
KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
Bab 3
Malam itu Danny dan Isabelle pergi ke mansion Baskoro untuk memberikan titipan Anjani pada Randika. Ibu muda itu menitipkan daging rendang dan kentang kering pedas kesukaan adiknya.
Setiap hari pun Anjani akan selalu menelepon Randika untuk menanyakan keadaannya. Mereka memang tidak pernah sejauh ini dari kecil, sejak kecil Anjani lah yang merawat adiknya karena sang ibu sibuk mencari uang untuk menghidupi mereka.
“Kak Danny!”
Randika menghampiri sepasang pengantin baru yang sedang mengunjunginya.
“Betah di sini Dik?” tanya Danny kepada adik ipar sahabatnya tersebut.
“Alhamdulilah sih, betahbetah saja,” jawab Randika.
“Banyak yang bening disini,”
“Wihhh inget aja kalau disini banyak yang bening, ntar malem jangan kasih jatah Belle! Tuh mantan hidung belang inget sama mantan disini,” celetuk Charli yang terlihat sedang menuruni tangga.
“Ckk.. mana ada! Tobat setobat-tobatnya gue. Tuh mulut gue lakban juga nih, kalau cuma mau bikin masalah doang!”
“Udah... jangan di goda terus, ngamuk ntar!” kata Randika mencoba menengahi Tom & Jerry di depannya.
“Mas ini ada titipan dari Mbak Anjani!” Isabelle menyerahkan beberapa rantang yang berisi makanan bikinan tangan nyonya muda Baskoro.
“Terimakasih...” jawab Randika.
Seorang maid mengambil-alih semua makanan itu dan menyimpannya di lemari pendingin. Mereka semua akhirnya duduk diruang tengah dan berbincang di sana.
“Kak Danny nggak nginep sini?”
“Mana mau dia Dik, otak mesumnya khawatir kalau kita bakal gangguin dia,” sambar Charli sambil tertawa.
“Nahh itu tau! Makanya cepetan elo pada nikah, biar nggak jadi jones karatan sepanjang masa!” kilah Danny, dia duduk dengan satu tangan yang merengkuh pinggang istrinya.
Sebelum larut, Danny dan istrinya pamit pulang ke hotel, mereka juga ingin menikmati suasana malam di kota ini yang terkenal cukup ramai.
Karena hari sudah malam Charli maupun Randika segera beristirahat di kamar masing-masing. Selama ada di kota ini mereka memang jarang sekali keluar malam. Mereka hanya akan keluar untuk sekedar mencari makan atau sekedar jalan-jalan menikmati sepinya malam.
Charli yang sudah merebahkan dirinya di ranjang tiba-tiba teringat wajah wanita yang siang tadi hampir ia tabrak. Wajah itu terlihat sangat teduh, cantik walaupun di balut kesederhanaan.
Dia menghela nafasnya, sebenarnya ada sedikit rasa bersalah karena sudah menuduh wanita itu dengan tuduhan tuduhan yang tidak berdasar.
Dulu dia pernah dikecewakan oleh seorang wanita. Waktu itu dia masih kuliah dan belum berkelimpahan seperti sekarang. Mereka saling mencintai dan berjanji akan hidup bersama sampai akhir nanti. Mereka ingin hubungan mereka di ikat tali suci pernikahan.
Tapi harapan tinggalah harapan, wanita yang ia cintai diam-diam menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Tanpa sepengetahuannya mereka bermain di belakangnya. Kabarnya pria itu adalah pengusaha restoran yang cukup sukses.
Dan sayangnya wanitanya lebih memilih pria itu hanya karena berpikir akan lebih bahagia hidup dengan kekayaan melimpah. Sejak saat itu Charli bertekad untuk menjadi pria yang sukses.
Hingga takdir mengantarkannya pada keluarga Baskoro. Selain diangkat menjadi tangan kanan dia juga diakui menjadi salah satu putra Baskoro seperti halnya Randika dan Danny.
Galih dan Dara tak pernah membedakan mereka berempat. Walau kadang Randika lebih di istimewakan karena dia yang termuda diantara mereka.
Bertahun-tahun ia membentengi dirinya dari makhluk bernama wanita. Sebisa mungkin ia tak mau berurusan dengan mereka.
