
KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
Bab 2
Semula Randika sedikit khawatir karena sikap Charli yang tidak memperdulikan Lily akan menjadi boomerang untuk perusahaan, secara Nusa Corp perusahaan milik ayah gadis itu. Dan tak ada ayah yang terima jika putrinya tidak dianggap.
Tapi ternyata Charli selalu benar, Charli sudah mengatakan padanya walaupun Nusa Corp adalah perusahaan besar tapi mereka akan berpikir seribu kali untuk membatalkan kerjasama yang pastinya sangat menguntungkan mereka itu.
Hari itu Sigit kembali meminta untuk bertemu, kali ini mereka akan bertemu saat makan siang.
“Dik... kamu ikut! Nanti makan siang bareng Kakak. Sekalian belajar bagaimana menghadapi pengusaha-pengusaha besar seperti Sigit ke depannya.”
“Iya, aku saja yang bawa mobilnya. Kaki Kak Charli kan masih sakit gara-gara kemarin sempat terkilir pas turun bukit,”
Sementara itu disebuah rumah sederhana tampak seorang wanita sedang merawat seorang anak laki-laki yang sedang sakit. Dengan telaten wanita itu mengganti kompres yang terpasang di dahi di kecil.
“Ayah....”
Wanita bernama Mega itu meneteskan air matanya ketika putra satu-satunya bernama Ari itu selalu menyebut nama ayahnya. Dua tahun yang lalu dia diceraikan oleh sang suami karena ternyata suaminya lebih memilih hidup bersama wanita lain.
Mega menikah di usia yang sangat muda yaitu pada saat usianya masih tujuh belas tahun. Dia di paksa menikah dengan pria yang tidak ia cintai karena sebuah perjodohan. Dan naasnya selama menjadi suaminya, pria yang dijodohkan dengannya itu sudah mempunyai wanita yang dicintai.
Dan saat kedua orang tuanya sudah meninggal, pria itu menceraikan dirinya dan menikahi wanita yang dicintainya. Mega mundur bukan karena tidak mau memperjuangkan keutuhan rumah tangganya. Dia hanya benar-benar lelah dan telah habis kesabaran dalam menghadapi suaminya. Enam tahun ia bertahan dan mencoba menjadi wanita tegar karena hadirnya seorang Ari di hidup mereka.
Walau Ari hadir bukan karena cinta, tapi Mega sangat menyayangi putranya. Sang suami menyentuhnya hanya karena untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.
Dan selama dua tahun berpisah, ternyata suaminya mengabaikan mereka. Tak sekalipun dia memberi tunjangan hidup untuk putranya. Pria itu benar benar menganggap mereka tidak ada di dunia ini.
“Ari minum obat dulu ya sayang,” ucap Mega.
“Iya Bunda.”
Mega beranjak meninggalkan putranya yang sudah tertidur dengan lelap setelah meminum obat penurun panasnya. Dia beruntung mempunyai anak laki-laki yang penurut dan sangat menyayanginya.
Ari tidak pernah mengeluh walau mereka hidup sangat sederhana. Mega menjadi seorang pengajar di sebuah playgroup yang cukup ternama. Anak-anak yang belajar disekolah itu rata-rata adalah anak orang kaya.
Kebetulan setelah perceraiannya ada seorang teman yang menawarinya pekerjaan sebagai seorang pengajar di sebuah Playgroup miliknya.
“Halo Din! Maaf tadi aku belum bisa berangkat mengajar. Ari masih panas,” Ternyata ia menelpon temannya bernama Andini, pemilik sekolah tempatnya mengajar.
“Udah santai saja, Indra memang goblok! Bisa-bisanya dia lupa pada anaknya sendiri. Dia hidup senang dengan wanita ular itu dan menelantarkan anak kandungnya sendiri!” sahut Andini dengan bersungut-sungut.
“Udah nggak usah bahas Mas Indra, kami sudah ikhlas kok! Aku masih kuat menjaga Ari sendiri.” Ucap Mega menenangkan.
