Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kanjeng Ratu Minta Mantu

Kanjeng Ratu Minta Mantu

Menjadi sekuel dari Tante, Mau kan jadi Mamaku?, kisah ini mengeksplorasi dilema horor yang tak biasa. Mana yang lebih menakutkan: teror makhluk halus atau desakan menikah setiap hari? Bagi sang protagonis yang baru saja menyandang status sarjana, tekanan sang ibu yang sangat ambisius mencari menantu jauh lebih mencekam daripada gangguan gaib. Ikuti perjuangannya menghadapi tuntutan keluarga di tengah situasi yang penuh komedi dan nuansa misteri.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Nur?! Masya Allah ini perawan. Udah siang masih aja molor! Gimana mau dapet laki lo? Jam segini aja masih ileran. Heh?! Liat onoh keluar. Matahari udah di atas pala, lo masih aja selimutan. Meriang lo?!”

Aku hanya berdecak sebal, ketika lagi-lagi hariku diganggu Kanjeng Ratu, penguasa hati Bapak Alex, yang tidak lain adalah Bapakku sendiri. Berarti dia Ibuku sendiri? Ya, iyalah, Paijo! Ya kali tetangga sebelah. Lah, Bapak gue selingkuh, dong. Lalu, kenapa aku memanggilnya kanjeng Ratu? Itu semua karena memang demikianlah namanya. Kan-jeng Ra-tu. 

Entah Ratu apa? Jelas, namanya memang terdiri dua kata beken itu. Kanjeng Ratu. Keren banget, kan? Jelas! Emak siapa dulu dong? Emak gue gitu, loh!

“Elah, Mak. Ini, kan, hari minggu. Males-malesan dikit nggak papah kali, Mak. Mumpung libur,” sahutku akhirnya. Masih dengan mata terpejam dan memasukan kepala ke bawah bantal.

Bukan apa-apa, emakku baru saja membuka tirai jendela di kamarku, hingga sinar mata hari langsung membuat mataku sakit seketika.

Silau kali!

“Eleh! Apaan yang mumpung hari minggu? Elo pan nggak hari minggu, nggak hari senen, nggak hari selasa, bahkan sampai hari jumat pun emang demenannya males-malesan. Empet banget gue lihatnya. Rajin dikit ngapa,msih, Nur? Biar cepat dapat jodoh!”

Sebentar! Koneksi rajin sama cepat dapat jodoh apa, ya? Perasaan waktu sekolah dulu. Peribahasa mengatakan, rajin itu pangkal pandai. Iya, kan? Lah, ngapa jadi ganti haluan, ya, kalau di tangan emak gue? Wah, emak gue emang bener-bener, ya? Suka banget gonta ganti karya orang. Dituntut aja baru tau rasa lho, Mak!

“Apa, sih, Mak? Perasaan dari Nur kuliah ampe sekarang udah lulus, ngomonginnya jodoh mulu! Nggak bosen apa, Mak? Nur aja yang denger bosen banget loh, Mak. Kayak nggak ada topik lain aja,” sahutku malas, sambil nguap lebar banget persis kuda nil mangap.

Oke, stop! Jangan dibayangin! Nanti kalian ilfeel, terus nggak doyan makan. Makanya, cukup sampai di sana. Sip, ya?

“Ya, lo mau gue bahas apa, dong? Cucu?”

Astagfirullahhaladzim! Bukannya omongan emak berkurang levelnya. Eh, malah terus-terusan. Ya kali, sekarang dia malah ngajakin aku bahas cucu. Lah, wong laki aja kagak ada. Gimana bisa ngasih cucu coba? Emang cucu bisa diunduh? Suka ngadi-ngadi deh emak, nih!

“Jangan ngaco deh, Mak! Nur, kan, belum nikah. Mana bisa ngasih cucu? Urutannya, kan. Nikah dulu, bunting, brojol, baru deh emak dapat cucu. Jadi, pending dululah ngomongin itu,” jelasku dengan baik hati, karena ... siapa tahu emakku lupa gitu sama tahapannya, maklum saking ngebetnya dipanggil nenek!

