu akan tumbuh subur di tanah itu. Ia membayangkan taman itu akan menjadi hutan bunga berwarna-warni, sumber inspirasi dan bahan baku untuk bisnis barunya. Ia akan memulai kembali, dari nol.

Bianca tidak sendiri sepenuhnya. Ada seorang tetangga tua, Bapak Hadi, yang tinggal beberapa rumah jauhnya. Bapak Hadi adalah seorang pensiunan petani yang ramah, yang sering mampir untuk menawarkan bantuan atau sekadar bercengkrama.

"Nona Bianca, butuh bantuan untuk menggali tanah itu?" tanya Bapak Hadi suatu sore, melihat Bianca berjuang dengan sekop.

Bianca tersenyum. "Terima kasih, Bapak Hadi, tapi saya bisa. Saya ingin merasakan setiap bagian dari proses ini."

Bapak Hadi mengangguk, mengagumi semangatnya. "Orang kota sepertimu jarang punya kemauan keras begini. Pasti hatinya kuat."

Hati Bianca terasa teriris mendengar kata-kata itu. Kuat? Ia merasa hatinya hancur berkeping-keping. Tapi ia memaksakan senyum. "Saya sedang belajar menjadi lebih kuat, Bapak."

Ia mulai memasarkan bisnisnya secara daring lagi, dengan nama baru: "Kembang Lara." Nama yang pahit, namun jujur. Perlahan-lahan, pesanan mulai masuk. Orang-orang di daerah pedesaan itu senang dengan adanya penjual bunga yang bisa dijangkau. Bianca bekerja keras, merangkai bunga dengan tangan kosongnya, menciptakan buket-buket indah yang membawa kebahagiaan bagi orang lain. Sebuah ironi yang menyedihkan, bahwa ia bisa menciptakan kebahagiaan untuk orang lain, sementara hatinya sendiri terasa remuk.

Kembali ke kota, Adrian merasa jiwanya mengering. Setiap hari adalah siksaan. Rumah besar mereka terasa seperti penjara. Ia memecat Maya dari proyek Klien Jaya, alasannya "restrukturisasi tim." Maya terkejut, tapi tidak bertanya lebih jauh. Adrian tahu ia harus menyingkirkan semua pemicu yang mengingatkannya pada kesalahannya, bahkan jika itu berarti mengorbankan sebagian dari pekerjaannya.

Adrian akhirnya menghubungi seorang detektif swasta. Ia tidak ingin polisi terlibat, itu terlalu publik. Ia hanya ingin menemukan Bianca, diam-diam.

"Saya butuh Anda menemukan istri saya, Bianca," kata Adrian kepada detektif bernama Bapak Budi itu. "Dia pergi seminggu yang lalu. Saya tidak tahu di mana dia. Dia tidak meninggalkan jejak."

Bapak Budi, seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam, mengangguk. "Apakah ada masalah dalam pernikahan Anda, Bapak Adrian? Karena biasanya, jika istri pergi tanpa jejak, ada alasan yang kuat."

Adrian ragu sejenak. Ia tidak bisa sepenuhnya jujur. "Ada kesalahpahaman. Saya... saya melakukan kesalahan. Tapi saya ingin memperbaikinya."

Bapak Budi menatapnya lekat-lekat, seolah bisa membaca kebohongan di matanya. "Baiklah. Kami akan mencoba melacak jejaknya. Bisakah Anda memberikan foto terbaru, detail bank, dan informasi kontak yang mungkin dia gunakan?"

Adrian memberikan semua informasi yang ia miliki. Ia juga memberikan alamat pondok tua yang pernah mereka lihat. Itu adalah satu-satunya petunjuk yang ia miliki, meskipun kecil. Bianca selalu menyebutkan betapa ia mencintai tempat itu. Adrian berharap, dengan putus asa, bahwa Bianca mungkin pergi ke sana.

Penyelidikan dimulai. Bapak Budi dan timnya mulai menyisir catatan, memeriksa transaksi bank Bianca, melacak penggunaan kartu kreditnya. Tapi tidak ada yang muncul. Bianca tampaknya telah menghilang tanpa jejak digital.

