
Karier Magang Putri Presdir
Bab 2
“Itu si Dinda Vania benaran menyebalkan sekali. Tadi pagi tidak setuju aku jadi ketua, barusan menantang aku lagi.”
“Ada hal begitu?”
Manajer memegang pinggangnya Chelsia, memojokkan seluruh tubuhnya ke sudut yang gelap.
“Hal ini kasih aja ke aku, akan kubuat dia tidak bisa bertahan sampai selesai magang.”
Selanjutnya, di ruang tangga yang sunyi terdengarlah suara manja yang sangat nggak enak didengar.
Seketika aku merinding, tapi merasa lucu lagi.
Aku benaran mau lihat, gimana cara mereka membuatku tidak bisa tahan sampai selesai magang.
Benaran, esok paginya aku di panggil ke ruang manajer.
“Dokumen yang kemarin suruh kamu kerjain kenapa belum dikumpul? Pekerjaan dasar aja tidak bisa selesaikan, kamu tidak perlu lanjut di sini lagi.”
Aku kira dia bisa pakai trik apaan.
Ternyata gini doang.
Aku dengan tenang melihat manajer, “Chelsia yang lapor ke anda?”
“Dia lapor dengan jujur, aku juga mengurusnya dengan adil.”
Aku pengen ketawa, bagus sekali mengurusnya dengan adil!
“Dokumen itu semuanya adalah data kasus 15 tahun yang lalu, website perusahaan sudah ada dokumentasi, cari saja langsung tahu, tidak perlu dokumentasi ulang.
“Aku menepuk tanganku dan nanya balik: “Apa jangan-jangan anda nggak pernah melihat website perusahaan?”
“Aku, aku tentu melihatnya!”
Tak disangkanya aku sudah ada persiapan, muka manajer langsung kelihatan sedang menahan emosinya, “aku hanya lagi menguji sikapmu!”
Meskipun menderita juga harus menjaga harga dirinya.
Tentu, aku tidak lanjut berdebat lagi dengannya, soalnya aku masih magang, harus melakukan hasil yang bagus untuk membuktikan kemampuanku.
Manajer batuk pelan dan berkata: “Aku dengar kemarin kamu ada perselisihan dengan rekan kerja?”
“Aku tahu kamu tidak terima pengaturanku, tapi masuk ke dunia kerja tidak semuanya akan lancar saja. Kamu masih terlalu muda, kedepannya masih harus banyak belajar.
Kalau tidak tahu hubungan gelap manajer sama Chelsia, aku akan kira dia benaran untuk kebaikanku.
Keluar dari ruang manajer, aku menuju ke tempat kerjaku, dari nggak jauh sudah melihat banyak orang di tempatku.
Setelah Fany melihatku, dengan keras dia berteriak, “Ada sebagaian orang benaran nggak tahu malu, di luar pura-pura sok suci, sebenarnya melakukan hal yang sangat kotor!”
“Fany, jangan bilang begitu, kita semuanya adalah rekan kerja. Mungkin Dinda hanya penasaran, makanya ambil untuk lihat.”
Chelsia maju dan menarik tangannya dengan muka yang sangat sedih dan tersakiti.
“Kenapa? Jadi pencuri tidak bisa dibilangin? Benaran lucu sekali!”
Ada apaan lagi ini?
Aku mengerutkan dahi, menyingkirkan orang-orang yang melihat untuk melihat.
Fany tidak mau mengampunnya, “Dinda, kamu mencuri jam tangan Catier Chelsia, kamu masih beraninya duduk di sini?”
Gerakanku terhenti sebentar, lemari rumahku ada sederet Catier, aku bahkan nggak pernah melihatnya, untuk apa aku mencurinya?
“Dari mana kamu lihat aku mencuri? Kalau nggak ada bukti jangan bicara sembarangan!”
“Kalau gitu kamu buka lacimu untuk kami lihat!”
Chelsia maju, “Dinda, kalau kamu suka jam tangan itu, aku bisa beli yang baru untukmu, tapi itu adalah kenangan yang diberi ibuku, bagiku itu sangat penting.”
Mereka dua bekerjasama, benaran mau membuktikan aku adalah pencurinya.
Aku ada firasat, barangnya ada di laciku.
Kalau nggak, Fany nggak mungkin beraninya suruh semua orang jadi saksi!
Laci di semua tempat kerja dikunci, dengan hubungan Chelsia dan manajer, mau mengambil kunci cadangannya adalah hal yang gampang.
Sepertinya melihat keraguanku, Fany makin sombong, “Kenapa? Cemas? Pencuri!”
Aku melihat di kamera kecil yang ada di atasku tertawa dingin, “Siapa yang curi, dia tau sendiri!”
Aku membuka lacinya, benaran di dalamnya ada Catier Balon Biru.
Tapi di luar dugaanku adalah, aku melihat sisi dalamnya ada ukiran huruf yang kecil.
DV, adalah singkatan dari namaku.
Anda Mungkin Juga Suka