Bagi Charli kecantikan wanita hanyalah topeng untuk menutupi kebusukan mereka semata. Wanita hanya akan mencintai pria karena harta, tak ada cinta tulus di hati mereka.
Banyak wanita yang mendekatinya tapi tak sekalipun dia melihatnya. Sampai saat ini dia masih sangat menikmati kesendiriannya. Tiba-tiba lamunannnya terganggu dengan dering ponselnya.
“Lily...” lirih Charli sambil menghembuskan nafasnya kasar.
Gadis kaya itu ternyata pantang menyerah, walau dari awal Charli sudah menunjukkan ketidaksukaannya tapi gadis itu tetap berusaha mendekatinya. Dia berpikir sekali dia menanggapi maka Lily akan semakin mengejarnya.
Charli tahu Lily mengira dialah CEO Baskoro karena beberapa kali pertemuan dengan Nusa Corp dialah yang mewakili Baskoro karena Randika punya urusan lain.
Coba saja jika gadis itu tahu Randika yang ia anggap pria miskin adalah CEO Baskoro, dia pastikan gadis itu akan menangis darah.
Kadang dia tak habis pikir dengan Randika yang selalu low profile. Jika di luar sana para pemuda berlomba-lomba memamerkan kekayaannya tapi CEO muda itu malah menikmati kesederhanaannya.
Charli sama sekali tak menyentuh ponselnya, dia biarkan ponselnya berdering berkali-kali hingga dia kemudian tertidur.
***
“Besok siang kita kedatangan donatur untuk pengembangan sekolah kita!”
Sore itu Andini datang ke rumah sederhana Mega untuk menjenguk Ari. Wanita muda itu memang sangat memperhatikan dunia pendidikan. Rencananya dia ingin membuat sekolah gratis untuk kaum tidak mampu. Dan keberuntungan berpihak padanya ketika seorang pengusaha mendukung niatnya ini.
Walau dia hanya berhubungan melalui chat tapi ia yakin pengusaha muda itu benar-benar mempunyai niat baik untuk membantu kaum tidak mampu sesuai dengan misinya.
“Ganteng nggak? Tua atau masih muda ?” tanya Mega dengan antusias.
“Ckk... mana aku tahu. Foto profilnya aja balita laki-laki gendut umur tiga tahunan gitu sama bayi gendut baru lahir, apa jangan-jangan itu foto anak-anaknya?” jawab Andini.
“Berarti udah merid dia?”
“Ya masa udah brojol dua gitu belum merid sih?”
“Yaaahhh....” Mega terlihat sedikit kecewa.
“Kamu kenapa?”
“Yahh kalau masih jomblo kan bisa sama kamu Din!” ucap Mega.
“Kok pikiran kita sama ya, tadinya malah pengen aku kenalin sama kamu. Biar itu Indra nyaho kamu dapat pengganti yang lebih dari dia,” kata Andini.
“Aku nggak pernah kepikiran buat nikah lagi Din, yang terpenting buatku sekarang hanya Ari.”
Andini menepuk pelan lengan sahabatnya, dia tahu perceraian itu sangat menyakiti Mega dan putranya. Walaupun mereka menikah tanpa cinta tapi harusnya Indra tetap bertanggung jawab pada Ari karena bagaimanapun anak itu adalah putra kandungnya.
Sayangnya sahabatnya tidak pernah mau menuntut apapun dari mantan suaminya. Mega selalu berusaha tegar dan kuat untuk putranya.
“Tante Andini...”
“Hai ganteng, udah sembuh?” Andini menghampiri Ari yang berjalan ke arahnya. Sepertinya anak itu baru saja bangun tidur.
“Alhamdulilah udah nggak sakit lagi kepalanya Tan!” jawab anak itu.
Walau masih berumur enam tahun tapi Ari adalah anak yang mandiri. Dia tak pernah bermanja-manja seperti anak lainnya. Pagi hari ia akan membersihkan rumah ketika sang ibu harus menyetrika ratusan baju.
Mega memang menyediakan jasa setrika baju yang dia kerjakan saat pagi hari sebelum dan sesudah pulang kerja. Dan ia akan mengantar sekaligus mengambil lagi baju-baju yang akan ia setrika lagi.