“Nah, itu lo pinter! Makanya, buruan nikah biar bisa ngasih emak cucu!”

Allahhurobbi ... mbulet aja nih omongan. Nikah ... nikah ... nikah aja terus yang dibahas. Mentang-mentang ....

“Masa lo kalah sama si Intan! Dia aja udah mau punya anak dua. Nah, elo? Kapan Nur?”

Nah, ini! Ini biang masalahnya sebenarnya! Sejak Intan nikah sama tuh Pak Duda. Emak aku tuh jadi uring-uringan minta mantu! Lah, dikata mantu bisa dicari di Shoppee yang bebas ongkir? Kalau bisa, mah. Pasti udah aku beli sepuluh, buat cadangan plus pajangan. Lumayan, kan? Bisa gonta ganti kalau bosan.

Cuma, ya, hello! Nyari mantu nggak segampang nyari uban di rambut emakku, kan?  Soalnya kalau itu mah nggak perlu dicari, tuh uban udah eksis sendiri. Secara, rambut emak 75% udah uban semua. Jadi, cincay banget kalau suruh nyari uban.

Sayangnya sekali lagi, yang kita bahas bukan uban, Cuy! Masalah mantu buat emak yang tidak lain dan tidak bukan, bakal calon suami aku. Nah, mana bisa aku sembarang comot buat hal penting itu, kan? Kudu dicari benar-benar. Biar nggak nyesel kayak ... kayak siapa, ya? Kepo pasti, nih! Hehehe ... pokoknya ada ajalah. 

Nah, balik lagi ke emak Kanjeng Ratu, yang masih misuh-misuh minta mantu, kayak minta martabak mini depan gang. Gampang banget mikirnya! Bikin darah tinggiku naik aja tiap ocehan ini diangkat! 

“Jangan samain Nur sama Intan dong, Mak. Kami tuh beda! Kalau Intan, kan, emang harus nikah muda karena lakinya udah ngebet. Namanya juga Duda, ye kan? Nah, kalau Nur itu, kan—”

“Kagak laku!”

Buset! Aku malah dikatain, Pemirsah!

“Kok, emak ngomongnya kayak gitu, sih? Gini-gini Nur ini anak emak, lho!” Aku pun akhirnya merajuk, dong. Soalnya aku merasa tersolimi sebagai anak.

“Yang bilang lo anak cicek siapa, Nur? Dari berojol juga, satu RT tahu kalau lo anak gua. Orang muka lo plek ketiplek gitu sama gue. Jadi, jelas lo itu anak gue, Nur! Asli tanpa formalin!”

Ya, terus kenapa aku disolimi mulu! Ah, rasanya mau kabur aja kalau kayak gini! Sayang belum gajian, jadi belum ada bekal buat kabur. Alhasil, pending dulu aja kaburnya, oke?

“Ya makanya jangan kejam-kejam sama Nur, Mak. Nur, kan, juga butuh disayang,” rajukku kemudian. Berharap masih ada sedikit belas kasihan di hati emakku.

“Hilih! Bahasa lo sok banget, Nur. Heh, Bocah! Kalau gue nggak sayang sama lo, udah gue suruh tidur di kandang bebek sama si Jupri lo. Bukan gue kasih kamar enak kayak gini!” 

Waduh!

“Lagi, ya? Kejam dari mana, sih, gue? Orang gue cuma minta mantu aja, drama lo panjang bener!” lanjut emak. Membuat aku semakin cemberut.

“Tapi emak buat apa mau mantuan secepat ini? Nur aja baru lulus kuliah, Mak! Baru juga buka usaha. Biarin Nur ngejar karier dululah!” balasku sengit.

“Itu, kan, bisa dilakuin setelah nikah. Yang penting itu kasih Emak mantu dulu!”

