
Kau Layak Menderita
Bab 2
Selina duduk di atas ranjang, jari-jarinya mencengkeram seprai sutra putih dengan keras. Kamar pengantin mereka terlalu luas, terlalu dingin, dan terlalu mewah untuk sesuatu yang seharusnya sakral. Tapi bagi Selina, ruangan ini tak ubahnya penjara.
Dari sudut mata, ia bisa melihat Rafael duduk di sofa, menuangkan segelas anggur merah dengan santai. Pria itu tampak terlalu menikmati kemenangannya malam ini.
"Kenapa diam saja?" suara Rafael terdengar tenang, namun ada nada ejekan di baliknya.
Selina menoleh, menatapnya tajam. "Apa yang kau harapkan? Aku tertawa bahagia setelah kau menghancurkan hidupku?"
Rafael menyandarkan punggungnya ke sofa, menyesap anggurnya dengan santai. "Kau masih hidup, Selina. Itu lebih dari cukup."
Selina mengepalkan tangan. "Aku lebih baik mati daripada menjadi istrimu."
Senyum Rafael melebar, tapi matanya dingin. "Jangan katakan hal yang tidak bisa kau tepati, Sayang."
Selina mengalihkan pandangannya, jantungnya berdegup cepat.
Ia masih tak mengerti bagaimana Rafael bisa melakukan ini padanya. Bagaimana pria itu bisa membuat keluarganya menyerahkannya begitu saja.
Semuanya berawal dua bulan lalu.
Selina tak pernah menjadi putri kesayangan di keluarganya. Ayahnya hanya peduli pada keuntungan bisnis, dan ibunya telah lama tiada. Sejak kecil, ia selalu menjadi bayangan bagi Cassandra-kakak tirinya yang sempurna, yang selalu mendapatkan segalanya.
Saat Rafael Donovan datang melamar Cassandra untuk pernikahan bisnis, Selina tidak pernah mengira dirinya yang akan dikorbankan.
Tapi semuanya berubah setelah sebuah skandal mencoreng nama Cassandra. Skandal yang entah bagaimana Rafael ketahui lebih dulu.
Daripada menikahi wanita dengan reputasi ternoda, Rafael menginginkan penggantinya. Dan siapa yang lebih cocok menjadi pengganti selain Selina-anak tiri yang tak dianggap?
Ayahnya menyetujui tanpa ragu.
Selina mencoba melawan, tapi ia tidak pernah memiliki suara dalam keluarganya.
Dan di sinilah ia sekarang.
Terperangkap dalam pernikahan yang tak pernah ia inginkan.
"Berhenti menatapku seperti itu."
Suara Rafael memecah lamunannya.
Selina menegang. "Seperti apa?"
"Seperti kau ingin membunuhku," Rafael menatapnya, tatapan tajamnya menyusuri wajahnya. "Aku tidak akan mati semudah itu."
Selina tersenyum sinis. "Sayang sekali."
Rafael terkekeh, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Selina gelisah. "Bersabarlah, Selina. Suatu hari, kau akan bersyukur telah menikah denganku."
Selina ingin tertawa. Bersyukur?
Tak akan pernah.
Selina tidak tahu apakah ini karma atau permainan takdir yang kejam.
Tiga bulan setelah pernikahan mereka, Rafael mengalami kecelakaan.
Pria yang dulu begitu angkuh, begitu penuh kendali, kini tergeletak di ranjang dengan tubuh setengah lumpuh.
Selina menatapnya dari pintu kamar, ekspresinya tanpa emosi.
Dokter telah menjelaskan bahwa Rafael mungkin tidak akan bisa berjalan lagi.
Dan bukannya merasa simpati, Selina justru merasakan kepuasan dingin menyelinap ke dalam dadanya.
Inikah hukuman Tuhan untuk pria itu?
"Kenapa kau berdiri di sana?" suara Rafael lemah, tapi tatapannya masih sama-tajam dan menusuk.
Selina melangkah masuk perlahan. "Aku hanya ingin melihat seperti apa seorang Rafael Donovan yang tak berdaya."
Mata Rafael menyipit. "Jika kau berpikir aku akan menyerah, kau salah besar."
Selina tersenyum tipis, duduk di tepi ranjang. "Aku tidak peduli kau menyerah atau tidak, Rafael." Jemarinya yang ramping mengangkat gelas air di meja, lalu menaruhnya tepat di luar jangkauan tangan Rafael. "Aku hanya ingin kau merasakan sedikit dari apa yang aku rasakan."
Wajah Rafael mengeras. "Aku tidak akan selamanya seperti ini."
Selina mencondongkan tubuhnya, wajah mereka hanya terpisah beberapa inci. "Aku tahu." Suaranya begitu pelan, hampir seperti bisikan. "Tapi sampai saat itu tiba, biarkan aku menikmati kemenangan kecilku."
Ia tersenyum, lalu bangkit, meninggalkan Rafael yang hanya bisa menatap punggungnya dengan sorot mata gelap.
Tanpa Rafael sadari, Selina juga merasakan sesuatu yang aneh dalam dadanya.
Bukan kepuasan.
Bukan kebencian.
Tapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Anda Mungkin Juga Suka