Walau sangat lelah tapi ia mensyukurinya karena hasilnya bisa untuk membeli keperluan sehari hari mereka.
“Sini sayang!”
Mega memeriksa suhu tubuh anaknya, dia lega setidaknya badan Ari sudah tidak panas lagi. Mungkin dengan istirahat sebentar kondisinya akan segera pulih dan kembali beraktifitas seperti semula.
“Tetap istirahat dulu ya sayang biar besok udah bisa sekolah!”
“Yeayy... sekolah!”
**
Di sebuah rumah mewah terlihat suami istri sedang duduk makan siang bersama.
“Mas nanti transfer aku uang lagi ya! Kemarin aku pesan tas branded sama Bu Tuti, teman-teman arisan aku juga banyak yang pesan “
“Tapi belum lama sepertinya kau meminta uang untuk hal yang sama!” ucap sang suami.
“Itu juga bisa buat investasi sayang, tas branded kan seperti emas yang bisa di jual lagi.”
“Berapa aku harus mentransfer ke rekeningmu?”
“Cuma dua ratus juta,” jawab si istri.
BRAK....
“Apa! Kau sudah gila hahh?”
Indra menggebrak meja makan hingga istrinya yang bernama Mery terlonjak kaget. Sudah berkali-kali Mery meminta sejumlah uang hanya untuk menuruti gaya hidupnya yang mewah.
“Aku gila kau bilang? Aku hanya sedang menjaga nama baikmu Mas! Kau paling tahu kan kalau semua temanku adalah istri teman-temanmu yang juga pengusaha. Ya sudah aku akan batalkan pesanan itu dan jika mereka bertanya maka aku akan menjawab jika suamiku tidak punya uang sebesar itu untuk membelinya.”
Dengan tersenyum licik wanita itu melihat ke arah suaminya yang terlihat marah dan sedikit bingung. Tapi ia yakin suaminya tidak akan mau terlihat miskin di depan teman-temannya.
“Terserah!”
Dulu Indra masih bisa memaklumi, lagipula Mery mungkin perlu barang-barang mewah itu untuk menunjukkan eksistensinya sebagai istri dari seorang Indra Perkasa pengusaha sukses yang mempunyai jaringan terbesar restoran di pulau ini.
Tapi lama kelamaan dia merasa lelah untuk menuruti setiap kemauan Mery. Wanita itu seperti tidak ada habisnya meminta dan meminta.
Indra teringat Mega, istri sah yang dia ceraikan untuk bisa menikah resmi dengan Mery. Ya, dia dan Mery pernah menikah siri karena kedua orang tuanya memaksanya untuk menikahi Mega.
Dia dan Mery tidak sengaja bertemu di sebuah super mall di Jakarta. Waktu itu Mery menolaknya dengan alasan bahwa gadis itu sudah mempunyai seorang pacar.
Tapi Indra tidak kehabisan akal, setelah menyelidiki semua tentang gadis incarannya ia mulai menjalankan tak tik nya. Indra mendekati kedua orang tua Mery. Dia manjakan mereka dengan uang berlimpah.
Hingga akhirnya mereka menjodohkan putri mereka padanya. Dan Mery juga akhirnya terlena dengan melihat semua kekayaan yang dia miliki waktu itu. Dengan sukarela gadis itu memberikan dirinya untuk dipersunting walau hanya sebagai seorang istri siri.
Lama kelamaan Mery menginginkan posisi sebagai istri sahnya. Entah bagaimana Indra mau saja menuruti permintaan Mery untuk menceraikan Mega.
Waktu itu Mery mengatakan Mega diam-diam bermain di belakangnya dengan seorang laki-laki. Bahkan Mery memberikan foto-foto bukti perselingkuhan itu, merasa di khianati dan tertipu akhirnya dia menceraikan wanita yang sudah lima tahun menemaninya.
Indra tidak pernah sekalipun melihat dua orang yang pernah ada dalam hidupnya itu karena kebencian yang mendalam, dia paling tidak suka jika dibohongi.
Anda Mungkin Juga Suka