“Dua tahun Mega! Sampai Ari udah segede itu dia sama sekali enggan menengok anaknya sendiri. Masa orang sekaya dia nggak bisa kasih duit ke kalian! Tuan besar Indra Perkasa pemilik beberapa restoran terkenal di pulau ini. Benar-benar keterlaluan dia!”
Terdengar Mega tertawa kecil mendengar kemarahan sahabatnya. Dia dan Andini bersahabat dari mereka kecil hingga mereka tahu setiap kisah hidup masing.
“Kenapa jadi kamu yang sewot sih? Ya udah aku mau beli telur dulu ke mini market depan, mumpung Ari masih tidur.” Kata Mega.
“Ya udah nanti sore aku kesitu,” balas Andini
“Ok!”
Setelah melihat putranya yang masih tertidur pulas di kamarnya, Mega kemudian keluar rumah untuk membeli telur di mini market yang tepat ada di seberang jalan depan rumahnya. Saking tergesa-gesanya ia sampai tidak fokus memperhatikan jalan dan....
CKKIITTTTT...
Mega memejamkan matanya pasrah ketika mendengar bunyi mobil yang datang padanya, dia tahu dia bersalah karena menyeberang dengan tidak berhati hati.
“Kau tidak apa-apa?”
Perlahan Mega membuka matanya seorang laki-laki memakai setelan lengkap berdiri menjulang di depannya yang sedang duduk meringkuk di tengah jalan.
“Apa kau sengaja ingin menabrakkan dirimu?” tanya laki-laki tersebut.
Mega mencoba bangkit walau kakinya masih terasa lemah, kejadian barusan masih membuatnya syok.
“Aku tidak gila tuan, sampai harus melakukan hal yang anda pikirkan!” ucap Mega.
“Apa yang kupikirkan memangnya?” tanya pria itu menantang.
Mega tidak menjawab, dia berjalan menuju mini market tanpa mempedulikan pandangan aneh orang yang akan menabraknya tadi. Yang dia pikirkan adalah dia harus segera ke mini market agar bisa pulang sebelum putra semata wayangnya bangun.
Pria itu sungguh menyebalkan, bukannya minta maaf malah sudah menuduh dirinya sengaja menabrakkan dirinya. Mungkin pria itu berpikir dia akan memerasnya dengan sejumlah uang. Walau sangat butuh uang tapi dia tidak akan bertindak segila itu.
Sedangkan pria itu sedang berdecak kesal, karena sebenarnya ia juga merasa bersalah dalam hal ini. Kakinya yang kemarin sempat terkilir tiba-tiba terasa sangat nyeri hingga tanpa sengaja ia malah menginjak lebih dalam gasnya. Untung saja dengan sigap satu kaki lainnya segera menginjak rem hingga kecelakaan itu urung terjadi.
Pria itu mengambil ponsel yang terdengar berdering di sakunya.
“Kak Charli nyetir sendiri? Tadi Pak Made lapor kalau Kakak nggak mau pakai dia. Randika nyusul nanti setelah selesai meeting sama divisi pemasaran.” Ucap Randika dibalik telepon.
“Kaki Kakak baik-baik saja Dik! Nggak perlu pakai supir, nanti Pak Made saja yang nganter kamu. Soalnya kamu belum hafal benar daerah sini. Nggak lucu kan kalau ada berita CEO Baskoro kesasar,” sahut Charli.
“Ckk kan bisa sharelok Kak!”
“Jaga-jaga Dik ! Nanti ada singa ngamuk kalau tahu adik iparnya gue telantarkan disini. Bininya juga nggak kalah sadis.”
Dan Randika terdengar terkekeh, Anjani dan Arga menganggapnya masih seperti anak kecil. Kadang mereka juga khawatir berlebihan, dan Charli yang selalu menjadi tumbal dari semuanya.
***
Di kamar sebuah hotel mewah terlihat pasangan muda yang baru saja datang.