“Terus kalau udah Nur kasih Mantu. Emak mau ngapain?”

“Mau Emak gibahin di arisan RT.”

Eh, buset! Jadi emakku pengen punya mantu cuma buat di ghibahin, doang? Luar biasa, mulia sekali niatnya!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gulai Daging Ibu
9.1
Tekanan hidup yang menghimpit memaksa Parni, seorang wanita berusia empat puluh tahun, mencari cara ekstrem demi menghidupi anak-anak serta suaminya yang lumpuh. Demi memenuhi tuntutan keluarga, ia terjerumus ke dalam lembah dosa yang mengerikan dan tanpa batas. Tindakan nekat apa yang sebenarnya dilakukan Parni hingga seluruh warga desa merasa ketakutan? Sebuah kisah kelam tentang pengorbanan yang berujung pada misteri yang mencekam seluruh kampung.
Sampul Novel Karma Masalalu
9.0
Hidupku hancur setelah Barikli mengingkari janji nikah dan meninggalkanku yang tengah hamil demi mengejar karier TNI. Enam tahun berlalu, aku terpaksa menikahi Yusuf demi wasiat ayah. Namun, Yusuf ternyata seorang psikopat berkepribadian ganda yang gemar menyiksaku. Saat aku mencoba bangkit bersama Adza yang setia menanti, sebuah rahasia besar yang kusimpan selama lima tahun terancam terbongkar. Kebenaran ini mungkin akan menjadi akhir dari segalanya bagiku.
Sampul Novel Living With The Devil
8.4
Alicia Lucero dijual oleh pamannya yang serakah kepada Lucius Denovan, pria bermata merah saat ia masih kecil. Setelah bertahun-tahun diasingkan, Lucius kembali menjemputnya saat Alicia dewasa. Hidup Alicia berubah menjadi mimpi buruk penuh siksaan karena Lucius sangat gemar melihatnya menderita. Meski terjebak dalam kekejaman pria yang menganggapnya sebagai mainan itu, Alicia memilih bertahan sebab ia menyimpan rahasia besar yang tidak diketahui Lucius.
Sampul Novel Pelakor's Hunter
8.2
Siska tewas mengenaskan setelah cairan mematikan melumpuhkan sarafnya dalam sekejap. Di samping jasadnya, pelaku bertopeng meninggalkan pesan misterius bertajuk Malaikat Maut Pelakor. Serangkaian pembunuhan serupa terus menghantui, menyasar para wanita perebut suami orang. Ranti, istri yang hancur akibat pengkhianatan, kini menjadi tersangka utama karena bukti kuat di rumahnya. Benarkah luka hati mendorongnya menjadi pembunuh, atau ada sosok lain di balik dendam buta ini?
Sampul Novel Pemburu Darah Perawan
9.7
Demi mengubah nasib, Japri nekat melakukan ritual pesugihan di Karang Nini. Kekayaan melimpah berhasil diraihnya, namun ada harga mahal yang harus dibayar berupa tumbal darah perawan setiap malam Selasa Legi. Sesuai perjanjian gaib tersebut, Indra sebagai putra tunggal wajib meneruskan tradisi kelam ini. Kini, Indra terjebak dalam lingkaran setan yang mengerikan, bahkan ia nyaris melanggar pantangan keramat yang mengancam nyawa serta seluruh kekayaannya.
Sampul Novel Rahasia Kelam Suamiku
8.8
Liburan di vila Puncak menjadi mimpi buruk saat aku menemukan adik Baskara yang dikira mati ternyata masih hidup. Suamiku dan orang tuaku justru merawat anak hasil hubungan rahasia mereka. Selama lima tahun, aku hanya dijadikan alat untuk menutupi skandal ini. Kini, Baskara berniat menjebloskanku ke rumah sakit jiwa. Setelah membakar vila demi melarikan diri, aku terpaksa meminta bantuan pada rival terbesar Baskara demi membalas pengkhianatan mereka.