
Karier Magang Putri Presdir
Bab 3
Fany tidak memberi waktu untuk aku respons, langsung mengambil jam tangannya, “Chelsia coba kamu lihat, ini jam tanganmu yang hilang bukan?”
“Benar, ini jam tangan pemberian ibuku. Dinda, ini kenapa bisa ada di dalam lacimu?”
Chelsia dengan mata yang merah melihatku, wajahnya yang menyedihkan membuat semua orang menenangkannya.
Aku benaran shock kali!
“Jam tanganmu? Dalamnya terukir namaku?
Dengar itu, semuanya terbengong, pada pergi melihat ukiran nama tersebut.
Setengah bulan yang lalu adalah ulang tahunku, teman sekolahku yang fake demi menjilatku, sengaja membuatin jam tangan ini.
Hanya saja model yang sama di rumahku terlalu banyak, jadi aku menjual jam tangan itu dengan harga murah di aplikasi.
Aku masih ingat, keesokan harinya datang seorang pembeli. Tetapi dia nego lama sekali, aku sudah capek, jadi kubulatin nominalnya.
Tapi nggak ku sangka, orangnya adalah Chelsia.
“Siapa yang bilang DV itu adalah namamu? Benaran sangat konyol!”
Fany menyilangkan tangannya di depan dada, “Jangan alihkan topik, kamu curi jam tangannya Chelsia, sekarang bukti dan saksi ada semuanya, apa lagi yang mau kamu katakan?”
“Tidak ada yang mau aku katakan, lihat CCTV aja, setiap ruang kantor ada CCTV, apa kalian nggak tahu?”
Melihat ekspresi mereka, benaran nggak tahu.
“Mau nggak aku bantu kalian lapor polisi, biar polisi bantu lihat siapa pencuri yang sebenarnya? Sambil ngomong, aku ambil handphone, Fany yang di depanku wajahnya jadi pucat.
“Apa yang terjadi, baru pagi aja sudah berisik kali!”
Di saat ini, manajer datang, Chelsia dengan sedih berkata padaku.
“Mungkin ada yang salah letak, maaf sudah menyalahkanmu. Dinda kamu hati besar, jangan marah lagi ya?”
Dia yang duluan mencari masalah, sekarang malah dengan muka sedih membujukku?
Beli jam tangan second aja sudah merasa sendiri superior.
Aku dengus dingin saja, tidak mau perhitungan dengan mereka.
Tapi, masalah ini membuat aku dan Chelsia jadi musuhan.
Hari kedua, malamnya perlu lembur, Chelsia ambil daftar anak magang untuk pesanin makanan.
Di saat pembagian makanan, semua orang kedapat, hanya aku yang nggak ada.
“Aku pesan sesuai daftar nama 13 orang, kenapa bisa kurang?” Melihat mukanya yang cemas, aku merasa sangat palsu.
Namaku ada di bagian tengah, depan dan belakang daftar nama nggak kurang, kenapa hanya kurang bagian ku?
“Gini aja, aku bantu pesanin lagi?” Sambil ngomong dia sudah mengeluarkan handphonenya.
“Aiyo, sampai di sini mau jam 7, tapi kita sudah mau meeting.”
Aku senyum dingin, trik yang sangat kekanak-kanakan ini cuman dia yang bisa melakukannya!
“Gampang saja, siapa yang bersalah siapa yang tanggung jawab, makananmu kasih ke aku aja.”
Cuman bilang aja, aku benaran nggak butuh makanan dia.
Tetapi belum tunggu jawaban Chelsia, Fany dengan sinis bilang: “Kamu nggak tahu malu ya? Sebelumnya mencuri jam tangan Chelsia, sekarang mau rebut nasi Chelsia lagi?”
Suaranya keras, jadi semuanya melihatku dengan pandangan yang aneh.
Aku senyum dingin, “Pertama, aku tidak pernah mencuri jam tangan, ada CCTV sebagai buktinya, kalau kamu mau periksa dengan jelas, aku akan temanin. Kedua, matamu yang mana lihat aku rebut nasinya?”
Dia tidak menyangka aku bisa membantahnya dengan gitu, seketika terbengong.
Chelsia datang untuk menenangkan, “Dinda kamu jangan berpikir gitu, Fany hanya bicaranya lebih langsung, tidak ada maksud yang lain.”
Aku melihat bibir muka mereka yang palsu kali, mengambil dokumen langsung masuk ruang meeting.
Lebih tidak melihat daripada kesel.
Meetingnya sampai jam 9, aku sudah lapar sampai mataku berbintang.
Di waktu kosong chat ke ibuku.
“Aku mau makan ayam kecap, udang tumis, daging asam manis.. dan dua nasi!”
Sampai pulang kerja, sudah mau jam 12 malam.
Semuanya sudah capek lelah, tidak berbicara dan bersamaan jalan ke luar.
Tetapi, mobil hitam Bent di depan perusahaan menarik perhatian semua orang.
“Chelsia, ini mobil rumahmu? Ayahmu baik kali samamu, pasti khawatir kamu pulang malam, menyuruh orang datang untuk menjemputmu.”
Chelsia senyum-senyum, “Enggaklah...”
Aku nggak bicara, melihat supir turun dan melambaikan tangannya ke arahku, baru aku maju ke depan.
“Apaan ini? Kenapa dia naik ke mobil itu?”
Sebelum naik, aku mendengar omongan Fany.
Aku malas melihatnya, menyuruh supir untuk jalan saja.
Pulang ke rumah, melihat meja penuh dengan makanan, aku langsung melupakan semuanya dan fokus makan.
Ayah ikut masuk, pas ada waktu, sekalian nanya aku gimana rasanya 2 hari ini kerja.
Gerakan aku memakan ayam berhenti, kata-kata yang sudah sampai di mulut kutahan.
“Enggak kok, baik-baik aja semuanya, Ayah tunggu aja kejutan besar dari aku!”
Trik Chelsia yang kekanak-kanakan itu, tidak perlu gangguin Ayah.
Aku mau tunggu sampai saatnya, sampai Chelsia tidak bisa melanjutkan kebohongannya lagi!
Sekarang membongkar mereka, terlalu cepat.
Anda Mungkin Juga Suka