"Dia sangat berhati-hati, Bapak Adrian," kata Bapak Budi suatu hari, dalam laporan rutin. "Tidak ada transaksi besar, tidak ada penggunaan ponsel. Sepertinya dia tidak ingin ditemukan."

Adrian meninju meja kerjanya. "Tapi dia harus ditemukan! Dia tidak bisa begitu saja menghilang!"

"Banyak orang yang ingin tidak ditemukan, Bapak," jawab detektif itu dengan tenang. "Kami akan terus berusaha."

Rasa bersalah Adrian semakin parah. Ia mulai menyadari betapa dalam rasa sakit yang ia timbulkan pada Bianca, sehingga Bianca rela menghilang begitu saja, memutuskan semua kontak, demi menghindarinya.

Ia mulai mengingat kembali setiap detail dari pesan anonim itu. Siapa yang mengirimkannya? Mengapa? Apakah itu ulah Maya? Tidak, tidak mungkin. Maya tidak punya motif.

Lalu, sebuah ide gila melintas di benaknya. Mungkinkah ada orang lain yang ingin mencelakainya? Atau mencelakai Bianca? Ia mulai mencurigai semua orang.

Pikirannya kembali ke masa-masa awal hubungannya dengan Bianca. Mereka bertemu di sebuah acara seni. Adrian yang serius dan ambisius, langsung terpikat oleh Bianca yang ceria, manja, dan penuh semangat hidup. Bianca adalah cahaya dalam hidupnya yang terlalu terstruktur. Ia selalu mengatakan bahwa Bianca adalah "Bintangnya," yang menerangi setiap sudut gelap dalam dirinya.

Dan ia telah meredupkan bintang itu.

Malam demi malam, Adrian kembali ke studio Bianca. Ia duduk di lantai, dikelilingi oleh sisa-sisa alat kerjanya, mencoba merasakan kehadiran Bianca, mencoba memahami apa yang ada di balik kepergiannya yang hening. Ia melihat sketsa-sketsa bunga yang Bianca buat, desain karangan bunga yang rumit dan indah. Bianca adalah seorang seniman, dan Adrian telah menghancurkan seninya.

Ia mulai merasa kehilangan perlahan-lahan. Awalnya, ia hanya merindukan kehadiran Bianca di rumah. Lalu, ia merindukan tawanya, sentuhannya, aroma parfumnya. Kemudian, ia merindukan obrolan ringan mereka di pagi hari, candaan mereka saat makan malam, pelukan mereka sebelum tidur. Sekarang, ia merindukan esensinya-jiwa Bianca yang ceria dan penuh cinta.

Kehilangan ini adalah siksaan yang lebih dalam daripada yang pernah ia bayangkan. Kehilangan uang, kehancuran karier, semua itu tidak sebanding dengan kekosongan yang ia rasakan di dadanya. Cinta Bianca adalah harta karunnya yang paling berharga, dan ia telah membiarkannya pergi.

Sementara itu, di pondok Kembang Lara, Bianca mulai menemukan kedamaian yang rapuh. Tanaman-tanamannya tumbuh subur. Taman itu mulai dipenuhi warna dan aroma. Ia juga mulai menata ulang bagian dalam pondok, memberikan sentuhan pribadi di setiap sudut.

Suatu sore, saat Bianca sedang menanam bibit lavender, ia mendengar suara mobil di jalan setapak. Jantungnya berdebar kencang. Apakah itu Adrian? Ia segera bersembunyi di balik semak-semak, mengamati.

Mobil itu berhenti di depan pondoknya. Seorang pria bertopi fedora dan seorang wanita dengan kamera profesional turun dari mobil. Mereka bukan Adrian. Mereka adalah Bapak Budi dan salah satu rekannya.

"Ini dia, Bapak Hadi," kata Bapak Budi kepada tetangga Bianca yang kebetulan sedang lewat. "Ini pondok yang kita cari."

Bianca menahan napas. Mereka menemukannya. Adrian menemukannya.

