
Karma sang pelakor
Bab 3
"Sudahlah, jangan ganggu aku," ujar Marinka kesal dan bergegas pergi meninggalkan anaknya itu yang hanya bisa menggelengkan kepala akibat pertengkaran yang baru saja terjadi.
***
Nathan hendak pergi bekerja saat ini dan ia berpamitan pada Ayah serta kedua adiknya itu, sebelumnya Nathan sudah memberikan nasihat pada Ariel untuk tidak minum-minum lagi, namun sepertinya pria itu tidak akan pernah mengindahkan ucapan Kakaknya walau Nathan sudah mengatakan itu berulang kali. Saat Nathan baru saja keluar dari rumah, nampak adik yang ketiga baru saja pulang, lagi-lagi nathan harus memberikan nasihatnya pada adiknya yang ketiga karena dia adalah satu- satunya perempuan di dalam keluarga ini pasca Ibu mereka meninggal dunia 10 tahun lalu akibat penyakit hipertensi yang ia derita.
"Darimana saja kamu semalaman? Kenapa baru pulang?" tanya Nathan.
"Aku bekerja," jawab adiknya itu tenang.
"Bekerja apa?" tanya Nathan Curiga.
"Kakak tidak perlu tahu, pokoknya aku sudah bekerja dan bayaran yang aku terima itu besar Iho," jawab adiknya itu sombong.
"Apa pekerjaanmu? Apa pekerjaanmu itu halal?"
"Siapa peduli soal itu? Sudahlah, aku mau masuk dulu."
Namun Natha mencekal lengan adiknya itu dan membuat gadis itu geram dan berusaha melepaskan cekalan tangan Nathan di tangannya itu.
"Kak, lepaskan aku!" seru gadis itu.
"Katakan kamu bekerja apa!"
***
Gadis itu masuk ke dalam rumah dengan raut wajah kesal, saat itu ia tidak sengaja berpapasan dengan ariel yang baru saja sadar dari tidurnya setelah semalam ia tak sadarkan diri akibat terlalu banyak minum. Gadis itu nampak mendengus kesal kearah Kakak keduanya itu dan bergegas hendak masuk kedalam kamar namun Ariel mencekal lengan adiknya itu.
"Dari mana kamu?"
"Astaga kalian ini semua kenapa sih?! Aku ini sudah 20 tahun, aku sudah tahu bagaimana caranya menjaga diri dan jangan usik privasiku!"
Setelah mengatakan itu, ia melepaskan cekalan tangan Ariel dan masuk kedalam kamarnya seraya membanting dengan keras pintu itu tepat di depan wajah Ariel, pria itu nampak menggelengkan kepalanya dengan tingkah adik bungsunya itu.
"Vina baru pulang lagi ya?" tanya pria yang merupakan adik pertamanya.
"Begitulah, dan kamu bisa dengar apa yang baru saja terjadi," ujar Ariel kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Namanya adalah Brian Abraham , dia adalah anak ketiga dari keluarga ini, ia adalah Kakak dari Vina sekaligus juga Adik dari Nathan dan Ariel. Saat ini usianya 2 2 tahun dan baru saja menyelesaikan kuliahnya di salah satu Universitas Negeri ternama di kota ini melalui jalur bidik misi, diantara semua keluarganya hanya dirinya yang dapat melanjutkan pendidikan sampai- tingkat Perguruan Tinggi namun selepas ia lulus dari Universitas, ia dihadapkan dengan kenyataan sulitnya mencari pekerjaan apalagi di tengah persaingan kerja yang semakin ketat dan bayang-bayang ketidak pastian ekonomi global yang membuat banyak perusahaan melakukan penghematan dengan tidak melakukan perektrutan karyawan baru.
***
Marinka baru saja masuk ke dalam kamar tidurnya dan menemukan sang suami sudah kembali rapih dengan pakaian formalnya, Marinka mendengus kesal pada pria tua itu namun Edwin nampak acuh dengan raut wajah kesal pada Marinka itu.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan itu?" tanya Marinka pada sang suami namun lagi-lagi Edwin hanya diam dan sama sekali tidak menanggapi ucapan Marinka barusan.
"Kamu sedang menguji kesabaranku?!" geram wanita itu. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, apakah itu salah?"
"Apa maksudmu yang sebenarnya?"
"Kamu menikah denganku bukan karena cinta tapi karena harta yang aku miliki, bukan begitu ?" Tanya Edwin dingin.
"Iya, aku mengakuinya, namun kalau sampai media tahu bahwa kamu jalan dengan seorang gadis, bukankah berita itu juga akan berdampak buruk pada citramu dan perusahaan?"
"Para wartawan tidak akan pernah berani melakukan itu." Jawab Edwin dengan santai.
"Terserah kamu sajalah, pokoknya kamu harus memastikan bahwa para wartawan tidak akan berani melakukan hal yang macam- macam!"
"Sudahlah, aku malas membahas itu," ujar Edwin acuh dan pergi dari kamar itu, mengabaikan Marinka yang nampak geram dengan peringai suaminya.
"Awas saja kamu!" geram Marinka mengepalkan kedua tangannya geram.
***
Marinka keluar dari kamar tidurnya dan mendapati anak keduanya tengah duduk di sofa ruang tengah menatap murung pada layar televisi yang mati dihadapannya, marinka duduk disebelah putrinya itu dan merasa penasaran hingga membuatnya bertanya mengenai apa yang terjadi pada putrinya saat ini.
"Ezra memutuskanku kemarin." Adunya.
"Oh pria itu." Jawab Marinka mengangguk anggukkan kepalanya.
"Kok respon Mama begitu sih?" Kesalnya
Anda Mungkin Juga Suka