“Kata Mbak Anjani kita nginep dimansion Kak, kok kita malah kesini sih ? Nggak enak sama mereka yang sudah menyiapkan untuk kita,”
“Lebih nyaman disini sayang!” jawab Danny singkat.
Jika dia menginap di mansion dipastikan dia tidak akan bisa bermanja-manja dengan istri kecilnya. Arga, Charli dan si polos Randika kadang jahilnya kebangetan, mereka kompak jika itu menyangkut kesengsaraan dirinya.
“Ahh... nyaman banget… akhirnya!”
Isabelle tiduran di atas kasur dengan mengepakkan kedua tangannya seperti seekor burung. Perjalanan yang hanya beberapa jam itu sempat membuatnya ketakutan karena ini pertama kalinya dia naik pesawat.
“Capek sayang?” tanya Danny.
“He’em “ jawab sang istri manja.
“Mau dipijit nggak?”
“Kak Danny memangnya nggak capek?”
“Kalau cuma mijit badan kamu yang kecil sih nggak bakal capek sayang. Sini...” ucap Danny.
“Aww.. kok jeans nya dilepas sih, malu ihh Kak!” jerit Isabelle karena tiba-tiba sang suami melepaskan kancing celana yang sedang ia pakai.
“Malu sama siapa? Hanya kita berdua di kamar ini sayang, lagian nggak nyaman kalau mau istirahat masih pakai celana jeans seperti ini.” kilah Danny tersenyum licik.
Dengan senyum lebar Danny mulai memijit kaki mulus istrinya yang sudah tidak terhalang apapun, semakin ke atas semakin ia susah menelan salivanya. Kain segitiga warna merah itu sangat mengganggu penglihatannya.
“Kak Danny!” pekik Isabelle ketika merasa kain segitiganya diturunkan.
“Ngalang-ngalangin sayang, nggak leluasa mijitnya,” ucap Danny mencari alasan.
“Hishhh mesum dasar, tadi sebelum berangkat kan udah!”
“Yang tadi pagi kan makanan pembuka sayang! Kalau yang ini makanan intinya...”
Isabelle hanya diam dan pasrah ketika sang suami mulai membuka semua pakaiannya. Pijatan-pijatan itu berubah menjadi sentuhan sentuhan liar.
“ Euuughhhh... Kak!”
Isabelle benar-benar di buat kewalahan dengan lidah suaminya yang sedang bermain di bawah sana. Puas bermain, Danny membalikkan tubuh mungil istrinya hingga tidur tengkurap.
Diremasnya gemas dua bongkahan padat bagian bawah sang istri. Danny mengambil bantal untuk mengganjal pinggul sang istri. Dia melakukan gaya ini agar istrinya lebih rileks.
Perlahan dia memacu tubuh sang istri dari belakang dengan dua tangannya yang menahan pinggul ramping itu.
“Eeuugghh...”
Gerakan yang semula slow motion berubah menjadi sangat liar. Suara beradunya kulit dan lengguhan manja sang istri menjadi musik indah yang menghiasi kamar itu. Danny tambah bersemangat ketika melihat Isabelle mulai menikmati semuanya.
Sungguh! Danny selalu bisa membuatnya terbang ke nirwana. Permainan lembut atau liarnya seringkali membuatnya ketagihan.
“Kak....” lirih Isabelle.
“Sama sama ya...”
Danny mempercepat gerakannya karena dia tahu sang istri sudah akan mencapai puncaknya. Sampai akhirnya tubuh mereka bergetar bersamaan. Danny menggeram nikmat saat bagian bawahnya seperti sedang dipijat lembut didalam sana.
“Kakak sayang sama kamu!” Danny menciumi punggung polos istrinya yang masih tidur tengkurap di bawahnya.
“Isabelle juga sayang sama Kakak!”
“Mandi yuk, habis ini kita ke mansion mengantar titipan Anjani buat Randika “
“He’em” Isabelle pasrah saja ketika tubuh kekar sang suami membopong dirinya ke arah kamar mandi.
Anda Mungkin Juga Suka