"Oh, itu pondok Nona Bianca," kata Bapak Hadi. "Dia sudah tinggal di sini sekitar seminggu lebih. Sibuk sekali menanam bunga."

Bapak Budi dan rekannya mengangguk. Mereka mulai mengambil foto pondok, taman, bahkan mobil Bianca yang terparkir di samping.

"Nona Bianca ada di dalam?" tanya Bapak Budi.

"Mungkin di taman belakang," jawab Bapak Hadi, tidak curiga. "Biasanya dia ada di sana."

Bianca tetap bersembunyi, jantungnya berdebar kencang. Adrian tidak datang sendiri. Ia mengirim detektif. Rasa marah kembali membakar hatinya. Adrian tidak berhenti mencari. Tapi mengapa? Apakah ia hanya ingin memuaskan egonya?

Setelah Bapak Budi dan rekannya pergi, Bianca keluar dari persembunyiannya. Ia merasa terancam, privasinya dilanggar. Adrian tidak akan berhenti. Ia akan terus mencarinya.

Malam itu, Bianca duduk di teras belakang, memandangi bintang-bintang. Ia ingat Adrian pernah mengatakan bahwa ia adalah bintang di hidupnya. Sekarang, bintang itu telah padam, atau setidaknya, telah berpindah galaksi.

Ia mengambil ponsel lamanya, yang sudah lama tidak ia gunakan, dan mengaktifkannya. Ia tahu Adrian pasti sudah menyerah mencoba menghubunginya melalui nomor lamanya. Ia ingin melacak pergerakan Adrian, mengetahui apa yang Adrian lakukan. Bukan karena ia merindukannya, tetapi karena ia ingin tahu seberapa jauh Adrian akan pergi untuk "memperbaiki" ini.

Ia mencari berita tentang Adrian di internet. Adrian masih bekerja di perusahaannya, tapi ada berita tentang proyek Klien Jaya yang mengalami sedikit penundaan, dan bahwa desainer interior yang menangani proyek itu tiba-tiba diganti. Bianca tersenyum tipis. Adrian memecat Maya. Sebuah tanda penyesalan? Atau hanya upaya untuk menutupi jejak?

Lalu ia menemukan foto terbaru Adrian. Rambutnya sedikit lebih panjang, wajahnya tampak kurus, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Adrian terlihat... hancur.

Sebuah sengatan aneh melintas di hati Bianca. Bukan simpati, tapi semacam kepuasan yang dingin. Adrian sedang merasakan apa yang ia rasakan. Kehilangan. Penderitaan.

Namun, kepuasan itu tidak bertahan lama. Bianca tahu bahwa penderitaan Adrian tidak akan pernah sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan ketika melihat foto dan video itu. Pengkhianatan adalah luka yang dalam, yang mungkin tidak akan pernah sembuh sepenuhnya.

Ia memikirkan langkah selanjutnya. Adrian sudah tahu di mana ia berada. Cepat atau lambat, Adrian akan datang. Apa yang akan ia lakukan? Berlari lagi? Tidak. Ia tidak akan lari selamanya. Ini adalah rumahnya sekarang.

Bianca memutuskan untuk menghadapi Adrian, tetapi dengan caranya sendiri. Tanpa teriakan, tanpa air mata, tanpa drama. Ia akan membiarkan keheningannya menjadi hukuman yang paling berat bagi Adrian.

Ia kembali ke dalam, menatap pondok yang kini terasa lebih seperti rumah baginya. Di setiap sudut, ia melihat dirinya sendiri-keberaniannya, tekadnya, dan kemampuannya untuk bertahan. Ia telah membangun kembali hidupnya dari reruntuhan, sepotong demi sepotong.

Dan ketika Adrian akhirnya muncul, ia akan melihat seorang Bianca yang berbeda. Bukan lagi istri yang manja, genit, dan selalu bergantung padanya. Tapi seorang wanita yang kuat, mandiri, dan telah menemukan kedamaian dalam keheningan.

