
Karma sang pelakor
Bab 2
Nathan nampak melirik ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 10 malam dan ketiga adiknya belum juga kembali ke rumah, sebagai seorang Kakak tertua di rumah ini tentu saja ia merasa khawatir dengan adik- adiknya yang sampai saat ini belum juga sampai padahal hari sudah menjelang larut seperti saat ini. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang dari luar, Nathan segera bergegas membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang malam-malam begini dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang adiknya nampak mabuk dengan dipapah oleh adiknya yang lain, Nathan segera membantu untuk membawa adiknya itu ke dalam kamar dan merebahkannya di atas kasur mereka yang sempit, adiknya itu nampak meracau tidak jelas namun bau alkohol yang menyengat tercium dari mulut pria itu.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Nathan pada adiknya yang kedua.
"Tadi petugas bar menelfonku dan mengatakan orang ini mabuk dan tingkahnya mulai aneh jadinya mereka menyuruhku untuk membawanya pulang sebelum dia berulah," jawab pria itu.
"Astaga Ariel, bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk tidak minum-minum lagi?" kesal Nathan.
"Aku pergi mandi dulu," ujar adik ketiganya itu.
"Baiklah."
Nathan kemudian membuka pakaian adiknya yang bernama Ariel itu yang masih saja meracau tidak jelas saat ia mengganti pakaian sang adik dengan pakaian baru yang bersih, setelah selesai mengganti seluruh pakaian yang melekat di tubuh Ariel nampak Nathan memandang getir sosok adik keduanya itu yang tidak pernah bisa melupakan kebiasaannya untuk minum- minum.
***
Sementara itu di rumah mewah keluarga Christian nampak seorang wanita tengah menerima panggilan telefon dari orang suruhannya yang ia suruh untuk membuntuti sang suami kemanapun pria itu pergi dan dugaan wanita itu benar bahwa suaminya itu memiliki wanita lain dan yang membuatnya lebih geram rupanya sang suami berselingkuh dengan seorang gadis muda.
"Terus awasi mereka dan jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun!"
TUT!
Wanita yang bernama Marinka itu nampak mematikan sambungan telfonnya dengan geram akibat berita yang dibawa oleh orang suruhannya itu, pokoknya saat pria itu sampai di rumah nanti ia akan langsung memarahinya habis-habisan karena sudah berani berselingkuh dengan wanita lain di belakangny a. Marinka menunggu sampai pagi hari di ruang tamu, semalaman ia tidak tidur untuk menunggu sang suami datang ke rumah dan ketika jam dinding menunjukan pukul 6 pagi nampak pintu utama rumah mewah itu terbuka dan menampakan sosok sang suami yang baru saja pulang setelah menghabiskan waktu semalaman dengan wanita simpanannya.
"Menghabiskan waktu dengan gadis muda, huh?" tanya Marinka geram.
"Apa itu menjadi urusanmu?" tanya Edwin sinis.
Marinka nampak tak percaya dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Edwin padanya, Marinka nampak mendengus kesal dan kemudian ia menumpahkan semua kekesalannya yang selama ini ia pendam dengan peringai sang suami yang selalu menghabiskan waktunya dengan wanita lain dan tidak pernah pulang kerumah. Alih-alih meminta maaf atas perbuatannya, justru Edwin nampak enggan meladeni ocehan Marinka dan bergegas menuju kamarnya namun tangan pria itu ditahan oleh Marinka.
"Aku bahkan belum selesai bicara dan kamu langsung pergi begitu saja?!"
"Aku lelah dan sebentar lagi aku harus pergi bekerja."
"Bekerja ya? Itu saja rutinitasmu, apakah aku dan anak-anak tidak penting?!"
"Dengar Marinka, aku tahu kalau kamu hanya menginginkan uangku saja, bukankah aku sudah memberikan apa yang kamu mau? Jangan bersikap seolah-olah kalau kamu ini adalah istri yang baik ya!"
"Beraninya kamu!"
"Bukankah apa yang aku katakan itu benar? Kamu hanya menginginkan uangku saja dan kamu tidak pernah mencintaiku!"
Setelah mengatakan itu Edwin bergegas meninggalkan Marinka yang geram dengan ucapan sang suami, seorang perempuan yang tidak lain adalah anak dari Edwin dan Marinka baru saja turun dari lantai dua dan secara tidak sengaja mendengar keributan pagi ini antara Papa dan Mamanya.
"Apa kalian bertengkar lagi?"
tanya perempuan itu.
Anda Mungkin Juga Suka





