
Kau Layak Menderita
Bab 3
Hari-hari berlalu dalam keheningan yang menyesakkan di rumah megah itu. Rafael Donovan, pria yang dulu begitu berkuasa dan angkuh, kini terjebak dalam tubuh yang tidak bisa digerakkan sepenuhnya.
Dan Selina? Ia menikmati pemandangan itu.
Setiap pagi, ia bangun dengan perasaan puas melihat Rafael yang tidak bisa lagi berjalan dengan angkuh dan mendominasi segala hal di sekitarnya. Pria itu masih keras kepala, masih memiliki sorot mata tajam yang penuh keangkuhan, tapi Selina tahu ia membenci keadaannya sekarang.
Tapi di balik semua itu, Selina mulai menyadari satu hal-ia juga terjebak.
Pernikahan ini bukan hanya belenggu bagi Rafael. Ini juga belenggu baginya.
Sejak kecelakaan itu, semua orang menghilang dari sisi Rafael. Para sahabat bisnisnya tidak lagi sering datang. Keluarganya? Mereka bahkan lebih dulu melepaskan tangan. Mereka tidak peduli apakah Rafael pulih atau tidak.
Yang tersisa di sisinya hanya Selina.
Wanita yang membencinya lebih dari siapa pun.
Dan ironisnya, Selina tahu ia tidak bisa pergi begitu saja.
Bukan karena cinta.
Bukan karena simpati.
Tapi karena ia belum menyelesaikan dendamnya.
"Kau akan duduk diam di sana sepanjang hari?" suara Rafael terdengar berat saat Selina berdiri di depan jendela, memandangi taman luas yang terbentang di luar rumah mereka.
Ia menoleh, menatap pria yang kini terjebak di kursi rodanya. "Memangnya kau bisa melarangku?"
Rafael mengangkat alis. "Aku masih kepala rumah tangga di sini."
Selina tertawa kecil, nadanya penuh ejekan. "Kepala rumah tangga yang bahkan tidak bisa mengambil gelas air sendiri?"
Tatapan Rafael menggelap, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Selina mendekat, menaruh secangkir kopi di meja kecil di samping Rafael, tapi dengan sengaja mendorongnya sedikit lebih jauh dari jangkauan pria itu.
"Kau menikmatinya, ya?" suara Rafael pelan, tapi ada sesuatu dalam nada itu yang membuat Selina menegang.
Ia mengangkat bahu, memasang ekspresi tanpa dosa. "Aku hanya melakukan tugasku sebagai istri."
Tatapan Rafael tetap terkunci padanya, intens dan menelanjangi. Seakan ia bisa melihat sesuatu dalam diri Selina yang bahkan Selina sendiri tidak ingin akui.
"Kau pikir kau menang sekarang, Selina?" Rafael menyandarkan kepalanya ke kursi, senyum tipis terukir di bibirnya. "Aku ingin tahu, sampai kapan kau bisa menikmati kemenangan kecilmu ini."
Selina membalas senyum itu dengan sinis. "Sampai kau benar-benar kehilangan segalanya."
Ia membalikkan badan, melangkah keluar dari kamar.
Ia tidak ingin berada di sana lebih lama.
Karena di detik itu, untuk pertama kalinya, ia merasakan ketidakpastian menyerang hatinya.
Malam itu, Selina tidak bisa tidur.
Pikirannya penuh dengan sorot mata Rafael yang masih membekas di benaknya. Tatapan pria itu seakan berkata bahwa ia masih menyimpan sesuatu-bahwa ia masih memiliki kendali atas sesuatu yang belum diketahui Selina.
Dan itu mengganggunya.
Dengan kesal, ia bangkit dari ranjangnya dan keluar dari kamar, berjalan menuju dapur untuk mengambil air.
Saat ia melewati kamar Rafael, langkahnya terhenti.
Dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia bisa melihat pria itu duduk di kursi roda, menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong.
Ada sesuatu dalam dirinya yang ingin mengabaikan dan pergi begitu saja. Tapi entah kenapa, kakinya melangkah masuk ke dalam kamar tanpa berpikir.
"Kenapa kau masih bangun?" tanyanya dingin.
Rafael menoleh perlahan, dan untuk pertama kalinya, Selina melihat sesuatu yang berbeda dalam mata pria itu. Bukan kemarahan, bukan keangkuhan.
Tapi kesepian.
Sejenak, ada hening di antara mereka sebelum Rafael akhirnya berbicara.
"Apa kau pernah merasa... benar-benar sendirian?"
Selina terdiam.
Pertanyaan itu tidak ia duga.
Dan lebih dari itu, ia tidak punya jawaban untuknya.
Karena tanpa ia sadari, ia dan Rafael mungkin lebih mirip daripada yang pernah ia bayangkan.
Anda Mungkin Juga Suka