Bianca tersenyum tipis. Adrian berpikir ia sedang mencari Bianca yang dulu. Tapi Bianca yang dulu sudah mati, terkubur di bawah puing-puing pengkhianatan. Kini, ada Bianca yang baru, dan ia siap menghadapi badai. Ia tahu, Adrian tidak akan pernah bisa membalikkan waktu. Dan ia tidak akan pernah memaafkan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Because of Mistake
9.6
Akibat kesalahpahaman fatal, Eudora terperangkap dalam penderitaan sebagai tawanan Legolas yang haus akan balas dendam. Kehidupannya hancur dalam siksaan hingga ia merasa maut lebih baik daripada bertahan hidup. Namun, kebenaran akhirnya terkuak bahwa Eudora adalah sosok penyelamat nyawa Legolas di masa lalu. Kini, rasa benci dan kekecewaan mendalam menyelimuti hati Eudora. Akankah cinta bersemi kembali atau mereka justru terjebak menjadi musuh abadi?
Sampul Novel Duda Pilihan Papa
9.6
Terjerat utang besar, Anwar Mahendra terdesak menyerahkan Ashiqa, putri tunggalnya, kepada rentenir. Demi melindungi masa depan sang anak, Anwar memohon bantuan Rama, duda kaya yang pernah berutang budi padanya, untuk menikahi Ashiqa. Meski terkejut, Ashiqa terpaksa menerima perjodohan ini. Kini, Rama harus menghadapi dilema antara menumbuhkan benih cinta dalam pernikahan mereka atau melepaskan Ashiqa demi kebahagiaan pilihan hatinya sendiri.
Sampul Novel En-PD157
8.5
Lu Xun tega menunda pernikahan demi membantu Jian Tong, sahabat wanitanya, memiliki anak melalui donor sperma. Ia bahkan menyodorkan perjanjian pengasuhan bersama dengan sikap dingin. Meski Lu Xun mencoba menyuapku dengan harta agar aku setuju, aku tetap menandatangani dokumen itu dengan tenang lalu pergi. Dia mengira aku akan membesarkan bayi itu bersamanya nanti. Padahal, dia tidak tahu bahwa aku sudah berencana menikah dengan sahabatnya sendiri minggu depan.
Sampul Novel Identitasku Dipakai di Pernikahan Mantanku
7.9
Hidup Rani hancur saat Angela, sahabatnya sendiri, mencuri identitasnya demi menikahi Azlan Bagaskara. Tak cukup mengkhianati cinta Rani, Angela bahkan memaksa wanita itu bekerja sebagai pelayan di rumah mereka. Setiap hari Rani harus menelan kepahitan saat menyaksikan kemesraan palsu sang mantan kekasih dengan sahabatnya. Di tengah siksaan batin tersebut, akankah Rani tetap diam atau bangkit menuntut keadilan atas pengkhianatan keji yang menghancurkan masa depannya?
Sampul Novel Jodohku Ceo Dingin
8.1
Vivi Raminta terjebak dalam situasi pelik saat dipaksa ibunya menikah dengan Devo, CEO dingin yang sangat ia benci. Keputusasaan Vivi memuncak setelah kekasihnya berkhianat demi wanita kaya. Di sisi lain, Devo setuju menikah hanya untuk menutupi skandal perselingkuhannya dengan artis bernama Karen. Meski terikat motif berbeda, benih asmara mulai tumbuh di antara keduanya. Kini, mampukah Devo melepas Karen demi Vivi saat cinta sejati mulai menguji ego mereka?
Sampul Novel Married by Accident
8.7
Hidup Clara hancur setelah dilecehkan oleh dosennya sendiri. Tragisnya, pelaku justru menimpakan kesalahan pada Dev, seorang mahasiswa hukum. Terjebak dalam situasi pelik, Clara terpaksa menikahi Dev meski ia masih memiliki kekasih. Benih cinta mulai muncul saat Dev berjanji menuntut keadilan secara hukum. Namun, pernikahan mereka diguncang rahasia besar yang disembunyikan Dev. Mampukah cinta Clara bertahan di tengah prahara dan misteri masa lalu suaminya?