
Kasih Sayang Yang Datang Terlambat
Bab 2
Dua puluh tahun yang lalu, Paula dan ayahku berpisah. Dia kemudian menuruti permintaan keluarganya untuk menikah dengan pria yang kaya dan berpengaruh.
Namun, waktu mengubah segalanya. Pria kaya itu akhirnya jatuh miskin, sementara ayahku yang dulunya hanyalah seorang pemuda biasa, menikahi ibuku dan berhasil mengubah nasibnya menjadi orang kaya.
Semua ini terasa seperti sebuah ironi. Setelah itu, ibuku meninggal dunia karena sakit. Paula pun bercerai dengan suaminya.
Bagi ayah, itu adalah dua kabar baik sekaligus.
Dengan begitu, Paula kembali ke sisi ayahku, cinta mereka pun kembali bersemi. Kehadiran Paula dan putrinya mengambil alih segalanya.
Bajuku, kamarku dan pada akhirnya mereka juga merebut ayah dariku.
Tujuh hari yang lalu, Rona pulang dengan wajah penuh kegembiraan, mengumumkan bahwa dirinya telah mendapatkan SIM dan sekarang boleh mengemudi.
Ayah bilang ingin membelikannya mobil sebagai hadiah. Namun, Rona tampak ragu, kemudian berkata dengan nada malu-malu, "Aku merasa mobil pink di garasi itu sangat cantik."
Dengan dingin, aku menjawab, "Itu mobil hadiah dari ayah untukku. Kalau kamu mau, minta ayahmu belikan untukmu. Kamu nggak punya ayah sendiri?"
Mobil itu adalah hadiah ulang tahun dari ayah saat aku mendapatkan SIM. Aku jarang sekali menggunakannya dan aku mengira ayah memahaminya. Namun, apa yang ayah katakan selanjutkan menghancurkan semua harapanku.
"Hanya sebuah mobil, kalau Rona suka, berikan saja padanya. Aurel, kamu punya begitu banyak mobil, kenapa harus memperebutkan yang satu ini? Berikan saja pada Rona!"
Mendengar kata-katanya, seketika aku sadar bahwa ayahku bukan lagi sosok yang dulu begitu menyayangiku.
Meski begitu, aku tetap tidak ingin menyerahkan barangku pada Rona. Jadi, aku langsung membuang kunci mobil itu.
Ayah marah besar, memanggil orang untuk mengganti kunci mobil itu dan akhirnya memberikan mobil itu pada Rona.
Namun, saat Rona mencoba memarkir mobil, dia malah terkunci di dalam dan tak bisa keluar.
Kenapa itu bisa terjadi, aku juga tidak tahu. Tapi saat itu musim panas dengan suhu mencapai 40 derajat, mobil tanpa AC terasa seperti oven.
Sebelum pingsan, Rona sempat menghubungi ayah dengan ponselnya, "Om Guswan, aku takut sekali, di sini sangat panas ... aku harap di kehidupan berikutnya aku bisa menjadi putrimu."
Suara di telepon pun terputus, ayah yang panik langsung meninggalkan kantor dan melacak lokasi mobil untuk menyelamatkan Rona.
Untungnya, dia hanya dehidrasi dan tidak terluka parah.
Namun saat sadarkan diri, kalimat pertama yang dia ucapkan adalah, "Ini semua salahku, aku nggak seharusnya mengambil mobil Aurel. Om Guswan, tolong jangan salahkan dia."
Tanpa menyelidikinya, ayah langsung menyimpulkan bahwa akulah yang mengunci Rona di mobil. Ayah marah besar.
Saat itu, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba ayah mendobrak pintu kamarku, dua tamparan keras membuatku pusing, lalu dia menyeretku ke garasi.
"Aku benar-benar terlalu memanjakanmu. Kamu bahkan sudah berani mencoba membunuh orang sekarang!"
Aku dipaksa berlutut di lantai, wajahku menyentuh ubin dingin, sementara diriku masih bingung.
"Kalau Rona sedikit lebih lama di dalam mobil itu, dia bisa kehilangan nyawanya. Kamu bahkan sudah sebesar ini, tapi masih bisa-bisanya melakukan hal sebodoh ini?!"
Dia memanggil dia pengawal bertubuh besar untuk mengikatku. Tidak peduli seberapa keras aku menangis dan memohon, ayah tetap memaksaku masuk ke dalam bagasi mobil.
"Kamu harus merenung di sini, sampai kamu menyadari kesalahanmu, barulah aku akan melepaskanmu!"
Aku berteriak sekuat tenaga di dalam bagasi, tapi ayah hanya merasa kesal.
"Sumpal mulutnya! Kunci dia beberapa hari, biar dia bisa mengubah sifat buruknya!"
Suhu di dalam bagasi itu setidaknya mencapai 40 derajat. Baru satu jam dikurung, aku sudah hampir tidak tahan.
Kini, tujuh hari telah berlalu, empat hari setelah aku menghembuskan napas terakhirku. Dengan suhu seperti ini, aku yakin tubuhku sudah mulai membusuk.
Dan ternyata benar, cairan dari tubuhku yang membusuk perlahan-lahan merembes keluar melalui celah bagasi, menetes ke lantai. Sopir yang kebetulan melewati garasi mencium bau aneh, tapi dia tak mengatakan apa-apa.
Anda Mungkin Juga Suka





